Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Misteri
Pelaku Tabrak Lari
0
Suka
7
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Siang ini begitu terik, ditambah debu-debu yang ditiup angin, membuat semua kacau. Dua pemuda turun dari angkutan umum, yang satu tinggi dan yang satu pendek, sangat pendek. Mereka berjalan beriringan bagai adik kakak tidak mirip. Si tinggi berbaju putih lengan pendek dengan celana coklat dan topi hitam, sedangkan si pendek terlihat lebih macho dengan tampilan jaket hitam yang dililitkan ke pinggangnya dan baju putih lengan pendek yang digulung.

“Panasss.” Seru Gilang si tinggi.

“Berisik!” Timpal Fandi si pendek.

Gilang terlihat sedikit cemberut dengan jawaban temannya. Mereka melanjutkan perjalan tanpa percakapan sama sekali. Fandi hanya fokus dengan buku yang sedang dibacanya, buku itu berjudul Anatomy, memakai bahasa Inggris dan istilah aneh yang sulit dipahami. Sedangkan Gilang berjalan kedepan tanpa menoleh kearah Fandi, masih kesal.

“Gue harap ada kejadian menarik hari ini… Fan, dengar nggak gue tadi bilang apa?”

Gilang menoleh kearah Fandi, dan ia tidak ada disampingnya, melainkan berada di tengah jalan ramai.

“Fandiiii!!! Awas!!”

Bruk!

Terlambat, ia tertabrak mobil. Sialnya mobil itu lari tanpa mempedulikan apa yang terjadi. Semua orang mengerumuni Fandi yang sedang tergeletak.

“Fandi! Bangun Fannn!!”

Fandi bangun dengan terbatuk, sepertinya kesakitan.

“Lang.”

“Apa?”

“Kejar mobil itu Uhuk!”

“Jangan mati Fan!”

“Uhuk! Geblek! Sok drama banget sih lo, bukunya dirusakin tuh, kalo Bu Santi tahu bisa didamprat gue!”

Gilang hanya melotot tidak percaya. Dikibulin lagi.

“Masih hidup dek? Sialan, ngapain gue kesini!”

Kerumunan itu segera pergi meninggalkan dua sejoli itu ditengah jalan.

“Malu-maluin aja lo Lang.”

“Lo tuh yang malu-maluin!”

“Yaudah pulang!”

Mereka pun pulang ke kost dengan wajah abstrak bak lukisan Pablo Picasso. Entah kenapa hari ini menyebalkan sekali. Wajar saja setelah kejadian memalukan itu mereka sibuk memikirkan soal tagihan kamar kost yang sudah telat dua bulan. Pasti ibu kost tercinta menunggu di depan pintu dengan sapu lidi dibelakangnya yang siap menyambut mereka dengan pukulan berapi menyakitkan.

“Mati gue.” Gilang menatap dengan takut kearah gang sempit yang menuju kost mereka.

“Kita pergi aja yuk.”

“WOY!”

Mereka tersentak mendengar suara mengerikan dari belakang punggung mereka.

“Mau lari kemana lo? Ha?”

“Kabuurrr!!”

Mereka lari dengan terbirit-birit. Meninggalkan orang yang berteriak tadi dengan kebingungannya, dia lagi ngejar maling kok yang kabur bukan maling? Begitu pikirnya kira-kira. Mereka lari ke dalam gang dengan wajah takut. Dan….

Bruk!

“Aduuh apaan sih Fan? Badan lo kecil tapi kayak gajah!”

“Lo juga ngapain pake acara kesandung!”

Sementara mereka asyik berdebat, tibalah seseorang yang mereka takutkan selama ini, Ibu Kost.

“Ngapain? Kok ngesot di tanah?” tanya Ibu Kost dengan ramah.

“Hwaaaa!!!” Mereka ngibrit lagi.

Sementara Si Ibu Kost hanya kebingungan, “Et dah, malah kabur, emang ini masker wajah serem ya?”

Sementara si Ibu Kost masih kikuk, mereka masuk kekamar mereka. Fandi terlihat yang paling lelah, keringat mengucur deras bak hujan lokal. Sementara Gilang sehat-sehat saja, maklum dia adalah juara lari di sekolah.

