Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
“Kisah ini terjadi sebelum dunia melupakan dosa-dosanya. Ketika Putri Mawar Darah belum menjadi ibu. Sebuah malam sunyi diliputi kegelapan yang menelan batas kemanusiaan…”
Malam di Pegunungan Aden
Malam di pegunungan Aden biasanya dipenuhi ribuan titik-titik cahaya di lembah Aden. Namun, kini hanya beberapa titik cahaya yang menghiasi kegelapan malam.
Angin gunung berhembus perlahan menuruni lereng gunung, membawa aroma tanah basah dan daun pinus. Kabut tipis turun, menyelusup di sela atap rumah-rumah kayu di lembah, seperti menyapa mereka yang terjaga.
Angin yang dingin menerpa seorang gadis muda berambut cokelat. Dia memeluk tubuhnya yang mengigil. Dia terlihat memakai kemeja linen sederhana dan rok panjang yang menutupi pergelangan kakinya.
Gadis muda itu berjalan perlahan menuju rumah kayu yang berdiri di utara desa. Dia berdiri di depan pintu kayu dan mengetuk pintu.
“Tok… tok… ibu tolong buka pintunya. Ini aku Cecelia,” katanya lembut.
Pintu berderit, seorang ibu tua mengintip dari celah pintu. Wanita tua itu terbelalak dan segera membuka pintu kayu lebar-lebar.
“Cecelia… kemana saja kamu, nak?!” tanyanya cemas.
“Ibu… aku baru saja mampir ke rumah Lucian setelah aku selesai bekerja di ladang. Kami membicarakan tentang rencana pernikahan kami,” Cecelia tersenyum kecut.
Ibu tua itu melihat wajah putrinya mendung. “Masuklah dulu, nak. Kita bisa membicarakannya di dalam rumah,” katanya menenangkan.
“Baik, bu,” katanya lesu.
Dia masuk ke rumah sambil menundukan kepalanya. Ibu tua itu memandang punggung putrinya yang terlihat tak bersemangat. Dia menghela nafas ringan.
Lalu dia berbalik ke depan, menoleh ke kiri dan ke kanan seolah khawatir kesatria yang berpatroli akan mengetuk pintu mereka. Lalu dia menutup mengunci pintu.
Cecelia masuk ke ruang tamu. Lentera di sudut dinding sudah padam. Ruangan itu remang-remang – hanya disinari cahaya bulan yang masuk dari celah jendela.
Cecelia duduk di kursi yang berderit. Dia menggenggam dua tangannya sambil menundukkan kepalanya seperti sedang berdoa mengharapkan keajaiban.
Beberapa saat kemudian… ibunya datang membawa secangkir teh chamomile.
“Minumlah dulu, nak,” kata ibunya menentramkan.
Cecelia mengangguk dan menerima cangkir kayu itu. “Terima kasih, bu.”
Dia menghirup uap teh chamomile yang harum, lalu menyesapnya perlahan. Rasanya hangat, ringan, dan sedikit manis.
Ibu tua itu duduk menyilangkan kakinya. Dia duduk tepat di samping putrinya. Dia diam sambil mengelus punggung putrinya.
Cecelia meletakan cangkirnya di atas meja kayu. Dia tertegun sejenak, memandang ibunya sebelum membuka bibirnya.
“Ibu… tadi sore aku menemui Lucian. Aku menanyakan kapan tanggal pernikahan kami. Tapi— “ Cecelia mengigit bibirnya. “Lucian tidak yakin kapan bisa menikahiku.”
“Lucian mengatakan dia harus bekerja keras dan ekstra untuk melunasi hutang keluarganya. Keluarganya terlilit hutang karena menunggak pajak, bu,” katanya getir.
Ibu tua itu tidak langsung menjawab. Dia menatap satu-satunya putrinya dengan tatapan rumit. Lalu dia menghela nafas berat.
“Ibu juga tidak bisa membantu, nak.” Dia mencengkram tumitnya. “Semenjak Count Christie IX memberlakukan pajak nafas. Kehidupan kita semakin sulit.”
“Ibu memahami kesulitan nak Lucian dan keluarganya. Kau tahu, nak. Kita tidak bisa memaksakan mereka untuk menikahimu,” katanya halus.
“Aku tahu, ibu. Aku juga tidak ingin memaksa Lucian menikahiku. Tapi teman-temanku—“ Cecelia menelan ludahnya tanpa sadar. “Mereka terus mengucilkanku… dan menyebutku perawan tua.”
