Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
BAB SATU ~ Senja di Langit Pesantren
Lembayung senja sudah beranjak pamit di atas langit Pondok Pesantren Al-Ikhlas. Warna jingga yang pekat berpadu dengan biru gelap yang tenang, seolah melukiskan keteduhan yang merayap di sela-sela dinding kayu asrama tua.
Di jam-jam seperti ini, aroma tanah basah sisa gerimis sore berpadu lebur dengan semerbak harum minyak wangi kasturi yang dipakai para santri menjelang magrib. Riuh rendah ratusan langkah kaki di atas jalan setapak terdengar akrab. Mereka bergerak menuju satu tempat, Masjid Al-Ikhlas yang lampunya baru saja dinyalakan memancarkan cahaya kuning keemasan yang hangat.
Di antara gelombang santri berwajah segar usai berwudu, seorang pemuda berjalan dengan ritme yang berbeda. Langkahnya konstan, tenang, namun jika diperhatikan lebih dekat, ada sedikit jeda yang berat setiap kali kaki-kakinya menapaki bumi. Namanya Ali, seorang santri senior yang usianya baru berusia dua puluh tahun. Bagi anak-anak santri belia, terutama mereka yang baru satu atau dua tahun merasakan pahit-manisnya jauh dari orang tua, Ali adalah sosok kakak angkat panutan di pesantren ini. Perawakannya tidak terlalu tinggi, namun caranya membawa diri membuat siapa saja menaruh hormat. Wajahnya bersih, dengan tatapan mata yang selalu teduh, seolah menyimpan telaga kedamaian yang tidak pernah kering.
Malam itu, ia mengenakan baju koko putih bersih, sarung tenun berwarna hijau lumut, dan peci putih yang terpasang tegak. Di pundaknya, tersampir sebuah tas kulit cokelat kusam yang jahitannya sudah mulai lepas di beberapa sudut, berisi beberapa kitab kuning tebal dan sebuah buku catatan bergaris.
"Kang Ali, Mau ke masjid sekarang?" Suara cempreng di belakangnya memecah lamunan Ali saat berjalan menuju masjid. Seorang santri kecil bernama Udin, dengan sarung yang kedodoran hingga menyapu jalan setapak, berlari kecil kepayahan menghampirinya.
Ali menghentikan langkahnya, menunduk sedikit agar sejajar dengan tinggi bocah itu, lalu menyunggingkan senyum khasnya, senyum yang sanggup meredakan rasa rindu rumah bagi santri-santri kecil. Dan senyum yang bisa membutakan santriwati.
"Iya, Din. Kamu kok belum pakai kopiah? Sana kembali ke kamar, sebentar lagi adzan. Nanti dihukum lari sama pengurus baru tahu rasa," bisik Ali jena...