“Ancuur deh! Buku rusak, ditabrak, ada SG (Si Galak) lagi!”

“Diem lo Fan!”

“Lang nanti malem temenin gue.”

“Ogah, gue masih normal.”

“Enak aja! Gue bukan banci.”

“Kalo bukan banci ngapain ngajak malem-malem?”

“Cari angin.”

“Ntar masuk angin gimana? Kalo kebanyakan kentut gimana?”

“Kayak cewek aja, kentut lo kan bau, simpen tu kentut abis itu racunin SG.”

“Ehehe oke jugaa.”

Akhirnya malam pun tiba. Mereka pun keluar malam ini. Di jalan terlihat beberapa anak muda yang naik motor berdua dengan pacar mereka, entah kenapa wajah Gilang dan Fandi mendadak galau seketika. Maklum, dimalam minggu ini mereka sendiri saja.

“Beneran bikin iri, ya?” Ucap Gilang.

“Sialan!” Jawab Fandi sambil menendang kerikil, dan kerikil itu disambut oleh motor pasangan muda-mudi yang sedang melaju, dan kemudian menyebabkan motor serta si pemilik motor mencium aspal dengan ganasnya, kemudian disambut tukang siomay yang naik motor, dan terakhir sebuah mobil sport kuning.

“Sukurin.” Ujar Fandi lirih.

“Cabut!” Gilang menyeret Fandi menjauhi lokasi kecelakaan.

Fandi sama sekali tidak bicara sejak ‘kejadian’ tadi. Gilang masih bertanya-tanya mengapa ia dibawa jalan-jalan tanpa tujuan.

“Sudah sampai.”

Gilang melongo, ini kan tempat tabrak lari siang tadi!

“Ngapain?”

“Pinjem senter.”

Tanpa basa-basi Gilang menyerahkan senter kepada Fandi. Masih heran dengan tingkah laku Fandi yang mencari sesuatu di jalan yang sepi itu. Sementara Fandi sibuk dengan urusannya, Gilang memandangi sekitar. Gelap. Angin berhembus kencang menggerakkan siluet daun-daun di atas pohon dengan mengerikan. Tiba-tiba terdengar suara burung hantu yang bertengger anggun di atas pohon. Gilang ingat sesuatu, di jalan ini memang sering terjadi kecelakaaan, korbannya tewas semua, hanya Fandi korban yang tidak tewas, atau memang ia belum ditakdirkan mati dengan cara itu, mungkin lebih sadis.

“WOY!”

“Gyaaaaa!!!”

Gilang berjingkat melihat wajah Fandi yang terkena efek senter dari dagunya. Serem.

“Apaan sih lo?!”

“Lo takut ya?”

“Nggak!”

“Ngaku aja.”

“Dasar lo sia..”

“Dek jangan rame ya.” Ujar suara perempuan yang menegur mereka.

Glek.

“SETAAANNN!!”

Mereka lari lagi. Sebenarnya yang negur mereka bukan Mbak Kunti, tetapi seorang perempuan dengan seorang juru kamera dan beberapa orang peserta. Acara ghost game loh.

“Hosh, hosh, hosh, tuh setan dah pergi?” Tanya Fandi.

“Udah, cepetan pulang gue takut.”

“Gue juga.”

Mereka pulang, dan masuk kamar kost dengan wajah merah. Gilang langsung meraih selimutnya kemudian tidur dengan seluruh tubuhnya dibalut dengan selimut.

“Matiin lampunya!”

“Iya, iya lang.”

Fandi mematikan lampu, namun ia tidak tidur. Ia menyalakan lampu saat Gilang sudah tidur. Kemudian ia mengeluarkan benda yang dicarinya. Pecahan kaca.

“Gue harus balas dendam.”

Pagi pun tiba. Gilang bangun dengan muka kusut, bisa dilihat bahwa ia mimpi buruk tadi malam. Tanpa memperhatikan sekitar, ia langsung ke kamar mandi.

“Bangun pagi¯,Gosok gigi¯Cuci muka¯Tak mandi¯Lalalalala¯”

“Berisiiiikkkk.”

Gilang mengeraskan suaranya, “LALALALALALA.”

