Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Pelindung dan Pembela Kebenaran
1
Suka
13
Dibaca

“… siapa pun kalian, pasti akan mendapatkan balasannya.”

Kirana sedang asyik mewarnai gambar seorang putri dengan gaun indah yang membawa pedang karya kakaknya ketika kilatan petir di jendela membuat gadis sembilan tahun itu berlari ke sofa dan menyusup di balik tubuh sang kakak. Hujan bersar mengguyur setelahnya.

“Abang …” Kirana berbisik tepat di telinga Satria. Sang kakak masih terpejam. Kirana dapat merasakan tangannya di dada pemuda itu naik turun dengan teratur. “Ayah Bunda pulang kerjanya kapan?” Kirana berbisik lagi.

Ruang keluarga terasa sepi tanpa Ayah Bunda. Tapi mereka selalu bekerja hingga larut malam. Cari uang untuk Abang dan Kira, kata mereka. Bunda yang biasanya hanya menulis artikel di laptop, kini juga kerja sambilan.

“Emangnya uang itu lebih penting dari Kirana?” gadis itu mengeluh.

“Kalo ujannya udah berhenti,” jawab sang kakak dengan mata yang masih terpejam. Kirana memberengut. “Kirana udah gak nanyain itu,” tukasnya. “Abang tau, kan, kalo Kirana takut petir?”

Satria membuka matanya, lalu membuka tangannya. “Cini, Abang peyuk,” ia berkata dengan nada manja. Kirana memukul lengan sang kakak. “Abang Cat …! Abang udah 18 tahun! Jangan ngomong bahasa bayi!”

Satria tersenyum hingga menyembunyikan mata cokelatnya yang hangat. “Ya udah, sini. Ambil selimutnya dulu di kamar biar gak dingin. Kirana berani, kan, ke kamar sendiri?”

Kirana mengangguk, lalu turun dari sofa. “Iya, dong! Kan, Kirana adiknya Abang Satria yang pemberani!” serunya seraya berkacak pinggang. “Bunda adalah pembela kebenaran, Ayah adalah penyelamat dari api, dan Abang Satria …”

Satria menganggukkan kepalanya. “Pendekar pemberani!” serunya.

Kirana lalu berbalik dan melangkah menuju kamarnya. Namun, sebelum mencapai pintu kamar, gadis itu mendengar suara di jendela. Kirana memiringkan kepalanya untuk melihat. Jendela depan terbuka dengan sendirinya, lalu seseorang berpakaian serba hitam dengan kepala yang tertutup kain hitam masuk melaluinya.

Telah terjadi perampokan di kompleknya seminggu terakhir, Kirana ingat Bunda pernah mengatakan itu. “Kunci semua pintu dan jendela!” kata Bunda. Namun, mengapa orang itu bisa masuk? Dan, dia membawa sesuatu di tangannya!

Kirana mematung. Ia merasakan jantungnya berdegup sangat kencang. Tangannya gemetar. Kirana ingin memanggil abangnya, namun bibirnya tak mampu bergerak. Ia merasa ingin menangis saat itu juga.

Ketika Kirana merasakan mata pria itu bertemu dengan matanya, gadis kecil itu akhirnya dapat bergerak. Segera ia berlari menuju kamar. Orang serba hitam itu melangkah di lantai keramik dengan cepat, dan akan segera menyusulnya.

Kirana menutup pintu, namun sebelum ia sempat menguncinya, orang itu menyelinap masuk. Kirana terjatuh ke belakang. Orang itu melangkah pelan ke arahnya.

Tunggu! Bukankah orang itu hanya akan mengambil barang-barang berharga dari rumahnya? Mengapa dia mendekati Kirana? Apa yang dia inginkan? Kirana ingin berteriak. Namun suaranya tak ingin keluar. Gadis itu merasakan air matanya mengalir deras dari pelupuk matanya.

“Abang …” Kirana memanggilnya sepelan embusan angin. Suara hujan dan guntur di luar telah berhenti, namun Abang tidak akan mendengarnya jika ia tidak berteriak kencang.

Orang itu menjatuhkan dirinya tepat di hadapan Kirana. Ia dapat melihat kilatan mengerikan dari matanya, meski wajahnya tertutupi kain hitam.

Kirana memejamkan matanya rapat-rapat, seolah orang itu akan pergi jika ia melakukannya. Lalu, tiba-tiba terdengar suara debam.

“Kirana!”

Gadis itu membuka matanya. Abangnya Satria datang untuk menyelamatkannya!

“Abang—”

Orang berpakaian hitam itu bangkit dan mendorong Satria ke belakang. Kirana memekik. “Abang!” Gadis kecil itu merasakan jantungnya berdebar lebih cepat dari sebelumnya.

“Jangan takut, Kirana! Kunci pintunya. Abang gak akan kenapa-napa, karena Abang pemberani!” sang kakak berkata hingga suaranya bergema seisi rumah. Kirana memaksakan diri tersenyum, lalu bangkit dan menutup pintu kamar.

“Abang pasti bisa kalahin dia dan lindungin Kirana,” gadis itu meyakinkan dirinya. Terdengar suara erangan di luar sana. Suara abangnya. Lalu, Kirana ingat bahwa orang itu membawa sesuatu yang berkilat di tangannya. Sebuah pisau.

Segera Kirana keluar dari kamar, lalu berteriak pada sang kakak: “Abang! Dia itu—”

Mata Kirana membelalak tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Orang itu melingkarkan tangan kirinya di dada Satria, sementara tangan kanannya menggenggam sebilah pisau yang diarahkan ke leher pemuda itu.

