Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Di sore hari yang cerah murid-murid madrasah mesjid Jami' Atthayyibah berhamburan keluar. Jam pulang sudah tiba, setelah terlebih dahulu menunaikan salat Ashar secara berjamaah yang diimami oleh satu-satunya guru lelaki di madrasah itu, Ustadz Arif. Aya sudah berada di teras mesjid, mengenakan sendalnya, dan bersiap berjalan pulang ke rumahnya. Entah mengapa di mata Aya, langit sore hari ini terlihat begitu indah, tenang dan damai. Aya memutuskan untuk berjalan melewati kompleks perumahan Cemara. Sudah lama ia tak lewat jalan itu. Ia ingin sekali menikmati sore yang indah ini sambil berjalan melewati kompleks perumahan elit itu.
Manda yang merupakan sahabat karibnya sudah berada di sisinya. Ia mengajak Manda untuk ikut dirinya. Manda menyetujui ide itu. Mereka berdua berjalan beriringan. Dari depan gerbang mesjid, Aya melihat Nabila yang juga merupakan teman sekelas mereka di madrasah sudah berjalan kira-kira 20 meter dari tempat Aya dan Manda berdiri. Aya berseru memanggil Nabila, memintanya untuk menunggu mereka, agar bisa jalan bersama. Nabila menanti. Setelah ketiganya berkumpul, mereka berjalan sambil saling bertukar cerita. Aya tiba-tiba menyampaikan keinginannya untuk mampir ke rumah Nabila yang berada dalam kompleks Cemara itu, "Bil, boleh gak main ke rumahmu?"
"Boleh dong. Ayok! Ikutin aku ya!"
"Asyik." Sahut Aya.
Manda pun tertawa. Ia mengikut saja. Nabila, gadis kecil manja itu berceloteh riang. Ia bercerita bahwa ia baru saja memiliki seorang adik bayi. Ia sangat senang, terutama karena adik bayinya juga perempuan, sama seperti dirinya. Jadi ia merasa punya teman di rumah. Ia selalu ingin cepat pulang, sebab ingin main bersama adik bayinya yang lucu.
10 menit berjalan, mereka sudah memasuki kawasan kompleks Cemara. Sekali lagi Aya bertanya pada Nabila, "Bil, masih jauh gak rumahmu?"
"Enggak kok. Tuh blok yang depan sebelah kanan."
Mereka terus berjalan sambil sesekali melompat riang. Aya dan Manda saling bergandengan tangan. Nabila berjalan di depan memimpin dua temannya.
Saat sudah sampai di ujung masuk blok rumahnya, Nabila berseru dengan ceria, "Nah, ini kita udah masuk blok rumahku. Tu di sana rumahku."
Aya melambatkan langkahnya. Langkah ceria Manda ikut melambat, sebab tangannya tertahan oleh gandengan Aya. Aya menikmati pemandangan kompleks. Rumah-rumah bertingkat di kanan-kiri mereka berdiri dengan megahnya, dengan tipe bangunan yang modern. Ada banyak pohon rimbun di dalam blok ini, menambah keasrian lingkungan dan kesejukan. Cat tembok di rumah-rumah itu masih sangat bagus, tidak pudar dan sangat terawat. Aya senang memanjakan matanya dengan pemandangan kompleks perumahan ini.
Tiba-tiba Nabila berseru, "Itu rumahku." Jari telunjuknya mengarah ke sebuah rumah bercat putih yang terdapat di bagian kiri. Halaman depannya ditumbuhi rumput yang terawat. Ada sepasang kursi dan meja kayu di teras rumah. Di bagian kanan pintu terdapat garasi yang dipasangi pintu lipat berwarna cokelat. Berbeda dengan rumah-rumah lainnya, rumah Nabila tidak berpagar. Aya menghentikan langkahnya kira-kira 10 meter dari rumah itu. Ia terkesima pada rumah cantik milik teman kecil manjanya itu. Tapi yang lebih membuatnya takjub adalah, seorang lelaki yang berdiri di halaman rumah Nabila. Lelaki itu terlihat masih muda, ia sedang menggendong bayi mungil di depan dadanya. Lelaki muda itu mengenakan kaos polos berwarna putih dan celana pendek cokelat ketat. Sungguh perpaduan yang indah. Sederhana tapi cukup menonjolkan ketampanannya.
