Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Para Moirai
1
Suka
11
Dibaca

Para Moirai 

Satu jam empat puluh tujuh menit Fidian mengurung diri dalam kamar. Ia duduk meringkuk di lantai sambil menggigiti kuku. Bahunya gemetar dan ia selalu menatap curiga terhadap apa pun yang ada di kamar itu: ranjang, bantal, dan cecak yang terus berdendang mengejeknya. Jarak tiga langkah darinya, sebuah ponsel tercampak di lantai dengan layar retak menampilkan unggahan di Facebook: foto seorang wanita bertelanjang bahu bertakarir, “Istri calon bupati kita ternyata suka bugil di depan kamera!”

Unggahan itu dibanjiri komentar, dari yang terkejut sampai yang kurang ajar. 

Mintul Zoo: “Itu foto asli apa editan? Beneran nggak nyangka!”

Boogie Man: “Wah, jangan-jangan dia juga open BO!”

Binky Setiawandi: “Aku pernah lihat orang ini di aplikasi kencan online. Apa dia kesepian, sampai-sampai main aplikasi begituan? Hahaha.”

Jack Burphy: “Jadi penasaran sama foto syur dia yang lainnya.”

Dan banyak lagi akun-akun yang mengomentari dengan bahasa vulgar dan kasar. Fidian tidak kenal siapa mereka. Ia juga tidak kenal nama akun yang mengunggah foto pribadinya itu. Namun, ia ingat kepada siapa ia mengirim foto itu. 

Fidian berteriak frustasi sambil memukuli lantai. “Bajingann kurang ajar! Bajingan nggak tahu diri!” 

Jantung Fidian seperti ingin meledak. Ujung jemarinya membeku. Malu, kalut, dan amarah bertengger di ubun-ubunnya. Dengan napas memburu, ia mengambil ponsel di lantai, lalu mencari sebuah nama di kontak telepon. Alvin. Ia mengetuk nama itu, lalu menempelkan ponsel ke telinga kanan.

“Kenapa, Beb?” sapa seorang laki-laki dari pelantang ponsel setelah terdengar dering tiga kali. 

“Bajingan! Kenapa kamu lakukan itu, hah?” Fidian terus mengumpat sambil menggigiti kuku. 

Laki-laki di telepon itu tertawa. “Maksud kamu apa, Beb? Aku ngapain?”

Fidian terduduk lemas di lantai. Ia mulai meraung dan berteriak putus asa. “Please, hapus foto itu. Please ….”

Hening empat hitungan. 

“Hidupku bisa hancur kalau foto itu dilihat keluargaku.” Fidian memohon sambil terisak-isak.

“Foto?”

“Please … jangan pura-pura bego terus, kamu!”

“Oh, foto kamu yang lagi viral itu? Aku nggak ngelakuin apa-apa sama foto kamu. Mungkin pacar kamu yang lain, yang upload foto kamu.”

Fidian mengumpat. “Gue nggak pernah ya, ngirim foto itu ke orang lain! Cuma lo yang gue kasih!”

“Sabar, Beb. Tenang. Moga masalah kamu cepat kelar, ya.”

Panggilan terputus. 

Fidian membadai. Seluruh penghuni kebun binatang berpindah ke mulutnya. Ia mengangkat kursi rias, melemparnya ke cermin, lalu membentur-benturkan kepalanya ke dinding hingga berdarah. Ia terhuyung, lalu jatuh ke lantai. Saat terbaring karena kehabisan tenaga, saat itulah ia melihat pecahan cermin berserakan di dekatnya. Ia meraih pecahan bersudut tajam. Sebuah ide terlintas di benaknya. 

*

Berita kematian Fidian terkubur dengan berita kemenangan mutlak Asman Arifin karena lawannya, Ahmad Thalibin–dipaksa–mengundurkan diri. Ahmad Thalibin yang sebelumnya menjabat sebagai camat Balen, terkenal dengan reputasi dermawan. Ia sering berkunjung ke panti-panti asuhan di beberapa kecamatan, hingga menjadi sukarelawan dalam acara-acara sosial. Rakyat kagum dengan parasnya yang rupawan sekaligus citra keluarganya yang jauh dari keburukan. Namun, sejak foto istrinya viral, beragam komentar buruk membuatnya terpaksa tumbang. 

