Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Palugada Teladan
0
Suka
138
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Aku jatuh cinta padanya karena dia selalu masuk lima menit tepat sebelum jam masuk kantor. Tidak lebih dan tidak kurang satu detik pun. Pas sekali menjadi istriku. Dia akan mampu memenuhi standar kehidupan yang aku inginkan. Presisi, praktis, dan idealis. 

Dia mengingatkanku pada masa muda. Idealis dan penuh semangat. Seperti versi mudaku. Karena itu aku mencintainya, dia mirip aku dulu.

Sekarang, di usiaku di pertengahan tiga puluh dengan semua drama di tempat kerja, diriku bukan diriku lagi. Aku menyerah pada kenyataan. Tak ada tujuan-tujuan mulia, tak ada target-target menggairahkan. Yang penting masuk, kerja, pulang, dan terima gaji. Bukankah semua orang akan menjadi seperti itu?

Aku senang pada saat dia masuk satu bulan lalu. Baru lulus kuliah beberapa bulan yang lalu. Anaknya cantik, ramah, rapi, lembut, dan rajin. Yang mengagumkan tak pernah kudengar keluhan dari mulutnya yang selalu tersenyum itu. 

Sayangnya dia bukan stafku. Aku hanya dapat mengaguminya dari balik mejaku. Seandainya dia adalah stafku, pasti aku bisa bekerja lagi sesuai prinsip yang kumau. 

"Pagi, Pak Jaya," sapanya.

Aku tersentak dari lamunanku.

"Pagi, Sekar."

"Bapak sedang tidak enak badan? Saya lihat Bapak agak tergagap menjawab sapaan?"

Lihat, dia jeli sekali, bukan? 

"Perlu saya belikan sarapan dan obat?"

Lihat, lihat, dia perhatian sekali, kan?

"Ah, tidak...tidak...saya cuma agak melamun tadi."

Dia mengangguk sambil tersenyum. "Syukurlah."

Pembicaraan terputus karena atasannya, Pak Landung, masuk dengan wajah datar. Aku mengecek jam tangan dan mengetahui dia terlambat sepuluh menit. Dia meletakkan tas di meja. Duduk di kursinya lalu mengeluarkan ponselnya. Sekar menyapanya dengan ramah, dan dibalas dengan sambil lalu,"Ah, pagi juga, Sekar."

Lalu terdengarlah lagu-lagu dari media sosial. Beberapa kali dia tertawa kecil dan tersenyum sambil sesekali menggulir layar ponsel.

Aku benci ini. Tapi tak ada yang dapat kulakukan. Aku bukan atasannya. Sedangkan atasan kami mengangapnya wajar. 

Pak Landung menganggapku terlalu serius. Tak ada nasihatku yang akan diterimanya. Menurutnya aku ini kaku dan tidak keren. 

Sambil lalu aku bertanya padanya,"Sudah mengisi aplikasi DataSip?"

Dia tergagap menoleh kepadaku. "Hah? Apa itu?"

"Yang ada di grup Ketua Tim."

"Oh..itu...aku sudah meneruskannya pada Sekar. Hei Sekar, gimana? Udah selesai belum?"

Sekar yang sekarang baru sibuk fotokopi menjawab, lagi-lagi sambil tersenyum tanpa beban,"Belum, Bapak. Sistem aplikasi eror tadi malam pukul satu dini hari. Saya akan segera melanjutkannya begitu sistem membaik."

"Bagus bagus."

Aku merasa kagum pada Sekar. Benar-benar pegawai teladan anak ini. Dia bahkan lembur tanpa menyimpan kegondokan dalam hati. Aku melirik tak suka pada bawahan baruku sendiri. Dia masuk bersamaan dengan Sekar. Dia pandai dan terampil, tapi ada saja alasannya untuk menolak pekerjaan. Tidak bisa dihubungi di luar jam kerja. Tidak mau mengerjakan pekerjaan lain di luar ketugasannya. Tidak mau lembur. Dia muda tapi berjiwa tua. Ah, membosankan sekali. 

Pak Landung berdiri lalu berkata dengan enteng kepadaku,"Ngrokok dulu. Udah asem banget mulutku." Lalu keluar ruangan tanpa beban.

Aku melirik Sekar yang mengangguk ringan sambil, lagi-lagi, tersenyum ramah. Aku benar-benar menginginkan staf seperti ini. Seusai fotokopi, Sekar kembali menghadapi laptopnya. Lalu berkata kepadaku,"Pak Jaya, aplikasi DataSip sudah kembali membaik. Sudah dapat kita kerjakan."