“Aku juga tidak ingin menikah terlalu dini. Tapi mereka terus membicarakanku. Terlebih lagi… mereka menghina keluarga kita, bu. Mereka menyebut keluarga kita terlalu miskin sampai tidak sanggup menikah… hiks… hiks…”
Cecelia memutup wajahnya dengan dua telapak tangannya. Cairan bening menetes dari celah jarinya.
“Sabar, nak. Maaf, ibu tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi—” ibu tua itu memeluk putrinya dari samping dan mengusap kepalanya.
“Ibu hanya ingin kau tidak memaksakan dirimu… ibu hanya ingin kau bahagia, nak.”
“Ibu…” Cecelia memeluk pinggang ibunya erat-erat dan menangis dalam pelukannya.
Untuk beberapa saat… ibu dan putri itu saling berbagi kehangatan dan beban emosional di tengah kerasnya dunia. Ketika air mata berhenti menetes. Cecelia melepaskan pelukan dan mengusap matanya yang memerah.
Ibu tua itu memperhatikan putrinya dalam hening. Dia tersenyum hangat, menunggu putrinya berbicara lagi.
“Ibu… aku—aku memutuskan menunda pernikahan kami dulu. Aku tidak ingin membebani ibu dan Lucian.” Dia mencengkram roknya erat-erat. “Paling buruk… aku hanya akan ditertawakan gadis-gadis desa.”
Ibu tua itu tersenyum tipis. “Kalau itu keputusanmu, ibu akan mendukungnya, nak.”
“Ibu berharap pajak nafas dicabut dan keluarga Lucian bisa melunasi hutangnya… dan bisa menikahmu nanti.”
“Terima kasih, ibu,” Cecelia mengangguk ringan.
“Aku juga berharap kondisi ekonomi tidak memburuk. Semoga tidak ada pajak lainnya.” Cecelia mengertakkan giginya.
“Semua pajak ini… tidak masuk akal. Count Christie terlalu absurd.”
“Nak, aku tahu kamu kecewa dengan kebijakan Count. Tapi ibu harap kamu tidak mengatakan kata-kata kasar itu di depan umum. Ibu khawatir keselamatanmu.”
“Baik, bu. Maaf—aku salah bicara,” katanya sedikit gugup.
“Syukur kalau kau mengerti, nak.”
Setelah ibu dan putrinya berkeluh kesah, beberapa saat kemudian, keheningan melanda di ruangan tamu. Ibu tua itu hanya memijat bahu putrinya. Cecelia duduk dalam keheningan, menikmati perhatian ibunya.
“Tok… tok…”
Namun suara ketukan pintu bergema. Ibu dan putrinya saling memandang. Ibu tua itu berdiri.
“Kamu duduk di sini dulu, nak. Aku mau melihat siapa yang mengetuk pintu malam-malam begini.”
“Hati-hati, bu,” kata putrinya sedikit cemas.
Ibu tua itu melangkah ke pintu yang terkunci rapat di dalam rumah. Dia mendekati pintu itu.
“Siapa di luar sana?” tanyanya resah.
Tangannya gemetar ketika dia memegang gagang pintu. Namun berbeda dengan keresahannya, suara seorang wanita yang merdu dan menentramkan hati terdengar dari balik pintu kayu.
“Nyonya… mohon maaf menganggu waktu Anda. Saya hanya seorang pengembara yang kebetulan lewat.”
“Bisakah saya izin menginap satu malam di rumah Anda?” Nada suara wanita begitu lembut dan ramah seperti aliran air sungai pegunungan.
Mendengar suara wanita itu, tangan ibu tua tidak lagi gemetar. Dia membuka pintu perlahan dan mengintip celah pintu.
Mata ibu tua itu melebar ketika dia melihat sosok wanita di depannya. Sosok wanita itu bermata biru langit. Sorot birunya seakan kedamaian batin, menenangkan keresahan ibu tua itu.
Wanita itu membuka tudung birunya. Rambutnya pirang tergerai di punggungnya. Wanita itu terlihat memakai armor besi dengan pedang emas yang menggantung di pinggangnya. Dia tersenyum ramah kepada ibu tua itu.
“Ya Tuhan… nona ini sungguh memesona. Dia seperti malaikat yang diutus dari langit,” gumam ibu tua itu dalam batinnya., merasa takjub.
“Bisakah saya menginap satu malam, Nyonya? Tentu saja, saya akan membayar sewa satu malam,” katanya ramah.
