Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
ORANG-ORANG YANG MENGANTAR REVOLUSI
Oleh Prasetya
Mereka yang Tidak Tercatat
Di jalan-jalan yang dipenuhi suara,
ada mesin tua yang tetap menyala,
ada tangan-tangan yang menggenggam kemudi,
ada perut lapar yang tak sempat diisi.
Mahasiswa membawa kata-kata,
tentang keadilan, tentang sebuah negara,
tentang masa depan yang ingin dibenahi,
tentang hari esok yang tak ingin mereka warisi
dalam bentuk luka yang sama.
Sementara di balik kaca kendaraan,
seorang sopir menghitung pendapatan,
seorang ibu menunggu kepulangan,
seorang ayah menyimpan kekhawatiran,
dan seorang pengemudi mengejar pesanan
agar dapur rumahnya tetap mengepulkan harapan.
Siapa yang mengantar para pemberani?
Siapa yang menjemput mereka kembali?
Siapa yang mengingat nama orang-orang kecil
yang membiarkan roda kehidupannya berhenti
demi seseorang yang bahkan tak dikenalnya?
Sejarah mencatat siapa yang berteriak,
siapa yang berpidato, siapa yang berdiri di depan barikade.
Tetapi sejarah sering lupa menuliskan
siapa yang mengantar mereka berangkat,
siapa yang menunggu dalam kecemasan,
dan siapa yang diam-diam memastikan
bahwa mereka masih mempunyai jalan pulang.
Sebab revolusi bukan hanya tentang mereka
yang berani mengubah arah sebuah negara.
Kadang-kadang, revolusi juga tentang mereka
yang tetap menyalakan mesin,
meski hidupnya sendiri belum menemukan
jalan menuju kesejahteraan.
1. Mesin Tua dan Pagi yang Berbeda
Pukul lima lewat sepuluh menit, Jakarta masih menyimpan sisa dingin malam ketika Samin memutar kunci kontak angkot merahnya.
Mesin itu batuk tiga kali sebelum akhirnya menyala. Suaranya kasar, seperti orang tua yang dipaksa bangun sebelum sempat menyelesaikan mimpinya.
“Wis, Le. Ayo kerja.”
Samin menepuk dasbor yang retak.
Ia sudah terbiasa berbicara kepada kendaraannya. Selama bertahun-tahun, angkot itu menjadi teman yang paling setia mendengarkan keluh kesahnya. Tidak pernah membantah, tidak pernah memberi nasihat, dan tidak pernah bertanya mengapa pemiliknya masih harus bekerja pada usia yang seharusnya digunakan untuk menikmati hari tua.
Angkot itu hanya meminta bensin, oli, suku cadang, dan sesekali perhatian lebih ketika mesinnya mulai rewel.
Sayangnya, permintaannya hampir sama banyaknya dengan kebutuhan manusia.
Di atas dasbor tergantung tasbih kecil yang warnanya mulai pudar. Di sebelahnya terselip foto istrinya, perempuan yang telah meninggal empat tahun lalu, ketika cucu pertama mereka baru belajar berjalan.
Di bawah foto itu tergeletak secarik kertas.
Beras dua kilogram.
Minyak goreng.
Obat batuk untuk cucu.
Uang sekolah minggu depan.
Samin membaca daftar tersebut sambil menghela napas.
Bukan karena ia tidak tahu apa yang harus dibeli, melainkan karena ia sudah menghitung semuanya semalam. Uang yang tersedia tidak cukup. Bahkan kalau ia bekerja sampai malam, belum tentu semuanya terbeli.
Ia memasukkan kertas itu ke saku kemeja, lalu menjalankan angkot meninggalkan pangkalan kecil di pinggir jalan.
Jakarta perlahan membuka matanya.
Seorang petugas kebersihan mendorong gerobak sampah. Pedagang bubur menata mangkuk di gerobaknya. Dua pengemudi ojek daring duduk di depan minimarket sambil menunduk menatap layar telepon genggam.
Masing-masing memulai hari dengan harapan yang sederhana: semoga hari ini lebih baik daripada kemarin.
Namun, bagi orang-orang seperti Samin, hari yang lebih baik tidak selalu berarti mendapat keuntungan besar.
Kadang-kadang, cukup jika kendaraan tidak mogok.
Cukup jika tidak ada penumpang yang mengeluh.
Cukup jika tidak ada razia yang mengharuskan dirinya mengeluarkan uang tak terduga.
Dan paling penting, cukup jika ketika malam tiba, masih ada sesuatu yang bisa dibawa pulang.
Angkotnya berhenti di sebuah halte.
Tiga mahasiswa naik hampir bersamaan.
