Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Religi
Bronze
PATAHNYA SAYAP SANG SANTRI
1
Suka
5
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

BAB SATU ~ Senja di Langit Pesantren

Lembayung senja sudah beranjak pamit di atas langit Pondok Pesantren Al-Ikhlas. Warna jingga yang pekat berpadu dengan biru gelap yang tenang, seolah melukiskan keteduhan yang merayap di sela-sela dinding kayu asrama tua.

Di jam-jam seperti ini, aroma tanah basah sisa gerimis sore berpadu lebur dengan semerbak harum minyak wangi kasturi yang dipakai para santri menjelang magrib. Riuh rendah ratusan langkah kaki di atas jalan setapak terdengar akrab. Mereka bergerak menuju satu tempat, Masjid Al-Ikhlas yang lampunya baru saja dinyalakan memancarkan cahaya kuning keemasan yang hangat.

Di antara gelombang santri berwajah segar usai berwudu, seorang pemuda berjalan dengan ritme yang berbeda. Langkahnya konstan, tenang, namun jika diperhatikan lebih dekat, ada sedikit jeda yang berat setiap kali kaki-kakinya menapaki bumi. Namanya Ali, seorang santri senior yang usianya baru berusia dua puluh tahun. Bagi anak-anak santri belia, terutama mereka yang baru satu atau dua tahun merasakan pahit-manisnya jauh dari orang tua, Ali adalah sosok kakak angkat panutan di pesantren ini. Perawakannya tidak terlalu tinggi, namun caranya membawa diri membuat siapa saja menaruh hormat. Wajahnya bersih, dengan tatapan mata yang selalu teduh, seolah menyimpan telaga kedamaian yang tidak pernah kering.

Malam itu, ia mengenakan baju koko putih bersih, sarung tenun berwarna hijau lumut, dan peci putih yang terpasang tegak. Di pundaknya, tersampir sebuah tas kulit cokelat kusam yang jahitannya sudah mulai lepas di beberapa sudut, berisi beberapa kitab kuning tebal dan sebuah buku catatan bergaris.

"Kang Ali, Mau ke masjid sekarang?" Suara cempreng di belakangnya memecah lamunan Ali saat berjalan menuju masjid. Seorang santri kecil bernama Udin, dengan sarung yang kedodoran hingga menyapu jalan setapak, berlari kecil kepayahan menghampirinya.

Ali menghentikan langkahnya, menunduk sedikit agar sejajar dengan tinggi bocah itu, lalu menyunggingkan senyum khasnya, senyum yang sanggup meredakan rasa rindu rumah bagi santri-santri kecil. Dan senyum yang bisa membutakan santriwati.

"Iya, Din. Kamu kok belum pakai kopiah? Sana kembali ke kamar, sebentar lagi adzan. Nanti dihukum lari sama pengurus baru tahu rasa," bisik Ali jena...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Religi
Cerpen
Bronze
PATAHNYA SAYAP SANG SANTRI
hadi wiyono
Novel
Bronze
Mengejar Cinta Ustaz Tampan
LeeNaGie
Novel
Gold
Air Mata Cinta
Coconut Books
Novel
Bronze
Yabes
Nuel Lubis
Novel
Faith
Aque Sara
Novel
Gold
Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia
Noura Publishing
Novel
Gold
Slilit Sang Kiai
Mizan Publishing
Novel
Gold
Bersedihlah
Mizan Publishing
Novel
Garis Z
Nazwa Nadya
Novel
Gold
Perjumpaan dengan Iblis
Mizan Publishing
Cerpen
Bronze
Mengenal Tuhan Yang Mengurus Hidupmu
Ahmad Wahyudi
Novel
Gold
Kiai Gokil
Bentang Pustaka
Novel
Gold
On the Way to Jannah
Bentang Pustaka
Novel
Seindah Kayuhan Doa
Afyani29
Novel
Gold
Catatan Indah untuk Tuhan
Mizan Publishing
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
PATAHNYA SAYAP SANG SANTRI
hadi wiyono
Cerpen
CINTA TANPA TAPI
hadi wiyono
Cerpen
Bronze
SETITIK DEBU DI KACA LANTAI 50
hadi wiyono
Cerpen
Sore Itu Di Depan Gang Kecil
hadi wiyono
Cerpen
Bronze
FACIO Si Tisu Malang
hadi wiyono
Flash
Keajaiban Tahajud
hadi wiyono
Novel
AIR MATA MAMAK DISUJUD TERAKHIR
hadi wiyono
Novel
TULUS
hadi wiyono
Cerpen
Bronze
A Cold Goodbye
hadi wiyono
Cerpen
SEBENING RINDU
hadi wiyono
Cerpen
PERNIKAHAN KERTAS
hadi wiyono
Cerpen
JALAN PULANG
hadi wiyono
Cerpen
Penjaga Lembah Seruni
hadi wiyono