Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Misteri
Bronze
Paranoid
1
Suka
6,047
Dibaca

Bab 1 – Undangan Eksklusif

Profesor Arka Mahendra, seorang psikiater forensik ternama dengan sorot mata tajam dan rambut yang mulai memutih di pelipis, menatap undangan perak di tangannya. Sebuah kartu tebal dengan motif abstrak yang samar-samar menyerupai gelombang otak, di dalamnya terukir nama Dr. Karindra Satyaki. Karindra. Nama itu membawa kembali memori akan seorang kolega brilian namun eksentrik, seorang visioner yang selalu di ambang batas pemikiran konvensional. Mereka terakhir bertemu di sebuah konferensi lima tahun lalu, di mana Karindra menguraikan teorinya tentang "resonansi kognitif kolektif" – sebuah gagasan yang, pada saat itu, dianggap lebih fiksi ilmiah daripada ilmiah, sebuah konsep yang membuat banyak koleganya mengangkat alis, namun diam-diam memicu rasa ingin tahu yang mendalam. Arka sendiri, meskipun skeptis secara ilmiah, tidak pernah bisa sepenuhnya mengabaikan ide-ide Karindra yang berani.

Undangan itu tidak biasa. Bukan sekadar reuni, melainkan sebuah "retret relaksasi pikiran dan terapi eksperimental" di Pulau Nelantha, sebuah pulau pribadi yang baru saja dibeli oleh Karindra. Arka tahu Nelantha adalah surga terpencil, jauh dari jangkauan sinyal ponsel dan hiruk pikuk dunia. Sebuah tempat yang sempurna untuk melarikan diri dari tuntutan profesinya yang melelahkan, dari kasus-kasus kriminal yang selalu meninggalkan jejak gelap di benaknya. "Sebuah tempat untuk melepaskan belenggu pikiran modern," begitu bunyi kalimat pembuka undangan itu, ditulis dengan tinta perak yang berkilauan, seolah memancarkan janji ketenangan yang absolut. Sebuah senyum tipis tersungging di bibir Arka. Eksperimen Karindra selalu menarik, meskipun terkadang menakutkan. Ada desas-desus tentang metode Karindra yang tidak konvensional, bahkan di luar batas etika, namun tidak pernah ada bukti konkret. Undangan ini, dengan segala misterinya, terasa seperti panggilan yang tak bisa ia tolak.

Selain Arka, enam psikiater lain menerima undangan serupa. Ada Dr. Elena Santika, seorang psikolog klinis yang dikenal karena pendekatan empatinya dan risetnya tentang trauma memori. Elena, dengan jubah labu favoritnya yang selalu tergantung di punggung kursi, merasa undangan ini adalah kesempatan langka untuk mendalami metode baru. Ia sendiri sedang bergulat dengan kasus-kasus trauma yang semakin kompleks, merasa ada batasan dalam metode konvensional yang ia kuasai. Ia sering terbangun di malam hari, dihantui oleh cerita-cerita pasiennya, merasa beban emosional itu mulai mengikis dirinya. Nelantha menjanjikan sebuah pelarian, sebuah kesempatan untuk mengisi ulang energinya.

Kemudian, Dr. Bayu Anggara, seorang psikiater anak yang energik, yang selalu memancarkan aura ceria namun menyimpan ketakutan mendalam terhadap ketidakpastian dan kehilangan kendali. Bayu, yang baru saja menerbitkan buku terlaris tentang kecemasan generasi muda, melihat ini sebagai peluang untuk "detoksifikasi digital." Ia membayangkan hamparan pasir putih dan air jernih, jauh dari notifikasi dan tekanan pekerjaan yang tak henti-hentinya. Namun, di balik senyum lebarnya, ada kecemasan samar tentang meninggalkan praktik sibuknya, tentang pasien-pasien yang ia tinggalkan, dan tentang keheningan yang mungkin terlalu sunyi baginya. Ia adalah orang yang selalu membutuhkan stimulasi, dan gagasan tentang isolasi total, meskipun untuk relaksasi, sedikit mengganggunya.

Dr. Citra Dewantara, seorang spesialis gangguan obsesif-kompulsif (OCD) yang dikenal dengan logikanya yang tajam dan kerapiannya yang nyaris obsesif. Citra awalnya skeptis. Retret di pulau terpencil? Terapi eksperimental? Kedengarannya terlalu "holistik" untuk selera ilmiahnya yang kaku. Ia adalah seorang yang percaya pada data, pada struktur, pada diagnosis yang jelas dan pengobatan yang terbukti. Gagasan tentang "terapi eksperimental" tanpa protokol yang jelas membuatnya gelisah. Namun, rasa penasarannya terhadap metode Karindra dan nama-nama besar lain yang diundang pada akhirnya mengalahkan keraguannya. Ia berpikir, mungkin ada sesuatu yang bisa ia pe...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp13.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Cerpen
Bronze
Paranoid
Christian Shonda Benyamin
Flash
Petunjuk
Miss Rain
Novel
Found You
Sonya Flourensia
Novel
Bronze
Sekolah Atap Tinggi
Agus Puguh Santosa
Novel
Bronze
Wentira "Another Story of the Invisible City"
Etzar Diasz
Flash
Bronze
Truth Or Dare
heriwidianto
Cerpen
Bronze
Bayang di Balik Jendela
Fahri Nurul A'la
Cerpen
Bronze
Misteri Hilangnya Penjaga Perpustakaan
Donny Setiawan
Cerpen
Bronze
Mereka Nyata Dan Bercerita
Christian Shonda Benyamin
Flash
Terkurung
Diyanti Rita
Novel
Mind vs. Machine
Kiara Hanifa Anindya
Flash
SOMNIA
Bie Farida
Novel
The Game After Married
Mustofa P
Novel
KRING!
gie
Novel
Bronze
MYSOPHOBIA
Aldi A.
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Paranoid
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Cermin Yang Tersisa
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Mereka Nyata Dan Bercerita
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Kacamata Paman
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Rantai Pemicu
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Siapa Dia
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Dari Aku Untukku
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Suwanita
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Cermin Diri
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Losmen Berdarah
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Ouija
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Mawar Kematian
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Senandung Lukisan
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Dharmawangsa
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Simfoni Terlarang
Christian Shonda Benyamin