Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Lelaki tua itu bernama Arlo, dan ia memiliki sebuah pekerjaan yang tidak pernah tercantum di papan lowongan kerja mana pun di dunia: ia adalah seorang pengumpul detik yang terbuang.
Setiap sore, ketika matahari mulai tenggelam dan melukis langit Teluk Seruni dengan warna jingga keemasan, Arlo akan berjalan perlahan menyusuri dermaga kayu yang sudah lapuk. Kayu-kayu itu menderit di bawah pijakan kakinya, menyanyikan lagu lama tentang masa lalu yang perlahan dilupakan orang-orang kota. Arlo selalu memakai mantel kain wol kecokelatan yang lengannya sudah bersabut, dan di saku dadanya, bersemayam sebuah jam saku kuno berbahan kuningan—alat utamanya untuk bekerja.
Orang-orang di Teluk Seruni menganggap Arlo hanya seorang pensiunan pelaut yang kehilangan akal sehatnya. Mereka sering melihatnya berdiri berjam-jam di ujung dermaga, menatap kosong ke arah lautan, kadang-kadang membuka jam sakunya dan membisikkan sesuatu ke udara hampa. Namun, mereka tidak pernah tahu bahwa saat jam saku itu dibuka, waktu di sekitar Arlo berhenti bergerak.
Sore itu, angin laut bertiup cukup kencang, membawa aroma garam dan kenangan yang terdampar. Arlo menghentikan langkahnya tepat di ujung dermaga. Ia mengeluarkan jam saku kunonya. Dengan dentang halus yang menggema seperti lonceng gereja di dalam air, ia menekan tombol atas jam tersebut.
Seketika, dunia membeku.
Ombak yang tadinya hendak menghantam tiang dermaga mendadak berhenti di udara, berubah menjadi pahatan kristal cair yang memantulkan sinar matahari. Burung camar yang sedang menukik tajam terdiam di langit, sayapnya terbentang kaku seolah dilukis di atas kanvas biru. Bahkan tetesan air laut yang terpercik dari dermaga menggantung di udara seperti mutiara-mutiara transparan.
Di tengah keheningan yang mutlak itu, Arlo memejamkan mata. Ia mendengarkan.
Bagi Arlo, waktu yang terbuang bukan sekadar angka di atas jam dinding. Waktu yang terbuang adalah kata-kata yang tidak sempat diucapkan, penyesalan yang tertahan di tenggorokan, dan janji-janji yang menguap karena ketakutan. Setiap kali seseorang di kota menunda menyatakan cinta, meminta maaf, atau sekadar memeluk orang yang mereka sayangi, detik itu akan terlepas dari alur waktu utama dan melayang menuju laut.
Arlo mengangkat jam sakunya tinggi-tinggi. Dari balik jarum jam yang berputar berlawanan arah jarum jam, muncul pendar cahaya keemasan yang lembut. Cahaya itu menyapu permukaan air yang membeku, dan tiba-tiba, ribuan bulir cahaya kecil bermunculan dari dalam air, naik perlahan mendekati jam saku Arlo. Bulir-bulir cahaya itu berisi bisikan-bisikan suara.
"Aku minta maaf, Ibu..."
"Harusnya aku mengatakannya sebelum kamu pergi..."
"Aku terlalu takut untuk mencoba..."
Arlo menarik napas dalam-dalam. Ia membiarkan suara-suara itu masuk ke dalam wadah kuningan jam sakunya. Tugasnya adalah menyimpan kenangan-kenangan tak tersampaikan ini agar tidak membusuk di dasar laut dan mencemari jiwa orang-orang yang meninggalkannya.
Namun, sore ini ada yang berbeda.
Saat Arlo sibuk menyerap detik-detik terbuang itu, sebuah getaran hebat merambat dari dasar jam sakunya. Cahaya keemasan yang biasanya tenang mendadak bergejolak, memancarkan siluet samar di atas awan-awan jingga di ufuk timur. Arlo membelalakkan matanya. Di sana, berlayar di atas hamparan awan, tampak sebuah kapal kayu tua dengan layar yang terkembang megah.
Kapal itu adalah Nusantara III, kapal kargo tempat Arlo bekerja empat puluh tahun yang lalu. Dan di atas geladaknya, Arlo melihat bayangan dirinya sendiri sewaktu muda, berdiri di samping seorang wanita bergaun putih dengan rambut terurai ditiup angin.