Ibu tua itu terbangun dari lamunannya. Dia segera mengangguk.
“Tentu saja, Nona. Saya menyambut Anda.” Ibu tua itu membentangkan telapak tangan kanannya. “Silahkan masuk.”
“Terima kasih, Nyonya.”
Kesatria wanita itu masuk ke rumah. Sementara itu, ibu tua mengunci pintu dan menuntun kesatria wanita itu menuju ruang tamu.
Cecelia mendongak mendengar suara ibunya.
“Nak, kita mendapatkan tamu…” katanya lembut.
Cecelia terbelalak ketika dia menyaksikan sosok kesatria wanita melangkah dengan mantap di ruangan tamu. Kesatria wanita itu tersenyum ramah kepada Cecelia.
Ketika mata cokelat Cecelia dan mata biru itu bertemu, Cecelia seakan hanyut dalam ketenangan batin. Tatapan itu seolah menyerap semua kegelisahannya, meninggalkan damai yang lembut di hati Cecelia.
“Siapa kesatria wanita itu? Kenapa aku merasa beban hidupku terangkat hanya dengan menatap matanya?” gumam Cecelia dalam batin.
Untuk sesaat… Cecelia terpana, menatap kesatria wanita itu. Namun suara ibunya membuyarkan lamunannya.
“Cecelia… nona ini hendak menginap di rumah kita satu malam.”
Cecelia berkedip-kedip, lalu dia tersenyum ramah kepada kesatria wanita itu.
“Selamat datang di rumah kami, Nona kesatria.” Cecelia menoleh ke kursi yang agak reot. “Rumah kami sederhana, saya meminta maaf jika itu membuat Anda tidak nyaman.”
Namun kesatria wanita itu tersenyum ramah.
“Saya tidak keberatan. Terima kasih telah menerima saya, Nona.”
Ibu tua itu merentangkan tangannya, mempersilahkan kesatria wanita itu duduk.
“Silahkan ambil tempat yang nyaman untukmu, Nona.”
“Terima kasih, Nyonya.”
Kesatria wanita itu duduk di kursi kayu, tepat menghadap di depan ibu tua dan putrinya. Dia menyilangkan kakinya dan memandang ibu tua dan gadis muda itu dengan hangat.
“Perkenalkan, nama saya Alice Vermillion. Saya hanya pengembara yang kebetulan lewat di desa ini,” katanya ramah.
“Saya Cecelia, Nona,” kata Cecelia.
“Saya ibunya Cecelia. Nona bisa memanggil saya, Nyonya Ciel,” kata Nyonya Ciel.
Alice menoleh ke sudut ruangan, dia melihat lentera yang padam. Dia menatap Nyonya Ciel dan Cecelia.
“Ngomong-ngomong ruangan ini tampak gelap. Kenapa Nyonya Ciel tidak menghidupkan lentera?”
Nyonya Ciel dan Cecelia saling berpandangan sejenak. Lalu Nyonya Ciel membuka bibirnya.
“Apakah itu menganggu Anda, Nona?”
Alice mengeleng-gelengkan kepalanya.
“Tidak, Nyonya. Saya tidak keberatan. Saya hanya penasaran,” katanya lembut sekaligus tegas.
Nyonya Ciel ragu-ragu hendak menjelaskan. Namun putrinya menyela.
“Maaf, Nona Alice. Apakah Anda kesatria dari Count Christie?” tanya Cecelia cemas.
“Bukan, Nona. Saya hanya kesatria yang kebetulan melintasi desa ini,” kata Alice ramah.
Cecelia memegang dadanya dan menghela nafas ringan.
“Syukurlah….” katanya lirih. Cecelia menyungging bibirnya.
“Jadi begini, Nona. Seperti yang Anda ketahui, desa kami masuk ke administratif Count Christie IX. Baru-baru ini, Count memberlakukan kebijakan pajak nafas.”
Alice duduk dalam tenang, memperhatikan penjelasan Cecelia. Matanya menyipit ketika dia mendengar kata ‘pajak nafas’.
“Setiap rumah yang menyalakan lentera dan tungku penghangat diminta membayar pajak nafas senilai 1 poin perak per lentera, Nona.”
“Keluarga kami bukan keluarga mampu. Kami terpaksa mematikan lentera setiap malam untuk menghindari pajak.” Wajah Cecelia tiba-tiba menggelap.
“Baron pesuruh Count dan para kesatrianya biasanya berpatroli setiap malam. Mereka mencatat lentera yang menyala di setiap rumah penduduk desa.”
