Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Religi
PATAHNYA SAYAP SANG SANTRI
1
Suka
1,541
Dibaca

BAB SATU ~ Senja di Langit Pesantren

Lembayung senja sudah beranjak pamit di atas langit Pondok Pesantren Al-Ikhlas. Warna jingga yang pekat berpadu dengan biru gelap yang tenang, seolah melukiskan keteduhan yang merayap di sela-sela dinding kayu asrama tua.

Di jam-jam seperti ini, aroma tanah basah sisa gerimis sore berpadu lebur dengan semerbak harum minyak wangi kasturi yang dipakai para santri menjelang magrib. Riuh rendah ratusan langkah kaki di atas jalan setapak terdengar akrab. Mereka bergerak menuju satu tempat, Masjid Al-Ikhlas yang lampunya baru saja dinyalakan memancarkan cahaya kuning keemasan yang hangat.

Di antara gelombang santri berwajah segar usai berwudu, seorang pemuda berjalan dengan ritme yang berbeda. Langkahnya konstan, tenang, namun jika diperhatikan lebih dekat, ada sedikit jeda yang berat setiap kali kaki-kakinya menapaki bumi. Namanya Ali, seorang santri senior yang usianya baru berusia dua puluh tahun. Bagi anak-anak santri belia, terutama mereka yang baru satu atau dua tahun merasakan pahit-manisnya jauh dari orang tua, Ali adalah sosok kakak angkat panutan di pesantren ini. Perawakannya tidak terlalu tinggi, namun caranya membawa diri membuat siapa saja menaruh hormat. Wajahnya bersih, dengan tatapan mata yang selalu teduh, seolah menyimpan telaga kedamaian yang tidak pernah kering.

Malam itu, ia mengenakan baju koko putih bersih, sarung tenun berwarna hijau lumut, dan peci putih yang terpasang tegak. Di pundaknya, tersampir sebuah tas kulit cokelat kusam yang jahitannya sudah mulai lepas di beberapa sudut, berisi beberapa kitab kuning tebal dan sebuah buku catatan bergaris.

"Kang Ali, Mau ke masjid sekarang?" Suara cempreng di belakangnya memecah lamunan Ali saat berjalan menuju masjid. Seorang santri kecil bernama Udin, dengan sarung yang kedodoran hingga menyapu jalan setapak, berlari kecil kepayahan menghampirinya.

Ali menghentikan langkahnya, menunduk sedikit agar sejajar dengan tinggi bocah itu, lalu menyunggingkan senyum khasnya, senyum yang sanggup meredakan rasa rindu rumah bagi santri-santri kecil. Dan senyum yang bisa membutakan santriwati.

"Iya, Din. Kamu kok belum pakai kopiah? Sana kembali ke kamar, sebentar lagi adzan. Nanti dihukum lari sama pengurus baru tahu rasa," bisik Ali jenaka sembari mencolek dagu Udin.

Udin tertawa cekikikan, memegangi kepalanya yang berambut cepak, lalu berbalik arah dan berlari kencang menuju asmaranya sambil memegangi ikatan sarungnya agar tidak melorot. Ali tersenyum kecil, memandangi punggung bocah itu dengan tatapan yang mendalam. Ada semburat kebahagiaan di matanya, namun perlahan, semburat itu meredup, digantikan oleh segaris kabut tipis yang menyiratkan kesedihan.

Ali reflek memegang dadanya. Di balik kain katun baju kokonya, jantungnya berdegup, detakannya kacau. Ada rasa nyeri yang tajam, seperti ditusuk jarum-jarum es kecil, merayap dari ulu hati hingga ke pangkal lehernya. Ia memejamkan matanya erat-erat, menarik napas dalam-dalam melalui hidung dan mengeluarkannya perlahan melalui mulut.

"Sabar, wahai tubuh. Sebentar lagi. Selesaikan malam ini dengan baik," bisiknya dalam hati, sebuah kalimat yang sering ia ucapkan dalam beberapa bulan terakhir ini.

Sejak setengah tahun lalu, Ali tahu ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Rasa lelah yang datang tiba-tiba, batuk kering yang kerap meninggalkan rasa nyeri di tenggorokannya, dan rasa sakit di dada yang kian hari kian sering menderanya. Namun, Ali memilih diam. Di pesantren tempat ratusan jiwa menggantungkan semangat pada keteladanannya, Ali menolak untuk terlihat rapuh. Baginya mengeluh adalah bentuk ketidakbaktian atas waktu yang masih diberikan oleh Sang Maha Pemilik Hidup.

Ali kembali melangkah, memasuki serambi masjid. Ia mengambil posisi di shaf tepat di belakang imam, tempat yang biasa ia tempati. Tak lama kemudian, suara adzan magrib berkumandang dari pengeras suara menara. Suara itu meliuk-liuk indah di udara, memantul di antara pepohonan dan bangunan-bangunan asrama, membawa ketenangan yang sulit dijelaskan ribuan kata.

Ali mendengarkan setiap kalimat adzan dengan takzim, menjawabnya dalam hati dengan getaran jiwa yang berbeda dari biasanya. Setiap kali kalimat Hayya 'alal falah, mari menuju kemenangan, terdengar, Ali merasa seolah-olah kalimat itu adalah sebuah undangan pulang yang kian mendesak.

Usai shalat magrib berjamaah dan wirid panjang yang menggetarkan tiang-tiang masjid, para santri tidak langsung membubarkan diri. Malam ini adalah jadwal Ali untuk mengisi tausiah, di mana ia membaca dan menerjemahkan kitab, sementara puluhan santri mendengarkan dan menuliskan makna harfiah di bawah teks Arabnya.