Brak! Fandi melempar pintu kamar mandi dengan buku KBBI lengkap dengan sekuat tenaga. Barulah Gilang diam.

Setelah semua itu…

“Masih marah Fan?”

“Pinjam lem.”

“Lem apa?”

“Yang paling kuat.”

“Nih.”

Gilang masih penasaran dengan tabiat sahabat sehidup sebangsatnya itu. Ia melirik ke meja belajar. Kaca? Buat apa? Pikirnya.

“Ngapain? Oy?”

“Balas dendam.”

“Sama siapa?”

“Yang nabrak gue kemarin, dia harus bayar kelakuannya, gue nggak mau bayar denda.”

“Buku?”

“Iya.”

“Kalo balas dendam ngapain di sini? Penjahatnya nggak di sini.”

Fandi menoleh kearah Gilang, “Gue emang nggak tahu siapa pelakunya, tapi dengan pecahan kaca ini gue bisa tahu siapa pelakunya, gue mau minta ganti rugi.”

“Kaya detektif aja, nah, kalo gitu siapa pelakunya?”

Hening.

“Temenin gue ke warung bentar.”

“Ngapain Fan?”

“Udah ikut aja.”

Gilang hanya ikut saja. Toh ia juga sedang lapar.

Fandi berjalan sambil jelalatan, curi-curi pandang dengan kakak-kakak berkulit susu yang kebetulan lewat. Genit sekali. Sedangkan Gilang hanya memutar mata melihat kelakuan Fandi yang kelewat batas, jadi pengin jalan sendiri deh. Akhirnya Gilang berjalan mendahului Fandi.

“Lang tungguin!”

“Ngapain? Malu-maluin aja lo!”

“Emang gue gembel?”

Gilang tidak menjawab.

“Jawab oy!”

“Mata lo tuh jelalatan aja! Malu gue!”

“Sok suci! Foto-foto cewek di hape lo aja sekseh semua!”

“Itu anime! Lo ngapain liat aset pribadi gue? Songong!”

Perdebatan panjang itu berakhir saat di depan warung makan langganan mereka. WARUNG MAKAN MBOK INEM, warung yang menyediakan segala jenis makanan dan minuman kecuali junk food. Warung langganan seluruh anak kost di gang JERMAN (jeJERe kaum kang iMAN).

“Mbok, menu seperti biasa.” Fandi seperti biasa, mengawali pesanan.

“Siap Bos!” seru Mbok Inem.

Mbok Inem segera menyiapkan menu favorit mereka, dan seperti biasa, mereka menunggu dengan khidmat di bangku yang sama. Entah kenapa suasana hari ini tidak seperti biasanya. Tiba-tiba, seorang pria aneh datang ke warung. Tidak terlalu aneh sih, penampilan seperti pria kantoran pada umumnya, hanya saja wajahnya terlihat takut. Terutama saat melewati Fandi dan Gilang.

“Fan, kayaknya dia takut sama lo.”

“Masa?”

“Iya.”

Fandi melihat ke arah orang asing tadi, penampiannya biasa saja, apa yang aneh?

“Mas, ini pesanannya.” Kata Mbok Inem sambil meletakkan menu sarapan pagi kesukaaan mereka.

“Makasih Mbok.”

“Sama-sama.”

Hari semakin siang, mereka sudah membayar makanannya, tapi si orang asing itu masih duduk di mejanya, makanannya tidak tersentuh. Hanya menelepon saja, entah apa yang dibicarakan.

Mereka keluar tanpa memepedulikan sekitar. Saat melewati sebuah mobil sedan, Gilang tiba-tiba berhenti.

“Bentar.”

“Ngapain sih?”

“Ngaca.”

“Lo ngaca seribu kali nggak bakal ada cewek mau nempel, yang ada bakal ilfeel.”

“Diem lo!”

Fandi memutar mata,“Udah?”

“Sini.” Gilang menyeret Fandi ke pohon besar.

“Apaan sih?”

“Gue udah tahu siapa yang nyerempet elo kemarin.”

“Siapa?”

“Yang punya itu mobil.”

“Yang bener? Emang siapa?”

“Nggak tau! Nih.”