Alice memperhatikannya dalam keheningan, namun tangannya mencengkram erat tumitnya ketika melihat raut wajah Cecelia semakin menggelap. Cecelia terpaku sejenak. Lalu dia kembali membuka bibirnya.
“Setiap seminggu di hari minggu, kesatria akan datang ke rumah penduduk untuk menagih pajak nafas berdasarkan catatan Baron.”
Cecelia mencengkram roknya.
“Nona Alice mungkin belum tahu… tapi semenjak pajak nafas diberlakukan. Kehidupan kami semakin sulit.”
“Kami bekerja keras bahkan menambah kerja ekstra hanya untuk membayar pajak dan memakan sepotong roti gandum dan kentang setiap hari.”
Cecelia mengigit bibirnya.
“Aku bahkan terpaksa menunda pernikahanku karena calon suamiku terlilit hutang. Keluarganya kesulitan membayar pajak.”
Melihat Cecelia tertekan, Alice menghela nafas berat seakan ikut merasakan beban yang ditanggung gadis muda itu.
“Itu benar, Nona Alice. Putri saya terpaksa menunda pernikahannya sampai batas waktu yang tak diketahui.”
“Padahal teman-temannya sudah menikah… dan mereka bahkan menertawakan putri saya,” katanya getir.
“Sebagai orang tua, saya gagal membahagiakan putriku. Saya sungguh menyesal,” kata Nyonya Ciel sendu.
“Jangan bilang begitu, ibu.” Cecelia memeluk pinggang ibunya dari samping.
“Cecelia tidak apa-apa. Ibu jangan bersedih.”
Nyonya Ciel dan Cecelia saling berpelukan. Mereka menghibur satu sama lain.
Sementara itu, Alice melihat pasangan ibu-putri itu terbebani, dadanya merasa ikut sesak. Hatinya ikut terluka.
“Para penguasa feodal itu… sungguh keji. Jika aku tidak segera bertindak… mereka akan memakan rakyat sampai kering.”
“Sebagai kesatria rakyat, aku harus melindungi rakyat,” pikirnya.
Alice mengelengkan kepalanya, menenangkan kegundahan hatinya. Dia duduk dengan tubuh tegak. Namun matanya menatap halus Nyonya Ciel dan putrinya.
“Nyonya Ciel… Nona Cecelia… saya harap keadaan akan segera membaik. Saya turut prihatin atas kondisi Anda dan penduduk desa,” katanya tulus.
“Terima kasih, Nona Alice. Kami menghargai perhatian Anda,” kata Cecelia ramah.
Alice berdiri dari tempat duduk dan menatap Nyonya Ciel. Lalu dia membuka bibirnya.
“Nyonya Ciel, maaf menganggu Anda. Tapi bisakah Anda mengantarkan saya ke kamar saya?”
Nyonya Ciel melepaskan pelukan putrinya dan berdiri.
“Tentu saja, Nona Alice. Saya akan mengantar Anda ke kamar Anda.”
Alice menoleh ke Cecelia.
“Nona Cecelia, saya berdoa untukmu.” Alice tersenyum cerah. “Selamat malam.”
Cecelia mengangguk ringan.
“Terima kasih, Nona. Semoga Anda bisa tidur nyenyak. Selamat malam.”
Alice melangkah mengikuti Nyonya Ciel. Nyonya Ciel menuntun Alice ke kamar tamu.
Nyonya Ciel membuka pintu kamar tamu dan mempersilahkan Alice masuk.
Alice masuk ke kamar dan melihat ranjang sederhana dengan kasur berselimut seprei abu-abu. Di samping ranjang, terdapat meja kayu sederhan dengan kursi kayu. Di sudut ruangan terdapat lentara yang padam.
“Nona Alice… ini kamar untuk Anda. Saya harap Anda bisa tidur nyaman malam ini.”
Alice mengangguk ringan sambil tersenyum hangat. “Terima kasih, Nyonya Ciel.”
“Kalau begitu, saya mohon pamit. Silahkan panggil saya kapan saja, Nona.”
Nyonya Ciel melangkah meninggalkan Alice. Di ruang tamu, Alice tersisa sendirian di kamarnya. Dia menutup pintunya. Lalu dia duduk di tepi ranjang.
Alice mengeluarkan pena dan buku bersampul biru dari jubahnya. Dia membuka lembarannya dan mencatat sesuatu.