Mereka membawa ransel, botol air minum, dan gulungan karton yang ujungnya menyembul dari tas. Seorang pemuda berkacamata duduk di depan, sedangkan dua temannya mengambil tempat di belakang.
“Ke arah Senayan, Pak,” kata pemuda itu.
“Senayan mana?”
“Dekat gedung DPR. Nanti kami turun sebelum lokasi.”
Samin memandang mereka melalui kaca spion.
“Demo?”
Ketiganya saling berpandangan.
Seorang perempuan berambut sebahu tersenyum.
“Iya, Pak.”
“Pagi-pagi sudah mau ribut?”
“Bukan ribut, Pak. Menyampaikan pendapat.”
Samin memasukkan gigi persneling.
“Ya, sama saja. Kalau tidak ribut, siapa yang dengar?”
Ketiganya tertawa kecil.
Angkot bergerak kembali.
Radio tua di dekat kemudi menyiarkan berita tentang demonstrasi mahasiswa yang direncanakan berlangsung hari itu. Ada tuntutan mengenai kebijakan pemerintah, transparansi anggaran, dan berbagai persoalan yang belakangan ramai diperdebatkan masyarakat.
Samin mendengarkan sambil sesekali melirik jalan.
Berita politik sudah seperti suara hujan baginya. Terdengar hampir setiap hari, tetapi tidak selalu membuatnya merasa perlu membuka jendela.
Ia pernah menyaksikan pergantian presiden. Ia pernah melihat harga-harga naik, pejabat berganti, partai bertambah, dan janji-janji baru dipasang di baliho.
Namun, setiap kali pergi ke pasar, harga cabai tetap harus dibayar dengan uang sungguhan.
“Bapak tidak setuju mahasiswa demonstrasi?” tanya perempuan di kursi belakang.
Samin melihatnya melalui spion.
“Siapa bilang?”
“Bapak tadi bilang kami mau ribut.”
“Saya bilang kalau tidak ribut, siapa yang dengar. Itu bukan berarti saya tidak setuju.”
“Kalau begitu, Bapak setuju?”
Samin tertawa pendek.
“Nduk, saya ini sopir angkot. Kalau saya bilang setuju, harga bensin tidak turun. Kalau saya bilang tidak setuju, uang sekolah cucu saya juga tidak tiba-tiba lunas.”
Mahasiswa itu terdiam sejenak.
“Benar juga, Pak.”
“Yang benar itu kalian mau ke mana. Kalau sudah dekat, bilang. Jangan sampai saya malah mengantar kalian ke tempat lain. Nanti saya dituduh ikut demonstrasi.”
Mereka kembali tertawa.
Namun, setelah tawa itu mereda, perempuan tersebut bertanya lagi.
“Pak, dulu pernah ikut demonstrasi?”
Samin tidak langsung menjawab.
Ia melihat ke depan, ke arah gedung-gedung yang mulai memantulkan cahaya matahari.
“Pernah mengantar orang yang ikut demonstrasi.”
“Waktu kapan?”
“Waktu kalian mungkin belum lahir.”
“1998?”
Samin mengangguk.
Angkot berjalan melewati sebuah persimpangan. Beberapa kendaraan mulai bertambah jumlahnya.
“Dulu saya sopir bus antarkota,” katanya. “Saya mengantar banyak orang. Ada mahasiswa yang naik, ada pedagang yang pulang, ada keluarga yang membawa anak kecil. Waktu itu Jakarta juga ramai. Banyak jalan terganggu. Banyak orang takut.”
“Terus, Bapak mengantar mahasiswa juga?”
“Mereka naik bus saya.”
“Gratis?”
Samin tersenyum tipis.
“Kalau saya ceritakan, nanti kalian mengira saya pahlawan.”
“Memangnya bukan?”
“Pahlawan itu orang yang dikenang. Saya cuma sopir yang kebetulan tidak tega meminta ongkos kepada anak-anak yang sedang ketakutan.”
Ketiga mahasiswa terdiam.
Di luar, matahari mulai muncul di sela gedung tinggi.
Mereka belum tahu bahwa sebelum matahari tenggelam, Samin akan kembali mengantar seorang mahasiswa yang terluka, menghadapi kemacetan panjang, dan menemukan sesuatu tentang negeri ini yang tidak pernah ia pelajari dari televisi.
Mereka juga belum tahu bahwa pada hari itu, empat kendaraan berbeda akan membawa empat manusia menuju satu pengalaman yang sama.
Sebuah bus pariwisata akan mengantar puluhan mahasiswa dari pinggiran kota.
Seorang pengemudi ojek daring akan terjebak di antara pesanan dan kerumunan.
Seorang pengemudi taksi daring akan mengantar seorang mahasiswi yang menyimpan ketakutannya di balik senyuman.