Ali menggeser duduknya, menghadap ke arah puluhan santri yang sudah duduk bersila rapi membentuk setengah lingkaran. Di depannya, sebuah meja rehal kayu pendek diletakkan. Di atasnya terbaring Kitab Ayyuhal Walad karya Imam Al-Ghazali, sebuah kitab yang berisi nasihat-nasihat emas seorang guru kepada muridnya.

Ali membuka kitab tersebut dengan jemari yang sedikit bergetar. Ia berdeham kecil untuk mengusir rasa gatal dan perih di tenggorokannya.

"Bismillahirrahmanirrahim ..." Ali memulai dengan suara pelan, sedikit tertahan. Ia masih menahan rasa nyeri sekaligus gatal di tenggorokannya.

Selama hampir satu jam, Ali membedah bab demi bab tentang pentingnya ilmu yang bermanfaat, ilmu yang tidak hanya berhenti di kepalanya sendiri, melainkan ilmu yang turun ke hati dan diamalkan dalam perbuatan. Penjelasannya malam itu terasa begitu hidup, jauh lebih emosional dan mendalam dari biasanya. Beberapa santri senior yang duduk di shaf belakang bahkan mulai saling berbisik, merasakan ada getaran yang berbeda dari untaian kalimat yang keluar dari lisan Ali.

"Anak-anakku, adik-adikku sekalian ..." Ali menghentikan bacaan kitabnya sejenak. Ia menatap satu per satu wajah santri di depannya dengan pandangan mata yang berkaca-kaca, penuh dengan rasa kasih sayang yang tumpah ruah.

"Ilmu itu laksana sayap bagi seekor burung. Tanpanya, kita tidak bisa menjelajahi langit, hanya akan merangkak di atas tanah, rawan dimangsa oleh kebodohan dan nafsu dunia. Dengan ilmu dan takwa, kita bisa terbang tinggi mendekat kepada ridha Allah."

Ali mengambil napas sejenak, dadanya terasa kian menyempit, namun ia memaksakan diri untuk tersenyum. "Tapi ingatlah. Suatu saat sayap itu bisa saja patah. Entah karena badai ujian yang menerpa, atau karena takdir sang pemilik sayap harus selesai di dunia ini. Jika hari itu tiba, jika sayap sang santri harus patah dan ia tidak bisa lagi menemani kalian terbang di langit ilmu ... pastikan kalian tidak ikut terjatuh. Kalian harus tetap terbang tinggi dengan sayap-sayap kalian sendiri, melanjutkan estafet perjuangan ini."

Suasana masjid mendadak sunyi senyap. Hanya terdengar nyanyian jangkrik dari luar dan desis angin malam yang menyusup lewat jendela-jendela kayu yang terbuka. Kalimat Ali barusan tidak terdengar seperti materi pengajaran kitab, melainkan seperti sebuah wasiat yang diucapkan dengan penuh kesadaran.

Di shaf agak belakang, Ihsan, sahabat karib Ali sejak pertama kali menginjakkan kaki di pesantren ini delapan tahun lalu, mengernyitkan dahi. Ia merasakan ada sesuatu yang janggal dari kalimat Ali. Ihsan mengenal Ali luar dalam, mereka berbagi kamar yang sama, mencuci baju di sumur yang sama, dan sering terjaga bersama hingga sepertiga malam untuk menghafal bait-bait Alfiyah Ibnu Malik. Sifat Ali yang terlalu mandiri dan jarang mengeluh justru membuat Ihsan sering merasa cemas dalam beberapa minggu terakhir, terutama setelah ia beberapa kali memergoki Ali duduk sendirian di serambi masjid saat dini hari dengan wajah yang pucat pasi.

Ali menutup kitabnya dengan perlahan, menandai halaman terakhir yang dibaca dengan selembar pita hijau. "Kita akhiri kajian malam ini dengan doa kaffaratul majlis."

Setelah melafalkan doa bersama, para santri mulai menyalami Ali satu per satu. Prosesi mushafahah itu berlangsung khidmat. Setiap kali tangan-tangan mungil para santri kecil menyentuh telapak tangannya, Ali menggenggamnya sedikit lebih erat, menyalurkan energi dan doa yang tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam.

Ketika giliran Ihsan yang mendekat, ia tidak langsung melepaskan jabatannya. Ihsan menahan tangan Ali, lalu berbisik dengan suara rendah, "Li, kamu pucat sekali malam ini. Suaramu juga terdengar berat. Kamu sakit?"

Ali menatap Ihsan, matanya berkedip lembut, lalu ia menarik tangannya dengan halus sambil menepuk pundak sahabatnya itu. "Hanya kurang tidur saja, San. Biasa, kejar target hafalan untuk ujian akhir nanti. Jangan khawatir, aku tidak apa-apa."

"Jangan bohong, Li. Aku ini teman sekamarmu, bukan santri baru yang bisa kamu bohongi dengan senyuman itu," cecar Ihsan, tatapannya menuntut penjelasan.

Ali terkekeh kecil, kekehan yang sengaja dibuat-buat untuk mencairkan suasana. "Sudahlah, San. Lebih baik kita segera ke ndalem Kyai. Malam ini kita kan ada jadwal setoran hafalan kitab Fathul Qarib terakhir dengan Kyai Ahmad. Jangan sampai kita terlambat."

Tanpa menunggu jawaban Ihsan, Ali membalikkan badannya, merapikan meja rehal yang tadi digunakan untuk meletakan kitab-kitab, lalu melangkah keluar dari masjid menuju area ndalem, kediaman pengasuh pesantren, Kyai Ahmad.

Di luar, malam telah sepenuhnya jatuh. Udara dingin mulai menggigit kulit, namun di dalam dada Ali, ada sebuah api yang kian meredup, berjuang melawan malam yang kian pekat menyiksa.