Nabila berlari kecil ke arah lelaki itu sambil berteriak manja, "Papaaaaa!"
Aya mendengar lelaki itu menyahut panggilan Nabila, "Eh, kakak udah pulang." Sambil satu tangannya memegang tangan bayi mungil dan melambaikannya pada Nabila.
Nabila berkata lagi, "Kok papa sama adek di luar? Mama mana?"
Terdengar suara lirih lelaki itu menjawab pertanyaan anak gadisnya. Tapi Aya tak mampu mendengar karena suaranya sangat lirih. Nabila terlihat asyik memainkan tangan adik bayinya sambil sesekali mencium pipi bayi itu.
Manda terheran-heran dengan Aya yang melamun. Ia memandangi wajah sahabatnya itu. Tiba-tiba Nabila melihat kepada dua temannya yang tampak berdiam diri di tengah jalan. Nabila meneriaki mereka, "Heyyy, ayok ke sini! Kok pada diem di situ?"
Aya gelagapan. Tubuhnya menggeliat. Ia gelisah. Ia mencari cara supaya tidak jadi masuk ke rumah temannya itu. Ia malu apabila bertatapan langsung dengan papa dari temannya itu. Tiba-tiba ia punya ide, matanya asyik melihat pada pohon besar di hadapannya, kemudian ia berteriak, "Setaaaaaannnn." Dan berlari keluar kompleks setelahnya. Manda yang terkejut ikut berteriak dan berlari di belakang Aya. Aya terkejut, tak menyangka ide gilanya membuat Manda percaya saja. Dari kejauhan terdengar suara teriakan Nabila, "Loh, kok pada kabur? Heeeyyyy!"
Aya berlari sekencang-kencangnya, Manda yang semula berada di belakangnya, kini sudah berada sejajar dengannya, bahkan berangsur mendahului Aya.
Dalam larinya, Aya berpikir, "Kok bisa ya Nabila punya papa seganteng itu, kaya lagi, bisa punya rumah di kompleks Cemara. Kok aku gak punya papa kayak papanya Nabila, yang ganteng, yang kaya. Aku juga pengen tinggal di rumah yang bagus kayak rumah Nabila."
Seketika Aya komplain pada Tuhan. Batinnya bergejolak, meronta menginginkan apa yang dimiliki temannya itu. Gadis kecil itu berpikir dia sudah berusaha menjadi anak yang baik, pintar dan selalu menurut pada orangtua tapi nampaknya Tuhan tetap tak sayang padanya. Ia selalu merasa hidupnya selalu dirundung masalah. Saat ini ia sudah duduk di bangku kelas 5 SD, artinya sudah kurang lebih 11 tahun ia hidup di dunia tapi dirinya dan sekeluarga masih mengontrak di petakan sempit.
Memang orangtuanya sudah membangun rumah di daerah pinggiran Tangerang sejak ia lulus TK. Tapi sampai sekarang mereka belum menempati rumah pribadi itu, dikarenakan ibu Aya tidak suka dengan keadaan lingkungan yang seperti kampung itu. Ibu Aya ingin Aya dan adik laki-laki Aya tumbuh di tengah kota, bukan di lingkungan kampung seperti itu. Rumah pribadi mereka hanyalah bangunan sederhana dan berada di tengah-tengah gang sempit. Yang saat ini pun sedang dikontrakkan kepada penyewa.
Tapi sebenarnya lingkungan kontrakan yang mereka sewa juga lingkungan masyarakat akar rumput. Aya juga bersekolah di sekolah SD negeri yang siswanya berasal dari orangtua golongan kelas bawah. Dan Aya belajar les mapel di rumah guru kelasnya bukan di tempat bimbel berakreditas, karena biaya bulanannya jauh lebih murah.