Dan Samin, dengan angkot merahnya yang tua, akan terus bergerak di antara mereka.
Tanpa mengetahui bahwa hari itu mungkin akan menjadi salah satu hari yang paling lama dikenangnya.
2. Kenangan yang Tidak Pernah Turun dari Bus
Dua puluh delapan tahun sebelumnya, Samin masih menjadi sopir bus antarkota.
Usianya baru tiga puluh satu tahun. Rambutnya masih lebat, punggungnya belum terlalu sering sakit, dan ia masih percaya bahwa bekerja keras selama puluhan tahun akan membuat seseorang hidup lebih tenang ketika tua.
Ia membawa bus dari Jakarta ke Semarang, Yogyakarta, Surabaya, dan kota-kota lain yang namanya ia hafal karena berkali-kali mengantar orang ke sana.
Ia menyukai pekerjaannya.
Bukan karena gajinya besar, melainkan karena ia bisa melihat dunia tanpa harus menjadi orang kaya.
Dari balik kaca depan bus, ia menyaksikan sawah, pasar, terminal, rumah-rumah kecil, dan wajah-wajah penumpang yang membawa cerita masing-masing.
Ada orang yang berangkat untuk mencari pekerjaan.
Ada yang pulang setelah gagal.
Ada yang pergi membawa harapan, lalu kembali dengan diam yang panjang.
Samin tidak selalu mengetahui kisah mereka. Namun, ia tahu bahwa setiap orang yang naik bus memiliki alasan untuk bergerak.
Pada Mei 1998, ia mengemudikan bus menuju pusat kota ketika demonstrasi mahasiswa semakin meluas.
Ia ingat bagaimana suasana berubah dari hari ke hari. Jalan-jalan tertentu dipadati massa. Beberapa toko menurunkan pintu besi. Penumpang membatalkan perjalanan. Kabar berpindah dari satu mulut ke mulut lain lebih cepat daripada kendaraan yang dikemudikannya.
Suatu siang, di sebuah persimpangan, puluhan mahasiswa berlari menyeberang jalan.
Sebagian membawa spanduk. Sebagian lainnya membawa buku yang dijadikan pelindung kepala dari terik matahari.
Seorang pemuda mengangkat tangan, meminta bus berhenti.
Samin menginjak rem.
Pemuda itu mendekati jendela.
“Pak, boleh kami naik sebentar? Kami mau menghindari kerumunan di depan.”
“Kalau kalian naik, siapa yang bayar?”
Pemuda itu tampak kebingungan.
“Kami tidak punya uang, Pak.”
Di belakangnya, mahasiswa lain berlari sambil menoleh ke arah yang sama.
Samin membuka pintu.
“Naiklah.”
Mereka masuk berdesakan. Ada yang terengah-engah, ada yang tertawa gugup, ada yang langsung duduk di lantai bus.
Salah seorang mahasiswa masih memegang poster yang telah kusut.
Samin kembali menjalankan kendaraan setelah jalan cukup lengang.
Tak seorang pun membayar ongkos hari itu.
Ia juga tidak meminta.
Bukan karena ia tidak membutuhkan uang. Ia memiliki istri dan seorang anak yang harus diberi makan. Namun, saat melihat wajah-wajah muda yang kelelahan itu, ia merasa tidak sanggup menambah beban mereka dengan meminta beberapa lembar uang.
Seorang mahasiswa duduk di dekatnya setelah bus berhenti di tempat yang lebih aman.
“Terima kasih, Pak.”
Samin mengangguk.
“Sudah makan?”
Mahasiswa itu menggeleng.
Samin mengambil sebungkus roti dari tasnya.
“Nih.”
Mahasiswa itu menerima roti tersebut dengan kedua tangan.
“Semoga Indonesia berubah, Pak.”
Samin tertawa kecil.
“Kalau sudah berubah, kabari saya. Saya ingin tahu apakah sopir bus juga ikut berubah nasibnya.”
Pemuda itu tertawa.
Mereka berpisah di sebuah persimpangan.
Samin tidak pernah mengetahui nama pemuda itu. Ia juga tidak pernah tahu apakah pemuda tersebut menjadi dosen, pengusaha, pegawai negeri, atau bahkan pejabat yang duduk di gedung yang dulu mereka protes.
Ia hanya mengingat wajahnya.
Wajah seorang anak muda yang percaya bahwa sesuatu bisa berubah jika cukup banyak orang berani menyuarakannya.
Reformasi datang.
Presiden berganti.
Undang-undang berubah.
Televisi menayangkan wajah-wajah baru yang berbicara tentang masa depan.
Samin tetap mengemudikan bus.