“Target sudah dikonfirmasi. Count Christie telah terbukti melakukan kejahatan sistemik kepada rakyatnya.” Dia mencatatnya di lembaran putih di bukunya.
Alice menaruh pena dan buku biru itu di atas meja. Lalu dia melepaskan jubah biru dan mengantungnya di cantelan di pintu kayu.
Jubah biru itu terlihat memiliki simbol “mahkota patah”. Bukan simbol mawar yang biasanya dipakai kesatria kerajaan.
Alice melepaskan armor besinya dan pedang emasnya, menyisakan pakaian putih yang ringan. Dia juga melepaskan sarung tangannya.
Dan jari telunjuk kanannya terlihat cincin perak dengan ukiran mawar. Alice tersenyum hangat ketika melihat cincin perak kesayangan itu.
Alice duduk di kursi kayu. Dia mengangkat jari telunjuknya dan menatap cincin perak di jari telunjuknya.
Alice tersenyum tipis dan menutup kelopak matanya. Dia teringat pada sosok gadis kecil bermata biru langit dan berambut perak tersenyum ramah kepadanya ketika dia masih kecil.
Kala itu, Alice kecil dan Marry kecil bergandengan tangan di taman bunga mawar, tersenyum riang, saling main dan bercanda. Mereka berdua berdiri di depan air mancur.
“Alice… tolong tutup matamu,” kata Marry kecil hangat.
“Tutup mata?! Baiklah, Marry.” Alice patuh menutup mata dengan dua tangan mungilnya.
“Sekarang buka matamu, Alice,” kata Marry lembut.
Alice membuka kelopak matanya dan melihat Marry kecil mengulurkan dua tangannya. Di atas tangannya terdapat kotak perak seukuran genggaman tangan.
“Ini hadiah ulang tahun untukmu Alice,” Marry tersenyum.
“Hadiah untukku?” Bahu Alice gemetar. Matanya basah.
“Hah?! Kenapa Alice menangis?” Tanya Marry memiringkan kepala mungilnya.
Alice menyeka matanya.
“Tidak, Marry. Aku bahagia.”
Alice tersenyum hangat kepada Marry.
“Terima kasih telah memberikanku hadiah istimewa, Marry.”
“Selamat ulang tahun, Alice.” Marry menyerahkan kotak perak.
“Cepat bukalah hadiahnya,” kata Marry penuh antusias.
“Oh… baik, Marry.”
Alice kecil membuka kotak perak itu. Ketika kotak perak itu terbuka, terlihat cincin perak di dalamnya berkilau terkena cahaya matahari.
“Cantik sekali. Ini untukku, Marry?”
“Iya, itu hadiah spesial untukmu, Alice. Terima kasih telah bermain denganku.”
“Marry senang,” katanya polos sambil tersenyum.
“Biarkan aku membantumu memakaikan cincin peraknya. Ulurkan tangan kananmu.”
Alice mengulurkan telapak tangan kanannya. Marry memasang cincin perak itu di jari telunjuk Alice.
“Sekarang Alice bisa menyimpan pedang kayu di cincin,” kata Marry.
“Wow… cincin penyimpanan,” Alice memeluk Marry. “Terima kasih, kau memang sahabat terbaikku.”
“Sama-sama. Kalau Alice senang, Marry ikut senang, hehe…” katanya polos sambil memeluk erat sahabatnya.
Dua gadis kecil itu berpelukan di depan air mancur. Mereka adalah sahabat masa kecil yang hidup di bawah atap istana mawar perak.
Satu-satunya putri kerajaan Rose, Mary El Rose dan kesatria pelindung keluarga kerajaaan, Alice Vermillion, mereka bermain bersama, tersenyum dan berbagi tawa. Ketika itu, mereka tidak menyadari dunia mereka sebenarnya terlalu gelap untuk hati yang terlalu lembut.
Namun itu sudah menjadi masa lalu. Alice yang sekarang bukan lagi gadis kecil yang polos. Dan sekarang Marry bukan lagi putri kecil yang imut, riang dan polos; ia telah menjelma menjadi algojo darah yang namanya menggetarkan para tiran, "Putri Mawar Darah".
Alice membuka kelopak matanya. Matanya biru jernih berair seperti langit yang hujan. Dia menyeka matanya dan tersenyum tipis mengenang masa lalu.
“Marry… akhirnya aku tahu kenapa kau memilih jalan berdarah itu… para tiran tidak berhenti memeras darah rakyat.”
Alice mengigit bibirnya.