***

BAB DUA ~ Harapan yang Rapuh

Jalan setapak menuju ndalem Kyai Ahmad dipayungi oleh rimbunnya pohon-pohon sawo kecik yang batangnya sudah berlumut. Cahaya lampu taman yang kekuningan menembus celah dedaunan, menciptakan siluet garis-garis panjang di atas tanah. Malam teduh menyelimuti Pondok Pesantren Al-Ikhlas.

Ali berjalan di depan, sementara Ihsan mengekor pelan di belakang. Sesekali Ali menyeret langkahnya, di belakang Ihsan diam memperhatikan. Memang ada sesuatu yang janggal dari gerak tubuh teman karibnya itu.

Jarak antara masjid dan kediaman sang kyai tidaklah jauh, namun bagi Ali, setiap jengkal jalan setapak yang dipijaknya terasa seperti tanjakan terjal berkerikil tajam yang menguras sisa-sisa napasnya, terengah pendek.

Setibanya di teras ndalem yang beralaskan ubin tegel kuno bermotif hijau tua, Ali melepas sandal jepit dan meletakannya dengan rapi. Ia duduk bersila di sudut teras sembari menata napas yang memburu. Ihsan duduk di sampingnya.

"Li, kalau kamu memang lelah, biar malam ini aku saja yang setoran duluan. Kamu bisa ijin istirahat kembali ke asrama," ujar Ihsan prihatin dengan kondisinya, matanya tidak pernah luput dari dada Ali yang kembang kempis tak beraturan. Napasnya terdengar sengau, pilu Ihsan mendengarnya.

Ali menggeleng pelan, senyumnya kembali mengembang, seperti tak ada sesuatu yang ia rasakan meski kali ini wajahnya terlihat lebih pucat. Ia tak mengeluh sama sekali, semua yang ia rasa dikembalikannya ke sang pencipta.

"Tidak apa-apa, San. Menunda setoran kepada guru itu seperti menunda keberkahan. Lagi pula ini adalah bab-bab terakhir. Aku ingin menyelesaikannya tepat waktu," kata Ali meyakinkan Ihsan. Ia mencoba berlaku wajar di depan sahabatnya itu. Tapi Ihsan menangkap gelagat pura-pura Ali yang mencoba baik-baik saja di depannya.

"Tapi, Li. Daripada hasil ujianmu tidak maksimal, lebih baik ditunda. Tunggu tubuhmu sehat. Nanti kalau sudah mendingan kan bisa ketemu Pak Kyai, malah lebih enak setorannya, Li."

"Tidak, San. Aku cuma letih saja, Nanti di asrama minum wedang jahe juga keringatan, abis itu seger lagi, kan?" jawabnya tertawa, tawa yang terdengar dipaksakan di telinga Ihsan. Ia sangat khawatir dengan kondisi temannya itu.

Sebelum Ihsan sempat mendebat lagi, pintu kayu jati besar ndalem terbuka. Seorang abdi dalem tersenyum ramah kepada mereka. "Kang Ali, Kang Ihsan, monggo dipun aturi mlebet. Romo Kyai sampun nenggo wonten ruang tengah - Kang Ali, Kang Ihsan, silakan masuk. Romo Kyai sudah menunggu di ruang tengah."

Kedua santri senior itu mengangguk takzim. Mereka melangkah masuk, berjalan dengan lutut ditekuk rendah sebagai bentuk penghormatan kepada sang guru. Ruangan itu beraroma minyak gaharu yang menenangkan. Di dindingnya, tergantung beberapa kaligrafi berbingkai kayu ukir Jepara. Di tengah ruangan, duduk seorang pria sepuh berwajah teduh dengan janggut memutih yang rapi, mengenakan jubah putih dan sorban hijau yang tersampir di pundak. Beliau adalah Kyai Ahmad, pendiri sekaligus ruh dari Pesantren Al-Ikhlas ini. Tanpa kehadirannya sekali saja, pesantren serasa kehilangan daya tariknya.

"Assalamu’alaikum, Yai," sapa Ali dan Ihsan seraya mencium punggung tangan sang kyai dengan khidmat.

"Wa’alaikumussalam warahmatullah. Kene, kene, pinarak, - sini, sini, duduk," jawab Kyai Ahmad, suaranya hangat menyambut dua santri terbaiknya Beliau membetulkan posisi kacamata bacanya, lalu memandang Ali dan Ihsan bergantian, bangganya punya santri-santri hebat.

"Bagaimana ngaji kajianmu tadi, Ali? Lancar?"

"Alhamdulillah, lancar, Yai," jawab Ali dengan kepala tertunduk dalam.

"Bagus. Seorang santri itu laksana mata air. Di mana pun dia ditempatkan, dia harus bisa menghidupi tanah di sekitarnya. Dan kamu, Ali, sudah menjadi mata air yang jernih bagi adik-adikmu di sini," puji Kyai Ahmad tulus.

Pujian itu justru membuat dada Ali berdenyut ngilu. Ada rasa haru yang mendesak, berbaur dengan rasa bersalah karena menyembunyikan kerapuhan fisik yang dirasakannya sekarang. Ihsan di sampingnya manggut-manggut, setuju dengan ucapan Kyai Ahmad

"Matur sembah nuwun, Yai. Sedoyo saget mlampah namung saking berkah lan donga panjenengan - terima kasih banyak, Yai. Semua bisa berjalan hanya karena berkah dan doa Pak Kyai,"

"Kalo kamu, Ihsan. Gimana dengan jadwal kegiatan pesantren yang sudah kamu susun. Ada kendala tidak?" Ihsan yang mengatur semua jadwal kegiatan pesantren ini, semua yang sudah disusun berjalan baik setiap harinya.

"Alhamdulillah tidak ada kendala, Yai, semua kegiatan sesuai jadwal yang sudah dibuat "

Kyai Ahmad mengangguk cepat.

