Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Pada Dusta Keempat, Seorang Laki-laki akan Mati
0
Suka
9
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Pada Dusta Keempat, Seorang Laki-laki akan Mati

Ruang tamu rumah kami pukul dua dini hari selalu terasa seperti ruang sidang yang dingin. Di bawah temaram lampu gantung kristal yang redup, keheningan membungkus kami berdua seperti kain kafan.

Istriku, Arini, duduk tenang di sofa tunggal. Tidak ada derai air mata. Tidak ada jeritan histeris. Hanya ada sebuah cangkir teh yang sudah dingin di atas meja kayu jati, dan sebuah ponsel yang tergeletak pasrah di sebelahnya.

Aku berdiri tiga langkah di depannya, berkeringat dingin meski AC bertiup kencang. Dinding di belakangku terasa makin menyempit, memojokkan badanku yang lemas.

Ini bukan pertama kalinya kami berada dalam posisi seperti ini. Ini adalah interogasi ketiga dalam lima tahun pernikahan kami. Dan aku tahu betul, batas ampunan dari wanita di depanku ini sudah habis.

Semuanya bermula dari pola yang berulang.

Dua tahun lalu, pada Interogasi Pertama, aku melontarkan Dusta Pertama. 

"Aku khilaf, Ar," kataku waktu itu dengan mata basah dan lutut bersimpuh di atas karpet. Arini menangis semalaman, menelan kepahitan itu bulat-bulat, dan memberiku kesempatan kedua demi mempertahankan pernikahan yang baru seumur jagung.

Satu tahun kemudian, pada Interogasi Kedua, aku melontarkan Dusta Kedua dan Dusta Ketiga sekaligus. 

Waktu itu aku tertangkap basah berada di spa bersama teman-teman bisnisku. Aku panik luar biasa dan melontarkan Dusta Kedua: "Aku dijebak! Bobby sama Vino yang ngatur semuanya! Aku cuma diajak minum!" Dan karena Bobby dan Vino memang perusak moral yang terkenal brengsek, alibi itu setengah masuk akal.

Ketika Arini menatapku dengan mata sembap yang mulai mendingin, aku menyambungnya dengan Dusta Ketiga — janji keramat yang diucapkan banyak laki-laki tolol di dunia ini: "Aku janji, demi Allah, ini yang terakhir."

Waktu itu Arini tidak menangis lagi. Dia hanya tersenyum tipis, mengangguk pelan, lalu menyodorkan selembar kertas addendum post-nuptial agreement bertanda tangan notaris yang sudah dia siapkan di atas meja.

Isi Perjanjian itu singkat, padat, dan beracun: 

Jika di kemudian hari pihak suami terbukti melakukan perselingkuhan lagi — baik secara fisik maupun perzinahan yang terkonfirmasi — maka seluruh harta bergerak, rumah atas nama bersama, serta saham bisnis restoran keluarga jatuh seratus persen ke tangan pihak istri tanpa syarat.

Waktu itu, dengan rasa percaya diri konyol seorang laki-laki yang merasa bisa bermain lebih rapi dan licin, aku menandatanganinya. Aku membatin: Aku tidak akan sebodoh itu untuk tertangkap lagi.

Aku salah. Dan malam ini, kekonyolan itu menagih bayarannya.

"Kamu mau nyangkal apa lagi sekarang?" suara Arini terdengar pelan, datar, tanpa intonasi marah sedikit pun.

Dia menjentikkan jarinya ke layar ponsel. Di atas meja, tiga lembar foto beresolusi tinggi tercetak rapi di atas kertas foto mengkilap.

Fotonya sangat jelas. Diambil dari sudut atas kamar Suite Hotel Santika pukul sebelas malam tadi. Di foto pertama, aku sedang duduk di tepi ranjang king-size — telanjang dada, hanya memakai celana panjang, dengan wajah memerah karena pengaruh alkohol. Di foto kedua, seorang perempuan muda berambut panjang bernama Clara sedang berdiri tepat di depanku, mengulurkan tangan hendak melepaskan kancing celanaku. Di foto ketiga, wajahku terlihat panik menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka.

Sialan. Sumpah mati, demi apapun, itu foto yang mematikan.

Tapi yang membuat dada dan kepalaku mau meledak oleh rasa frustrasi adalah: aku sebenarnya belum sempat menikmati apa-apa malam itu!

"Ar, dengarin aku dulu!" kataku setengah berteriak, memajukan langkah. "Sumpah demi Tuhan, foto itu nggak seperti yang kamu pikirkan! Aku dijebak lagi!"

Arini hanya menaikkan satu alisnya. "Dijebak? Tanpa baju di kamar hotel jam sebelas malam sama perempuan dua puluh dua tahun?"