Sampai suatu hari, perusahaan tempatnya bekerja mengurangi armada. Usianya bertambah. Penglihatannya mulai terganggu saat malam. Ia akhirnya membeli angkot bekas dengan uang tabungan dan pesangon yang tersisa.
Sejak itu, ia menjadi sopir kecil di kota besar.
Dulu ia mengangkut puluhan penumpang dalam satu perjalanan.
Sekarang ia mengangkut lima atau enam orang, kalau beruntung.
Dulu ia melintasi jalan tol dan antarkota.
Sekarang ia berputar di antara pasar, terminal kecil, dan perempatan yang sama setiap hari.
Namun, ada satu hal yang tidak pernah berubah.
Orang-orang selalu ingin sampai ke tempat tujuan, sedangkan pengemudi harus memastikan kendaraan tetap berjalan.
Ketika tiga mahasiswa turun dari angkotnya pagi itu, Samin sempat memperhatikan tulisan pada karton yang dibawa perempuan berambut sebahu.
Negara Bukan Milik Segelintir Orang.
Ia membaca kalimat itu sekali lagi sebelum menginjak pedal gas.
“Semoga benar,” gumamnya.
Lalu ia kembali mencari penumpang.
Sebab, keyakinan tidak membayar setoran.
3. Empat Puluh Dua Anak Muda
Di halaman sebuah kampus di pinggiran Jakarta, Harun memeriksa ban bus pariwisata berwarna putih.
Ia sudah melakukannya dua kali, tetapi tetap mengulanginya.
Selama tiga puluh tahun menjadi pengemudi bus, Harun belajar bahwa kendaraan yang membawa banyak orang tidak boleh hanya dipercayakan kepada doa dan keberuntungan.
Ban harus diperiksa.
Rem harus diuji.
Lampu harus berfungsi.
Dan pengemudi harus cukup sadar untuk mengetahui kapan perjalanan harus dihentikan.
“Pak Harun!”
Seorang mahasiswa berlari menghampirinya.
“Sebentar lagi berangkat. Anak-anak sudah kumpul.”
Harun mengangguk.
“Sudah dihitung semua?”
“Sudah, Pak. Empat puluh dua orang.”
“Hitung lagi.”
“Lho, tadi sudah.”
“Kalau nanti ada yang tertinggal, saya yang disalahkan.”
Mahasiswa itu tertawa, lalu berlari kembali ke arah teman-temannya.
Harun masuk ke dalam bus dan duduk di kursi pengemudi.
Di kaca depan tergantung tasbih kayu kecil. Di dekatnya ada foto istrinya yang mengenakan kacamata.
Sebelum berangkat, Harun menyentuh foto itu sebentar.
“Doakan anak-anak ini, Bu. Semoga semuanya selamat.”
Ia menyalakan mesin.
Mahasiswa mulai naik. Suasana bus segera ramai. Ada yang menyanyikan lagu perjuangan, ada yang membicarakan tuntutan demonstrasi, ada pula yang sibuk merekam video untuk media sosial.
Seorang mahasiswa laki-laki berdiri di dekat kursi pengemudi.
“Pak, menurut Bapak, demonstrasi kami ini akan berhasil?”
Harun memandangnya sekilas.
“Berhasil dalam hal apa?”
“Ya, tuntutan kami didengar.”
“Kalau itu, saya tidak tahu.”
“Bapak tidak yakin?”
“Saya pengemudi bus. Saya bisa memastikan kalian sampai ke tujuan. Saya tidak bisa memastikan orang yang kalian tuju akan mendengarkan.”
Mahasiswa itu tersenyum.
“Jawaban Bapak realistis sekali.”
“Kalau tidak realistis, bus saya sudah masuk jurang sejak dulu.”
Tawa menyebar di bagian depan.
Harun menyalakan lampu sein dan membawa bus keluar dari halaman kampus.
Sepanjang perjalanan, ia mendengar potongan-potongan percakapan dari belakang.
Mereka berbicara tentang ketimpangan, korupsi, kebijakan yang dianggap tidak adil, lapangan pekerjaan, dan masa depan.
Harun tidak memahami semua istilah yang mereka gunakan. Ada kata-kata baru yang terdengar asing, tetapi ia menangkap sesuatu yang sederhana: anak-anak itu takut bahwa setelah lulus, dunia yang menunggu mereka tidak akan menyediakan tempat yang layak.
Harun memahami ketakutan itu.
Anaknya sendiri baru saja lulus kuliah. Sudah mengirim puluhan lamaran kerja, mengikuti beberapa wawancara, dan sampai sekarang masih bekerja serabutan.
Setiap kali anaknya pulang, ia selalu berkata bahwa semuanya baik-baik saja.
Harun tahu itu bohong.