"Yo wis, sekarang kita mulai setorannya. Siapa dulu? Ali atau Ihsan?"

"Biar Ali dulu, Yai," potong Ihsan cepat, ia tahu Ali sedang kepayahan, meminta Ali menyetor terlebih dahulu adalah bentuk perhatian dirinya pada sahabatnya itu. Ihsan berharap agar Ali bisa segera menyelesaikan tugasnya dan kembali ke kamar untuk beristirahat.

Ali mulai membuka kitab Fathul Qarib miliknya. Bab yang harus ia setorkan malam ini adalah Bab Janizah, bab tentang pengurusan jenazah. Dengan hafalan yang mutqin, mengalir lancar tanpa jeda, Ali mulai melafalkan teks demi teks beserta syarahnya di luar kepala.

" ... Wal yajibu fi mayyiti ghasluhu, wa takfinuhu, was shalatu 'alaihi, wa dafnuhu - dan wajib hukumnya memandikan jenazah, mengafaninya, menshalatinya, dan menguburkannya ... " tutur Aki dalam setoran hapalannya. Ia juga menjelaskan secara detil dan gamblang maksud dari hapalan yang sedang disampaikan.

Suara Ali menggema lembut di ruangan tersebut. Namun, tepat saat ia hendak menjelaskan syarat-syarat kain kafan, rasa perih yang luar biasa kembali menghantam ulu hatinya. Kali ini, rasa sakit itu disertai gelombang batuk yang tidak bisa ditahan.

"Uhuk! Uhuk .... !"

Ali spontan menutup mulutnya dengan sapu tangan kain yang selalu ia simpan di saku baju kokonya. Tubuhnya terguncang hebat. Ihsan langsung bergeser mendekat, menepuk-nepuk punggung Ali dengan wajah panik yang tidak bisa disembunyikan lagi. Sesaat kemudian Ihsan berlari ke dapur mengambil segelas air.

Kyai Ahmad menghentikan bacaan Ali, wajah sepuhnya menatap Ali dengan pandangan khawatir yang mendalam. "Ali ... kamu sakit, Le?"

Ali berusaha meredakan batuknya. Ia menarik napas pendek-pendek, mengusap bibirnya dengan sapu tangan, lalu buru-buru melipat kain tersebut agar bercak merah kental yang menempel di sana tidak terlihat oleh siapapun. "Mboten, Yai ... namung tersedak idu, garing tenggorokanipun, - Tidak, Yai ... hanya tersedak ludah, kering tenggorokannya," bohong Ali dengan suara yang bergetar menahan perih.

Namun, mata tajam Kyai Ahmad tidak bisa dibohongi. Beliau menangkap gurat pucat yang tidak wajar di bawah kelopak mata Ali, serta jemari pemuda itu yang dingin dan gemetar. Kyai Ahmad menghela napas panjang, lalu menutup kitab di depannya dengan perlahan.

Dari dapur Ihsan berlari tergopoh membawa segelas air, lalu meminumkannya ke Ali.

"Ali, ilmu yang kamu pelajari di sini bukan hanya tentang bagaimana memaksakan diri dalam ketaatan, tetapi juga tentang bagaimana mengenali dan menjaga amanah tubuh yang diberikan oleh Allah," ujar Kyai Ahmad dengan nada yang sangat lembut namun sarat akan penekanan.

"Kamu sudah mengabdi tanpa batas untuk pondok ini. Tapi malam ini, gurumu ini memerintahkanmu, hentikan setoranmu, kembalilah ke asrama, dan istirahatlah."

"Tapi, Yai, sedikit lagi bab ini selesai .... " Ali mencoba menawar, matanya menyiratkan keputusasaan yang halus. Ia tahu, waktunya tidak banyak lagi. Ia ingin menyelesaikan semua utang hafalannya sebelum lembar hidupnya ditutup.

"Ali," potong Kyai Ahmad, kali ini dengan senyum kebapakan yang menenangkan. "Sesuatu yang dilakukan dengan ikhlas, meski belum sampai pada titik akhir hitungan manusia, sudah dicatat utuh di sisi-Nya. Pergilah istirahat. Ihsan, antarkan sahabatmu ini."

Ali tidak punya pilihan lain selain patuh. Dengan sisa tenaga yang ada, ia kembali mencium tangan Kyai Ahmad. Saat kepala Ali menunduk di atas tangan sang kyai, beludru halus peci putihnya sempat menyentuh lengan baju sang guru, sebuah laku pamit yang tak biasa

Malam kian larut ketika mereka kembali ke kamar asrama. Kamar nomor empat di asrama Al-Kahfi itu sepi, karena sebagian besar santri lainnya masih mengaji mandiri di aula atau sudah terlelap di sudut-sudut masjid. Ihsan langsung menggelar kasur lantai kapuk tipis milik Ali.

"Sudah, Li, jangan menyentuh kitab dulu malam ini. Tidurlah," kata Ihsan dengan nada sedikit ketus yang sebenarnya bersumber dari rasa cemas yang memuncak. "Besok pagi, aku tidak mau tahu, kita harus pergi ke puskesmas kecamatan. Aku akan minta ijin ke pengurus pondok."

Ali hanya tersenyum tipis sembari mendudukkan dirinya di tepi kasur. "Iya, San. Terima kasih ya. Kamu tidur duluan saja, aku mau merapikan beberapa berkas di tas dulu."

Ihsan mendengus, namun karena rasa kantuk dan lelah yang luar biasa setelah seharian beraktivitas, ia akhirnya merebahkan diri di kasurnya sendiri yang berada tepat di sebelah kasur Ali. Tak butuh waktu lama bagi Ihsan untuk terhanyut dalam mimpi, menyisakan dengkur halusnya yang teratur.