Sementara itu, di kantor Para Moirai, empat orang tengah mengadakan pesta kecil-kecilan. Mereka berhasil menjalankan misi: memenangkan Asman Arifin jadi bupati Boja. Bonus besar masuk ke kantong disertai bintang lima sebagai penanda tingkat kepuasan pengguna jasa. 

“Timses Pak Asman kabarnya mau memakai kita lagi untuk kampanye gubernur nanti.” Lovia, Ketua Tim, tersenyum lebar sambil mengangkat kaleng soda, mengajak para anggota bersulang.

Domi tidak langsung meminum sodanya. Ia mengusap-usap embun di kaleng sambil menggigit bibir. “Eeeng, apa kita tidak terlalu kejam terhadap wanita itu? Dia ….” Domi tak melanjutkan ucapan karena seluruh anggota tim tengah menatapnya tajam.

Hening beberapa saat. 

Alvin menggeser kursi, mendekati Domi, lalu merangkulnya. “Bukannya kemarin ini usul kamu? 80% kebohongan ditambah 20% fakta, hasilnya lebih akurat dibandingkan 100% kebohongan.” Alvin tertawa. “Dari mana kamu belajar rumus itu?”

Domi menunduk. “Aku … aku ….”

“Udah, ah. Nggak penting dia belajar dari mana. Yang penting hasilnya.” Johan turut mendekat dan merangkul Domi. “Nggak usah merasa bersalah. Salah dia sendiri, tergoda sama Alvin.”

Alvin menyeringai. Masih jelas di ingatannya ketika ia pertama kali bertemu Fidian di taman alun-alun Boja. Fidian sedang bermain bersama putrinya yang berusia 6 tahun. Jauh sebelum ia menemui Fidian, ia sudah mencari tahu latar belakang pribadinya dan kelemahannya. Maka, dengan menunjukkan pesona dan sedikit perhatian, Fidian pun dibuat berpaling kepadanya hingga tak segan saling berbagi pesan mesra. 

Sebenarnya, foto yang diunggah Para Moirai bukanlah foto yang sepenuhnya vulgar. Fidian hanya mengirim foto wajah hingga sebatas dada dan bertelanjang pundak. Namun, Para Moirai membuat narasi dan komentar seolah-olah itu adalah foto telanjang. Untuk meyakinkan pengguna media sosial lainnya, mereka juga mengedit foto Fidian dengan gambar-gambar vulgar disertai rekayasa pesan mesum dalam tangkapan layar. Namun, foto-foto itu langsung dihapus ketika mereka mendengar kabar Fidian mengakhiri hidup dengan mengiris nadi.

Lovia, Alvin, dan Johan, asyik menikmati keberhasilan misi mereka. Itu bukanlah misi pertama. Sebelumnya, mereka berhasil membuat rumah makan kehilangan pelanggan atas permintaan seorang klien yang merupakan saingan. Mereka juga berhasil membuat seorang anggota dewan diselidiki atas korupsi dengan menggoreng isu kekerasan putranya. Misi yang diberikan klien mereka tidak selalu buruk. Namun, misi calon bupati itu merupakan misi pertama yang menimbulkan korban. Dan itu membuat Domi gelisah. 

Domi memahami alasan Fidian tak kuat bertahan. Meskipun ia tak begitu mengenal Fidian, ia tahu bahwa Fidian amat menyayangi anak-anaknya. Fidian sering membagikan momen bersama anak-anaknya di Instagram. Sebagai sesama wanita, Domi mengerti bahwa mungkin Fidian amat malu jika sampai anak-anaknya tahu dan ia juga tak bisa membela diri di depan suaminya, meskipun ia tak sepenuhnya salah.

Fidian memang berkirim pesan mesra dengan Alvin. Namun, ia tak pernah mengirim foto telanjang. Pasti itu yang membuatnya frustrasi hingga hilang kewarasan. Bagaimanapun, posisi Fidian tak aman. Hal itu sudah diperhitungkan oleh Para Moirai, termasuk Domi. Namun, Domi sendiri tak pernah memperhitungkan keputusan bunuh diri Fidian. Hal itu membuatnya dihantui rasa bersalah sekaligus takut: bagaimana kalau keluarga Fidian mengusut akun yang mengunggah foto Fidian? Ia tak pernah membayangkan masuk penjara hanya karena ketikan jari. 

