Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Semua ini bermula dari rasa insecure yang melanda diriku. Belakangan ini, Feby istriku yang tercinta sekaligus penguasa tunggal remot TV dan selimut, terasa agak dingin. Bukan, bukan dingin mayat (tunggu, analogi ini buruk mengingat apa yang akan terjadi), tapi dingin sikapnya.
Setiap malam, dia lebih memilih memeluk guling sambil senyum-senyum nonton drama Korea yang aktornya mukanya lebih mulus dari pantat bayi, daripada memelukku, suaminya yang sah, yang memang perutnya agak maju sedikit karena kebanyakan makan mie instan.
"Aku butuh inovasi," gumamku sambil scrolling media sosial di toilet kantor.
Tiba-tiba, algoritma yang maha tahu (dan maha menyesatkan) menyodorkan sebuah iklan. Gambarnya meyakinkan: Seorang pria biasa saja (mirip aku) dikerubungi lima wanita cantik yang menatapnya dengan tatapan memuja. Judul Produknya: "PARFUM SANG ARJUNA: PHEROMONE PEMIKAT BIRAHI".
Deskripsinya hiperbolis luar biasa: "Apakah istri Anda dingin? Apakah Anda merasa kurang jantan? Semprotkan 'Sang Arjuna'! Mengandung ekstrak Pheromone Kijang Jantan dari Pegunungan Himalaya dan Essens Bunga 7 Rupa. Dijamin pasangan akan nempel terus kayak perangko! Tidak bisa lepas! Garansi uang kembali jika istri tidak klepek-klepek!"
Harganya? Diskon 90%. Dari Rp 500.000 menjadi Rp 49.900. Wah, ini dia! Ini jawaban doa-doaku. Tanpa pikir panjang, aku tekan tombol Checkout. Dalam benakku, aku sudah membayangkan skenario nanti malam: Aku wangi, Feby mendekat, dia mengendus leherku, lalu berbisik, "Mas Hanif... kamu wangi banget, aku jadi gregetan..."
Ah, indahnya halusinasi.
Paket itu datang dua hari kemudian. Bungkusnya agak aneh. Biasanya paket online shop dibungkus plastik hitam atau kardus cokelat. Ini dibungkus kain blacu putih yang diikat tali goni. Agak seram, tapi aku berpikir positif: "Mungkin ini konsep vintage, biar estetik."
Aku membukanya diam-diam di garasi, takut ketahuan Feby. Botolnya... unik. Bukan botol kaca elegan seperti parfum Calvin Klein atau Bvlgari. Ini botol kaca kecil berwarna hijau lumut, tutupnya dari gabus, dan stikernya bergambar siluet wayang yang matanya menyala merah. Di bawahnya ada tulisan kecil: "Hati-hati: Efek Dahsyat. Gunakan Secukupnya."
Aku membuka tutup gabusnya. Sniff... Sniff...
Baunya... kuat. Sangat kuat. Kesan pertama: Wangi bunga. Melati? Kenanga? Kantil? Ada sedikit sentuhan bau kayu-kayuan. "Mungkin ini yang dibilang Top Notes-nya Melati, nanti Base Notes-nya pasti Musk yang maskulin," analisisku sok tahu, padahal pengetahuanku soal parfum cuma sebatas Kispray dan kapur barus.
Aku menyimpannya di laci paling dalam. Menunggu momen yang tepat. Dan momen itu adalah malam ini. Malam Jumat. Waktu sunnah rasul, waktu romantis bagi pasangan suami istri. Sempurna.
Jam 9 malam. Feby sudah di kamar, seperti biasa, sedang ritual skincare sambil nonton TikTok. Aku masuk ke kamar mandi dengan semangat membara. Aku mandi lebih bersih dari biasanya. Gosok gigi tiga kali. Pakai mouthwash sampai mulutku terasa terbakar.
Selesai mandi, aku berdiri di depan cermin wastafel. Hanya memakai handuk. Aku mengambil botol "Sang Arjuna". "Oke, Hanif. Waktunya beraksi."
Instruksi di botol bilang: "Oleskan sedikit di titik nadi." Tapi aku, Hanif, adalah penganut prinsip "Lebih Banyak Lebih Bagus". Kalau sedikit saja bisa bikin nempel, apalagi kalau banyak? Pasti Feby bakal nempel permanen kayak di-las.
