Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Di masa depan, manusia akhirnya menemukan cara paling praktis sekaligus paling menyedihkan untuk bertahan dari hidup: menjual perasaan mereka.
Ada tempat bernama Pasar Emosi,
sebuah distrik bercahaya neon di mana segala jenis perasaan diperdagangkan seperti komoditas.
Kebahagiaan dijual paling mahal, karena langka.
Kesedihan laku setiap hari, karena dunia tak pernah berhenti menciptakannya.
Dan cinta...
adalah barang yang paling berbahaya.
Bayu dulunya lelaki biasa.
Ia punya hal-hal yang membuat hidup terasa utuh seperti tawa kecil saat makan malam dan ambisi sederhana untuk hidup tenang.
Semua itu runtuh dalam satu tahun.
Utang menelan rumah orang tuanya seperti lubang hitam.
Penyakit ayahnya membutuhkan biaya yang tak pernah berhasil ia kumpulkan meski bekerja siang malam.
Malam itu, hujan turun seperti kaca yang pecah di trotoar.
Bayu masuk ke gedung registrasi Pasar Emosi, tempat orang-orang duduk tanpa ekspresi menunggu giliran untuk dilucuti hatinya.
Agen pasar menyambutnya.
“Perasaan apa yang ingin kamu jual?” tanya agen pasar dengan senyum dingin.
Bayu menatapnya tanpa suara.
Matanya bengkak, bahunya jatuh, suaranya pecah ketika akhirnya ia berkata:
“Berapa harga untuk semuanya?”
Agen itu berhenti menulis. Menatap Bayu lama, seolah memastikan ia benar-benar sadar dengan apa yang ia katakan.
“Semua emosi berarti… kamu tidak akan merasakan apa pun lagi. Tidak bahagia. Tidak sedih. Tidak peduli apa pun yang terjadi pada hidupmu.”
Tanpa menoleh ke belakang, Bayu mengambil pena dan menandatangani kontrak, menjual semua emosi yang ia miliki.
Tiga tahun berlalu.
Bayu bekerja di pabrik otomatisasi, melakukan hal yang sama setiap hari tanpa bosan, tanpa senang, tanpa henti.
Baginya, hidup adalah rutinitas yang steril, bersih dari kekacauan yang disebut perasaan.
Ia tidak pernah lagi menangis. Tidak tertawa.
Ia hanya... hidup.
Sampai suatu sore, ketika langit kota dipenuhi hologram iklan Pasar Emosi baru, seorang gadis berdiri di depan rumahnya.
Rambutnya sebahu, matanya bening seperti menahan sesuatu yang nyaris pecah.
“Bayu...” katanya lirih. “Kamu menjual perasaanku juga.”
Bayu menatapnya tanpa ekspresi.
“Maaf. Aku tidak mengenalmu.”
Gadis itu menarik napas panjang, seolah kalimat itu menusuk lebih dalam daripada yang ia sangka.
Ia menggigit bibirnya, menahan emosi yang Bayu sendiri sudah lupa namanya.
“Aku Rani.”
Ia menatap Bayu dengan mata yang mulai memerah.
“Dulu aku mencintaimu. Dan sebagian cinta itu… ikut terjual waktu kamu menjual semua perasaanmu.”
Rani menunjukkan selembar dokumen holografik dari Departemen Emosi Nasional.
Dalam transaksi Bayu, tercatat bahwa emosi yang terjual mengandung “keterikatan emosional aktif.”. Artinya, sebagian bukan hanya milik Bayu, tapi juga orang lain yang terhubung dengannya pada saat itu.
“Setengah dari perasaanku ikut hilang waktu kamu menjual perasaanmu,” kata Rani. “Sejak hari itu, aku tidak bisa mencintai siapa pun lagi.”
Ia menyentuh dadanya sendiri.
“Aku tahu apa itu cinta. Otakku ingat rasanya. Tapi tubuhku… hatiku… tidak bisa merasakannya lagi. Seperti seseorang mencabut saklar di dalam diriku.”
Bayu diam.
Ia tidak tahu harus merasa apa. Karena memang ia tak bisa merasa.
“Kenapa kamu datang padaku?” tanya Bayu datar.
“Karena aku ingin mengambilnya kembali,” jawab Rani.
“Sisa perasaanku. Bagian yang ada di kamu.”