"Dengarin dulu, Ar! Demi Allah, aku belum ngapa-ngapain!" jeritku frustrasi, menepuk dadaku sendiri. "Aku baru buka baju! Baru mau... baru mau mulai, tiba-tiba ada orang gila mabok yang gedor-gedor pintu kamar kenceng banget! Orang itu berteriak-teriak sok panik kalau dia salah kamar! Pintu diketok kayak mau didobrak!"

Aku mengambil napas memburu, mengingat kejadian sialan sejam yang lalu itu.

"Gara-gara gedoran orang gila itu, Clara panik! Dia ketakutan, langsung ambil tasnya dan lari keluar kamar gitu aja! Aku ditinggal sendirian di ranjang kayak orang bego! Aku bahkan nggak nyentuh dia sama sekali, Ar! Nggak ada perzinahan! Aku cuma korban sial!"

Aku menatap Arini dengan harapan ada celah belas kasihan di matanya. Aku merasa punya alibi kuat: tidak ada persetubuhan yang terjadi! Aku cuma laki-laki bernasib sial yang diganggu orang salah kamar tepat di detik-detik krusial!

Tapi Arini tidak menunjukkan rasa kasihan. Dia malah menatapku dengan pandangan yang... seperti kasihan pada tingkat kebodohanku.

"Kamu pikir masalahnya ada di kamu sempet nyentuh dia atau nggak?" tanya Arini, suaranya makin dingin. "Kamu udah ada di kamar itu. Kamu udah buka baju. Kamu udah siap berzina. Itu udah lebih dari cukup."

"Tapi janji di notaris itu soal terbukti selingkuh, Ar! Aku dijebak!" aku mulai panik. Amunisi "khilaf" di dusta pertama sudah habis. Amunisi "dijebak teman" di dusta kedua sudah kedaluwarsa. Amunisi "janji terakhir" di dusta ketiga sudah jadi sampah.

Sudut mataku liar. Logikaku buntu. Pertahananku runtuh total. Dan di saat kepepet seperti binatang yang terkepung di sudut ruangan, egoku yang jahat mengambil alih.

Aku memutuskan untuk melontarkan Dusta Keempat.

Dusta paling busuk yang membalikkan seluruh beban kesalahan ke muka istriku sendiri.

"Lagian kamu tau nggak kenapa aku sampai nyari cewek lain?!" bentakku, suaranya kusengaja buat menggelegar untuk menutupi rasa takutku yang membuncah. "Ini semua gara-gara kamu, Ar! Kamu yang bikin rumah ini dingin kayak kuburan! Kamu nggak pernah lagi ngelayanin aku sebagai suami sejak dua tahun lalu! Tiap malam kamu cuma sibuk sama laptop dan koper kamu! Laki-laki mana yang betah kalau di rumah cuma dianggep kayak mesin pencari uang tanpa rasa haus yang dipedulikan?!"

Suaraku menggema di seluruh sudut ruang tamu.

Hening.

Arini tidak terkejut. Dia tidak tersinggung. Dia tidak membentak balik.

Dia hanya mengangguk pelan, seolah baru saja menyelesaikan sebuah teka-teki silang yang mudah.

"Dusta keempat," kata Arini pelan. "Menyalahkan istri atas kebusukan moralmu sendiri. Lengkap sudah."

Arini mengulurkan tangannya yang tenang, mengambil ponsel di atas meja, lalu mematikan sebuah aplikasi perekam suara yang dari tadi menyala. Sebuah bunyi beep menandai berakhirnya rekaman interogasi malam ini.

"Kamu mau tahu satu rahasia?" kata Arini sambil berdiri dari sofa.

Dia merapikan kulot hitamnya, lalu menatapku dengan mata yang jernih tanpa beban.

"Perempuan tidak pernah bertahan di rumah yang sama setelah dikhianati dua kali. Kalaupun aku masih tinggal di rumah ini selama satu tahun terakhir... itu bukan karena aku percaya sama kamu. Tapi karena aku sedang menyusun escape plan."

Arini berjalan menuju meja makan, mengambil sebuah amplop cokelat tebal yang sudah rapi di sana.

"Clara," kata Arini santai. "Nama aslinya Siska. Dia detektif swasta wanita yang aku sewa delapan bulan lalu. Tugasnya cuma satu: memancingmu ke kamar hotel untuk melihat sejauh mana kamu bisa memegang janji manis di dusta ketigamu. Dan ternyata, cuma butuh waktu empat bulan buat kamu terpancing masuk ke kamar itu."

Jantungku seperti dihantam godam raksasa. Dengkulku lemas. "Kamu... apa?"

"Foto tanpa baju itu diambil lewat kamera tersembunyi yang ditaruh Siska di atas TV," lanjut Arini, suaranya tenang seperti dosen membaca silabus. "Dan soal orang gila yang gedor-gedor pintu teriak 'salah kamar' sampai kamu nggak sempat ngapa-ngapain..."

Arini tersenyum tipis. Senyum paling mematikan yang pernah kulihat.

