Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Bronze
Payung Merah Terakhir
4
Suka
17,066
Dibaca

Part 1

Kaca jendela kamarku tertutup oleh lapisan embun pagi, yang membuat pandanganku terhalang dan suasana jadi tampak muram. Namun, aku tak peduli dan kembali melanjutkan tidur.

Sisa genangan air hujan semalam masih terdengar berjatuhan. Tak ada satu pun dedaunan yang tampak kering, semuanya masih basah oleh hujan semalam. Bahkan rasa dingin masih menusuk, seolah menyusup ke dalam tulangku.

“Untung ini aku sedang libur, jadi aku bisa bangun siang sesukaku,” gumamku, merutuki diri sendiri atas kebiasaanku bermalas-malasan.

Sesekali aku menarik selimutku saat melihat terik matahari pagi mulai muncul dan menembus kamarku melalui celah ventilasi jendela. Hari libur memang menyenangkan, jadi aku punya alasan untuk tidak bangun pagi dan melanjutkan tidur.

Tak berselang lama, tiba-tiba terdengar derap langkah kaki yang terhenti tepat di depan pintu rumahku. Perlahan, aku menoleh ke arah sumber suara itu. Hingga beberapa detik kemudian terdengar ketukan pintu yang tersamarkan oleh rintik gerimis pagi ini yang masih intens.

TOK TOK TOK

“Siapa sih, pagi-pagi udah bertamu? Ganggu aja!” cetusku sembari menutup kedua telingaku dengan bantal untuk kembali melanjutkan tidur.

Namun, rasa malasku kembali buyar dengan suara ketukan itu yang kembali membuatku terjingkat. Dengan sedikit kesal, aku berusaha menyingkirkan rasa malas dan beranjak dari tempat tidur untuk membukakan pintu.

Tapi, begitu pintu terbuka, tak terlihat siapa yang datang. Hanya ada sebuah payung merah yang masih terbuka lebar di depan pintu rumahku.

Aku kembali mengedarkan pandanganku ke segala arah, mencari tahu siapa yang meletakkan payung merah itu. Tapi sama sekali tidak ada siapa-siapa.

“Hah! Payung merah?”

“Itu sudah sering terjadi beberapa tahun ini, semenjak kamu lulus SMA, Nak,” sahut ibuku sambil meletakkan beberapa piring di meja makan.

“Apa ibu tahu siapa yang ngirim?”

“Tentu saja tidak. Tapi, setiap gerimis, selalu ada ketukan pintu yang kemudian meninggalkan payung merah di depan rumah.”

“Aneh...”

Ibuku tampak sedikit menghela napas sebelum akhirnya kembali ke dapur. Raut wajahnya tak seperti biasa.

“Emang sebenarnya siapa sih, Bu, yang ngirim payung?”

“Ibu sendiri juga tidak tahu, Nak. Itu sudah berlangsung tujuh tahun lamanya setelah kamu lulus SMA dan melanjutkan kuliah di luar kota. Sejak itu, setiap gerimis, selalu ada ketukan pintu yang meninggalkan payung merah bertengger di depan rumah.”

Tak terasa sudah lama aku tidak pulang. Sejak meninggalkan rumah ini untuk kuliah, segalanya tampak berbeda. Rumah orang tuaku, beberapa rumah tetangga, bahkan cat di dinding rumah kami sudah memudar, seolah waktu terus berlalu tanpa menunggu.

Melihat foto-foto lama yang tersimpan di lemari, kenangan masa-masa SMA kembali muncul. Di salah satu foto, ada wajah yang sangat aku kenal, yang mengingatkanku pada payung merah yang selalu muncul di depan rumah.

“Nak, ayo makan dulu. Kamu kan baru sampai tadi malam, p...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp15.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Iam Young Teacher
Kurnia Maya Sari
Skrip Film
Arigatou Kyoto
Mahessa Gandhi
Flash
JAS REMBULAN
Faisal Syahreza
Cerpen
Bronze
Payung Merah Terakhir
Sang Ghania
Skrip Film
Perfect Husband to My Sister
mahes.varaa
Flash
Bronze
Sahur di Taman Lawang
Silvarani
Cerpen
Bronze
Eksekusi Mati Sukarti
Sri Wintala Achmad
Skrip Film
Tele - Tong
Azis Indriyanto
Skrip Film
GUS
diannafi
Flash
Erika
Lucky
Novel
I Want To Die, But I Want To Write About You
Tngkbll
Novel
With You, I'm Okay...
Nadia Amalia
Novel
Berkah Tersembunyi
Siti Fatimah
Novel
Langit Aja Gak Pake Bumi
Umi Hani
Novel
POV: First Daughter
Rachel Grifith Charisa Wijaya
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Payung Merah Terakhir
Sang Ghania