Tetapi ia juga tahu bahwa seorang ayah kadang-kadang harus berpura-pura percaya agar anaknya tidak kehilangan keberanian.
Ketika bus mendekati pusat kota, lalu lintas mulai melambat.
Beberapa kendaraan berhenti di pinggir jalan. Polisi mengatur arus lalu lintas. Dari kejauhan, tampak kerumunan manusia dan sejumlah spanduk yang bergerak di atas kepala.
“Pak, nanti kami turun di mana?” tanya seorang mahasiswa.
“Di tempat yang diizinkan. Kita tidak akan memaksakan bus masuk kalau jalannya sudah ditutup.”
“Tapi kami harus dekat dengan lokasi.”
“Dekat tidak selalu berarti paling depan.”
Mahasiswa itu tidak menjawab.
Harun melanjutkan perjalanan hingga petugas memberi isyarat agar bus berhenti di area parkir yang telah ditentukan.
Mahasiswa turun satu per satu.
Sebelum pergi, pemuda yang tadi bertanya tentang keberhasilan demonstrasi kembali menghampirinya.
“Pak, nanti jemput kami di sini, ya.”
“Jam berapa?”
“Belum tahu.”
“Kalau begitu, telepon saya. Jangan hanya kirim pesan. Kalau terlalu ramai, saya tidak sempat membaca.”
Mahasiswa itu mengangguk.
Harun melihat mereka berjalan menjauh. Beberapa mengangkat poster. Beberapa lainnya menyalakan kamera.
Ia duduk kembali di kursi pengemudi.
Di belakangnya ada empat puluh dua kursi kosong.
Di depannya, puluhan ribu orang mungkin sedang berharap.
Harun mengambil botol air minum, meneguknya, lalu memandang langit melalui kaca depan.
“Semoga kalian benar-benar tahu apa yang kalian perjuangkan,” bisiknya.
Kemudian ia mematikan mesin.
Ia harus menunggu.
4. Algoritma Tidak Mengenal Demonstrasi
Joko menerima pesanan pertama pukul tujuh lewat dua puluh menit.
Jarak penjemputan dua kilometer. Tujuan pengantaran tiga setengah kilometer. Ongkos bersih yang diperkirakan masuk ke dompet digitalnya tidak terlalu besar.
Namun, ia mengambilnya.
Saldo rekeningnya tinggal empat puluh ribu rupiah. Anak pertamanya harus membayar uang kegiatan sekolah minggu depan, sementara istrinya sudah dua hari mengeluh bahwa persediaan beras di rumah mulai menipis.
Joko memasang helm, menyalakan motor, lalu melaju.
Ia berusia tiga puluh empat tahun dan telah menjadi pengemudi ojek daring selama enam tahun.
Sebelumnya ia bekerja di sebuah bengkel. Namun, penghasilannya tidak cukup setelah pemilik bengkel mengurangi jumlah karyawan.
Menjadi pengemudi daring, menurut iklan yang pernah dilihatnya, berarti menjadi bos bagi diri sendiri.
Joko tertawa setiap kali mengingat kalimat itu.
Bos bagi diri sendiri, tetapi harus mengikuti tarif aplikasi.
Bos bagi diri sendiri, tetapi tidak bisa seenaknya memilih jam kerja jika ingin memperoleh pendapatan yang cukup.
Bos bagi diri sendiri, tetapi ketika hujan deras, jalanan banjir, atau demonstrasi membuat rute berubah, yang pertama kehilangan uang adalah dirinya sendiri.
Ia tidak membenci teknologi. Justru karena teknologi itulah ia masih bisa bekerja tanpa ijazah tinggi dan tanpa modal besar.
Namun, ia tidak pernah percaya bahwa aplikasi mengenal manusia.
Aplikasi hanya mengenal angka.
Pukul sembilan, pesanan mulai bertambah. Ia mengantar makanan ke sebuah kantor, kemudian menjemput penumpang di dekat pusat perbelanjaan.
Penumpangnya seorang pegawai swasta yang mengeluh karena perjalanan lebih lama daripada biasanya.
“Mas, ini jalan kenapa macet sekali?”
“Ada demonstrasi, Pak.”
“Mahasiswa lagi?”
“Sepertinya.”
“Kenapa harus demonstrasi? Mengganggu orang bekerja saja.”
Joko tidak menjawab.
Ia ingin mengatakan bahwa dirinya juga sedang bekerja. Bahwa orang-orang yang mengantre di belakangnya bukan semuanya mahasiswa. Bahwa pengemudi seperti dirinya ikut kehilangan waktu dan pendapatan setiap kali jalan ditutup.
Namun, ia juga tahu bahwa tidak semua orang yang berdiri di jalan datang untuk membuat orang lain susah.
