Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
“Suara-suara itu tak bisa dipenjarakan
di sana bersemayam kemerdekaan
apabila engkau memaksa diam
aku siapkan untukmu: pemberontakan!”
― wiji thukul
---
Asap. Asap. Asap. Api. Asap. Api. Suara teriakan. Suara sirene. Tembakan. Teriakan lagi. Semua rasanya kabur. Aku di tengah semua itu.
Malam penuh kabut, dengan suara-suara yang buram terdengar. Gendang telingaku tak berfungsi sebagaimana wakil-wakil rakyat itu yang sedang duduk-duduk ongkang-ongkang kaki dalam menentukan kebijakan-kebijakan yang menyelengkangi rakyat. Hari ini lain. Mereka izin pulang lebih duluan karena takut. Bangsat.
"Bro, aman nggak?" seorang relawan menghampiriku dan menatap dengan tatapan khawatir.
Aku bangkit perlahan. Wajahku lebam karena pukulan-pukulan dari polisi-polisi babi itu. Tapi aku tidak apa.
"Masih panjang perjuangan kita," begitu kukatakan.
"Maju!" Kuberteriak menyalakan semangat kembali.
Mereka tidak tahu aku siapa, tapi semua tahu aku mau apa.
"Kami mau keadilan! Bubarkan DPR!"
Indonesia, negara yang kaya. Berlimpah susu, madu, dan minyaknya. Sumber daya yang tak ada habisnya. Namun masyarakatnya masih miskin-miskin saja. Puluhan tahun merdeka, masalah yang itu-itu saja.
Semua orang berlompatan masuk ke dalam, menggempur kompleks gedung dewan-dewan anjing itu. Mereka bukan wakil rakyat, rakyat pun bukan. Mereka cuma segelintir orang yang memanfaatkan situasi demi mempertebal dompet sendiri. Tak ada apapun yang diwakili. Manusia-manusia itu tak ada fungsi selain merampok rakyat lewat jabatan sopan. Hukum tak ada yang mempan, tumpul ke atas. Selalu demikian bukan?
Tumpul ke atas, tajam ke bawah.
Aku mengerahkan kemampuan untuk ikut menerjang. Di tanganku ada sebuah toa. Toa ini adalah senjataku untuk melawan, menyuarakan hak. Lalu tiba-tiba kalimat Soekarno jadi terngiang.
Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri.
Omong kosong! Bangsa sendiri darimana?
Mereka semua adalah penjajah bertopeng pejabat. Mereka joget dalam kantor saat rakyatnya banyak yang kelaparan dan masih miskin. Guru-guru tak ada yang sejahtera. Pendidikan tak merata. Rakyat banyak yang belum terjangkau teknologi dan listrik. Ketimpangan sosial terjadi dimana-mana.
Belum lagi masalah yang lainnya. Ini tak pernah selesai. Apakah kami salah dalam meneriakan hak?
Tidak!
Ini sudah kelewatan.
Walau lebih terkesan kami menuntut, sejujurnya banyak kerjaku di negeri ini. Aku mengabdi demi negara. Teman-temanku mengabdi demi negara. Kami semua punya cita-cita untuk menyejahterakan negara. Tak terbilang jam mengajar yang kulakukan bagi anak-anak jalanan di sana-sini.
Tapi apa? Tapi bangsat!
Dewan-dewan itu tak ada andilnya sama sekali.
Gedung DPR kami terobos, walau ada polisi-polisi yang menghalangi. Ya, mereka juga bangsat.
Kami tahu mereka tak punya pilihan selain menjaga di sini. Jika pun mereka bisa kabur, mereka akan kabur. Bahkan jika mereka bisa mendukung kami, kukira mereka akan lakukan. Tapi tak ada yang lari dalam situasi ini. Jika mereka tidak, kita tidak mungkin lari.
Toa milikku, kusiapkan di depan muka.
"Berantas habis! Duduki gedung itu!"
Tak perlu disuruh dua kali, massa yang banyak itu berlarian. Kami menggempur habis dengan peralatan seadanya.
Gas air mata dilemparkan. Lagi, asap berterbangan.
Seseorang berhasil menahannya dan memasukkannya ke dalam ember berisi air.
"Maju! Maju! Rebut kembali!"
Jadi sebenarnya, siapa aku?
Aku bukan siapa-siapa. Sampai akhir cerita kau tak perlu tahu namaku. Tapi aku adalah kita. Aku adalah kau, ibumu, bapakmu, saudaramu, tulangmu, popomu, buyutmu, cicitmu, semua adalah aku. Aku berada di garis depan. Aku membela sesuatu yang abstrak tapi berpengaruh dalam realita. Ironisnya, yang bisa mengubah itu malah berlindung di balik pengamanan ketat polisi.
"Gedungnya sudah kosong! Mundur!" Ucap seorang polisi.
"Kau pikir kami peduli itu ada isinya atau tidak?" Kubalas membentak.
