Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Rumah Ibu Vanya di Tegal, Jawa Tengah.
Genap satu minggu setelah acara pernikahan mereka, kini Hangga dan Vanya berpamitan pada Ibu Vanya yang bernama Asih. Karena batas izin dari kantor hanya dikasih satu minggu, maka Hangga harus kembali ke Jakarta untuk bekerja. Mata Vanya berkaca-kaca karena tidak tega meninggalkan Ibunya yang sendirian untuk ikut bersama suaminya ke Jakarta. Vanya anak tunggal. Bapak Vanya meninggal dunia sejak Vanya duduk di bangku kelas 1 SMU. Vanya selalu menemani Ibunya, bahkan Vanya teegolong anak yang nurut dengan orangtua. Vanya tidak pernah pergi-pergi bersama teman-temannya layaknya gadis-gadis yang lainnya. Sangat berat ketika harus meninggalkan Ibunya hidup sendirian. Namun seorang istri harus menuruti apa kemauan suami. Namun ketika anaknya berpamitan, Ibunya berusaha untuk tegar.
Vanya memeluk Ibunya dengan erat sekali seraya berbisik, "Vanya sayang ibu...Vanya sayang Ibu...' Pecah tangia Vanya tidak kuat menahannya. Hangga yang berdiri di samping Vanya ikut merasakan kesedihan. Hangga mengelus punggung Vanya dengan lembut tanda untuk menenangkan Vanya. "Ibu juga sayang aama kamu....kamu anak Ibu yang paling baik..."ucap Ibunya. Mereka melepaskan pelukan. Ibu Vanya terlihat tegar. Kedua tangan Ibu Vanya membelai kedua pipi Vanya seraya mengucapkan, "Kamu kuat..kamu bisa...dan kamu harus nurut suami kamu...itu kunci surgamu nak..." Lalu kedua tangan Ibu.mengusap airmata yang membasahi wajah Vanya. Kini kedua tangan Ibu berganti membelai kedua pipi Hangga seraya berkata, "Titip anak Ibu satu-satunya ya Ga..."
Hangga menjawab dengan sangat santun, "Iya bu.."
"Ibu tau...Ibu yakin kamu juga orang baik, kuat dan santun...dan Ibu percaya, kamu selalu menjaga dan melindungi Vanya." Kembali Ibu Vanya berbicara. Hangga menganggukkan kepalanya. Ibu Vanya melanjutkan bicara untuk mengalihkan karena Ibunya sudah tidak kuat menahan kesedihan. "Ya udah kalian berangkat sekarang, nanti kelamaan disini malah ketinggalan kereta." Hangga pun pamit seraya mencium tangan Ibu Vanya. Vanya kembali tidak kuat untuk berpamitan. Ibunya mengetahui hal ini.
"Vanya sing tenang...ora usah kuatir karo ibu...wong tetangganya banyak kok...kalo ibu mau apa-apa kan tinggal manggil Bu Iroh buat nemenin ibu di rumah." Ujar Ibu Vanya. "Dah sana ati-ati di jalan..."
Setelah Vanya mencium tangan Ibunya, mereka berjalan meninggalkan Ibunya yang masih berdiri. Ingin rasanya Vanya menoleh ke arah Ibunya namun tidak kuat. Hangga menggenggam tangan Vanya terua berjalan hingga jauh. Spontan air mata Ibu Vanya tumpah. Ia menangis sambil menatap arah jalan mereka.
Rumah Hangga sore hari di Jakarta.
Mereka tiba di depan rum...