Aku tidak mengoleskannya. Aku menuangkannya ke telapak tangan, lalu menepuk-nepukkannya ke leher, dada, ketiak, bahkan sedikit di belakang telinga. Splash! Splash!
Tiba-tiba, aroma itu meledak memenuhi kamar mandi. Baunya... Tunggu dulu. Ini bukan bau maskulin. Ini bau... Bunga Melati yang sangat pekat. Dicampur dengan bau... Kemenyan bakar? Dan ada sedikit hint bau tanah basah.
Otakku mencoba menyangkal. "Ah, ini pasti karena baru dipake. Nanti kalau udah nyampur sama keringat laki-laki, pasti jadi wangi jantan."
Aku keluar kamar mandi dengan percaya diri setinggi langit. Aku memakai piyama satin (biar licin kalau dipeluk). Aku berjalan menuju kamar tidur dengan gaya slow motion ala model video klip.
Aku membuka pintu kamar. Cklek. AC kamar menyala di suhu 18 derajat. Dingin. Feby sedang telungkup di kasur, main HP.
Aku masuk, menutup pintu, lalu berjalan mendekati kasur. "Hai, Sayang..." sapaku dengan suara berat yang kubuat-buat (baca: suara orang radang tenggorokan).
Feby tidak menoleh. Tapi tiba-tiba, dia berhenti main HP. Hidungnya kembang-kempis. Sniff... Sniff...
"Nah, bereaksi dia," batinku girang. Pheromone bekerja!
Feby duduk tegak tiba-tiba. Wajahnya tegang. "Mas..." panggilnya.
"Iya, Sayang? Wangi ya?" tanyaku sambil duduk di tepi kasur, mendekatkan leherku padanya.
Feby mundur. Dia memeluk guling erat-erat. Matanya liar melihat sekeliling kamar. "Mas... kok tiba-tiba bau melati ya?" suaranya bergetar.
"Itu..." Aku mau bilang itu parfum baruku.
Tapi Feby memotong cepat, "Ini bukan melati biasa, Mas. Ini baunya... pekat banget. Kayak... kayak ada yang lewat..."
"Yang lewat apaan?"
"Mas, ini malem Jumat lho..." Feby mulai pucat. "Baunya nyengat banget. Terus ada bau angus-angus gitu kayak kemenyan. Mas nyium nggak?"
Aku mulai panik. Rencanaku backfire. "Ehh... itu mungkin pewangi ruangan baru kali, yang?" elakku bodoh.
"Pewangi ruangan gundulmu!" seru Feby. "Kita nggak pernah beli pewangi ginian! Ini baunya mistis banget, Mas! Sumpah merinding aku!"
Feby menarik selimut sampai menutupi kepalanya. Hanya matanya yang terlihat. "Mas... jangan-jangan ada 'kiriman'..." bisiknya horor.
Aku menghela napas. Gagal sudah mode romantis. Aku harus jujur. "Yang, dengerin dulu. Gak ada hantu. Gak ada kiriman santet. Itu bau aku."
Feby menurunkan selimut sedikit. "Hah? Bau kamu?"
"Iya. Aku beli parfum baru. Katanya parfum pemikat wanita. Namanya Sang Arjuna."
Feby mendekatkan wajahnya ke leherku. Dia mengendus sekali. Panjang dan dalam. Lalu wajahnya berubah drastis. Dari takut menjadi jijik, lalu menjadi murka.
"MAS HANIF!" teriaknya. Dia mendorongku sampai aku terjengkang ke karpet.
"Kamu gila ya?! Ini bukan parfum pemikat wanita! Ini minyak JAFARON campur MISIK! Ini minyak buat mandiin keris pusaka!"
"Masa sih? Tadi iklannya ada gambar cewek-ceweknya kok!" belaku sambil bangun.
"Cewek apaan?! Kuntilanak?! Sundel Bolong?!" Feby histeris. Dia mengambil bantal dan memukulku. Bugh! Bugh! "Pantesan baunya kayak kuburan baru digali! Kamu mau ngundang setan satu kelurahan ke kamar kita?!"
"Ya kan aku nggak tahu, Yang! Aku kirain baunya bakal sexy!"
"Sexy dari Hongkong! Ini bau jenazah, Hanif! Astagaaa... pusing pala gue." Feby memegang kepalanya, seolah mau pingsan. "Keluar!"
"Yang..."
"KELUAR! AKU GAK BISA TIDUR SAMA DUKUN SANTET! SANA TIDUR DI LUAR!"