*

Seminggu setelah kasus Fidian, seorang klien datang ke kantor Para Moirai. Ia mengaku mendapatkan info dari kawannya yang pernah memakai jasa Para Moirai untuk menumbangkan saingan bisnis. Ia seorang pria empat puluh tahunan berseragam aparatur sipil negara, datang dengan muka merah padam. 

“Saya akan bayar berapa pun yang kalian minta, asal kalian membuat hidup guru ini menderita!” Ia melempar sebuah foto ke meja Para Moirai, foto seorang pria berjidat lebar, berkacamata bulat, dan berbadan gempal. “Dia guru BK yang membuat urat kaki anak saya putus!” Pria itu menunjuk-nunjuk foto itu sambil menatap seluruh anggota tim secara bergantian. 

Lovia mengambil foto itu, lalu mengamatinya. “Ini Pak Munarso dari SMA Harapan Boja, kan?”

“Anda kenal?” Pria itu balik bertanya. 

“Saya alumni.”

“Bagus! Bikin orang itu keluar dari sana dan pastikan dia tidak akan diterima di sekolah mana pun!” Pria itu mengangsurkan buntalan kresek kepada Lovia. “Itu DP. Sisanya kalau misi kalian berhasil.”

Lovia melongok ke dalam kresek, lalu mengangguk. “Anda bisa mengandalkan kami.”

Setelah pria itu pergi, Lovia langsung memberi instruksi kepada anggota tim. Pertama-tama, mereka akan berkomentar di situs sekolah. Lalu, mereka akan menyerang akun target, akun keluarga target, hingga akun orang-orang di sekitar target. Para Moirai punya seribu akun dengan identitas palsu. Mereka membuat akun-akun itu seolah-olah asli dengan menambahkan pertemanan acak dan juga membeli akun-akun pengikut. Mereka yakin keberadaan mereka akan sulit dilacak karena memakai jaringan virtual luar negeri. Komputer mereka pun punya sistem keamanan khusus agar tak gampang ditembus. 

“Ini sekolah atau kamp militer? Disiplinnya udah kayak tes masuk angkatan bersenjata aja.”

“Dengar-dengar, ada murid yang urat kakinya putus gara-gara dihukum guru BK di sekolah ini. Wah, gurunya baik sekali, ya.”

“Mungkin gurunya punya obsesi jadi polisi, tapi nggak kesampaian.”

“Dia tetanggaku. Dulu memang dia sering pamer kalau dia akan lolos tes polisi. Ah, ternyata dia tak sehebat mulut besarnya.”

“Pecat saja, sebelum dia bikin putus urat kaki murid-murid lainnya!”

Domi membaca komentar-komentar yang diluncurkan teman-temannya. Jari-jarinya gemetar. Sebelumnya, ia merasa biasa saja mengetik komentar jahat kepada para target. Namun, sejak ada korban meninggal, ia malah membayangkan kalau komentar-komentar itu ditujukan kepadanya. 

“Guys, apa komentar kalian nggak terlalu jahat? Bagaimanapun, dia seorang guru.” Domi berucap hati-hati sambil menatap teman-temannya yang tengah sibuk mengunggah komentar.

“Misi berhasil! Nggak sampai dua jam, opini publik berpihak sama kita!” Alvin bersorak. 

Domi membaca lagi kolom komentar di unggahan Johan pada situs sekolah. Akun-akun yang tidak mereka kenal, yang mungkin adalah alumni dari SMK Harapan Boja, mulai berkomentar betapa diktatornya guru BK mereka. Itu hal biasa yang sering dimanfaatkan Para Moirai untuk mencapai keberhasilan misi. Orang-orang akan bersuara ketika mereka merasa menemukan kawan senasib, dalam hal ini sesama korban hukuman dari guru BK. Ternyata, Munarso selalu menyuruh murid-muridnya jalan jongkok keliling lapangan basket sepuluh kali jika terlambat sekolah. Tak sedikit mereka yang mengeluh sakit kaki setelah menerima hukuman. Beberapa akun malah membesar-besarkan bahwa mereka akhirnya menjalani operasi bedah syaraf gara-gara hukuman itu. 

“Bagus. Misi kita pasti berhasil lagi.” Lovia tersenyum puas, begitu juga Alvin dan Johan. Sementara Domi hanya menatap komentar-komentar itu dengan cemas. 