“Om bakal lepasin abang kamu, asal kamu nurut, adik manis,” orang itu berkata dengan tatapan mengerikan. Pisaunya membuat Kirana bergidik.

“Jangan, Kiran.” Abang menggeleng kuat-kuat. Kirana melangkah maju meski dia takut setengah mati. Apa yang akan terjadi jika ia menurut mungkin takkan seburuk orang itu menyakiti Abang, pikir gadis kecil itu. “Kirana!” Satria kembali berteriak. Kirana melanjutkan langkah kecilnya dengan ragu.

“Kirana, pergi ke kamar!” Satria berteriak sekali lagi, lalu membenturkan kepalanya ke wajah orang itu hingga tersungkur ke belakang. “Sekarang, Kirana!”

Kirana melangkah mundur, namun pandangannya tak luput dari abangnya. Gadis itu meremas roknya dengan cemas. Abangnya dan orang itu saling mendorong dan memukul. Kirana tahu abangnya kuat, namun orang itu membawa pisau.

“Abang!”

Orang itu berhasil mendorong Satria ke lantai. Pisaunya yang tergenggam erat di tangannya terarah ke leher pemuda itu. Lalu, Satria berhasil menepis pisau itu hingga terlempar jauh ke samping. Namun, orang itu segera mencekik leher Satria.

“Abang!” Kirana memekik. Air mata kembali jatuh ke pipinya. Ia dapat melihat wajah abangnya yang memerah karena aliran darah yang terhenti. Bibir pemuda itu bergerak. “Kira … na, pergi …”

Kirana menggigit bibir bawahnya. Ia harus bergerak untuk menyelamatkan abangnya. Jika tidak … jika tidak—

Kaki Kirana melangkah cepat. Gadis itu mencengkeram baju pria itu dan menariknya ke belakang. Memanfaatkan kesempatan yang diberikan sang adik, Satria menendang perut orang itu dengan sisa kekuatannya.

Orang berpakaian hitam itu bergerak, hendak mengambil pisaunya. Namun sebelum ia menggapainya, Kirana telah mengambilnya lebih dulu. Gadis itu berteriak, lalu menancapkan pisau itu ke orang berpakaian hitam. Tepat ke jantungnya.

“… Kirana? Apa yang kamu …”

Kirana melepaskan pisaunya. Satria segera menghampiri dan memeluknya. Kirana kembali menangis. Ia dapat merasakan abangnya yang mengelap darah di tangannya dengan bajunya.

“Kamu gak tau apa pun, Kirana. Semua ini Abang yang lakuin, jadi …”

Pintu berderit terbuka, disusul suara jeritan seorang wanita. “Satria …” Suara ayahnya terdengar. “Aku lakuin ini demi Kirana,” Satria berkata lirih. “Demi lindungin Kirana.”

Kejadian di malam itu telah sedikit memudar dari ingatan Kirana. Namun, ketika hakim memutuskan bahwa Satria bersalah, Kirana merasakan cairan merah kental kembali membasahi tangannya. Tidak ada apa pun di sana ketika Kirana melihatnya.

“Kenapa …?” gadis itu bergumam pelan. Bundanya mengelus rambutnya lembut, diiringi oleh isakan tangis. “Kita akan mengungkapkan kebenarannya, Kirana,” Bunda berbisik di telinga Kirana. “Siapa pun mereka, pasti akan mendapat balasannya.”

Keputusan pada akhirnya telah ditetapkan. Tak ada hal yang membuktikan bahwa Satria tidak bersalah. Tidak ada CCTV, sidik jari dan semua hal mengarah pada Satria. Kirana merasa ia tak bisa membawa abangnya kembali.

Di akhir sidang, Kirana menatap Satria yang tersenyum kepadanya—sebuah senyuman hangat yang entah kenapa terasa menyayat hati Kirana.

Kirana melangkah jauh di belakang Ayah Bunda. Sekali lagi ia menoleh ke belakang, namun ia merasa di sana hanya ada kegelapan. Ketika ia kembali menolehkan pandangannya ke depan, matanya berpapasan dengan seorang pria berjas yang menatapnya. Seulas senyum tipis tersungging di bibir pria itu.

Seminggu berselang, di pagi yang cerah, tepat di tempat Kirana menancapkan pisau kepada pria penyusup, Bunda tergeletak. Dengan darah yang tergenang di lantai.

Kirana mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. Ia merasakan api membakar dirinya. Api amarah yang tak dapat dipadamkan oleh Ayah sekali pun.

“Siapa …”

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Cerpen
Pelindung dan Pembela Kebenaran
Suzie S. Something
Novel
Bronze
Cinta Tapi Beda
Imajinasiku
Novel
Bronze
TAK TERGANTIKAN
Aquariusang
Komik
my SUPERMODEL lover
Ulivia Kartika
Cerpen
Bronze
Sesal
Adel Romanza
Flash
Konsisten Menjalani
Berkat Studio
Novel
Rayla
Rivaldi Zakie Indrayana
Novel
Janji Livy
Beby Haryanti Dewi
Novel
Gold
PBC Journey In Japan
Mizan Publishing
Novel
My Real Espresso
Kandil Sukma Ayu
Skrip Film
Professional Bestfriend
Putu Ngurah Dhimas Pratama Sanjaya
Cerpen
Bronze
Pak Khairul dan Ayamnya Yang Usil
Yovinus
Novel
Aku sepi setelahmu
Lisnawati
Novel
Bronze
Kereta Rombeng 1998
Mahalawan
Novel
Renanta
Alifah
Rekomendasi
Cerpen
Pelindung dan Pembela Kebenaran
Suzie S. Something
Flash
Gadis Itu
Suzie S. Something