“Dan bagaimana caranya?”
Rani menatapnya lama.
Tatapan yang meminta sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh dunia mana pun.
“Kita harus menelusuri pasar, mencari pembeli yang membeli perasaanmu dulu. Mereka mungkin menyimpan sisa perasaanku juga.”
Mereka pergi ke Pasar Emosi, kota bawah tanah yang selalu berdenyut.
Di sana, perasaan dipajang dalam botol kristal:
Rasa Syukur, Ketakutan, Kehilangan, Rindu.
Setiap botol bersinar dengan warna berbeda.
Bahkan udara di sana bergetar, karena setiap langkah mereka berisi gema emosi manusia yang dijual.
Bayu berjalan tanpa terguncang.
Rani menggenggam tangannya, meski tahu genggaman itu terasa dingin, kosong.
“Kamu benar-benar tidak merasakan apa pun?” tanya Rani.
“Tidak.”
“Bahkan saat aku memegang tanganmu sekarang?”
“Aku tahu itu hangat. Tapi aku tidak tahu bagaimana rasa hangat seperti yang ada dalam pikiranmu.”
Rani menutup mata sepersekian detik.
Itu menyakitkan, meski ia pun hanya merasakan setengah dari rasa sakit itu.
Akhirnya mereka menemukan pembeli pertama. Seorang wanita tua yang membeli “Ketenangan” milik Bayu.
Wanita itu duduk di kursi roda, matanya sayu, tubuhnya kecil dengan selimut lusuh di pangkuannya.
“Ketenanganmu membuatku bisa tidur lagi,” katanya. “Sebelum itu, aku hidup dalam ketakutan setiap malam… melihat hal-hal yang tidak bisa dijelaskan.”
Bayu mendekat.
“Kalau aku mengambil kembali Ketenanganku,” katanya pelan, “apa yang akan terjadi padamu?”
Wanita itu mengangkat botol itu, menatap isinya seperti menatap matahari terakhir.
“Aku akan kembali pada malam-malam tanpa tidur,” bisiknya.
“Aku akan mendengar suara-suara itu lagi. Aku mungkin… tidak kuat menanggungnya.”
Bayu menatap Rani.
“Kalau aku ambil, dia menderita.”
Rani menatap Bayu dengan mata bergetar.
“Kita bisa mencarinya di pembeli lain dulu,” katanya pelan.
Semakin dalam mereka menelusuri pasar, semakin gelap tempat itu.
Di bawah tanah terdalam, mereka menemukan toko gelap bernama Arsip Emosi Terlarang.
Pemiliknya seorang pria bernama Daru, mantan insinyur yang dulu menciptakan teknologi perdagangan emosi.
Daru tersenyum saat melihat mereka.
“Ah, Bayu. Subjek uji nomor 07.”
Bayu menatapnya datar.
“Aku bukan subjek.”
“Dulu, mungkin bukan. Tapi data emosimu menjadi fondasi sistem kami. Kamu orang pertama yang menjual semua perasaanmu tanpa sisa. Kamu tahu apa artinya? Kamu bukan manusia yang utuh.”
Rani menggenggam lengan Bayu.
“Bagaimana kami bisa mengembalikan emosinya?”
Daru menghela napas.
“Hanya ada satu cara. Kamu harus menerima semua perasaan yang pernah kamu jual, sekaligus. Tapi begitu kamu melakukannya, sistem emosi tubuhmu bisa kolaps. Kamu bisa saja mati.”
Rani meremas lengan Bayu semakin erat, takut kehilangan sesuatu yang baru saja ia temukan kembali.
“Aku bisa membantumu,” katanya terbata. “Aku akan mengambil separuhnya.”
Bayu menatapnya lama.
Ada sesuatu yang hangat, samar, mulai tumbuh di dalam hatinya. Seperti bara kecil yang baru menyala.
“Bukan kamu yang harus menanggung ini,” bisik Bayu. “Aku yang menjual semuanya dulu. Aku yang harus mengambilnya kembali.”
Ia melangkah ke rak paling ujung.
Di sana, di antara botol-botol gelap, ada satu botol yang bersinar paling terang. Seperti matahari dikurung dalam kristal.
Labelnya:
‘Cinta – Bayu dan Rani (Gabungan Emosi)’
Bayu membuka segel botol itu.