“Aku tidak akan membiarkanmu menampaki jalan berdarah itu selamanya. Aku akan membebaskan rakyat dari tirani dan feodalisme.”
“Karena aku adalah kesatria rakyat – pelindung rakyatmu.”
Alice mengepalkan tangannya.
“Tunggu aku, Marry. Aku harap kita bisa bertemu lagi.”
Beberapa saat kemudian… Alice melanjutkan menulis laporan di buku birunya. Dia menyobek kertas putih dan meletakan di atas meja.
Dia mengusap cincin peraknya dan cincin peraknya bersinar terang. Ketika cahaya itu pudar, kantong abu-abu muncul di atas meja.
“Josh… akhirnya selesai. Waktunya tidur,” kata Alice sambil merentangkan tangannya.
Alice berbaring di ranjangnya. Dia memajamkan matanya. Beberapa saat kemudian, dia tertidur nyenyak.
Malam itu, di bawah rumah kayu yang gelap, Alice tertidur dengan senyuman di wajahnya. Dia bermimpi bermain bersama Marry kecil di Istana Mawar Perak.
Malam pun berganti menjadi pagi. Nyonya Ciel mengetuk pintu ruang tamu. Pintu terbuka namun Alice tidak ada di dalamnya.
Nyonya Ciel melangkah ke ruangan tamu dan melihat kantung abu-abu di atas meja kayu dengan secarik kertas. Dia itu membuka kantong itu dan terkejut ketika dia melihat kilauan emas di dalamnya.
“Ya Tuhan… koin-koin emas.”
Nyonya Ciel mengambil nafas dan menepuk dadanya. Setelah dia tenang, dia membaca secarik kertas putih itu.
Di sana tertulis, “Nyonya Ciel… Nona Cecelia… maaf saya pergi tanpa pamit. Saya meninggalkan kantong abu-abu untuk biaya sewa semalam.”
“Sisanya tolong ambil saja untuk biaya pernikahan Cecelia. Saya berdoa, semoga pernikahan Cecelia lancar.” — Kesatria rakyat, Alice Vermillion.
Tangan Nyonya Ciel gemetar memegang secarik kertas putih itu. Matanya berair. Dia menutup mulutnya dan berkata lirih.
“Nona Alice… Anda sungguh mulia.”
Beberapa saat kemudian, Nyonya Ciel berteriak. Dia memanggil putrinya.
“Cecelia… kemarilah!” Suaranya bergema di rumah kayu itu.
Putrinya melangkah ke ruangan tamu. Dia masih memakai celemek. Dia bertatapan muka dengan ibunya.
“Ibu, ada apa? Kenapa ibu heboh? Aku sedang menyiapkan sarapan untuk Nona Alice,” katanya heran.
Nyonya Ciel tidak menjawab. Dia menyerahkan kantong abu-abu dan secarik kertas putih itu kepada putrinya.
“Lihatlah sendiri!” katanya.
Cecelia menerima kantong abu-abu itu dan membaca secarik kertas putih itu. Mata cokelatnya basah ketika dia mendapat ucapan doa Alice untuknya.
“Nona Alice… Anda benar-benar malaikat,” katanya haru.
Cecelia memeluk ibunya.
“Ibu, sekarang aku bisa menikah.”
Ibunya mengusap punggung putrinya.
“Selamat, nak. Ibu ikut bahagia. Kita harus berterima kasih kepada Nona Alice.”
Ibu dan putrinya itu menatap ranjang kain. Di atas seprai yang kusut itu masih ada lekukan yang menyerupai tubuhnya — seperti bayangan yang tak mau pergi.
Nyonya Ciel dan Cecelia menutup kelopak matanya serempak. Mereka menautkan dua telapak tangannya dan berdoa dengan khusyuk.
“Nona Alice… kami harap perjalanan Anda lancar. Semoga kami bisa bertemu kembali dengan Anda,” doa mereka dalam batin.
Pagi itu, Nyonya Ciel dan putrinya itu tidak tahu bahwa seorang putri bencana telah mengunjungi rumah mereka.
Alice Vermillion, yang kini dijuluki Putri Kesatria, seorang putri bencana – kesatria rakyat yang akan menguncang tatanan feodal di Kerajaan Mawar… dan membebaskan rakyat dari belenggu penindasan. Sejak hari itu, kerajaan Rose tidak akan tenang.
Tak ada yang tahu ke mana kesatria wanita itu pergi. Namun di desa yang gelap itu, satu cahaya telah menyala tanpa perlu membayar pajak nafas setidaknya untuk malam ini.