Feby melempar bantal ekstra dan selimut tipis ke wajahku. "Jangan masuk kamar sebelum baunya ilang! Kalo perlu kamu mandi kembang tujuh rupa buat ngeruwat tuh bau!"
BRAK! Pintu kamar dikunci dari dalam. Lalu terdengar suara Feby dari dalam, dia menyalakan speaker Murottal Ruqyah dengan volume kencang. "Audzu bikalimatillahi tammati min syarri ma khalaq..."
Aku berdiri di depan pintu kamar. Terhina. Terusir. Dan wangi seperti abdi dalem keraton yang habis bertapa di goa.
Aku menyeret langkah gontai menuju ruang tengah. Sofa ruang tengah kami cukup empuk, tapi harga diriku yang remuk membuatnya terasa seperti tidur di atas paku.
Aku duduk di sofa. Bau melati dan kemenyan itu masih menempel kuat di tubuhku. Bahkan nyamuk pun tidak berani mendekat. Ada satu nyamuk lewat di depan hidungku, tiba-tiba dia jatuh. Mati. Keracunan aroma mistis ini. "Hebat. Parfum ini juga berfungsi sebagai Baygon alami," gumamku sarkas.
Aku mencoba memejamkan mata. Tapi suasana ruang tengah malam ini terasa berbeda. Biasanya aku berani-berani saja. Tapi karena bau badanku sendiri yang seperti set syuting film horor Suzanna, aku jadi parno sendiri.
Setiap kali angin berhembus lewat ventilasi, baunya makin semerbak. Aku merasa seperti sedang melayat diri sendiri.
Tiba-tiba, terdengar suara garukan di pintu depan. Sret... Sret...
Bulu kudukku meremang. "Siapa tuh?"
Suara itu makin kencang. Lalu disusul suara mengeong yang aneh. Bukan "Meong" biasa yang lucu. Tapi "MEOOOONG.... GRRRRR... MEOOONGG..." Suara kucing berahi. Atau kucing yang sedang melihat makhluk halus.
Aku memberanikan diri mengintip lewat jendela. Di teras depan, Si Belang (kucing kampung jantan penguasa komplek yang galaknya minta ampun) sedang duduk menatap pintu rumahku. Matanya melotot. Ekornya tegak lurus. Dan di belakang Si Belang, ada tiga kucing lain. Duduk berbaris rapi. Menatap ke arahku (di balik jendela).
Mereka mengendus-endus udara. Mereka tertarik dengan bau ini! Ternyata deskripsi "Pheromone Kijang Jantan" itu benar! Tapi yang tertarik bukan istriku, melainkan kucing!
"Pergi! Hush!" usirku dari balik kaca. Kucing-kucing itu tidak pergi. Mereka malah mengeong serempak, seperti paduan suara pemuja setan. Mereka mengira ada Alpha Male (atau mungkin Ratu Kucing?) di dalam rumah.
Aku mundur kembali ke sofa. Putus asa. Di dalam kamar, istriku sedang meruqyah kamar. Di luar rumah, para kucing sedang mengadakan ritual pemanggilan arwah. Dan aku, Hanif, terjebak di tengah-tengah sebagai sumber masalah.
Aku tidak tahan lagi. Bau ini membuatku pusing dan mual. Aku memutuskan untuk mandi lagi. Persetan dengan dinginnya air malam.
Aku masuk ke kamar mandi luar. Aku mengambil sabun cair. Aku menuangkan setengah botol ke shower puff. Aku menggosok badanku sekuat tenaga sampai kulitku merah. "Hilanglah kau wahai bau laknat! Hilang!"
Aku bilas. Aku cium lenganku. Baunya masih ada. Malah sekarang baunya berevolusi. Bau sabun lemon bercampur dengan bau melati kemenyan. Hasilnya? Bau karbol pembersih lantai kamar mayat, makin mistis.
Aku mencoba pakai sampo. Pakai sabun cuci muka. Bahkan aku nekat pakai sedikit deterjen baju di tangan. Hasilnya nihil. Minyak ini waterproof. Soap-proof. Mungkin juga bomb-proof. Stiker di botol tadi benar: "Efek Dahsyat". Saking dahsyatnya, mungkin butuh diamplas biar hilang.
Aku kembali ke sofa dengan tubuh menggigil kedinginan dan bau yang masih setia menempel. Aku melihat jam dinding. Pukul 02.00 pagi.