“Loh ini kan sobekan buku gue!”

“Liat tuh, kaca mobil masih ada merknya, pasti baru ganti, lo tau kan maksud gue?”

Fandi mengangguk tanda mengerti.

“Pinter bener loh.” Fandi menepuk bahu Gilang.

“Hehe gue gitu loh.”

“Tapi siapa yang punya mobil?”

“Gue nggak tahu, yang pasti ada hubungannya ama orang aneh tadi.”

“Kok bisa?”

“Lo liat kan tatapannya aneh.”

“Iya juga ya, tapi kesimpulan lo tuh yang ribet.”

“Elo yang ribet, waktu kejadian, gue liat tuh mobil agak pelan waktu nabrak lo.”

“Terus?”

Gilang memutar mata, “Artinya dia nggak mau nabrak elo, tapi kayaknya dia nggak bisa kalo nggak nabrak, dia pasti takut kalo elo ngeliat wajahnya soalnya waktu itu mobilnya agak pelan sih.”

Fandi sangat terpana, “Wow! Marvelous!”

Gilang sedikit menyombongkan diri, “Gue gitu loh!”

 Fandi terpana lagi, “Lo makan wortel berapa kilo? Jeli amat.”

“Gue dipaksa makan sayur dari kecil, makanya gue sehat dan badan gue tinggi.”

Fandi langsung memberikan tatapan maut.

“Oke, gue tahu rasanya jadi lo, gue juga pernah pendek.”

“Lang, sembunyi.”

Tanpa basa-basi lagi Gilang hanya menurut saja. Dengan isyarat tangan Fandi, Gilang hanya diam. Terlihat pria aneh di warung tadi memasuki mobil yang dibicarakan mereka.

“Astaganaga!!”

“Biasa aja Fan.”

“Kayaknya lo emang punya bakat deh.”

“Ikutin tuh mobil.”

“Nggak bisa.”

“Lo mau balas dendam kan?”

“Mau naik apa coba?”

Gilang melihat keadaan menyedihkan ini. Apa anak kost itu emang kismin semua? Dan demi sahabat bangsatnnya ini, ia memandang ke segala arah untuk mencari kendaraan yang bisa dia pinjam. Dan ia tersenyum menemukan benda yang dicarinya.

“Kita naik motor itu.”

Fandi terlihat ilfeel dengan motor matic yang dicat ngejreng warna pink lengkap dengan stiker ala bencesnya.

“Yang itu?” Tanya Fandi ragu.

“Yaiyalah, mau yang mana lagi? Kalo ntu motor ilang kagak ada yang nyariin!”

Fandi hanya mengikuti kehendak sahabat “baiknya” ini.

“Yang punya mana?” Tanya Fandi.

Gilang mengangkat bahu. Dan saat itu pula, Fandi memiliki ide aneh.

“Yang punya motor pinjem ya? Iya.” Fandi bertanya dan ia jawab sendiri

Setelah tabiat konyol itu usai, mereka pergi mengikuti si pelaku dengan motor yang entah dipinjam atau dicuri dengan minta ijin.

Gilang melirik dari belakang tubuh Fandi. 120 Km/Jam. Gilang memegang bahu Fandi erat-erat. Jujur saja, ia takut naik motor dengan kecepatan tinggi.

“Fan! Pelan-pelan!”

“Nggak bisa.”

Ngeeeeengggg!!!!! Fandi menambah kecepatan.

“Hwaaaaa!!!! Fan!! Gue nggak mau mati sebelum kawin!!”

“Lulus aja belom udah mikir kawin!”

Kendaraan yang mereka naiki rupanya telah memancing 2 aparat penegak hukum yang kebetulan sedang ngopi sambil makan roti.

“Benar-benar kelewatan, heh anak baru ayo ada tugas pertama!”

“Siap pak!”

Kedua polisi itu mengejar motor mereka dengan kecepatan tinggi pula.

Liu, Liu, Liu!!

“Polisi!” seru mereka berdua.

Ngeeeenggg!!! Mereka menambah kecepatan, Fandi terlihat menikmati suasana tanpa mempedulikan Gilang yang hampir sakratul maut.

“Tikungan tajam! Pegangan!”