Aya benci pada hidupnya. Kakinya yang lemah ia paksakan terus berlari. Ia membayangkan betapa sejuknya udara di rumah Nabila. Ia beranggapan teman cantiknya itu pasti memiliki kamar untuk dirinya sendiri yang sangat nyaman. Mungkin saja kamar Nabila bernuansa pink, penuh dengan boneka lucu, bebas ditempeli poster kesukaan di seluruh dindingnya, kasurnya spring bed empuk, terdapat satu set meja dan kursi belajar bermerk, dan ada komputer pribadi untuk belajar.
Sedangkan dirinya yang sudah berumur 11 tahun, masih saja harus tidur satu kasur bersama ibu dan adik laki-lakinya. Ayahnya memang tidur di kasur yang berbeda, tapi mereka masih berada dalam satu ruangan yang sama. Petakan yang mereka sewa tak memiliki kamar. Yang berbentuk kamar hanyalah kamar mandi. Ruang tamu, tempat tidur, meja makan, ruang untuk salat dan ruang belajar untuk Aya semuanya bersatu.
Aya sangat takjub bila melihat rumah orang lain yang memiliki beberapa kamar. Aya ingin sekali memiliki kamar sendiri, sebab ia merasa sudah besar. Terkadang ia sudah capek seharian dan ingin tidur malam dengan tenang, tetapi karena masih sekasur dengan ibunya, ia harus mendengar nyinyiran ibunya yang seringkali menyinggung dirinya. Sepertinya impian Aya untuk punya kamar sendiri rasanya terlalu berlebihan.
Ayahnya juga tak jauh lebih baik. Aya merasa ayahnya adalah sumber masalah. Hampir setiap saat ia melihat ibunya menangis karena ulah ayahnya. Ayahnya pemalas, selalu mengandalkan ibu Aya untuk menjadi tulang punggung. Dahulu ayah Aya adalah supir angkot. Tetapi karena ibu Aya memiliki ide untuk membuka toko kelontong di pasar, ayah Aya jadi berhenti bekerja, dan ikut berjualan bersama ibu Aya.
Tetapi menurut pengamatan Aya, ayahnya itu selalu berada di rumah hampir sepanjang waktu. Saat pagi sebelum Aya pergi ke sekolah, ayahnya masih di rumah. Saat pulang dari sekolahnya, sebelum ia berangkat les atau mengaji, ayahnya juga sudah ada di rumah. Sore menjelang magrib, sepulang dari kegiatan les atau mengaji, ayahnya juga lagi-lagi ada di rumah sampai pukul 08.00 malam. Setelah itu baru kembali lagi ke pasar membantu ibu Aya berjualan sampai tutup pukul 09.00 malam. Begitu terus keseharian ayah Aya.
Alasannya karena pada waktu-waktu tersebut adalah waktu salat, jadi sekalian saja dipergunakan untuk istirahat. Tapi Aya tak pernah melihat ayahnya itu melaksanakan salat. Sekalipun itu salat Jumat. Bahkan terkadang, di waktu salat Jumat, ayahnya malah mengotak-atik mesin motor dan menggeber-geber motor, suara bisingnya memenuhi lingkungan rumah. Aya malu pada tetangga. Aya sudah sering mengadukan hal itu pada ibunya, tetapi tanggapan ibunya malah tak mempercayainya, terkadang aduan Aya itu bisa berbuah pertengkaran antara kedua orangtuanya di suatu waktu.
Ibunya mengaku sudah lelah dengan sikap tak bertanggungjawab suaminya itu. Dahulu pun ketika masih bekerja sebagai supir angkot, ayah Aya tak pernah menafkahi mereka, sebab di pikiran ayahnya sang istri sudah punya penghasilan dengan berjualan kelontong di depan rumah petakan mereka, jadi penghasilan ibunya lah yang digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Kini usaha ibunya sudah dipindahkan ke pasar, ayahnya berulah seperti ini.
