Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Oren
0
Suka
240
Dibaca

Oren, Kucing Cerewet yang Dirindukan Suaranya

Sore itu, langit di atas plafon rumah Jodi tampak muram, seolah-olah ikut merasakan kekosongan yang merayap di sudut-sudut ruangan. Biasanya, ada satu frekuensi yang memecah keheningan itu yaitu sebuah suara serak, unik, dan penuh tuntutan yang tidak mungkin tertukar dengan suara makhluk lain di dunia ini. Aroma tanah basah sisa hujan seakan mempertegas atmosfer sepi yang kian mencekam. Jodi duduk terpaku di kursi ruang tamu, memandangi sudut dekat pintu tempat semangkuk makanan kucing yang masih utuh tergeletak tak tersentuh.

Nenek, begitulah Jodi memanggil induk kucing senior yang sudah bertahun-tahun menghuni teras belakangnya. Nama itu bukan tanpa alasan; Nenek telah melahirkan belasan generasi, menjadi saksi bisu tumbuh kembang Jodi dari remaja hingga dewasa. Nenek adalah kucing lokal dengan corak tiga warna yang tenang dan penuh wibawa. Namun, dari sekian banyak keturunan Nenek yang pernah singgah dan meramaikan pekarangan rumah itu, hanya satu yang benar-benar mencuri hati Jodi sepenuhnya: Oren.

Sejak masih berupa bayi kucing berukuran sekepalan tangan yang gemar berguling di rumput, Oren sudah menunjukkan tanda-tanda bahwa ia berbeda dari saudara-saudaranya yang pemalu. Saat yang lain memilih bersembunyi di balik pot bunga ketika Jodi datang membawa wadah pakan, Oren kecil justru akan berlari paling depan, mengabaikan langkah kakinya yang belum seimbang demi bisa mencapai ujung sandal Jodi terlebih dahulu.

Si Klasik yang Tak Bisa Diam

Oren bukanlah kucing bangsawan dengan bulu lebat yang menawan. Dia tidak memiliki mata biru jernih seperti kucing Siam, atau tubuh kekar layaknya ras British Shorthair. Dia hanya kucing domestik berbulu jingga cerah dengan pola garis-garis yang agak acak di sepanjang punggung dan ekornya yang panjang melengkung. Namun, daya tarik utama Oren terletak pada mulutnya yang tidak pernah bisa berhenti berkomentar. Segala hal dalam hidup Oren tampaknya harus diekspresikan lewat suara.

Jika kucing lain mengeong dengan suara "Meong" yang standar, Oren punya dialeknya sendiri.

"Urre... urre...!"

 

 

 

Suaranya terdengar berat, klasik, dan sedikit bergema seperti radio tua yang frekuensinya sedikit terganggu atau seperti mesin mobil antik yang sedang dipanaskan. Suara itu adalah alarm pagi bagi Jodi, musik latar saat ia makan, dan "pengusir sepi" yang paling ampuh. Setiap pagi tepat pukul 05.30, tanpa pernah meleset semenit pun, moncong jingga itu sudah menempel di celah bawah pintu kamar Jodi, melantunkan melodi "Urre... urre..." dengan nada naik-turun yang penuh tuntutan hingga Jodi terbangun.

Sering kali, saat Jodi melamun menatap layar laptop karena tenggat waktu pekerjaan yang menumpuk, atau sekadar memandang kosong ke luar jendela memikirkan penatnya hidup, suara "Urre...!" yang tiba-tiba itu mampu membubarkan lamunannya seketika. Oren seolah tahu kapan tuannya butuh ditarik kembali ke dunia nyata. Kucing itu akan melompat ke atas meja, berjalan di atas papan ketik tanpa rasa bersalah, lalu menatap Jodi lurus-lurus dengan mata bulatnya yang sewarna madu, seolah berkata, *“Berhentilah bekerja dan lihatlah aku yang menakjubkan ini.”*

Hubungan mereka pun unik. Jodi tidak perlu memanggil nama atau mengguncang-guncang bungkus makanan untuk mendapatkan perhatiannya. Ikatan batin di antara keduanya sudah terjalin terlalu kuat. Cukup dengan mengintip sedikit saja dari balik gorden jendela kaca yang menghadap ke teras, mata mereka akan bertemu. Begitu mata mereka saling melihat, Oren akan langsung menjawab dengan teriakan keras yang menggema ke seluruh penjuru halaman, seolah berkata, "Hei, aku tahu kau di sana! Cepat keluar!"