“Ha?! Gyaaaaaaa!!!”

Wush! Hamper sedikit lagi kepala mereka menyentuh tanah, Fandi mengendarai motor tersebut seperti mengendarai motor balap di sirkuit Sentul. Fandi semakin menambah kecepatan.

“Geblek! Gue hamper mati tau!” seru Gilang.

“Habis ini lewat kanan apa kiri?” Fandi bertanya tanpa menghiraukan Gilang yang seperti habis cabut nyawa.

“Kiri! Cepetan mumpung polisinya nggak ngejar!”

“Oke!”

Ngeeeenggg!!

Sementara itu…

“Pak sepertinya si pelanggar lewat kanan.”

“Saya juga tahu itu, mereka pasti lihat tv kan? Jalan kiri masih diperbaiki.”

Dan mereka….

Gruduk! Gruduk! Gruduk!

“Lo salah jalan Lang!”

“Ini jalan yang paling cepet, udah jalan terus.”

“Nurut aja deh.”

Fandi pun menuruti Gilang. Mereka melewati jalan yang penuh lubang tersebut. Dan mereka asyik berdisko dengan tubuh mereka yang terus terpantul saat melewati jalan yang berlubang.

Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka sampai di ujung jalan. Dan mobil yang dikejar pun lewat secara bersamaan. Dan juga membawa mobil polisi itu di belakangnya.

“Sialan!” Fandi mengumpat saat tahu ada mobil polisi juga.

Kejar-kejaran pun semakin seru, kecepatan pun semakin bertambah layaknya balapan motor antara Lorenzo, Rossi, dan Marquez.

Tiba-tiba mobil polisi berhenti seketika. Bensinnya habis. Duo soulmate itu pun bersorak gembira begitu melihat pengejar mereka berhenti. Dan mobil yang mereka kejar berbelok, tapi mereka masih terus.

“Belok woy!” seru Gilang.

“Remnya patah waktu ngepot tadi.”

“Ha!? Yaudah lompat aja!”

“Oke!”

Dan hup! Bruk! Mereka berguling ria di tanah usai melompat. Dan ajaibnya motor tersebut walau hilang kendali tapi masih berjalan dengan kecepatan tinggi. Sungguh pemandangan yang keren.

Dengan susah payah mereka mengejar mobil itu. Dan sampailah di sebuah ladang. Ladang yang aneh dengan petani yang menaiki mobil.

“Busyet, ini mah ladang ganja!” seru Fandi.

Gilang pun menyuruh Fandi menunduk, “Fan sembunyi.”

Fandi menuruti Gilang. Mereka mengintip dari balik semak-semak. Orang aneh itu pun memasuki gubuk mini di tengah ladang, dan mereka pun mengikutinya.

Di dalamnya terdapat beberapa bungkusan hitam, sepertinya ganja kering. Ada beberapa 3 orang termasuk orang tadi. Salah satu dari mereka memainkan pisau lipat sembari melihat temannya bertransaksi.

“Ya ampun! Mereka ini pengedar narkoba, kayaknya dendam gue ujungnya bagus.” Seru Fandi lirih.

Orang yang memegang pisau sambil duduk itu langsung melempar pisaunya ke dinding kayu. Lemparannya 180 derajat tanpa putaran sama sekali! Berarti dia pelempar professional, kelas dunia!

“Wow!” seru Gilang lirih juga.

Orang yang duduk itu pun akhirnya berdiri, ia berkata kepada pria yang menyerempet Fandi, “Pak Joko, apa anda memanggil polisi muda yang polos?”

Pria yang dipanggil Joko itu langsung mengernyit, “Polisi? Bang, yang saya lihat itu polisi yang mengejar 2 bocah yang mengikuti saya.”

“Kita kedatangan tamu.” Ujar orang yang berdiri.

Grep! Antek-antek kedua orang itu langsung menyergap Fandi dan Gilang. Kemudian mereka membawa mereka ke dalam gubuk tersebut.

Bruk! Mereka menjatuhkan mereka berdua di hadapan si pengedar.

“Ini tamu kita.” Ujar salah seorang anteknya.