"Makasih infonya, Sekar." 

Aku ingin bawahanku, Keisya, mencontoh Sekar. Aku pun memberinya pekerjaan Aplikasi DataSip ini padanya. Tapi, betapa dongkolnya aku mendengar jawabannya.

"Maaf, Pak. Saya takut salah. Bapak saja, ya. Biasanya yang mengisi kan Ketua Tim."

"Nanti saya koreksi."

"Tapi saya masih belum selesai membuat LPJ, pak. Sudah tenggat besok."

"Kan bisa lembur."

"Yah, Bapak. Nanti malam saya sudah terlanjur ada pengajian di rumah. Saya harus ngerjain macem-macem."

Tuh, lihat, jiwanya tua sekali. Tidak ada semangat. Sukanya membantah. Beberapa tahun ini dia memang tidak bisa pindah dari divisiku. Tapi ketika saatnya aku akan mengusulkannya pindah ke divisi lain. Tidak ada gunanya staf seperti ini. 

Dengan bersungut-sungut dalam hati, aku pun yang mengerjakan Aplikasi DataSip. Kebetulan dalam proses pengisian, tiba-tiba aplikasi berhenti begitu saja. Bisa jadi alasan, nih untuk mendekati Sekar. 

Aku pun memangil Sekar dan bertanya tentang kesulitanku. Dia datang ke mejaku dan melihat layar laptopku. Lalu membawa laptopnya ke mejaku. Menyandingkannya di samping laptopku. Menggeser kursi ke sampingku. Untuk pertama kalinya aku duduk berdampingan dengannya. Jantungku berdebar kencang. 

"Rupanya sistem eror lagi Pak. Harus menunggu hingga sistem kembali normal. Bapak lihat saja punya saya. Ini adalah tampilan ketika sudah mengisi data."

Sekar menjelaskannya dengan kata-kata yang tertata dan sopan. Melihatnya dari dekat seperti ini. Mendengar suaranya yang merdu tepat di dekat telingaku. Aku baru tahu ada wanita sesempurna ini. 

Sesekali aku melihat layar, dan semakin aku menilai tinggi anak ini. Selain Aplikasi DataSip, dia membuka banyak sekali tab. Rupanya dia juga mengerjakan LPJ, dua aplikasi layanan masyarakat lain yang diserahkan kepadanya, aplikasi laporan keuangan, aplikasi pajak, aplikasi anggaran, aplikasi pengubah bentuk file, aplikasi design, website AI, dan website kantor. Belum lagi dia juga membuka berbagai file tersimpan di laptop. 

Setelah dia selesai menjelaskan, aku memujinya dengan suara keras. Sengaja, agar bisa dicontoh oleh bawahanku yang malas itu. 

"Hebat kamu Sekar bisa mengerjakan semuanya." Pujiku.

"Terima kasih atas pujiannya, Pak Jaya. Saya hanya berusaha menjadi pegawai yang berakhlak baik."

"Lanjutkan, ya. Meskipun berat, semua ini akan bermanfaat buat kamu ke depannya. Kamu bisa belajar banyak."

"Baik, Bapak. Saya akan berusaha sekuat tenaga. Mohon bimbingannya."

Aku mengangguk-angguk. Dia kupersilakan kembali ke tempat duduknya. Aku melirik bawahanku, yang sekarang membuka bungkus keripik. Kemudian dia beranjak ke meja konsumsi untuk menyeduh kopi. Aku hanya bisa menghela napas perlahan. Mereka ini sebaya, tapi berbeda jauh karakternya. Sayang tes masuk tidak bisa mendeteksi karakter ini. 

Bawahanku ini tidak ada cacat dalam hasil pekerjaannya. Bahkan sempurna dan cepat. Tapi aku tidak suka dia tidak punya semangat untuk belajar. Dia itu masih muda, masih perlu banyak belajar. Harusnya dia tidak pilah pilih pekerjaan. 

Lihat juga meja mereka. Meja Keysha seperti kapal pecah. Penuh tumpukan kertas berserakan. Belum lagi ada bungkus keripik, sampah kertas, pulpen ditata serampangan. Mataku sakit benar melihatnya. 

