Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Bab 1 — Jangan Menikah dengan Reno
POV Shera
Usiaku sudah lebih dari empat puluh ketika akhirnya aku benar-benar memahami arti kehilangan.
Bukan kehilangan karena kematian.
Bukan pula kehilangan karena seseorang pergi tanpa kabar.
Aku kehilangan suamiku ketika dia masih hidup.
Namanya Reno.
Kami pernah menikah dengan keyakinan bahwa kami akan menua bersama. Aku mengenalnya sebagai laki-laki yang baik. Setidaknya, begitulah yang kupikirkan selama bertahun-tahun.
Aku juga punya seorang sahabat.
Namanya Manda.
Manda adalah teman yang sangat dekat denganku.
Aku mempercayainya.
Terlalu percaya, mungkin.
Aku tidak pernah menyangka bahwa suatu hari nanti dua orang yang paling kupercaya justru menjadi alasan mengapa rumah tanggaku hancur.
Reno berselingkuh dengan Manda.
Bukan satu atau dua bulan.
Bukan satu atau dua tahun.
Delapan belas tahun.
Delapan belas tahun mereka menyimpan hubungan itu di belakangku.
Delapan belas tahun aku menjalani hidup sebagai seorang istri tanpa mengetahui bahwa suamiku dan sahabatku memiliki dunia mereka sendiri.
Yang lebih menyakitkan, hubungan itu tidak terjadi karena Reno tiba-tiba jatuh cinta kepada Manda.
Ada sesuatu yang lebih rumit.
Perusahaan milik ayahku.
Setelah mendapatkan kendali dan keuntungan besar dari perusahaan itu, Reno merasa kehidupannya sudah aman.
Dan sejak saat itu, hubungan rahasia dengan Manda semakin kuat.
Aku tidak tahu kapan semuanya dimulai.
Aku tidak tahu berapa kali mereka bertemu tanpa sepengetahuanku.
Aku tidak tahu berapa banyak pesan yang mereka hapus.
Aku hanya tahu satu hal.
Selama delapan belas tahun, aku adalah satu-satunya orang yang tidak tahu.
Dan ketika akhirnya semuanya terbongkar, Reno meninggalkanku.
Untuk Manda.
Aku pernah bertanya kepada diriku sendiri:
Bagaimana mungkin dua orang yang begitu dekat denganku tega melakukan itu?
Aku tidak menemukan jawabannya.
Mungkin memang tidak semua pengkhianatan membutuhkan alasan.
Kadang manusia hanya memilih apa yang menguntungkan dirinya sendiri.
Aku melewati tahun-tahun setelah perceraian dengan banyak pertanyaan.
Kalau saja aku tahu sejak awal.
Kalau saja aku melihat tanda-tandanya.
Kalau saja aku tidak memperkenalkan Manda kepada Reno.
Kalau saja...
Terlalu banyak kalau saja.
Sampai suatu malam, ketika usiaku masih jauh lebih muda dari sekarang, aku mendapatkan sebuah telepon.
Pukul 22.13.
Nomor tidak dikenal.
Aku hampir mengabaikannya.
Tapi telepon itu terus berdering.
Akhirnya aku mengangkatnya.
“Halo?”
Tidak ada jawaban.
“Halo?”
Kemudian terdengar suara seorang laki-laki muda.
“Halo, Mama?”
Aku mengernyit.
“Siapa?”
“Ini Mama, kan?”
“Iya. Tapi kamu siapa?”
Anak itu diam beberapa detik.
Kemudian dia berkata,
“Namaku Fatih.”
Aku menunggu.
“Fatih siapa?”
Suara di seberang sana terdengar bergetar.
“Fatih... anak Mama.”
Aku tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Aku hanya tidak tahu harus merespons apa.
“Aku belum punya anak.”
“Aku tahu.”
Aku langsung terdiam.
“Kalau kamu tahu, kenapa memanggilku Mama?”
“Karena aku menelepon dari masa depan.”
Aku menatap layar ponsel.
“Berapa umurmu?”
“Delapan belas.”
Aku menarik napas panjang.
“Dengar, Fatih. Kalau ini lelucon, berhenti.”
“Ini bukan lelucon, Mama.”
“Lalu apa?”
“Aku menelepon karena Mama harus mendengarkanku.”
“Untuk apa?”
Fatih diam.
Kemudian dia mengatakan sesuatu yang membuat seluruh tubuhku terasa dingin.
“Mama jangan menikah dengan Reno...