Ketika dilihatnya Ihsan sudah benar-benar terlelap, Ali perlahan bangkit. Langkahnya sangat pelan agar tidak menimbulkan derit lantai papan kayu yang rapuh. Ia mengambil jurnal sederhana yang ia tulis di sebuah buku dari dalam tas kulit cokelatnya, lalu menyalakan sebuah lampu minyak templek kecil di sudut meja belajarnya yang beralaskan triplek.

Ali mengambil sebuah pena hitam. Di bawah temaram cahaya api yang menari-nari ditiup angin malam yang menyusup lewat celah dinding bambu, ia mulai menggoreskan jemarinya. Tangannya gemetar, namun goresan tintanya tertulis tegak dan rapi.

Lembar Akhir di Al-Ikhlas ....

Wahai Dzat yang memegang jiwaku dalam genggaman-Nya. Jiwaku laksana burung kecil yang sayapnya kini telah patah dan lelah berjuang melawan badai di dunia ini. Aku bersyukur atas setiap detik yang Kau izinkan untukku bernapas di bawah atap pondok ini, mereguk manisnya ilmu-Mu, dan memandang wajah-wajah suci para pencari ridha-Mu.

Jika malam-malam ini adalah malam terakhirku terjaga, jadikanlah degup jantungku yang kian melemah ini sebagai tasbih yang tak putus. Aku tidak takut pada kematian yang mendekat, aku hanya takut jika aku pulang dalam keadaan belum memberikan manfaat yang cukup bagi mereka yang Kau titipkan di sekelilingku ....

Sahabatku Ihsan, guruku Kyai Ahmad, dan santri-santri kecilku ... maafkan sayap yang rapuh ini jika harus patah sebelum membawa kalian melintasi langit ilmu yang lebih luas.

....

Ali menghentikan tulisannya sejenak. Rasa hangat menjalar di pipinya, sebutir air mata jatuh tepat di atas kertas, membuat tulisan tinta hitam di kata "patah" sedikit melebar dan blur. Ia memegangi dadanya yang kini terasa sangat panas, seolah-olah seluruh pasokan udara meletakkannya kembali dengan rapi di atas meja di dekat peci putihnya, lalu perlahan merebahkan tubuhnya di atas kasur tipis. Ia memiringkan tubuhnya ke sebelah kanan, membelakangi Ihsan.

Sejenak ia mwmerhatikan wajah sahabatnya itu. Sahabat seperjuangan yang saling mengisi. Ihsan selalu ada bukan disaat suka saja, tapi ketika kesulitan melilitnya. Tak pernah sejenak pun Ihsan meninggalkan dirinya. Begitu pun ia, selalu ada kala Ihsan sedang butuh dukungannya.

Ingat sekali bertahun lalu, selepas Madrasah Aliyah keduanya memutuskan menuntut ilmu di pesantren ini.

Langkah tepat karena Kyai Ahmad sang pendiri pesantren, membebaskan semua pungutan asal mereka berdua mau membantu Pesantren Al-Ikhlas.

Ali berbalik badan sepenuhnya, wajahnya kini menghadap ke dinding kayu. Bayangan-bayangan kesedihan menari-nari di benaknya.

Berjam-jam berlalu, Alu belum bisa memejamkan mata, hingga tak terasa lantunan ayat suci mwngalun syahdu dari masjid.

"Sudah jam 3 pagi," gumamnya. Ia bangun mengambil air wudhu, berganti pakaian, sebelum membangunkan Ihsan.

***

BAB TIGA ~ Sayap itu Patah

Malam merayap maju mendekati pukul dua dini hari Di Pondok Pesantren Al-Ikhlas. Udara sedingin es menyelimuti kompleks asrama, memaksa sebagian besar makhluk hidup meringkuk lebih dalam di balik selimut tipis mereka. Di luar suara dedaunan sawo kecik yang bergesekan ditiup angin malam terdengar seperti bisikan-bisikan gaib yang mendinginkan tengkuk. Namun di dalam asrama Al-Kahfi, keheningan itu mendadak pecah oleh suara yang erdwngar menyayat hati.

"Uhuk! Uhuk ... Hah ...."

Ali terbangun paksa. Matanya membelalak lebar dalam kegelapan kamar. Rasa sakit yang menghantam dadanya kali ini tidak lagi seperti tusukan jarum, melainkan seperti sebongkah batu besar yang membara, menghimpit jalur napasnya hingga hancur. Ia mencoba bangkit, namun seluruh persendiannya terasa lolos, tak bertenaga. Dengan sisa kekuatan yang ada, Ali berguling ke tepi kasur, tangannya erat mencengkeram lantai papan kayu hingga kukunya memutih.

Batuknya kian menjadi-jadi, tenggorokannya teesumbat dengan gumpalan cairan. Ali tidak sempat lagi meraih sapu tangan kainnya. Cairan pekat kehitaman itu tumpah begitu saja dari sela-sela jemarinya yang mencoba menutup mulutnya, mengotori sajadah dan sebagian lengan baju koko putih yang ia kenakan. Setiap kali ia mencoba menarik napas, yang terdengar hanyalah suara desis pendek yang bergetar hebat, serak yang menyiksa.

Suara batuk berat tubuh dan rintihan tertahannya yang berat akhirnya menembus alam bawah sadar Ihsan. Pemuda yang semula terlelap itu tersentak bangkit, mengucek matanya yang masih buram oleh kantuk.