"Nia..." bisik Arlo, suaranya bergetar.
Nia adalah alasan mengapa Arlo menjadi pengumpul waktu. Empat puluh tahun lalu, di dermaga yang sama ini, Arlo muda berjanji akan kembali setelah pelayaran terakhirnya untuk menikahi Nia. Namun, badai besar menghantam Nusantara III, membuat kapal itu karam dan memisahkan mereka berdua selama puluhan tahun. Ketika Arlo akhirnya berhasil kembali ke Teluk Seruni sebagai satu-satunya penyintas, Nia sudah tidak ada lagi. Wanita itu telah pergi, meninggalkan sebuah surat yang tak pernah sempat dibaca Arlo karena lapuk dimakan usia.
Sejak hari itu, Arlo menemukan jam saku ajaib ini di reruntuhan kapal, dan ia bersumpah untuk memburu detik yang hilang antara dirinya dan Nia.
Bayangan kapal kayu di atas awan itu perlahan mendekati dermaga. Kristal-kristal ombak yang membeku mulai bergetar, seolah tidak sanggup lagi menahan beban keajaiban yang terjadi. Arlo tahu, batas waktunya untuk mengumpulkan detik hari ini hampir habis. Jika ia membiarkan jam sakunya terbuka terlalu lama, waktu akan pecah dan ia akan terjebak di dalam keabadian yang hampa.
Namun, bayangan Nia di atas kapal itu melambaikan tangan. Wanita itu tersenyum—senyuman yang sama yang selalu hadir dalam mimpi-mimpi Arlo selama empat dekade.
"Arlo, kembalikan detik itu," sebuah suara berbisik di dalam kepala Arlo. Suara itu bukan milik Nia, melainkan suara jam saku itu sendiri, suara dari Waktu itu sendiri.
"Aku hanya ingin mengucapkan satu kalimat padanya," pangkas Arlo, air mata menetes di pipinya yang keriput. Air mata itu membeku seketika saat jatuh menetes dari dagunya. "Aku hanya ingin mengatakannya sekali saja."
"Waktu tidak bisa diputar balik, Arlo. Kamu hanya menyimpannya, bukan memilikinya. Jika kamu melangkah ke kapal itu, kamu tidak akan pernah bisa kembali ke dunia nyata."
Arlo menatap jam saku di tangannya, lalu menatap bayangan Nia yang menunggunya di atas kapal awan. Di dunia nyata, Arlo adalah lelaki tua yang kesepian, dianggap gila oleh warga kota, dan hidup tanpa arah. Namun di sini, di batas antara waktu yang membeku dan kenangan yang abadi, ada rumah yang selalu ia rindukan.
Dengan tangan yang gemetar, Arlo tidak menutup jam sakunya. Malahan, ia memutar tombol pengunci jam itu sejauh yang ia bisa.
KREK.
Suara mekanik di dalam jam kuno itu pecah. Seketika, cahaya keemasan meledak, menyelimuti seluruh Teluk Seruni. Udara yang membeku pecah bagaikan kaca yang hancur berkeping-keping. Burung camar kembali terbang, ombak menghantam tiang dermaga dengan gemuruh yang dahsyat, dan matahari akhirnya tenggelam sepenuhnya di balik garis pantai.
Waktu kembali berjalan.
Di atas dermaga tua, angin malam bertiup dingin. Jam saku kuno berbahan kuningan itu tergeletak di atas kayu lapuk, terbuka dan tidak lagi berdetak. Cahaya keemasannya telah padam sepenuhnya.
Ketika warga Teluk Seruni datang ke dermaga pada pagi harinya, mereka hanya menemukan jam saku tua itu tergeletak sendirian. Lelaki tua berambut perak yang biasa berdiri di sana telah lenyap tanpa jejak. Tidak ada bekas sepatu, tidak ada tanda-tanda bahwa seseorang telah jatuh ke laut.
Namun, jika seseorang berdiri di ujung dermaga itu saat senja tiba, dan jika mereka mendengarkan dengan sangat teliti di antara suara hempasan ombak, mereka dapat mendengar suara deritan kapal kayu yang berlayar tenang di atas langit, diiringi tawa dua orang manusia yang akhirnya berhasil menyampaikan kata-kata yang dulu sempat hilang.