Orang-orang itu berdiri di samping Fandi dan Gilang begitu menyerahkan mereka. Penjahat tersebut langsung menyambar kerah baju Fandi dan berkata, “Kalian berdua masih polos, kalo dibebasin bakal ngomong kesemua orang.” Bruk! Ia menjatuhkan Fandi yang gemetar.

“Kayaknya mereka Cuma bocah ingusan, masukin aja ke penjara, kalo dilepasin bakal ngelapor.” Ujar pria tersebut.

Akhirnya mereka dimasukkan ke dalam sel yang terbuat dari kayu. Mereka duduk di samping seseorang. Ia bertubuh kurus, mungkin karena tidak makan selama beberapa hari, rambutnya cepak dan berantakan, wajahnya babak belur karena dipukuli, dan pipinya tirus dilengkapi mata hitamnya yang terlihat cekung.

“Sudah berapa hari di sini?” Tanya Gilang sopan.

Ia menoleh dan tampak jelas mengerikannya, ia menjawab, “Lima hari.”

Mereka terkejut karena mendengar suara perempuan terlontar dari bibirnya. Mereka kembali terdiam.

“Fan?” Ucap Gilang lirih.

“Iya.”

“Lo masih punya pesona puppy eyes kan?”

“Iya, kenapa?”

“Sana ambil kuncinya!”

Fandi pun langsung memanfaatkan penampilannya, “Bang mau pipis.” Ujar Fandi memelas.

“Pipis di situ!” Bentak si penjaga.

“Malu.”

Si penjaga memutar mata. Saat ia lengah, Gilang menyergap dan melumpuhkan si penjaga.

“Mbak masih bisa bangun?” tanya Gilang.

“Masih.”

Mereka akhirnya bebas. Dengan sedikit keimutan Fandi mereka semua bisa mengelabui semua orang, dan setiap orang yang terpedaya pasti celaka.  Mereka pun kabur ke tempat aman

“Aman.” Ucap perempuan itu.

“Hosh, hosh, capek.” Keluh Fandi.

“Kok capek? Saya tidak capek.” Timpal perempuan itu.

“Hebat!” Seru Gilang.

“Selama dikurung saya minum suplemen yang selalu saya simpan untuk keadaan darurat.”

“Nama mbak siapa?” Tanya Fandi.

“Saya Miss Poison.” Jawabnya.

“Poison? Anda ahli racun? “ Tanya Gilang.

“Bukan, itu julukan saya.”

Fandi dan Gilang saling memandang. Orang yang aneh.

“Haha, saya polisi dari divisi narkoba.” Jelasnya garing.

Mereka mengangguk, “oh polisi.” Ucap mereka bersamaan.

Setelah itu mereka mengintai akivitas orang-orang yang ada di ladang itu. Bak James Bond, mereka melalukan loncat harimau. Lompat sana lompat sini, kalau ketahuan langsung sergap antek-anteknya.

Hampir setengah ladang telah mereka habisi. Tinggal yang lainnya, yang di dalam gubuk.

“Wah, wah, wah, sudah saya sarankan untuk dibunuh saja.” Ujar seseorang dari belakang. Oh tidak! Mereka ketahuan.

Seorang perempuan tinggi besar menjawab, “Kita kurung supaya bisa digunakan, tapi kalau begini kita bunuh saja.”

“Serang!” seru perempuan itu.

Hup! Miss Poison berhasil menghindar.

Sebuah samurai hampir memenggal kepala Fandi, dengan kelenturannya ia bisa mengindar. Hanya saja poninya tinggal separo.

“Poni gue! Kalian gak bakal gue ampuni!” seru Fandi.

Fandi bagaikan gunung berapi, ia menyerang membabi buta. Segalanya ia lemparkan demi balas dendam pada poninya.

Miss Poison melakukan capoeira yang membuat Gilang takjub. Satu persatu musuh berhasil ditumpas.

Tak mau kalah, Gilang pun langsung memasang kuda-kuda. Ia memukul lawan-lawannya dan dengan sekali tendangan ia berhasil melumpuhkan seorang bertubuh gemuk.

Semua berhasil dilumpuhkan dalam beberapa menit. Gilang pun kembali keposisi awal.

“Uwiih, Fan potong rambut di mana?” tanya Gilang sambil meledek.