Ia pernah kuliah dua semester sebelum ayahnya sakit dan ia terpaksa bekerja. Ia tahu rasanya mempunyai cita-cita yang tidak bisa diteruskan karena uang.
Ia tidak pernah berdiri di barisan demonstrasi.
Bukan karena tidak punya pendapat.
Ia hanya tidak tahu siapa yang akan membayar cicilan motornya jika ia pulang dengan kepala terluka.
Setelah menurunkan penumpang, Joko berhenti di dekat sebuah warung.
Ia membeli kopi hitam dan duduk sebentar.
Teleponnya berbunyi.
Sebuah pesanan makanan masuk dengan tujuan di dekat lokasi demonstrasi.
Joko menatap peta.
Garis rute berwarna biru melintas melalui beberapa jalan yang mulai dipadati kendaraan. Estimasi waktu menunjukkan dua belas menit.
Ia tahu perkiraan itu tidak lagi masuk akal.
Ia bisa menolak pesanan. Namun, tingkat penerimaan akan turun jika terlalu sering menolak.
Ia bisa menerimanya, lalu membatalkan setelah mengetahui jalan tidak bisa dilewati.
Atau ia bisa mencoba.
“Ya Allah,” gumamnya. “Mudah-mudahan jalannya masih bisa.”
Ia menekan tombol menerima.
Motor kembali bergerak.
Semakin dekat ke pusat kota, semakin padat kendaraan. Sirene terdengar sesekali. Petugas lalu lintas mengalihkan arus. Pedagang kaki lima mendorong gerobak menjauh dari kerumunan.
Joko berhenti di sebuah persimpangan.
Di depannya, sejumlah mahasiswa berjalan membawa spanduk. Di belakang mereka, beberapa pengendara motor membunyikan klakson.
Seorang pengemudi mobil membuka jendela dan berteriak.
“Woi! Jangan tutup jalan!”
Mahasiswa yang berada paling dekat menoleh, tetapi tidak menjawab.
Joko mematikan mesin motornya.
Di layar telepon, pelanggan mengirim pesan.
Mas, makanannya sudah sampai?
Joko mengetik dengan ibu jari yang berkeringat.
Maaf, Bu. Jalan ditutup. Saya usahakan sampai.
Ia menekan tombol kirim.
Kemudian ia memandang kerumunan di depannya.
Seorang mahasiswa perempuan sedang membantu temannya membetulkan tali sepatu. Seorang pemuda mengangkat botol air untuk dibagikan. Seorang mahasiswa lain berdiri sendirian, memandang gedung-gedung di seberang jalan sambil memegang poster yang ujungnya mulai terlipat.
Joko tidak tahu apa yang mereka pikirkan.
Ia hanya tahu bahwa orang-orang itu sebaya dengan adiknya yang sekarang bekerja di sebuah toko pakaian.
Ia membayangkan adiknya berdiri di sana, membawa poster, berteriak tentang masa depan yang lebih baik.
Apakah ia akan menyuruhnya pulang?
Atau justru mengantarnya?
Joko belum menemukan jawabannya ketika kerumunan mulai bergerak.
Orang-orang berdesakan. Sebagian mundur. Sebagian berlari ke pinggir jalan.
Terdengar suara benda jatuh, disusul teriakan dari arah yang tidak terlihat jelas.
Joko menyalakan mesin, lalu menggeser motornya ke tepi jalan agar tidak menghalangi orang yang berlari.
Di dekat trotoar, seorang mahasiswa laki-laki terduduk sambil memegang pelipisnya. Darah mengalir tipis di antara jari-jarinya.
Joko menghentikan motor.
“Mas, kenapa?”
Mahasiswa itu mencoba berdiri.
“Tidak apa-apa, Bang.”
“Kalau tidak apa-apa, kenapa darahmu keluar?”
“Saya cuma kena dorong.”
Joko mengambil tisu dari tas kecil di bawah jok.
“Tekan dulu. Ada yang bisa dihubungi?”
Mahasiswa itu menggeleng.
Joko melihat ke arah kerumunan. Ia tidak tahu apakah mahasiswa itu jatuh karena terdorong, tersandung, atau terkena sesuatu. Ia tidak akan menebak-nebak.
“Bisa jalan?”
“Bisa, Bang.”
“Kalau begitu, kita cari tempat yang lebih aman dulu.”
Joko membantu pemuda itu berdiri dan menuntunnya ke sisi jalan yang lebih lengang. Seorang pedagang memberi mereka air minum. Beberapa mahasiswa lain menyusul dan segera membawa temannya menuju pos pertolongan.
Salah seorang mahasiswa menoleh kepada Joko.