Aya sering bertanya-tanya dalam hati mengapa ibunya mau-maunya punya pendamping hidup seperti ayahnya itu, yang sudah buruk rupa, anak orang miskin, tak mau menafkahi keluarga pula. Sangat sempurna keburukan lelaki yang disebutnya ayah itu. Aya ingin punya ayah seperti papa Nabila yang mapan dan tampan. Papa Manda, sahabatnya yang kini sedang berlari dengannya, juga memiliki pekerjaan. Aya pernah mampir ke rumah Manda sepulang dari mengaji, kebetulan di saat bersamaan papa Manda pulang dari kantor dan Manda menyambutnya, ibu Manda hanyalah ibu rumahtangga.
Para ayah di sekolah Aya juga memiliki pekerjaan. Hanya Aya sepertinya yang punya ayah pengangguran. Aya malu, sering ia enggan mengakui ayahnya. Aya juga ingin punya ayah yang patut dibanggakan. Aya sangat penasaran bagaimana perempuan-perempuan dewasa selain ibunya bisa memiliki suami yang bekerja. Kenapa hanya ibunya yang tidak. Bukan tanpa sebab ia selalu mempertanyakan hal itu pada Tuhan. Ia jengah selalu menjadi pelampiasan amarah ibunya atas ketidak becusan ayahnya itu. Ia pernah mendengar ucapan Fika tentang ibu Nabila beberapa waktu sebelum ini, "Mamahnya Nabila tuh cantik banget kayak orang Arab, bapaknya juga ganteng, makanya Nabila tuh cantik."
Aya jadi berpikir, "Apa rupa wajah besar pengaruhnya terhadap kualitas jodoh seorang perempuan? Yang cantik akan mendapat jodoh lelaki mapan, sedangkan yang tidak cantik akan mendapatkan jodoh pengangguran? Kalau seandainya begitu, berarti Tuhan yang gak adil."
Aya menilai, memang ibunya tak cantik. Juga tak pintar. Ia pernah mendengar bahwa jodoh adalah cerminan diri. Kalau begitu, berarti ayahnya memang pantas untuk ibu Aya. Aya menjadi was-was, ia sering mendengar ibunya mencaci wajahnya yang jelek sangat mirip dengan ayahnya, apalagi kulit Aya hitam keling akibat sering berjalan kaki di bawah terik matahari kemana pergi. Aya bergidik ngeri, takut nasibnya di masa depan seburuk nasib ibunya. Ia tak menginginkan itu.
Tapi ia masih memiliki satu harapan. Ia memiliki otak yang cerdas. Tidak seperti ibunya yang menghadapi pelajaran kelas 3 SD saja sudah menyerah. Ia selalu menjadi juara kelas, baik di sekolah maupun di madrasah tempatnya mengaji. Ia berharap kepintarannya akan membawanya pada masa depan yang cerah. Ia tak menginginkan jodoh, ia hanya ingin menjadi wanita karir yang sukses, agar bisa membeli rumah yang layak dan hidup sendirian dengan nyaman.
Ia sudah sampai di depan rumahnya. Ia berpamitan pada Manda untuk masuk ke rumah. Manda yang rumahnya berjarak 100 meter lagi, melanjutkan langkahnya dengan gontai. Manda sempat berhenti sejenak untuk kembali mengatur nafasnya yang tak beraturan sehabis maraton sejauh 300 meter. Aya masuk ke rumahnya yang pintunya sudah terbuka dengan lebar, dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat ayah dan adiknya sudah duduk di atas kasur lipat sambil menatap pada TV. Sang ayah melihat padanya, tapi Aya tak menatap balik. Aya tak ingin bermanja ria seperti Nabila kepada papanya. Dan sejak detik ini ia ingin hidup dengan harapannya itu. Ia percaya akan takdir baik yang akan menjadi miliknya di masa depan. Ia akan terus berjuang untuk itu.