Kerusuhan itu semakin menjadi saat tiba-tiba ada polisi yang menyetrum rekan kami. Dengan senjata seadanya, kami lawan mereka. Kami pukuli tameng-tameng itu.
"Duduki gedung ini! Biar mereka tak bisa kerja lagi! Kita adalah wakil rakyat yang sesungguhnya."
Betul itu. Aku adalah kau, adalah bapakmu, ibumu, tulangmu, anakmu, bibimu, kungkungmu, ajikmu, tantemu, saudaramu, saudarimu, kami semuanya itu. Aku semuanya kami, dan kami adalah aku.
Mahasiswa merangsek masuk terus, tak puas hanya berdiri di halaman. Mereka menerjang, walau hujan deras mengguyur. Malam rasanya lebih pahit. Pun begitu, lelah ini tak sebanding jika dibandingkan dengan keanjingan dari wakil rakyat itu. Mereka pesta pora dan hidup seenaknya, sedang kami tak ada yang memperjuangkan.
Aku adalah kau, bapakmu, ibumu, anakmu, tulangmu, rusukmu, suamimu, istrimu, gurumu, muridmu, aku adalah semuanya itu. Dan aku di dalam semua, semua di dalam aku. Terbungkus menjadi satu cinta. Aku adalah semuanya itu.
Di saat-saat itu, kami terus berteriak. Polisi kewalahan, karena memang jumlah kami makin hari makin banyak. Tak hanya mahasiswa. Ada ojol, karyawan, buruh, rekan-rekan aktivis, guru, murid, petani, kuli, preman-preman, emak-emak, anak kecil pun ada. Kami semua adalah itu. Semua terbungkus dalam satu. Kami datang tak bawa embel-embel suku dan ras.
Kami adalah Batak, Dayak, Ambon, Jawa, Betawi, Tionghoa, Manado, Papua, Nias, Sabang sampai Merauke: semua adalah kami. Dan kami hidup dalam semua. Dan aku adalah semuanya itu.
Di punggungku tersimpan sesuatu yang sakral. Sesuatu yang memberatkan dengan tanggung jawab dan arti-arti lainnya. Di punggungku, semua itu terbungkus jadi satu. Cita-cita, mimpi, keadilan, semua.
Aku berteriak makin nyaring.
"Panjang umur perjuangan! Rakyat adil! Rakyat sentosa! Negara ini milik rakyat! Bukan Oligarki yang terus menyelangkangi hukum dengan sewanang-wenang! Ini republik rakyat Indonesia! Kami berdiri demi bakti pada negeri! Dan biarlah tangisan dari 98 terkenang kembali, supaya dewan-dewan anjing itu sadar, bahwa tak ada bedanya saat itu dengan saat ini! Berhenti memerkosa rakyatmu sendiri, bajingan!"
Aku berteriak sampai udara pada paru-paruku rasanya sudah hampir habis.
Saat itu, saat paling menggembirakan. Karena bisa kulihat banyak orang menangis. Semua ikut merasakan rasa haru. Keadilan itu barang mahal di negeri ini, dan kami semua akan memperjuangkannya walau harus mati.
Dan di situlah, letak dari akhir hayatku, ternyata.
Sebuah senapan. Itulah, yang mengakhirku.
Itulah yang membunuhku.
Tubuhku. Otakku. Semua berhenti berjalan.
Berhenti hidup.
Aku dinilai berbahaya. Aku menyuarakan suara-suara yang lama tercekat.
Aku gugur dalam perjuangan demokrasi yang tak jelas ujungnya. Kendati begitu, aku mengepalkan tangan melihat rekan-rekan di depan dengan pengharapan.
"Bro! Bro! Bangun! Jangan mati, plis!" Seorang rekan memegang tubuhku yang dingin.
Hujan hari ini mengguyur warna merah pada darah, menodai putihnya kemeja yang kukenakan. Toa yang ada pada tanganku, kuberikan padanya.
Ia seorang yang muda.
"Darahku akan berteriak lebih nyaring dari tanah ini," ujarku pelan padanya.
Semua orang mengerubungiku. Mereka ingin membawaku ke rumah sakit, tapi terlambat. Aku tertembak di dada. Itulah akhirnya.
Aku menatap kosong pada langit berasap. Pada langit terang karena sinar lampu dari kompleks gedung itu.
Lalu kurenungkan kisah hidupku ini.
Jika aku mati karena semua ini, semua pantas.
Aku adalah aku. Aku adalah kami. Aku adalah kau, bapakmu, ibumu, saudaramu, saudarimu, adikmu, kakakmu, tetanggamu, gurumu, tulangmu, tantemu, bibimu, pacarmu, tunanganmu, pasanganmu, muridmu, bawahanmu, atasanmu, pahlawanmu, temanmu. Aku adalah semuanya itu.
Dan hari ini aku sudah mati.
Ada dua orang berdiri di sana:
Seorang penyair yang lama hilang dan seorang aktivis yang mati karena racun.
Panjang umur perjuangan!