Bandingkan dengan meja Sekar yang selalu rapi, meskipun dia sedang mengerjakan banyak pekerjaan. Alat tulis ditata dengan presisi mengagumkan. Tak ada makanan di mejanya. Hanya ada satu botol air putih yang selalu diletakkan di tempat yang sama. Bahkan dia mengatur kapan minum berapa mililiter. Pada saat jam kantor selesai, botol itu tepat habis. Mengagumkan sekali. 

Aku menatap mejaku yang dulunya paling rapi, tapi kini tidak lagi sejak ada Sekar. Bayangkan kalau dia jadi istri dan ibu dari anak-anakku. Pasti rumah bakalan jadi rapi. Sarapan selalu tersedia tepat waktu. Anak-anak disiplin dan teratur. Sungguh rumah tangga yang aku impikan.

Terdengar bunyi panggilan bunyi ponsel. Sekar mengangkat ponselnya. Aku pun ikut mendengar jawabannya.

"Ya, Pak Landung. Ya? Iya, Bapak. Pak Karyo sedang mengantar Bapak Pimpinan, tidak bisa menjemput tamu. Iya. Baik. Begini saja, Bapak. Saya bisa mengemudi dan punya SIM. Bagaimana kalau saya saja, Pak? Ya. Iya, Bapak. Baik, saya segera menjemputnya. Iya, Bapak."

Aku tertegun. Sekar selalu membuat kejutan. Anak selembut ini ternyata bisa menyetir. Ah, sempurna sekali. Sempurna.

"Kamu akan menjemput tamu?" tanyaku.

"Iya, Pak. Tidak ada yang menjemputnya karena Pak Karyo pergi."

Tiba-tiba Keysha menyeletuk,"Kamu kan ada kerjaan, Kar. Nanti nggak selesai lho. Panggil taksi aja kan bisa."

Ih, anak ini, benar-benar ya.

Sekar menjawab Keysha dengan kesabaran seluas samudera,"Kita yang harus langsung menyambut tamu, Keysha. Soal pekerjaan, saya akan mengerjakannya segera. Pasti akan selesai."

Keysha hanya mengangkat bahu cuek dan kembali menghadapi laptopnya. Sekar pamit kepadaku, dan aku balas dengan,"Hati-hati ya Sekar." Aku sebenarnya khawatir juga, cuma Aplikasi DataSip harus selesai empat jam lagi, sedangkan masih banyak data yang belum diinput.

Satu jam sebelum makan siang, Sekar sudah kembali ke mejanya. Dia sudah melalui banyak hal sebelum sampai ke sini. Setelah menjemput tamu, dia masih menyiapkan semua peralatan presentasi, menyiapkan ruangan, dan menjadi asrot sekaligus mengerjakan pekerjaan yang belum diselesaikannya. Hebat benar anak ini.

Ketika jam makan siang tiba, Pak Landung pergi keluar untuk istirahat, sedangkan Sekar masih berkutat dengan laptopnya. Aku membawakannya minuman berkemasan dan meletakkannya di meja. "Jangan lupa makan," kataku.

Dia mengangkat wajahnya dan berkata padaku dengan manis,"Terima kasih. Bapak perhatian sekali."

Wajahku merona merah. "Ah, bukan apa-apa."

Aku pun keluar untuk makan di kantin. Tanpa sengaja aku mendengar para staf sedang membicarakan Sekar. 

"Aku belum pernah lihat Sekar makan siang."

"Mana bisa? Dia ngerjain semua kerjaan Pak Landung."

"Samalah kayak aku. Tapi aku cuek aja. Nggak makan, tumbang beneran aku."

"Ngapain sih, kerja segitunya. Orang gaji kita sama. Nggak ada bonus juga, kita rajin atau enggak."

"Wajarlah. Ya kan anak baru. Masih semangat dan idealis gitu."

"Eh iya, kemarin dia ngusulin di rapat soal sosialisasi pakai media online, biar lebih menjangkau masyarakat. Akhirnya dia yang disruruh untuk ngerjain bahannya. Tuh, sekarang sedang ngerjain video untuk di upload di semua platform kantor."

"Dia buat itu juga? Dia udah melayani komplain masyarakat tentang aplikasi Cepat Sigap, kan? Ugh, nggak bisa bayangin deh pusingnya."

"Dia nggak tahu kalau itu nambah kerjaan? Polos banget, sih anak ini."

"Eh itu Sekar. Sekar, mau kemana?"