Sahabat dalam Setiap Langkah

Hari-hari berlalu, dan Oren tumbuh menjadi kucing yang ceria sekaligus dominan di lingkungan rumah tersebut. Bagi Jodi, Oren bukan sekadar hewan peliharaan yang diberi makan lalu diabaikan; dia adalah teman, pendengar setia, sekaligus sahabat sejati yang memahami setiap dinamika emosinya. Saat Jodi sedang dirundung kesedihan atau pulang dengan bahu merosot akibat lelah, Oren tidak akan pergi menjauh. Kucing itu akan datang dengan langkah anggun, melingkar dan duduk di dekat kaki Jodi sambil terus bergumam kecil, memberikan kehangatan magis yang tidak bisa didapatkan dari manusia.

Sebaliknya, saat suasana hati Jodi sedang senang, Oren seperti memiliki antena gaib yang menangkap getaran positif itu. Kucing jingga itu akan bertingkah konyol, berlarian ke sana kemari mengejar bayangannya sendiri di dinding, atau menerkam gumpalan kertas yang sengaja dilempar Jodi. Tingkah polahnya yang jenaka selalu berhasil membuat Jodi tertawa terpingkal-pingkal hingga melupakan seluruh beban dunia. Kebahagiaan itu terasa begitu utuh, begitu sempurna, hingga maut datang mengetuk pintu tanpa meminta izin terlebih dahulu.

Suatu malam, suasana rumah berubah drastis menjadi mencekam. Angin bertiup lebih kencang dari biasanya, menciptakan suara derit menakutkan pada pintu pagar. Oren yang biasanya menyambut Jodi di depan pintu dengan serentetan protes panjang karena telat memberi makan malam, kini tidak terlihat di tempat biasanya. Kejanggalan itu membuat dada Jodi berdesir aneh.

Setelah mencari ke beberapa sudut, Jodi menemukan Oren hanya tergeletak di pojok ruang belakang, dekat tempat jemuran. Tubuhnya lemas, kehilangan seluruh energi yang biasanya meledak-ledak. Jodi dengan panik mencoba menyodorkan makanan basah aroma tuna kesukaannya, makanan yang biasanya akan membuat Oren mengeong histeris kegirangan, namun kali ini Oren hanya memalingkan wajahnya perlahan. Matanya yang biasanya jenaka, tajam, dan penuh binar kehidupan, kini tampak sayu, layu, dan keruh terlapisi selaput putih tipis.

Jodi panik bukan main. Telapak tangannya gemetar hebat saat menyentuh bulu Oren yang terasa lebih dingin dari biasanya. Karena klinik hewan terdekat sudah tutup pada jam larut malam seperti itu, Jodi hanya bisa membawa Oren ke dalam kamarnya. Ia menyelimuti tubuh kecil yang ringkih itu dengan kain hangat, membisikkan doa-doa tanpa putus di telinga Oren, dan berharap dalam hati yang paling dalam bahwa ini hanyalah sakit ringan akibat salah makan yang akan hilang begitu matahari terbit. Jodi terus mengusap kepala Oren hingga larut, dan itulah malam terakhir Jodi melihat binar di mata sahabatnya.

Hilang Bak Ditelan Bumi

Pagi harinya, secercah harapan yang dipupuk Jodi semalam runtuh seketika. Sebuah kenyataan pahit menghantam Jodi tepat di ulu hati, menyisakan rasa sesak yang luar biasa. Keranjang tempat Oren tidur semalam telah kosong. Selimut kain yang digunakannya masih menyisakan sedikit kehangatan, namun sosok jingga itu sudah tidak ada di sana.

Jodi segera berlari mengitari rumah dengan kepanikan yang memuncak. Ia mencari ke kolong meja, memeriksa ruang sempit di balik lemari pakaian, merangkak ke bawah tempat tidur, hingga melangkah cepat ke kebun belakang dekat area kekuasaan Nenek. Jodi membalikkan setiap ember kosong, memeriksa semak-semak rumput gajah, namun Oren tetap tidak ada. Nenek hanya duduk di atas pembatas tembok, menatap Jodi dengan pandangan mata yang kosong, seolah-olah sang induk pun tahu bahwa anaknya telah pergi menjauh.

 

Kucing sering kali pergi menjauh dan menyembunyikan diri di tempat yang paling terpencil saat mereka merasa ajalnya sudah dekat, sebuah insting purba agar tubuh mereka tidak ditemukan oleh predator atau pemiliknya. Itulah kenyataan paling mengerikan yang paling ditakutkan Jodi selama ini. Oren telah menghilang bak ditelan bumi, meninggalkan rumah tanpa pamit.

Perasaan kehilangan itu menyumbat tenggorokan Jodi, membuatnya kesulitan bahkan hanya untuk sekadar bernapas. Rumah yang biasanya bising dan ramai dengan suara "Urre... urre..." yang mengesalkan sekaligus dirindukan, kini bertransformasi menjadi ruang sepi yang sangat menyakitkan. Tembok-tembok rumah seolah ikut membisu, berduka atas hilangnya sang penghibur utama.