*

Seperti yang Para Moirai inginkan, guru bernama Munarso itu akhirnya mengundurkan diri karena tak tahan dengan sindiran dari rekan sesama guru. Keluarganya pun tak luput dari hujatan sampai-sampai anak-anaknya menutup semua akun media sosial. Pria yang menjanjikan pelunasan itu pun datang dan memberi lima bintang. Ia sangat puas melihat Munarso akhirnya jadi pengangguran.

Lovia ingin merayakan keberhasilan dengan memesan dua ekor ayam panggang. Alvin dan Johan sangat bersemangat, sementara Domi makin gelisah. Awal-awal bergabung dengan Para Moirai, ia sangat senang karena mendapat banyak uang hanya dengan bekerja di balik layar. Namun, sekarang uang itu tak mampu memberinya ketenangan. Apakah jalan yang ia tempuh ini wajar?

“Gue kemarin ketemu lakinya Fidian di alun-alun. Kasihan banget, dia jadi ikut kena imbas, padahal bininya yang nggak bener.” Alvin tiba-tiba memecah hening. 

“Udah habis kejayaannya, tuh,” Johan menimpali.

“Eh, ngomong-ngomong, lu beneran nggak pernah CS sama Fidian, Vin?” Lovia melibatkan diri dalam obrolan.

Alvin terbahak-bahak. “Kepo lu!”

“Ya, masa cuma kirim foto gitu doang? Cupu, ih, dia.” Lovia ikut tertawa. 

“Sebenarnya, gue juga bakal seneng kalau dia mau gue ajak VCS. Sayangnya, dia nggak mau, nggak berani, katanya.”

Johan mencondongkan tubuh ke Alvin. “Tapi, pas lu ketemu sama dia diam-diam, lu ngapain aja sama dia?”

Lovia pun ikut memperbaiki posisi menghadap Alvin, menunjukkan gestur tertarik sekaligus penasaran. 

Ketika Alvin hendak membuka mulut, tiba-tiba Domi menggebrak meja, membuat tiga orang lainnya serentak menoleh. “Kalian masih belum puas bikin wanita itu bunuh diri?”

Tiga orang itu melongo menatap Domi. 

“Kalian udah sebar aibnya di sosmed, masih mau ngomongin aibnya di sini? Nggak punya hati, kalian!” Domi menatap tajam ke teman-temannya secara bergantian. 

“Lu kenapa, Dom? Emang salah kita, dia mati? Dia mati, kan, karena pilihannya sendiri,” Alvin berkata dengan ekspresi tak peduli.

“Kita yang bikin dia ambil pilihan itu! Lu nggak merasa bersalah sama sekali, udah menyalahgunakan kepercayaan dia?” Suara Domi makin meninggi. 

Suhu dalam ruangan itu mendadak panas. Johan dan Lovia saling melirik memberi kode untuk menengahi perselisihan dua rekannya. Namun, belum sempat mereka mengambil tindakan, Alvin tiba-tiba saja berdiri dan mendorong meja ke depan. 

“Terus mau lu apa? Mau gue nyerahin diri ke polisi, gitu, biar gue dipenjara?” Alvin menendang meja di depan Domi. 

Domi melangkah mundur. Bahunya gemetar, tatapannya mulai linglung. Tiba-tiba, bayangan Fidian yang pucat dengan tangan berlumur darah dan memegang pecahan cermin muncul di kepalanya. Domi sempoyongan, sementara Alvin terus berteriak tak terima. Tiga hitungan kemudian, Domi tumbang tak sadarkan diri.

*

Pertengkaran dengan Alvin hari itu, membuat Domi banyak merenung. Ia ingin marah, tapi ia merasa tak berhak marah lantaran ia yang mengusulkan ide gila itu kepada Alvin. Yang ia bayangkan sebelumnya hanyalah hujatan kepada Ahmad Thalibin karena tak mampu membimbing istrinya. Namun, ternyata ia salah perhitungan. Yang paling menderita dari ide gilanya itu adalah Fidian, wanita tak bersalah yang dimanfaatkan Alvin demi kelancaran misi dari klien. 