"Ali? Kamukah itu?" tanya Ihsan memastikan siapa yang duduk di atas sajadah dengan suara serak khas orang bangun tidur. Matanya masih menerawang, buram menyelimuti indera penglihatannya itu

Namun begitu matanya menangkap bayangan siluet Ali yang meringkuk di lantai bawah temaram sisa lampu minyak templek, kantuk Ihsan menguap seketika. Ia langsung melompat dari kasurnya dan berlutut di samping Ali. Saat tangannya menyentuh pundak sahabatnya, Ihsan tersentak, tubuh Ali teramat dingin dan basah oleh keringat-keringat yang menetes seukuran biji jagung.

"Astagfirullahal'adzim, Ali! Kamu kenapa, Li?!" Pekik Ihsan panik.

Ihsan meraba dinding, mencari saklar lampu neon kamar dan menyalakannya. Begitu cahaya putih benderang memenuhi ruangan, jantung Ihsan serasa berhenti berdetak. Lantai di depan Ali dipenuhi bercak darah kental. Wajah Ali yang biasanya teduh kini pucat pasi laksana mayat, bibirnya membiru, dan kedua matanya sayu, menatap Ihsan dengan pandangan yang kian meredup namun masih memancarkan ketenangan yang aneh.

"San ... uh-uhuk ... ikh-ikhlas... kan ..." bisik Ali, suaranya nyaris tak terdengar, terputus oleh napasnya yang pendek dan dangkal.

"Diam, Li! Jangan bicara dulu!" Air mata Ihsan tumpah seketika melihat kondisi sahabatnya dalam menuntut ilmu itu. Ia merengkuh tubuh Ali, menyandarkan kepala sahabatnya di dadanya. "Tolong! Tolonggg ... Kang pengurus! Tolong .... " Teriak Ihsan sekuat tenaga memecah kesunyian malam pesantren.

Mendengar teriakan histeris Ihsan, beberapa santri dari kamar sebelah berhamburan masuk dengan wajah panik. Lampu-lamou lorong asrama dinyalakan satu per satu. Kamar yang semula sepi dalam sekejap berubah menjadi riuh rendah oleh kepanikan.

"Ada apa, Kang Ihsan?! Astagfirullah, Kang Ali kenapa?!" tanya panik seorang santri senior. Yang lain terkesiap melihat kondisi Ali

"Cepat panggil Kang Rozak! Ambil mobil ambulans pesantren di depan ndalem! Cepat!" Perintah Ihsan dengan suara bergetar hebat, tangannya terus mengusap darah dengan sapu tangannya yang tak henti mengalir dari sudut bibir Ali.

Dua orang santri berlari kencang menerobos kegelapan malam menuju kediaman pengurus dan ndalem Kyai Ahmad. Sementara itu, Ihsan terus mendekap Ali yang napasnya kian lama kian berjarak.l, dan semakin berat. Jiwa Ali laksana burung yang sayapnya telah patah sepenuhnya, tak lagi mampu menahan beratnya raga duniawi.

Di tengah kepanikan itu, mata Ihsan yang basah oleh air mata tidak sengaja menangkap sebuah buku catatan bergaris yang terletak rapi di atas meja belajar kecil milik Ali, tepat di samping peci putih yang tergeletak pasrah. Dengan tangan bergetar, sembari tetap memegangi tubuh Ali, Ihsan meraih buku tersebut. Lembarannya terbuka pada halaman yang tintanya masih sedikit basah.

Ihsan membaca baris demi baris tulisan tangan Ali yang rapi namun gemetar di bawah cahaya lampu neon.

Sahabatku Ihsan, guruku Kyai Ahmad, dan santri-santri kecilku ... maafkan sayap yang rapuh ini jika harus patah sebelum membawa kalian melintasi langit ilmu yang lebih luas.

Membaca untaian kalimat wasiat itu, tangis Ihsan pecah sejadi-jadinya. Dadanya sesak oleh rasa penyesalan yang teramat dalam. Selama ini Ali menanggung semua rasa sakit ini sendirian di balik senyum ketulusannya. Di balik jubah kepemimpinan dan keteladanan yang ia tunjukkan pada ratusan santri, Ali menyimpan rahasia tentang kematiannya sendiri dengan sangat rapat dan rapi.

"Kenapa kamu tidak pernah cerita, Li? Kenapa kamu tanggung ini sendirian?" Isak Ihsan di telinga Ali.

Ali seolah mendengar bisikan itu. Sudut bibirnya yang bernoda darah bergerak sedikit, membentuk sebuah lengkungan senyum yang sangat tipis, senyuman terakhir yang paling indah, seolah memberi tahu Ihsan bahwa tugasnya di dunia ini memang telah genap, dan sayapnya yang patah kini siap digantikan dengan sayap baru yang abadi di pangkuan-Nya.

Bersama dengan embusan napas panjang yang semakin melambat, dan dengkuran pelan. Kalimat tauhid keluar dari mulutnya bersamaan dengan senyuman yang membuat terlihat sangat tampan. Cahaya terang namun tak silau keluar dari tubuhnya. Melayang naik ke atas menembus langit-langit kamar asrama, lalu menghilang.

Suara-suara langkah kaki berlari-lari kecil berderap panik mendekati kamar, semua pengurus mendatangi kamar Ali dan Ihsan.

Tubuh Ali perlahan sepenuhnya lemas di pelukan Ihsan.

Ali pergi untuk selamanya. Meninggalkan tangisan Ihsan yang memeluk tubuhnya.

Bidadari-bidadari surga menyambut kedatangannya, mereka rindu dengan seorang pemuda tampan dengan akhlak yang mulia.

***

BAB EMPAT ~ Penerbangan Terakhir

Malam yang mencekam itu seketika pecah oleh deru mesin mobil ambulans milik pondok pesantren yang membelah keheningan asrama Al-Kahfi. Lampu rotator merahnya berputar, sirine menyala menyanyikan lagu yang menyayat hati pada dinding-dinding kayu asrama. Langkah kaki serombongan pengurus pondok bergema terburu-buru, dipimpin langsung oleh Kyai Ahmad yang datang dengan gurat kesedihan mendalam di wajah sepuhnya. Beliau langsung mendekat, memandangi Ali yang telah terkulai lemas di pangkuan Ihsan dengan tatapan mata yang basah oleh air mata.