"...itu juga orang bayaranku. Aku butuh bukti sah kamu buka baju di kamar hotel untuk mengeksekusi Addendum Notaris, tapi aku terlalu jijik kalau sampai suamiku benar-benar menyentuh perempuan lain."

Brak.

Duniaku serasa runtuh. Lidahku kelu. Aku mematung di tempat.

Semua kejadian malam ini — mulai dari Clara yang mengunditku di bar, kamar hotel Santika, foto tanpa baju, sampai gedoran pintu salah kamar yang membuatku gigit jari — semuanya adalah koreografi jebakan raksasa yang dirancang oleh istriku sendiri dengan sangat presisi.

"Rekaman suara malam ini," Arini mengangkat ponselnya, "ditambah bukti foto kamar hotel, dan pernyataan tertulis dari Siska, sudah lebih dari cukup untuk pengacaraku memproses eksekusi perjanjian post-nuptial besok pagi jam delapan."

Arini menyampirkan tas tangannya ke bahu, lalu menarik koper kecil yang rupanya sudah dia siapkan di dekat pintu depan sejak sore.

"Rumah ini, mobil di garasi, dan seluruh saham restoranmu... semuanya resmi pindah tangan per besok," kata Arini. "Kamu punya waktu sampai jam dua belas siang besok untuk mengemas baju-bajumu. Setelah itu, kunci rumah akan diganti oleh petugas keamanan."

Aku jatuh berlutut di atas karpet. Suaraku tercekat di tenggorokan. "Ar... tolong, Ar... jangan gini..."

Arini memegang gagang pintu depan, lalu menoleh satu kali terakhir. Tatapannya tidak benci, tidak dendam. Hanya kosong.

"Dulu ada yang bilang," kata Arini pelan, "pada dusta yang keempat, seorang lelaki akan mati. Selamat malam."

Pintu depan menutup dengan bunyi klik yang halus dan pasti.

Suara mesin mobilnya terdengar menyala di pelataran, lalu perlahan menjauh meninggalkan perumahan.

Aku terduduk sendirian di atas dinginnya karpet ruang tamu. Di dalam rumah mewah yang tak lagi milikku, di hadapan bisnis yang tak lagi kupunya, dan di tengah kehampaan hidup yang kubangun dari dustaku sendiri.

Malam itu, di bawah remang lampu kristal ruang tamu, aku tahu kalimat itu benar.

Aku belum dikubur. Tapi aku sudah mati.

Belitung, 2026

Cerpen ini merupakan bagian dari koleksi "SEPULUH, Kumpulan Cerpen". 

) Catatan Hukum: Perjanjian Pascanikah (Postnuptial Agreement) sah secara hukum di Indonesia berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi No. 69/PUU-XIII/2015, di mana pasangan yang sudah menikah berhak membuat perjanjian pemisahan harta dan addendum komitmen di hadapan Notaris selama ikatan perkawinan berlangsung.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Pada Dusta Keempat, Seorang Laki-laki akan Mati
Muhammad Sapril
Cerpen
Mie di Kala Hujan
zain zuha
Cerpen
Bronze
Asih
Yona Elia Pratiwi
Cerpen
Bronze
Sakit Kiriman
Intan Andaru
Cerpen
Bronze
Pilihan Dimas
Heaven Nur
Cerpen
Bronze
Pisang Goreng
De Lilah
Cerpen
Bahasa Bunga
zain zuha
Cerpen
KARBAK 85
Sky Melankolia
Cerpen
Pergi Melaut, Tak Kembali
Muhammad Irsyad
Cerpen
Bronze
Pardi
C. Gunharjo Leksono
Cerpen
Bronze
Cegukan
Andriyana
Cerpen
Bronze
Toko Masa Depan
Shinta Larasati Hardjono
Cerpen
Melukis Masa (Yuu)
Godok
Cerpen
Perhatikan Rani
Cassandra Reina
Cerpen
Gubuk Kecil di Kota Kuning
Rafael Yanuar
Rekomendasi
Cerpen
Pada Dusta Keempat, Seorang Laki-laki akan Mati
Muhammad Sapril
Novel
Timah Cair Dinda
Muhammad Sapril
Cerpen
Tiga Perempuan dan Satu Ranjang
Muhammad Sapril
Novel
Penjara Tika
Muhammad Sapril
Cerpen
Seorang Lelaki Menangis di Kamar Anaknya
Muhammad Sapril
Flash
Aku Benci Kamu, Penakut!
Muhammad Sapril
Novel
Rumah Kedua Sari
Muhammad Sapril
Cerpen
Sembilan Bajingan
Muhammad Sapril
Cerpen
Dua Asbak
Muhammad Sapril
Cerpen
Lima Syarat Surga Jalur VIP
Muhammad Sapril
Cerpen
Delapan Pahlawan
Muhammad Sapril
Cerpen
Tujuh Anak Bapakku
Muhammad Sapril
Cerpen
Enam Jam di Jogja
Muhammad Sapril
Cerpen
SEPULUH
Muhammad Sapril