Tiba-tiba, HP-ku berbunyi. Pesan WhatsApp dari tetangga sebelah, Pak RT. Pak RT belum tidur?
Isi Chat Pak RT: "Mas Hanif, maaf ganggu malem-malem. Mas lagi bakar-bakar kemenyan ya? Baunya sampe ke rumah saya nih. Istri saya jadi takut mau ke kamar mandi. Tolong dikondisikan ya Mas, ini komplek perumahan, bukan padepokan ilmu hitam."
Astaga baunya sampai sana? Aku ingin membanting HP. Fitnah keji! Sekarang aku dicap sebagai dukun santet oleh Pak RT. Aku membalas singkat: "Maaf Pak, tumpah minyak wangi. Bukan kemenyan."
Pak RT membalas: "Wangi apaan kayak gitu Mas? Wangi pesugihan? Udah lah Mas, tobat. Rezeki udah ada yang ngatur, gak usah miara tuyul."
Matilah aku. Besok pagi pasti jadi headline grup WhatsApp Bapak-Bapak Komplek: "Hanif Diduga Memelihara Tuyul karena Stress Gaji Numpang Lewat".
Matahari terbit. Aku tidak tidur sedetik pun. Mataku panda, badanku pegal, dan baunya... alhamdulillah sudah berkurang sedikit, dari level "Kuburan Baru" menjadi level "Kembang Kuburan H+3".
Pintu kamar utama terbuka. Feby keluar dengan wajah segar (karena tidur nyenyak setelah merasa aman di-ruqyah). Dia memakai masker medis rangkap dua.
Dia melihatku yang terkapar di sofa dengan posisi janin. Feby mendekat, tapi menjaga jarak aman 2 meter. "Mas, masih bau dukun nggak?" tanyanya dari balik masker.
"Udah berkurang, Yang. Sumpah," jawabku lemah.
Feby mengendus sedikit. "Masih ada dikit. Tapi udah mendingan daripada semalem yang bikin mual."
Feby menatapku iba (sedikit). Dia melempar handuk bersih ke mukaku. "Sana mandi lagi. Pake sabun sirih aku tuh yang di botol ijo, itu ampuh ngilangin bau. Terus baju piyama kamu itu... bakar aja. Aku nggak mau nyuci, takut mesin cucinya kesurupan."
Aku bangun dengan susah payah. "Iya, Yang."
"Terus botol parfumnya mana?" selidik Feby.
"Di meja rias."
Feby mengambil botol hijau lumut itu dengan tisu, seolah memegang barang bukti kejahatan nuklir. Dia berjalan ke halaman depan. Aku mengikutinya.
Feby membuka tempat sampah, lalu melempar botol itu sekuat tenaga ke dalamnya. Plung. Tak puas sampai di situ, Feby mengambil baygon semprot, lalu menyemprot tempat sampah itu. Crot... Crot... Crot...
"Dah. Musnah kau ilmu hitam," kata Feby puas.
Dia berbalik menatapku. Tangannya berkacak pinggang. "Denger ya Mas Hanif. Kalau kamu mau aku nempel terus, kuncinya bukan beli parfum aneh-aneh."
"Terus apa Yang?" tanyaku penuh harap.
"Transfer gajimu 100% ke rekening aku. Dijamin aku nempel kayak lintah. Paham?"
Aku mengangguk pasrah. "Paham, Yang."
"Bagus. Sekarang mandi, terus beliin bubur ayam. Jangan pake kemenyan."
Aku berjalan gontai ke kamar mandi. Pagi itu aku belajar satu hal penting: Romantisme tidak bisa dibeli dengan harga Rp 49.900. Dan satu hal lagi: Jika kalian ingin membeli parfum, pastikan bahan dasarnya bukan kembang setaman sisa ziarah.
Di luar pagar, aku melihat Si Belang masih duduk setia menunggu. Dia menatapku penuh cinta. Setidaknya, ada satu makhluk di dunia ini yang tergila-gila padaku berkat parfum itu. Walaupun makhluk itu adalah kucing jantan yang belum mandi tiga tahun.
Nasib... nasib.
Pesan Moral: Baca deskripsi produk dengan teliti. Jika mengandung kata "Pheromone", "Mistik", atau "Bulu Perindu", dan harganya murah, sebaiknya lari. Kecuali cita-cita anda memang ingin menjadi Ketua Paranormal se-Kecamatan.