"Ali ... Innalillahi wa inna ilaihi raji'un," bisik Kyai Ahmad, suaranya bergetar hebat saat jemari beliau menyentuh urat nadi di pergelangan tangan Ali yang kini telah sunyi dari degup kehidupan. Sang panutan pesantren itu tertunduk, pundaknya berguncang. Santri teladan yang selama ini ia gadang-gadang akan melanjutkan estafet perjuangan menuntun ummat, kini telah menyelesaikan penerbangan dunianya lebih cepat, mendahuluinya

Tubuh Ali segera dievakuasi ke dalam ambulans untuk dibawa ke rumah sakit terdekat demi memenuhi prosedur medis, meskipun semua orang di dalam Kamar Nomor Empat tahu, jiwa sang santri telah terbang tinggi meninggalkan raganya tepat sebelum fajar menyingsing. Ihsan ikut masuk ke dalam mobil, mendekap erat buku catatan peninggalan Ali di dadanya, sementara air matanya tak henti mengalir membasahi sampul buku yang dingin.

Keesokan paginya, suasana Pondok Pesantren Al-Ikhlas berubah total. Tidak ada suara riuh canda tawa di sela-sela waktu sarapan. Kabar duka itu telah menyebar laksana angin puyuh, meninggalkan awan kelam di atas kepala ratusan santri. Bendera setengah tiang dikibarkan di halaman depan.

Saat jenazah Ali dibawa kembali ke pesantren menjelang waktu dhuha setelah disucikan dan dikafani dengan kain putih bersih, seluruh santri telah berdiri berjejer di sepanjang jalan. Mereka memberikan penghormatan terakhir kepada sosok yang selama ini menghidupkan malam-malam mereka dengan untaian ilmu.

Udin santri kecil yang sore sebelumnya sempat bercanda dengan Ali, berdiri di barisan paling depan. Air matanya meleleh membasahi pipinya yang tembam, tangannya memegangi erat kopyah hitamnya yang kini terpasang rapi, mengingat lisan hangat Ali yang terakhir kali menyapanya.

Jenazah Ali disemayamkan di tengah Masjid Al-Ikhlas, tempat yang sama di mana beberapa jam lalu ia membedah kitab Ayyuhal Walad dan berbicara tentang sayap yang patah. Ratusan santri bergantian menyolatkan jenazah sang kakak kelas secara bergelombang, dipimpin langsung oleh Kyai Ahmad dengan isak tangis yang tertahan di setiap takbir.

Ihsan berdiri di samping mimbar setelah gelombang shalat jenazah terakhir usai. Atas perintah Kyai Ahmad, ia diminta membacakan pesan atau patahan kata yang ditinggalkan oleh Ali. Dengan suara yang parau dan dada yang sesak, Ihsan membuka lembar akhir dari buku catatan bergaris milik Ali, lalu membacakannya di hadapan seluruh jemaah masjid.

"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ...." Ihsan menarik napas panjang, menahan getaran di suaranya.

"Ini adalah goresan pena terakhir dari sahabat kita, saudara kita, guru kita, Kang Ali, yang ditulis beberapa jam sebelum beliau berpulang ...."

Ihsan mulai membaca dengan air mata yang kembali turun,

"Sahabatku Ihsan, guruku Kyai Ahmad, dan santri-santri kecilku ... maafkan sayap yang rapuh ini jika harus patah sebelum membawa kalian melintasi langit ilmu yang lebih luas. Jangan tangisi kepergianku, karena sejatinya raga ini hanyalah sangkar penjaranya jiwa. Rawatlah pesantren ini, teruslah mengaji, dan pastikan kepakan sayap ilmu kalian tidak pernah berhenti hanya karena satu sayap di antara kita telah patah ...."

Suasana di dalam masjid seketika dipenuhi oleh suara tangis yang pecah dari ratusan santri. Kata-kata itu menghantam lubuk hati mereka, menyesakan. Ali tidak sekadar pergi, ia meninggalkan sepotong jiwanya yang abadi dalam bentuk untaian nasihat yang membakar semangat.

Usai pembacaan wasiat tersebut, keranda jenazah Ali perlahan digotong keluar masjid menuju pemakaman keluarga pesantren di belakang pondok pesantren. Sinar matahari waktu dhuha yang hangat menerobos sela-sela pepohonan, menyinari kain hijau penutup keranda seolah-olah langit pun ikut menyambut kepulangan sang pencari ilmu dengan penuh sukacita. Ali telah pergi, menyelesaikan bab terakhir dari kitab hidupnya dengan kepatuhan mutlak kepada Sang Khalik.

***

Empat puluh hari telah berlalu sejak tanah makam di belakang pondok pesantren masih basah. Kini rumput-rumput hijau kecil mulai tumbuh rapi di atas pusara Ali, berayun lembut setiap angin sore berembus dari arah persawahan. Wangi bunga kamboja yang gugur di dekat batu nisan sederhananya seolah menjadi pengingat karomah dan kebaikan yang ditinggalkan oleh almarhum.

Suasana di Pondok Pesantren Al-Ikhlas perlahan mulai kembali ke ritme semula, namun ada sesuatu yang telah berubah secara mendalam di dalam dada setiap santrinya. Kehilangan Ali tidak membuat mereka patah semangat, sebaliknya peristiwa itu menjadi sebuah titik balik spiritual yang luar biasa.

