Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Pekerja Proyek
1
Suka
1,491
Dibaca

Jika hanya tangis yang kudapat, harusnya aku tidak pernah memberimu ijin untuk pergi. 

Beginilah nasib menjadi perempuan—sudah menikah. Dikaruniai momongan juga tanggungan kehidupan. Tiada temu dengan wajah pasangan selain di layar-layar berkabar. Hari-hari hidup dalam satu tatap dengan mertua, kasih sayang dari seorang Ayah didapat dari panjangnya jarak pengabdian. Tidak aku sangka jika berumah tangga harus dihadapkan dengan perpisahan—demi mencukupi hidup. Begitulah kata sesepuh untuk mendinginkan batin yang senantiasa mau berontak jikalau suami berjabat tangan beranjak dari halaman rumah. Rupanya memang benar bahwa cinta butuh banyak pengorbanan. Berpisah selama berbulan-bulan misalnya. 

“Suamimu tidak menjemput, Mbak?” tanyaku selagi duduk di sebuah angkutan umum. 

Kala itu hujan di luar mendayu-dayu, membuat permukaan asbes di sepanjang jalan basah kuyup. Air mengalir deras sehingga selokan muntah sampai ke tengah aspal. Aku baru saja tunai dari pasar kecamatan, membeli sayuran dan lauk untuk makan malam dan hari esok. Ada wanita berwajah penuh kerut yang memandang kaca mobil dengan cemberut, tampak sekali pendam kesedihan. 

“Oh saya …?” Dia mengoreksi diri sambil membenarkan letak kerudung. 

Aku memberi anggukan sebagai pembukaan obrolan. 

“Suami saya ada di luar Jawa, anak saya sudah empat, biaya semakin melonjak, terutama biaya pendidikan, anak yang pertama kuliah, anak yang kedua masuk SMA, ketiga SMP dan terakhir di jenjang SD.”

Rupanya aku tidak di kampung sendirian. Ada wanita lebih tua dan memiliki banyak anak tetapi ditinggalkan suaminya. Barangkali beberapa menit lalu dia sedang termenung menghanyutkan rasa lelah kepada arus hujan. 

“Suamimu bekerja di mana, Mbak?” Aku kembali mengajukan pertanyaan seperti seorang wartawan yang butuh banyak informasi, lebih tepatnya untuk membandingkan nasib malangku yang juga ditinggal pergi. 

Bersamaan itu banyak pertanyaan yang berkelindan, tentang bagaimana dirinya mengasuh anak-anak. Malamnya berkawan dengan angin sajakah? Meja makannya melamun sebatangkara, dan jendela kamar tentu tidak pernah menampilkan sosok yang ditunggu-tunggu, serupa belia menanti kepulangan Ayah di waktu sore. 

“Di Sumbawa.” 

Jauh sekali dari Jawa Tengah. Aku membatin. 

“Wah …,”

“Hanya seorang proyek, Mbak. Dulu di Batam, pernah di Jawa Timur, di Jakarta lalu tahun ini di Sumbawa, demi anak-anak, kebutuhan juga semakin banyak. Mau bagaimana lagi?”

Sejujurnya dia terlihat putus asa. 

Aku diam sejenak, menelan setiap kalimat yang terdengar. Hujan tidak kunjung reda, seperti kebutuhan hidup yang tidak kenal waktu. Sekalipun demikian, kendaraan di luar terus berlalu-lalang dikendarai oleh manusia dengan jas-jas hujan berwarna gelap. Deru mesin knalpot kalah dengan jatuhnya air dari langit, apalagi sesekali Guntur menyambar. Angin bertiup dengan kencang, pohon-pohin bergoyang khawatir akan tumbang. Aku memberi jalan kepada wanita tua itu yang sudah menyetop sopir untuk menepikan mobil di pertigaan. Dia turun, mengembangkan payung kemudian mengulurkan uang sepuluh ribuan untuk membayar. 

Kujadikan cerita hidupnya sebagai penguat diriku melangkah pulang. Nasibnya tidak jauh berbeda denganku, ditinggal suami merantau ke luar  Jawa. Suamiku terkasih sedang mengolah pasir dan semen menjadi adonan untuk membangun gedung-gedung bertingkat. Entah bagaimana terik dirasa, entah hujan segigil apa yang membekap tubuhnya, aku tidak tahu. Sepahamku dia akan tersenyum ketika malam datang lalu sambungan telepon dipegang anak kami—Nadia. Si kecil yang baru akan melangkahkan kaki di bangku pendidikan taman kanak-kanak. 

‘Apa kabarmu, Dik?’

Kalimat yang benar-benar membuat aku luruh dan ingin jatuh dalam air mata. Ada gelegak rindu tidak berkesudahan. Ada tatap yang terbungkam dalam nanar. Jawabanku tentu selalu baik, Nadia juga sehat, dia suka lauk ayam goreng, dia suka buah naga ungu, dia juga sedang tertarik dengan sepeda milik tetangga. 