“Kalo potong kepala gue ahlinya.” Jawab Fandi dingin.

Miss Poison hanya tersenyum melihat duo soulmate itu. Tapi ia menyadari bahwa ia dan anak-anak ini sedang diawasi. Terdengar suara langkah kaki, dan datang dari arah Gilang berdiri.

“Gilang awas!” seru Miss Poison.

Sret! Terlambat, sebuah pedang telah menyayat punggung Gilang. Darah mengucur di tanah.

“Hai lagi.” Ucap si pria pelempar pisau, “ribut banget ya? Tapi sekarang udah sepi.”, ia menyeringai, “giliran kalian! Hyaa!”

Ia mengayunkan samurainya. Wut! Wut! Wut! Mereka berdua berhasil menghindar.

Dor! Satu tembakan membuat hening. Orang itu pun mati. semua terdiam dan menoleh kearah penembak. Ternyata si pelaku tabrak lari.

“Dia emang bisa beladiri, tapi dia nggak kebal senapan.” Ujarnya sambil menjelaskan, “sudah berapa hari saya tidak bertemu anda Miss?”

“Mr. Joy? Wah sudah lama sekali.” Jawab Miss Poison.

“Saya udah lumpuhin mereka semua, capek juga saya akting jualan ganja.”

“Saya juga sakit, badan saya dipukuli.”

Sementara itu, Fandi masih tidak percaya bahwa yang tergeletak itu Gilang, sahabatnya.

“Lang? bangun. Kita menang. Lang? Gilaaaaanngggg!!!!!” Fandi tak kuasa menahan air matanya.

Miss Poison dan Mr. Joy mendekati mereka. Fandi menoleh dengan mata sembab.

“Rumah sakit dekat, kita bawa dia kesana.” Ujar Mr. Joy.

Gilang merasakan punggungnya cenat-cenut dan ia susah untuk bernapas. Ternyata posisinya sedang telungkup di atas ranjang rumah sakit.

“Adududuh!!” seru Gilang.

Plak! Fandi menampar Gilang, “udah diem aja! Nggak usah gerak!”

“Aww!! Orang sakit malah lo tam..”

Plak! “Diem!”

Gilang pun terdiam. Miss Poison dan Mr. Joy hanya berpandangan. Kok bisa-bisanya menampar orang sakit?

Dokter pun masuk kekamar. Mereka bertiga keluar ruangan, dan saat itu masuklah suster cantik yang membantu dokter. Fandi hanya melihat saja.

“Kenapa bukan gue aja yang sakit.” Gumam Fandi.

“Harusnya saya yang sakit!” Seru Mr. Joy.

Miss Poison langsung menoleh, “jangan cari kesempatan!”

“Kaki saya keinjek!” Jawab Mr. Joy.

“Ups hehe.” Fandi langsung mengangkat kakinya.

Kemudian suasana menjadi sepi.

Mr. Joy berdiri, tangannya menyalami Fandi, “terimakasih, kamu telah membantu kami, kami tidak tahu bagaimana harus membalasnya.”

“Ah… em, s..sama-sama.” Ucap Fandi.

“Sudah lima hari saya mencoba mengeluarkan Miss Poison, tapi kalian cuma berapa menit bisa membaskannya.”

“Ya, Cuma ngandalin wajah kok hehe.” Ujar Fandi polos.

Dua bulan kemudian Gilang pun sembuh dari lukanya. Bekas luka dipunggungnya masih ada. Mereka berdua menjalani hari dengan biasa saja. Mereka melarang Miss Poison dan Mr. Joy untuk mempublikasikan kejadian hari itu.

Waktu istirahat di kantin sekolah. Seperi biasa, mereka hanya memesan makanan biasa. Mereka merana seperti biasa.

“Telor ceplok dan air putih, selevel sama kita iya kan?” Ujar Gilang.

“Lo ngomong kalimat yang sama delapan kali, udah deh makan aja! Kalo nggak gue yang bakal ngabisin!” seru Fandi yang langsung mengambil telur Gilang.

Gilang merebut kembali, “enak aja gue laper tau!”

“Yaudah makan!”

Seperti biasa mereka bertengkar karena hal sepele.