Sore itu langit kembali melukiskan warna jingga keemasan yang tak menyilaukan. Ihsan berjalan menyusuri jalan setapak menuju Masjid Al-Ikhlas. Di pundaknya, kini tersampir tas kulit cokelat kusam milik Ali, sebuah warisan yang ia jaga melebihi barang berharga mana pun. Langkah Ihsan kini lebih mantap, tidak ada lagi keraguan di matanya. Ia telah bertekad untuk melanjutkan seluruh hafalan dan perjuangan sahabat karibnya itu.

Saat memasuki serambi masjid, langkah Ihsan terhenti sejenak. Di sudut dekat jendela tempat Ali biasa memberikan kajian, tampak sekelompok santri kecil sedang berkumpul. Di tengah-tengah mereka, Udin yang kini memakai peci putihnya dengan tegak sedang memegang sebuah kitab kecil.

"Ingat kata Kang Ali dulu," suara Udin terdengar lantang dan penuh keyakinan di hadapan teman-teman sebayanya. "Ilmu itu sayap kita. Walaupun Kang Ali sudah tidak ada di sini untuk mengajari kita, kita tidak boleh malas mengaji. Kita harus terbang tinggi dengan sayap kita sendiri sampai ke ridha Allah!"

Santri-santri kecil lainnya mengangguk dengan mata berbinar-binar. Mendengar itu, seulas senyum haru sekaligus bangga terbit di bibir Ihsan. Ia tahu, apa yang dikatakan Ali di malam terakhirnya kini telah menjadi kenyataan.

Fisik Ali memang telah terkubur di bawah gundukan tanah, dan sayap dunianya telah patah sepenuhnya. Namun, melalui keikhlasan, ilmu yang bermanfaat, dan keteladanan yang ia tebar selama hidup, Ali justru telah menumbuhkan ratusan sayap baru yang jauh lebih kuat pada diri santri-santri yang ditinggalkannya.

Ihsan melangkah masuk ke dalam masjid, duduk di shaf terdepan, lalu membuka kitab Fathul Qarib tepat pada halaman tentang pengurusan jenazah yang belum sempat diselesaikan Ali di ndalem Pak Kyai.

Sebelum memulai kajian, Ihsan menatap ke luar jendela, memandang langit senja yang damai.

“Tugasmu sudah selesai dengan indah, Li. Sekarang, biarkan kami yang melanjutkan penerbangan ini,” bisik Ihsan dalam hati.

Dari kejauhan, suara adzan magrib kembali berkumandang dengan syahdu, mengantarkan kedamaian yang abadi bagi sang santri yang kini telah terbang bebas tanpa rasa sakit lagi di langit keabadian-Nya.

Tamat

1. Syarah (berasal dari bahasa Arab syaraha) berarti penjelasan atau penjabaran.

2. Hafalan mutqin (hafalan yang sangat kuat dan lancar) adalah proses atau upaya memahami makna, tafsir, dan konteks dari ayat-ayat atau teks yang sedang dihafal.

3. Doa kaffaratul majlis : doa penutup di setiap kajian atau pembelajaran.

4. Kitab Fathul Qorib adalah salah satu kitab fikih mazhab Syafi'i paling populer. Karya Syekh Muhammad bin Qasim Al-Ghazi ini merupakan penjelasan (syarah) dari kitab Matan Taqrib karya Abu Syuja'. Kitab ini banyak dikaji di pondok pesantren untuk memahami hukum ibadah hingga muamalah sehari-hari.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Religi
Cerpen
PATAHNYA SAYAP SANG SANTRI
hadi wiyono
Flash
Bronze
Natal Sekarang Bukan Natal Dulu
Nuel Lubis
Novel
Bronze
Ajari Aku Syahadat Cinta
Imajinasiku
Flash
Cahaya di Ujung Subuh
Penulis N
Flash
HUJAN DAN PELANGI
Deasy Wirastuti
Novel
Bronze
Pundak Si Sulung
M Helmi Akhdan
Cerpen
Bronze
Auditor dari Akhirat
hidayatullah
Cerpen
Peci Dari Pak Kiai
Brilijae(⁠。⁠•̀⁠ᴗ⁠-⁠)⁠✧
Cerpen
Perjalanan Hidup
Erlani Puspita
Novel
SEMI
Asoka Biru
Cerpen
Kebiasaan Lama Gak Ada Matinya
DMRamdhan
Cerpen
Bronze
Judi
Sulistiyo Suparno
Cerpen
Bronze
MEMILIH SATU DIANTARA DUA
Iman Siputra
Flash
Bronze
Burung Merak, Burung Gagak, dan Kura-Kura
Ahmad Muhaimin
Cerpen
Bronze
Sarungan Go International
Khasbi Abdul Malik
Rekomendasi
Cerpen
PATAHNYA SAYAP SANG SANTRI
hadi wiyono
Cerpen
Bronze
SETITIK DEBU DI KACA LANTAI 50
hadi wiyono
Flash
Keajaiban Tahajud
hadi wiyono
Cerpen
SEBENING RINDU
hadi wiyono
Cerpen
VUDU
hadi wiyono
Cerpen
Bronze
FACIO Si Tisu Malang
hadi wiyono
Novel
AIR MATA MAMAK DISUJUD TERAKHIR
hadi wiyono
Cerpen
Sore Itu Di Depan Gang Kecil
hadi wiyono
Cerpen
PERNIKAHAN KERTAS
hadi wiyono
Novel
FIRST LOVE NEVER TRULLY ENDS
hadi wiyono
Cerpen
Penjaga Lembah Seruni
hadi wiyono
Novel
TULUS
hadi wiyono
Cerpen
CINTA TANPA TAPI
hadi wiyono
Cerpen
Bronze
A Cold Goodbye
hadi wiyono
Cerpen
JALAN PULANG
hadi wiyono