"Oren sudah meninggal," pikir Jodi dengan hati yang hancur berkeping-keping. Bayangan Oren yang harus meregang nyawa sendirian di luar sana, kedinginan di bawah kolong selokan atau di sudut gelap yang kotor, menahan sakit yang luar biasa tanpa ada dirinya di sisi untuk mengusap kepalanya, membuat dada Jodi sesak luar biasa hingga air matanya menetes tanpa bisa dibendung lagi.

Sebuah Doa di Balik Isak Tangis

Malam berikutnya, suasana tidak menjadi lebih baik. Kegelapan seolah menelan seluruh sisa-sisa keceriaan yang pernah ada di rumah itu. Jodi duduk sendirian di lantai teras, tempat yang biasanya menjadi area favorit Oren untuk berjemur di bawah matahari pagi atau sekadar berguling-guling malas. Ia menatap kegelapan malam yang pekat dengan mata yang sembab dan membengkak akibat terlalu banyak menangis sepanjang hari.

Di tengah kesunyian yang mencekam dan angin malam yang menusuk tulang itu, kenangan tentang kecerewetan Oren berputar kembali seperti film lama di dalam kepalanya. Setiap sudut teras itu seakan memproyeksikan bayangan Oren. Ia teringat betapa lucunya Oren saat melompat-lompat menuntut perhatian, betapa hangatnya bulu jingga itu saat bersandar pasrah di kakinya ketika Jodi sedang membaca buku, dan bagaimana ekornya akan bergerak-gerak ritmis menyentuh pergelangan tangan Jodi.

Kehilangan ini terlalu mendadak, terlalu berat untuk dipikul sendiri. Sambil menundukkan kepala sedalam-dalamnya di atas lutut, membiarkan air mata yang hangat jatuh satu demi satu membasahi lantai semen teras, Jodi melipat tangannya. Ia berbisik lirih, mengadukan seluruh kerapuhan hatinya kepada Sang Pencipta alam semesta.

"Ya Allah..." suaranya bergetar hebat, parau, dan diselingi isak tangis yang tertahan di tenggorokan. "Kalau sekarang Oren masih hidup di luar sana... tolong, ya Allah, pulangkanlah dia ke sini. Apapun kondisinya saat ini, entah dia dalam keadaan sakit sakral, lemah, atau tak berdaya sekalipun, aku tidak peduli. Aku hanya ingin dia pulang ke rumah ini. Aku merindukan suaranya... Aku ingin menemaninya..."

Rintihan tulus itu terbawa oleh embusan angin malam, melayang di antara harapan yang kian menipis dan cinta yang tak terbatas untuk seekor kucing cerewet bernama Oren. Malam semakin larut, namun Jodi tetap bergeming di posisinya. Ia hanya bisa menunggu dalam ketidakpastian yang menyiksa, mengumpulkan sisa-sisa ketegaran, sambil terus berharap ada sebuah keajaiban kecil yang akan membawa kembali melodi suara serak "Urre... urre..." yang selama ini telah menjadi detak jantung dan roh kehidupan di rumahnya.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Cerpen
Oren
Azis Sulaeman
Novel
SUNRISE
Kala Hujan
Cerpen
Natal tanpa Bunda
Rizky Siregar
Cerpen
KAPSUL WAKTU
Rudie Chakil
Novel
Memilih menjadi Janda
Fika Fauziah
Skrip Film
What is LOVE ?
Aries Zayatri
Skrip Film
SENSITIF
fitriyanti
Skrip Film
Script Film : Mendadak Drakor
indra wibawa
Cerpen
Bronze
Akhir yang Tak Selalu Baik
Zaki S. Piere
Skrip Film
Dunia Awang-Awang
Saifan Rahmatullah
Flash
Satu Pagi di CGK
annastasia
Novel
Bronze
Rupiah Untuk Agus
Bond Monosta
Novel
Bloody Dawn
Azka Ramadhani
Flash
Janji
N. Sabrina Putri
Novel
Bronze
Imperfection : Fight to Be Fine
Andieran
Rekomendasi
Cerpen
Oren
Azis Sulaeman
Cerpen
Perjalanan impian Toni
Azis Sulaeman
Cerpen
Abon Kering
Azis Sulaeman
Cerpen
Ku terpanah dengan suara mu
Azis Sulaeman
Cerpen
Ukhti Naila
Azis Sulaeman
Cerpen
Masjid Istiqlal
Azis Sulaeman
Cerpen
Bobi si Kucing
Azis Sulaeman
Cerpen
Perjalanan impian Toni part 2
Azis Sulaeman
Cerpen
Za Za Za
Azis Sulaeman
Cerpen
Selamat jalan Gendut
Azis Sulaeman
Cerpen
Keluarga besar Nenek
Azis Sulaeman
Cerpen
Cahaya itu adalah F
Azis Sulaeman
Novel
Damar dan Hana
Azis Sulaeman
Novel
Rumah sejati Ahmad Sadikin
Azis Sulaeman