“Nadia sudah berusia empat tahun, bagaimana jika kita masukkan ke TK?” Aku meminta saran juga ijin. 

“Ya, carilah sekolah yang terbaik untuk Nadia.”

Kalimat itu merupakan akhir kata yang tersusun manis di pendengaran, setelahnya hanya kesunyian panjang yang senantiasa berdesis dari balik jendela kamar. 

Lebaran tahun lalu suamiku pulang dari tanah rantaunya, Pulau Dewata. Nadia begitu riang dan hatiku ringan tak berpalang. Keluarga kecilku terasa utuh dalam kebersamaan. Kami berkeliling ke rumah kerabat untuk silaturahmi tanpa beban. Sayangnya ada perasaan perih, dia pria yang kutanami cinta seluas dunia, jatuh sakit dua minggu. Barangkali karena kelelahan, maka libur lebaran yang harusnya dirayakan dengan terus bersenang-senang, justru lebih banyak dia gunakan untuk rebah di atas kasur. Tubuhnya berkeringat dingin, kadang demam sangat tinggi dan bahkan malamnya dia menggigil. Sudah dikeroki Emak, sudah dibawa ke tukang urut, juga telah berkali-kali berobat. Tidak kunjung sembuh sampai akhirnya waktu keberangkatan dirinya ke Pulau Dewata datang. Tubuhnya baru saja membaik tetapi tugas proyek sudah memanggilnya. 

‘Apa tidak sebaiknya kau di rumah saja, Mas?’

Aku berat melepas keberangkatannya, mengingat dua minggu lalu tubuhnya begitu ringkih. Bagaimana jika di tempat jauh itu dia sakit kembali? Siapa yang akan merawat? Siapa yang menemani hari-hari terburuknya? 

‘Tidak apa-apa, Dik. Mas sudah baikan, sudah sehat. Mencari kerja di sini gajinya sedikit, biarlah Mas berangkat ke Bali, doakan hasilnya berkah dan bisa untuk memenuhi kebutuhan Nadia, kau yang tenang.’

Aku cukup berdamai dengan perasaanku, lagi pula yang berpisah karena kebutuhan bukan hanya diriku saja. Di dunia ini aku tidak sendirian. Aku harus kuat untuk mengikhlaskan suamiku kembali merantau. 

Tetiba di malam yang mendung, seorang tetangga mengetuk pintu rumahku. Dia menyeretku keluar, menjauh dari halaman rumah. Aku tidak mengerti maksudnya, tetapi aku menurut saja. 

“Fatimah … kenapa tidak kau cegah keberangkatan suamimu?”

“Ada apa, Bibi?”

“Rumahmu itu dikelilingi dengan roh jahat! Suamimu sudah diincar!”

“Diincar dalam hal?”

Aku tidak begitu mengambil serius obrolan malam itu. Lagi pula, tetangga lain seringkali menggosipkan perilakunya yang kedengaran aneh, konon bisa mengobrol dengan jin, bisa mengusir aura jahat dan menyembuhkan santet. Benar-benar di luar nalar logika manusia—termasuk logikaku sendiri. 

Sehari setelah obrolan perihal sekolah Nadia, teleponku berdering nyaring. Kontak asing bergerak di permukaan layar. Mungkinkah nomor orang-orang pasar yang sayurnya sering aku pesan? Akan tetapi dari mana mereka bisa memburu kontakku? 

Aku mendorong jendela sekuat tenaga, engsel yang berkarat membuatnya sulit dibuka lebar. Kutempelkan telepon di dekat telinga sementara pandanganku terlempar ke langit luas yang cerah. Musim hujan sedang berlangsung, beruntungnya siang itu terbilang cerah, tiada mendung apalagi guntur. 

‘Benar ini dengan Fatimah, Suami Mas Santoso?’

Rupanya bukan orang pasar. 

“Ya, saya sendiri!”

‘Mohon maaf , Mas Santoso kecelakaan …,’

Mendung rupanya bertransmigrasi ke hatiku. Seketika jantungku berontak, detaknya terasa mau meledak. Ada perasaan sesak tiada bisa ditahan, ada air mata yang tetiba luruh dalam riak tangisan. 

“Lalu bagaimana kondisinya, Pak?” tanyaku dengan rintih menahan jerit ingin protes, ‘Kenapa bisa?’

‘Dia jatuh dari atap proyek, Fatimah.’

“Bagaimana kondisinya?” tanyaku lagi setengah berteriak.

’Maaf  Fatimah, Santoso sudah meninggal dunia.’