Cahaya merah muda keemasan menyebar, masuk ke tubuhnya seperti gelombang panas dan dingin sekaligus.
Ia berlutut, tangannya mencengkeram lantai, menahan sensasi yang menyesakkan.
Kesedihan.
Cinta.
Rasa kehilangan.
Rasa takut gagal.
Dan... kenangan akan Rani.
Air mata mengalir untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun.
Ia menatap Rani, dengan pandangan yang akhirnya hidup.
“Aku ingat sekarang...” katanya pelan.
“Aku ingat semuanya...”
Ia mengusap pipinya Rani.
“Dan aku mencintaimu.”
Semua lampu pasar mulai padam.
Cahaya dari botol-botol emosi menghilang satu per satu.
Seluruh sistem pasar terguncang.
Daru berteriak, “Kamu menghancurkan pasar ini, Bayu!”
Bayu berdiri, memegang tangan Rani.
“Biar saja. Dunia tidak seharusnya menjual perasaan.”
Beberapa jam kemudian, Pasar Emosi runtuh.
Botol-botol pecah, dan jutaan perasaan manusia yang terperangkap dilepaskan kembali ke udara.
Langit kota berubah warna. Bukan karena ledakan, tapi karena manusia tiba-tiba merasakan lagi.
Orang-orang menangis, tertawa, dan berpelukan tanpa tahu kenapa.
Dan di tengah reruntuhan pasar, Rani memeluk Bayu erat.
“Sekarang... aku bisa merasakanmu lagi.”
Bayu mengusap pipinya, tersenyum dengan tulus, penuh dengan emosi manusia yang sesungguhnya.
“Dan aku... bisa merasakan hangatnya.”
Namun Rani merasakan tubuh Bayu perlahan melemah.
Ada getaran aneh di dalam dirinya, seolah emosi yang terlalu banyak sedang berebut ruang di dada Bayu.
Rani memegang wajahnya dengan kedua tangan.
Bayu tertawa kecil. Napasnya mulai pendek.
“Sepertinya… aku nggak bisa menahan semua ini lebih lama.”
“Jangan bicara begitu…” Rani menahan air mata. “Kita sudah sampai sejauh ini. Jangan pergi lagi.”
Bayu menatapnya.
Lama.
Dalam.
Senyum kecil muncul di wajahnya, sebuah senyum yang tidak pernah lagi Rani lihat sejak bertahun-tahun lalu.
“Rani…”
Ia mengusap pipi gadis itu dengan tangan gemetar.
“Aku mencintaimu.”
Dan ketika ia mengucapkan kata itu, botol cinta yang mereka buka meledak dengan lembut, melepaskan cahaya merah muda keemasan yang membungkus mereka seperti selimut hangat.
Untuk sesaat… dunia benar-benar berhenti.
Semua suara hilang.
Hanya ada rasa hangat yang menyelimuti setiap jiwa yang pernah patah.
Lalu, perlahan, cahaya memudar.
Dan Bayu, bersama seluruh emosi yang ia kembalikan, menghilang dalam pelukan Rani, seperti lilin terakhir yang akhirnya padam setelah menyinari seseorang untuk terakhir kalinya.
Beberapa tahun kemudian, pemerintah melarang perdagangan emosi.
Manusia mulai belajar hidup dengan perasaan mereka sendiri, meski itu berarti kembali terluka.
Rani membuka kafe kecil di tepi kota. CAFÉ RASA.
Papan kayunya bertuliskan kalimat sederhana:
“Perasaan bukan untuk dijual. Karena di situlah manusia tinggal.”
Di dalamnya, Rani bekerja sambil tersenyum.
Ia mendengar tawa pelanggan, mendengar cerita-cerita kecil tentang cinta dan patah hati.
Ia menyeduh kopi dengan tangan yang dulu gemetar oleh kehilangan, dan kini gemetar lagi oleh kehangatan.
Setiap pagi, saat ia membuka jendela, sinar matahari menembus masuk. Dan di antara cahaya itu, ia terkadang merasakan sesuatu.
Hangat.
Lembut.
Seperti ada sentuhan tak terlihat di punggung tangannya.
Sebuah kehangatan yang pernah hilang… kini kembali menyapanya dalam bentuk yang tidak bisa dijelaskan.
Seolah seseorang di suatu tempat masih menemaninya.