Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Horor
Bronze
Pak Suryo
1
Suka
7,438
Dibaca

Bab 1: Bisikan di Balik Dinding

Alia menatap rumah itu, sebuah siluet abu-abu yang menjulang di antara rimbunnya dedaunan. Bukan rumah idaman, jauh dari itu. Ini adalah warisan dari Nenek Sari, sebuah bangunan tua yang seolah menolak untuk modern, tersembunyi di balik pagar besi berkarat dan pepohonan lebat yang jarang terjamah gunting taman. Ia baru saja tiba, setelah perjalanan panjang yang melelahkan dari hiruk pikuk Jakarta, membawa serta mimpi dan segala perbekalan seniman muda yang penuh ambisi. Udara di sini terasa berbeda, lebih dingin, lebih lembab, dan entah mengapa, lebih berat.

"Selamat datang di sarang laba-laba, Alia," bisiknya pada diri sendiri, menyeret koper besar melintasi jalan setapak yang ditumbuhi lumut. Setiap langkah terasa bergema, seolah tanah di bawah kakinya menyimpan rahasia. Rumah itu memang terpencil, di ujung jalan setapak yang sempit, dikelilingi hutan lebat yang membentang tanpa batas. Tidak ada tetangga terdekat, hanya bisikan angin yang berdesir di antara dedaunan pinus. Perfect, pikirnya, untuk fokus pada skripsi seninya yang menuntut ketenangan absolut. Atau, setidaknya, itulah yang ia harapkan.

Kunci yang ia dapatkan dari notaris terasa dingin di tangannya. Saat pintu kayu jati yang tebal itu terbuka dengan decitan engsel yang dramatis, aroma apak dan debu langsung menyergap indra penciumannya. Ruangan di dalamnya gelap, gorden tebal menghalangi cahaya matahari. Alia menyalakan sakelar lampu, dan bohlam tua di langit-langit berkedip-kedip sebelum akhirnya menyala, memancarkan cahaya kekuningan yang redup.

Rumah itu besar, lebih besar dari yang ia bayangkan. Ruang tamu luas dengan furnitur bergaya kolonial yang tertutup kain putih, meja marmer yang dingin, dan rak buku tinggi yang nyaris menyentuh langit-langit. Di sana-sini, bayangan-bayangan menari-nari di sudut ruangan, seolah-olah ada sesuatu yang bersembunyi. Alia mengabaikannya, mengatakan pada diri sendiri itu hanya efek cahaya. Ia lelah, sangat lelah.

Malam pertama di rumah itu terasa aneh. Setiap suara kecil membesar. Decitan lantai kayu, gemerisik dedaunan di luar, bahkan detak jam dinding tua di ruang tamu seolah berteriak. Alia berusaha tidur, memejamkan mata rapat-rapat, namun otaknya enggan tenang. Ia merasa diperhatikan. Perasaan itu tipis awalnya, seperti bulu yang menyentuh kulit, namun perlahan semakin nyata. Ia meyakinkan dirinya bahwa itu hanya kelelahan, imajinasi yang terlalu aktif akibat membaca terlalu banyak kisah horor.

Namun, bisikan itu...

Awalnya hanya seperti gumaman tak jelas, samar-samar, seolah datang dari balik dinding. Seperti percakapan yang terlalu jauh untuk didengar dengan jelas. Alia mengangkat kepala dari buku sketsanya, pensilnya terhenti di tengah goresan. Ia menajamkan pendengaran. Kosong. Hanya suara jangkrik di luar. Ia kembali menggambar, mencoba mengabaikannya.

Beberapa hari berikutnya, bisikan itu kembali. Kali ini, sedikit lebih jelas. "Dia ada di sini..." atau "Lihatlah..." Ia bahkan sempat merasa mendengar namanya disebut, meskipun itu sangat samar. Alia menengok ke segala arah. Tidak ada siapa-siapa. Ia mulai merasa sedikit gelisah. Rumah itu terlalu sunyi, terlalu sepi. Sunyi yang memekakkan telinga.

Ia mencoba menyibukkan diri. Membersihkan rumah, menata ulang beberapa barang, mencoba membuat tempat itu terasa lebih "miliknya". Ia menemukan banyak benda antik peninggalan neneknya: vas-vas keramik tua, cermin dengan ukiran rumit, dan sebuah lemari pakaian mahoni di kamarnya yang tampak begitu tua hingga hampir menyeramkan. Lemari itu besar, tingginya nyaris mencapai langit-langit, dengan ukiran bunga-bunga yang gelap dan suram.

Suatu sore, saat ia mencoba membersihkan bagian dalam lemari, tangannya menyentuh sesuatu yang lembut dan berdebu di sudut paling dalam. Ia menariknya keluar. Itu adalah boneka usang, terbuat dari kain perca lusuh, dengan rambut wol yang kusut. Yang paling mengerikan adalah matanya tercongkel, hanya menyisakan lubang kosong yang hitam. Boneka itu tampak seperti baru saja diletakkan di sana, debu di permukaannya tidak setebal debu di sekit...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp14.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Cerpen
Bronze
Pak Suryo
Christian Shonda Benyamin
Novel
PANDALANAN
Nor Laila
Flash
Bird's Eye
Fann Ardian
Flash
Bronze
Jun Kedatangan Jin
Nuel Lubis
Cerpen
Bronze
Bayangan Di Cermin Kedua
Christian Shonda Benyamin
Flash
Hadiah
Dark Specialist
Novel
Tales From the Beyond
Adri Adityo Wisnu
Flash
Bronze
Mimpi Defin
Ron Nee Soo
Skrip Film
Kutukan Dari Balik Halimun
Aria Monteza
Novel
Bronze
PKL DI DESA GOSAN
Nunung Hartati
Flash
Bronze
Undangan Lingsir Wengi
Choirunisa Ismia
Flash
Hati Palasik
Aniqul Umam
Novel
Gold
We Have Always Lived in the Castle
Mizan Publishing
Flash
Waktu
Dark Specialist
Flash
LOSER
Rama Sudeta A
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Pak Suryo
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Bayangan Di Cermin Kedua
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Sahabat Backpacker Ku
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Terkutuk
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Raina
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Kata Terlarang
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Tak Ada Percaya Pada Ku
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Catatan Tua
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Elara
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Imajiner Yang Nyata
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Mereka Ingin Menyakitiku
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Bus Senja
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Bayang Bayang Kaktus Berdarah Seri 03
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Novel Tanpa Akhir
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Teror
Christian Shonda Benyamin