“Terima kasih, Bang.”
Joko mengangguk.
Ia kembali melihat ponselnya.
Pesanan makanan masih menunggu.
Pendapatannya mungkin dipotong karena keterlambatan. Ia bisa saja kehilangan pesanan itu.
Tetapi ketika kembali menaiki motor, Joko merasa bahwa untuk beberapa menit, ia tidak sedang bekerja untuk aplikasi.
Ia sedang membantu seseorang.
Dan untuk beberapa menit itu, ia merasa pekerjaannya memiliki arti yang berbeda.
5. Perempuan di Balik Kemudi
Mira menjemput penumpang di depan sebuah rumah kos pukul delapan lewat tiga puluh menit.
Namanya Nadia, mahasiswi tingkat akhir yang membawa tas ransel, sebotol air, dan gulungan poster yang dibungkus plastik.
Mira memperhatikan barang-barang itu ketika Nadia masuk ke mobil.
“Ke mana, Mbak?”
“Dekat gedung DPR, Bu. Kalau bisa turun di tempat yang tidak terlalu jauh.”
Mira mengangguk.
“Baik.”
Ia menjalankan mobil.
Mira berusia empat puluh satu tahun. Sebelum menjadi pengemudi taksi daring, ia bekerja di bagian administrasi sebuah perusahaan ekspedisi.
Ia berhenti setelah ibunya mengalami sakit berkepanjangan dan ia membutuhkan pekerjaan yang memberinya waktu lebih fleksibel.
Ia tidak pernah membayangkan akan mengemudikan mobil hampir sepuluh jam sehari.
Namun, kehidupan sering kali tidak meminta persetujuan sebelum mengganti jalan seseorang.
Nadia duduk diam selama beberapa menit, lalu membuka ponselnya.
Mira melirik melalui kaca spion.
“Mau demonstrasi, Mbak?”
“Iya, Bu.”
“Sudah pernah ikut sebelumnya?”
“Sudah.”
“Tidak takut?”
Nadia tersenyum kecil.
“Takut, Bu.”
Mira mengerutkan dahi.
“Kalau takut, kenapa tetap berangkat?”
Nadia memandang keluar jendela.
“Karena ada hal-hal yang kalau terus ditakuti, akhirnya tidak pernah berubah.”
Mira tidak langsung menjawab.
Ia melihat kendaraan di depannya, lalu mengurangi kecepatan ketika arus mulai padat.
“Anak saya seusia kamu,” katanya kemudian.
Nadia menoleh.
“Dia kuliah juga, Bu?”
“Tidak. Baru bekerja. Gajinya tidak besar. Tapi setiap kali saya bertanya tentang masa depan, dia bilang semuanya akan baik-baik saja.”
“Anak Ibu mungkin tidak ingin membuat Ibu khawatir.”
“Barangkali.”
Mira tersenyum tipis.
“Orang tua itu aneh, ya. Waktu anak masih kecil, kita takut mereka jatuh. Setelah besar, kita takut mereka tidak punya tempat berpijak.”
Nadia terdiam.
Kalimat itu terasa lebih dekat daripada pidato-pidato yang telah didengarnya di kampus.
“Menurut Ibu, kami salah kalau demonstrasi?”
Mira memandangnya melalui spion.
“Saya tidak tahu semua persoalan yang kalian perjuangkan. Saya juga tidak tahu apakah semua tuntutan kalian bisa diwujudkan. Tapi saya tahu satu hal.”
“Apa, Bu?”
“Kalau kalian merasa ada sesuatu yang salah, kalian perlu memikirkannya dengan sungguh-sungguh. Dan kalau kalian memutuskan untuk menyampaikan pendapat, kalian juga perlu menjaga diri. Jangan menganggap keselamatan sebagai sesuatu yang memalukan.”
Nadia mengangguk perlahan.
“Saya akan ingat, Bu.”
Mobil kembali bergerak.
Di radio, pembawa berita mengabarkan bahwa sejumlah ruas jalan mulai dialihkan. Mira memeriksa aplikasi. Waktu tempuh terus bertambah.
“Kalau jalan ditutup, saya turunkan di sini saja, ya, Mbak. Nanti bisa lanjut berjalan kaki kalau memang aman.”
“Baik, Bu.”
Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di dekat sebuah persimpangan.
Nadia membayar ongkos, mengucapkan terima kasih, lalu membuka pintu.
Namun, sebelum turun, ia menoleh lagi.
“Bu, boleh saya bertanya?”
“Boleh.”
“Kalau suatu hari anak Ibu ikut demonstrasi, Ibu akan mengizinkannya?”
Mira terdiam.