Dalam perjalanan pulang dari kantor sore itu, ia tanpa sengaja bertemu Munarso duduk di bangku halte. Wajahnya kusut. Siapa pun bisa melihat gumpalan masalah di jidatnya. 

Domi duduk di sampingnya. “Pak Munarso, ya?”

Munarso menoleh. “Kamu murid saya?”

Ragu-ragu, Domi mengangguk. “Bapak mungkin lupa. Saya alumni 2013.” Ia berbohong.

Munarso tersenyum. “Maaf, ingatan saya akhir-akhir ini tidak bagus.”

“Tidak apa-apa, Pak. Wajar, karena murid Bapak banyak, nggak mungkin ingat semua wajahnya.”

Jalanan kala itu sepi. Hanya ada satu motor dan satu truk yang lewat selama mereka duduk berdua.

“Apa di ingatan kamu, saya juga guru yang kejam?” Munarso bertanya tanpa menoleh, tatapannya lurus ke toko kelontong di seberang halte. 

Domi susah payah meneguk ludah. Tenggorokannya terasa kering dan tercekat. Ia tak tahu harus bagaimana. Di depan matanya tiba-tiba terbentuk sebuah layar dengan komentar-komentar jahat yang ia unggah. 

“Padahal, saya ini hanya ingin anak-anak itu lebih disiplin. Saya tidak menyangka kalau tindakan saya selama ini menimbulkan dendam di hati mereka.” Munarso bergumam dengan tatapan menerawang. 

“Bapak tidak salah. Saya mengerti kalau Bapak hanya ingin menjadikan kami murid-murid yang baik dan disiplin. Yang salah itu mereka yang tidak bisa menyadari kesalahannya ….” Ucapan Domi terhenti ketika sebuah bus berhenti di depan halte. 

Munarso berdiri dan menoleh ke Domi. “Terima kasih. Saya duluan, ya.” Pria itu lantas naik ke bus, meninggalkan Domi yang masih terduduk memangku rasa bersalah. 

Setelah bus itu berlalu, Domi tak bisa menahan tangis. Ia terisak-isak sendirian. Ia tak peduli ketika pengendara motor yang lewat menoleh kepadanya dengan tatapan penuh tanya. Tangisannya makin keras. Bahkan, ada seorang pengendara ojek daring yang berhenti di halte untuk menenangkannya. 

Setelah puas menangis, Domi memutuskan pulang jalan kaki. Di setiap langkahnya, ia terus terbayang berapa banyak komentar yang ia unggah di akun-akun palsu yang ia kendalikan. Bayangan orang-orang tak bersalah yang ia jadikan target, muncul satu per satu di pelupuk matanya. 

Tanpa sadar, langkah kaki telah membawanya ke kantor polisi. Ia mematung di mulut gerbang, menimbang-nimbang keputusan. Ia tak ingin mengkhianati teman-temannya di Para Moirai. Namun, batinnya menjerit-jerit. 

Domi menarik napas, lalu mengembuskannya pelan. Dengan mantap, ia melangkah memasuki gerbang. Ia tidak tahu apa yang terjadi setelah itu. Yang ia pikirkan hanyalah, ia harus bercerita tentang semuanya. Semua yang mengusik moral dan kemanusiaannya. 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Universe.
Moon
Novel
the Book & the Ball
LM. Alif Fauzan Tamar
Novel
Bronze
Kisah
silvi budiyanti
Novel
Selama Masih Bernyawa
Jaka Ferikusuma
Novel
Rumah Sepasang Luka
Reza Lestari
Skrip Film
Menjelang Gentari Tenggelam
Devi Wulandari
Skrip Film
Lihat Tubuhku
Farrah Eva Nabila
Skrip Film
Three Days Special
choirin nofianti
Skrip Film
Satu Cara Untuk Pergi
Lisnawati
Skrip Film
The power of emak²
Renny rosmaynidar
Flash
Bronze
Kedai Masa Lalu
Afri Meldam
Cerpen
Bronze
Rahasia Hati
Herumawan Prasetyo Adhie
Cerpen
RESCUE
ibupertiwi
Cerpen
Bronze
Dibalik Gemerlapnya Lampu Konser_ Cinta Masa Lalu
Bang Jay
Cerpen
Para Moirai
Aiu Ratna
Rekomendasi
Cerpen
Para Moirai
Aiu Ratna
Cerpen
Nona
Aiu Ratna