Bel pun berbunyi, tanda masuk kelas.

“MURID-MURID DISILAHKAN MEMASUKI AULA! SEKALI LAGI! MURID-MURID DISILAHKAN MEMASUKI AULA! TERIMAKASIH.”

Nah loh, perintahnya beda.

Murid-murid pun segera memasuki aula. Di sana terpasang layar besar dan sebuah proyektor. Terlihat seseorang yang sedang berkampanye anti narkoba. Dan dia adalah, Miss Poison! Tapi..

“Pertama-tama saya mohon maaf karena mengganggu waktu adik-adik, perkenalkan nama saya adalah Winda Astuti, saya dari kepolisian akan memberi penyuluhan anti narkoba…”

Entah kebetulan atau apa, tapi mereka berpresentasi di sekolah mereka! Sekolah mereka! Keren, nama Miss Poison hanya kode saja, mirip agen rahasia ya?

Penyuluhan pun berlangsung lama. Gilang dengan seksama mendengarkan, tapi Fandi malah asyik berpetualang dalam mimpi. Fandi tidak suka ceramah panjang lebar.

Satu jam kemudian, penyuluhan pun selesai. Fandi masih aja ngiler di kursi. Gilang pun diam-diam pergi meninggalkan Fandi. Sampai akhirnya tinggal Fandi seorang saja. Ia pun bangun sambil celingak-celinguk kebingungan. Kanan-kiri kok kosong?

“Loh? Gue ditinggal nih? Awas lo lang!” seru Fandi menggerutu.

Kedua orang yang baru presentasi satu jam lalu melewati Fandi.

“Saya benar-benar berterimakasih.” Entah itu kalimat yang keluar dari mulut siapa. Yang jelas Fandi terlalu lelah untuk menyadari hal itu.

Fandi kembali menikmati mimpinya. Tentu ia kena alfa, satu hal yang ia lewatkan, pelajaran Bahasa Indonesia. 

Tamat.

(koleksi 2015, no edit, edisi menolak malu terhadap tulisan lama)

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Cerpen
Pelaku Tabrak Lari
Noer Eka
Cerpen
Petualangan di Terminal
Noer Eka
Flash
Who is Wrong?
Noer Eka
Skrip Film
Misteri Gunung Halilintar
Vitri Dwi Mantik
Novel
Rahasia Sofi (revisi)
SyerrilAuztin
Cerpen
Pencuri Waktu (I)
Penulis N
Cerpen
Bronze
Cinta Bisa Sehijau Rumputan atau Seguguran Salju
Drs. Eriyadi Budiman (sesuai KTP)
Novel
Hikayat Pesta Babi
Harly B. Poetra
Skrip Film
Penghuni Di Balik Tembok
Naomi Saddhadhika
Novel
Bronze
Wali Kala Nanti
Ana Latifa
Cerpen
Bronze
KAMU HARUS CANTIK
Citra Rahayu Bening
Novel
GANJIL
Mutiara Oktaviani
Cerpen
Bronze
Seseorang Yang Tinggal di Pemakaman Gereja; M.R.James; penerjemah : Ahmad Muhaimin
Ahmad Muhaimin
Cerpen
Bocah Merah (Mari bermain)
A.F Huda
Flash
Aku Setelah Kamu Pergi
Seto Yuma
Rekomendasi
Cerpen
Pelaku Tabrak Lari
Noer Eka
Cerpen
Petualangan di Terminal
Noer Eka
Cerpen
Petualangan di Tempat Sampah
Noer Eka
Cerpen
Little Cupcake
Noer Eka
Flash
Who is Wrong?
Noer Eka
Cerpen
Bronze
Mari Bergadang
Noer Eka
Cerpen
Itik Buruk Rupa
Noer Eka
Cerpen
03:00 AM
Noer Eka
Flash
Blog Misteri
Noer Eka
Cerpen
True Mayhem
Noer Eka
Novel
KALA SENJA
Noer Eka
Cerpen
Kursi Pojok
Noer Eka
Cerpen
Masculine Woman
Noer Eka
Cerpen
Kue Buatan Bunda
Noer Eka
Cerpen
Tragedi Berak
Noer Eka