Sekar sedang berlari menuju motornya. Dia menjawab cepat,"Beli konsumsi. Ada tamu dadakan nanti jam dua."

Serentak ketiga pegawai yang sudah lebih senior, tapi masih tergolong muda itu geleng-geleng kepala. Tuh, contoh dong Sekar. Nggak kayak kalian. Masih muda, tak punya dedikasi. Terlalu cepat menyerah dengan sistem. Orang-orang seperti Sekar adalah harapan, agar sistem ini bisa diperbaiki.

Ketika jam pulang kantor, Sekar masih di mejanya. Wajahnya terlihat masih segar bugar. Aku kagum pada kemampuannya berdandan. Dia selalu memperbaiki dandanannya sehingga tidak nampak segala kelelahan meskipun dia harus lembur. 

Ah, ini saat yang tepat untuk aku mendekatinya, bukan?

"Hei Sekar, lembur lagi, ya?"

Dia mengangguk dan menjawabku ramah,"Iya, Pak Jaya. Ada pekerjaan yang harus saya selesaikan hari ini.'"

"Kamu berdedikasi sekali."

"Tentu saja, Pak. Saya telah dibayar oleh perusahaan. Mana bisa saya sembarangan. Saya harus menjadi pegawai yang berdedikasi tinggi."

Ini dia. Semangat anak muda. Beginilah anak muda. Naif dan idealis.

"Aku temenin, ya."

"Bapak baik sekali. Terima kasih."

"Kamu ngerjain apa?"

"Mengumpulkan arsip keuangan, Pak. Kata Pak Landung besok ada pemeriksaan."

"Oh...Iya memang."

Lalu aku menghabiskan waktu yang menyenangkan bersama anak cantik yang berdedikasi ini. Kebetulan aku punya waktu luang. Aku sudah menyiapkan berkas-berkas tadi siang bersama dengan bawahanku yang antilembur itu. Pekerjaan berbagai macam aplikasi juga sudah selesai. Dipikir-pikir, meskipun bawahanku malas, pekerjaan kami lebih cepat beres daripada divisi Pak Landung. Ah, andai saja Sekar ada di divisiku. Pasti pekerjaanku lebih cepat selesai. 

Esoknya, divisiku menghadapi pemeriksaan dulu. Tentu aku menjawab dengan lancar. Aku tak pernah punya masalah keuangan. Aku selalu disiplin menggunakan anggaran meski pun semua orang bilang aku kaku. 

Ketika tiba giliran Pak Landung, dia menjawab lancar pada awalnya, lalu tersendat ketika ditanya,"Mengapa kelompok ini lagi yang dapat bantuan dari yayasan?"

Aku tahu pasti ada keringat dingin keluar dari pelipis Pak Landung. 

Aku tak tahu keberanian darimana ketika si anak baru, Sekar, menjawab pertanyaan itu,"Karena kelompok itu saudaranya Pak Landung."

Seketika semua orang di tempat itu menahan napas. Ini adalah gosip terpanas beberapa tahun ke depan. Anak baru, yang bukan anak siapa-siapa, tidak berhubungan dengan para petingi begitu beraninya. Apakah anak ini ingin dipenggal kepalanya?

Tapi dalam hati aku mengagumi keberaniannya. Inilah seseorang yang berintegritas tinggi. Semakin yakin aku akan menjadikannya istri. Dia jujur sekali. Karakter yang ccok untuk dijadikan istri setia.

Pak Landung segera membawa pemeriksa ke dalam ruangan, lalu pintu ditutup rapat. Tiga puluh menit kemudian, Pak Landung dan pemeriksa berjalan keluar sambil tertawa-tawa. Seakan tidak terjadi apapun. 

Segera setelah mengantar tamu pemeriksa itu pulang, Pak Landung memarahi Sekar habis-habisan. Kami seruangan hanya dapat terdiam sambil menungu semuanya berhenti sendiri. Aku tak bisa membela Sekar. Bagaimanapun aku sudah tua. Aku tahu Sekar benar, tapi aku terlalu malas untuk membelanya. Biarkan ini pembelajaran untuk Sekar agar menjadi lebih dewasa.

Berlipat kagumku pada Sekar, ketika dia tidak menangis, seperti gadis lain. Dia hanya terlihat berpkir dengan wajah datar. Kembali ke mejanya, lalu membuka laptop. Dia melanjutkan pekerjaannya!