Apa maksud semua ini? Aku merasa mendapat kabar dari tempat kabur. Suamiku dikatakan meninggal dan aku belum tahu wujud aslinya. Benar-benar permainan takdir. Bukan lagi tangisan yang tumpah ruah. Tubuhku hilang arah. Aku tersedu-sedan di balik ambang jendela, disaksikan langit cerah yang seolah marah.  Nadia—dia masih kecil dan akan menjadi yatim. 

***

Santoso diantar pulang, tubuh suamiku pergi dalam keadaan baik yang utuh, dia kembali ke kampung halaman tanpa bisa mengenali suara istri dan putrinya. Santoso yang malang, sekalipun pemilik proyek bertanggung jawab mengganti rugi, akan tetapi aku tetap tidak bisa mengikhlaskan begitu saja. Nyawa suamiku tidak bisa diuangkan begitu saja. Rumah duka dipenuhi dengan tenda-tenda kesedihan. Tatapan Nadia begitu nanar sepanjang hari. Mertuaku jatuh pingsan, bahkan masih lemah di tempatnya tidur. Bukan hanya aku yang merasa kehilangan, seluruh kerabat dekat dan sanak famili tidak pernah menyangka jika Santoso yang usianya masih terbilang muda, rupanya ditakdirkan berumur singkat. Orang-orang berusaha membuatku kuat, tetapi jiwaku sekarat. Kehilangan sosok yang dicintai bukanlah perkara gambang. Kalau saja tiada Nadia di sisi, pastilah langkahku sudah tumbang.

Mendadak aku dengki dengan mandor dari kampungku yang mengajak suamiku merantau. Akan tetapi pantashkah diriku melakukan hal itu sementara dirinya sekarang jatuh sakit? Entah apa sebabnya, barangkali karena musim hujan menghatarkan gigil tiada berkesudahan. Demam panjang membuat mandor itu meringkuk di tempat tidur, ataukah mungkin karena perasaan bersalah berkecamuk di dadanya? 

Kudengar sepekan yang lalu, dia nekat berangkat menuju Pulau Dewata. Setiba di terminal Jombor, Yogyakarta, pingsan dan dibawa pulang oleh anak buahnya. Rasanya aku tidak punya hati nurani jika protes atas kematian suamiku karenanya. Aku terpuruk dalam pedih, tetapi tak boleh membagi-bagi kesedihanku. 

Sebulan kemudian tatkala mandor itu sudah baikan, kembalilah dia berangkat ke tanah rantau dan lagi-lagi dia berpulang karena di tengah perjalanan mengalami kejang. 

“Nah itu dia … sudah kubilang jangan berangkat!” Begitu kata Bibi-bibi yang dulu mengetuk pintu rumahku kepada sang mandor. 

Aku terhenyak. 

Magelang, 31 Oktober 2024. 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Pekerja Proyek
Titin Widyawati
Cerpen
Bronze
Asa Untuk Iza
Rafiu H
Cerpen
Mimpi Kolong Langit
Trippleju
Cerpen
Déjà Vu
Firman Fadilah
Cerpen
Bronze
Pertemuan Semesta
Vania Putri
Cerpen
Bronze
Rungkat
artabak
Cerpen
Bronze
Laptopku, Teman Kerjaku
Mochammad Ikhsan Maulana
Cerpen
Bronze
NURAGA
SIONE
Cerpen
Bronze
Perempuan Pemakan Bangkai
Nimas Rassa Shienta Azzahra
Cerpen
Bronze
Waktu
Titin Widyawati
Cerpen
Bronze
Tiga Bersaudara
Titin Widyawati
Cerpen
Di Balik Jendela Rapuh
Pikat De Wangi
Cerpen
Hangat sebelum Ibu Hilang
nindia
Cerpen
Izinkan Aku Menyayangimu
Dewi Fortuna
Cerpen
Kopitaloka: Rumah Yang Kebetulan Menjual Kopi
Indra Afriza Arsad
Rekomendasi
Cerpen
Pekerja Proyek
Titin Widyawati
Cerpen
Bronze
Waktu
Titin Widyawati
Cerpen
Bronze
Tiga Bersaudara
Titin Widyawati
Cerpen
Punggung Wanita
Titin Widyawati
Cerpen
Bronze
Pemuda Pemburu Sunyi, Tiga Kucing dan Seekor Kelabang
Titin Widyawati
Cerpen
Bronze
Suket Teki
Titin Widyawati
Cerpen
Bronze
Pendorong Gerobak
Titin Widyawati
Cerpen
Bronze
Sebuah Sampah
Titin Widyawati
Cerpen
Bronze
Takdir Mati
Titin Widyawati
Cerpen
Bronze
Nasib Ratusan Bumi
Titin Widyawati
Cerpen
Bronze
Surat
Titin Widyawati
Cerpen
Bronze
Gagal Sembunyi
Titin Widyawati
Cerpen
Lampu
Titin Widyawati
Cerpen
Bronze
Payung Hitam
Titin Widyawati
Cerpen
Bronze
Kematian Bergilir
Titin Widyawati