Benar-benar pegawai teladan. Dan calon istri sempurna untukku. 

Hari-hari sesudah itu berlangsung dengan damai seperti sesudahnya. Hanya Pak Landung yang lebih gusar dengan Sekar. Tapi selebihnya Sekar tetap menjadi pegawai teladan yang ramah, rajin, dan sopan. Bahkan sikapnya dengan Pak Landung tidak berubah.

Aku tidak sabar untuk memperistrinya. Aku tidak meninginginkan pacaran. Dengan usiaku yang sekian, aku menginginkan pernikahan. Karena itu, suatu sore yang jarang -karena Sekar hanya lembur satu jam, tidak sampai malam seperti biasa- aku mengajaknya keluar. 

Setelah berbasa-basi sebentar, aku pun bertanya padanya,"Apa kamu sudah punya pacar?"

Mukanya yang manis terlihat bingung. "Pacar?"

"Aku tahu ini mendadak, tapi aku suka sama kamu. Mau nggak, kamu menjalin hubungan denganku?"

Dia tidak langsung menjawab, kepalanya berpkir.

"Apa maksud bapak? Saya tidak mengerti."

"Jadilah istriku. Ah, tentu aku akan memberimu waktu untuk berpkir."

"Istri? Istri?"

Dia semakin aneh. "Orang yang memanajemen rumah tangga? Mengurus suami dan anak? Menyiapkan sarapan? Mengandung? Melahirkan? Menyeterika? Mencuci baju? Kompromi terhadap kekurangan pasangan? Mengalah?"

Aku kebingungan dengan rentetan pertanyaan itu. Tapi, ya, memang begitulah tugas istri.

Sekar masih terus menerocos dengan segala pertanyaan. Lalu,"Dua puluh empat jam...bekerja dan menjadi istri...Satu hari dua puluh empat jam. Bekerja rata-rata delapan belas jam. Menjadi istri dua puluh empat jam. Lebih dari sehari. Lebih dari sehari. Waktu...waktu..."

Tiba-tiba semuanya tersendat, matanya kosong, lalu mematung. Aku pun panik melihat apa yang terjadi. Apakah ini serangan mendadak tulang yang mematung. Aku memanggilnya, memanggil orang-orang. Tapi sekar tetap terdiam seperti dikutuk menjadi batu. 

Akhirnya ada yang berinisiatif memanggil ambulans sehingga Sekar diantar ke rumah sakit terdekat. Dia dibawa ke UGD, lalu pemeriksaan dilakukan lama sekali, melibatkan banyak dokter. Sudah tiba larut malam ketika seorang dokter memanggil dan melihatku dengan aneh,"Mengapa anda membawa robot kemari?"

"Hah? Robot?"

Dokter itu mengangguk. "Dia itu robot AI."

Belum selesai keterkejutanku, seseorang berpenampilan berantakan mengampiri kami dengan tergopoh-gopoh.

"Hei, kau apakan robot Sekar bisa hang seperti itu?"

"A....aku melamarnya," jawabku lugu, tak sempat berpikir lagi.

Dia menghela napas, sepertinya maklum. "Ah maaf, aku sepertinya kelupaan memberinya sebuah kata, yaitu 'tidak'."

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Kisah LDR paling jauh
Ari Septiana
Novel
MENCARI BAPAK (novela)
Rizky Anna
Skrip Film
Senja di Teluk Bara (Script)
Nurbaya Pulhehe
Flash
Kopi dan Kata
Riska Irmayadi
Cerpen
Palugada Teladan
Binti Uti
Novel
Gloomy Girl
RedApple
Novel
BOBI
Andika Putra Adi Prasetyo
Komik
Changes
Retno Yuliana
Komik
Iridescent
sweet potato
Komik
Sebuah Warna
Muucing
Skrip Film
Perfect Strangers - Script
Elvira Natali
Skrip Film
SEARAH
Siti rokhmah
Skrip Film
Hiraeth (Inner Child)
Writer In Box
Flash
Bunga Tidur: (Bukan) Mimpi
kvease
Flash
Bronze
Mister Jamu
Shabrina Farha Nisa
Rekomendasi
Cerpen
Palugada Teladan
Binti Uti
Flash
Ajo Sidi Setelah Kakek Meninggal
Binti Uti
Cerpen
Gulali Puma
Binti Uti
Novel
Hanya Mimpi
Binti Uti
Cerpen
Rumah Harapan
Binti Uti