Di hadapannya, jalan terbentang dengan kendaraan yang bergerak lambat. Di kejauhan, ia melihat sekelompok mahasiswa berjalan sambil mengangkat poster.
“Saya mungkin akan melarangnya dulu,” jawabnya jujur. “Lalu kami bertengkar. Setelah itu saya akan bertanya kenapa dia merasa harus pergi.”
“Lalu?”
“Kalau dia sudah dewasa, saya tidak bisa memilihkan semua jalan untuknya. Saya hanya bisa berharap dia cukup bijaksana untuk mengetahui kapan harus bertahan dan kapan harus menyelamatkan diri.”
Nadia tersenyum.
“Terima kasih, Bu.”
Ia turun dan menutup pintu.
Mira menunggu sampai Nadia mencapai trotoar sebelum kembali menjalankan mobil.
Di layar ponselnya, pesanan berikutnya mulai muncul.
Namun, ia tidak segera menekannya.
Ia melihat ke arah mahasiswa yang semakin jauh.
Lalu ia teringat anaknya di rumah.
Malam nanti, ia akan meneleponnya.
Bukan untuk melarangnya melakukan sesuatu.
Hanya untuk bertanya apakah ia sudah makan.
6. Kota yang Memiliki Banyak Kebenaran
Menjelang tengah hari, pusat kota semakin padat.
Arus lalu lintas dialihkan ke jalan-jalan alternatif. Kendaraan menumpuk di persimpangan. Beberapa toko menutup pintu lebih awal. Pedagang minuman berkeliling menawarkan air mineral kepada orang-orang yang berdiri di bawah matahari.
Demonstrasi tidak bergerak dalam satu garis yang rapi.
Di satu tempat, mahasiswa berorasi.
Di tempat lain, orang-orang duduk di tepi jalan.
Ada yang membagikan makanan. Ada yang mengangkat poster. Ada pula yang hanya berdiri menonton, mencoba memahami apa yang sedang terjadi.
Samin kembali melewati kawasan itu setelah mengantar penumpang ke sebuah pasar.
Ia sebetulnya berniat menghindari pusat kota, tetapi beberapa jalan yang biasa dilaluinya ditutup. Ia terpaksa mengambil rute lain.
Angkotnya bergerak perlahan.
Seorang penumpang di kursi depan mengeluh karena harus segera sampai di kantor.
“Pak, bisa lewat jalan sebelah?”
“Sudah ditutup, Pak.”
“Lewat gang?”
“Angkot saya bukan sepeda.”
Penumpang itu mendesah.
Samin tidak menyalahkannya. Orang yang terlambat bekerja bisa kehilangan uang. Sopir yang terjebak kemacetan juga kehilangan uang. Mahasiswa yang berdiri di tengah panas pun mungkin kehilangan sesuatu yang tidak bisa diukur dengan uang.
Semua orang punya alasan.
Sayangnya, alasan-alasan itu sering bertemu di jalan yang terlalu sempit.
Ketika angkot berhenti di persimpangan, Samin melihat seorang pemuda membawa poster melintas di depan kendaraan.
Pemuda itu tampak seperti mahasiswa yang tadi pagi naik angkotnya.
Samin mencondongkan tubuh ke depan, mencoba memastikan.
Benar.
Pemuda berkacamata.
Ia masih mengenakan tas yang sama.
Samin membuka jendela.
“Hei!”
Pemuda itu menoleh.
“Pak Samin!”
“Kamu belum pulang?”
“Belum, Pak.”
“Sudah makan?”
Pemuda itu tertawa.
“Belum.”
Samin menunjuk sebuah kantong plastik di samping kursi pengemudi.
“Ada roti. Ambil satu kalau kamu lewat sini lagi.”
Pemuda itu mengangkat tangan sebagai tanda terima kasih, lalu berjalan menjauh.
Penumpang di kursi depan menggeleng.
“Pak, malah memberi makan orang demonstrasi.”
Samin memandang jalan di depannya.
“Dia juga manusia, Pak.”
“Ya, tetapi kita tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan.”
Samin mengangguk.
“Betul. Kita memang tidak tahu semuanya.”
Ia berhenti sejenak.
“Tapi kalau orang lapar, kita bisa tahu dia perlu makan.”
Penumpang itu tidak menjawab.
Angkot kembali bergerak beberapa meter, lalu berhenti lagi.
Samin melihat ke arah gedung-gedung tinggi yang menjulang di belakang kerumunan. Dari kejauhan, ia melihat barisan aparat dan mahasiswa yang berdiri berhadapan.
Ia pernah melihat pemandangan semacam itu puluhan tahun lalu.
Wajah-wajah muda.
Poster-poster.
Teriakan.
Harapan.
Ketakutan.
Waktu memang mengubah banyak hal. Kamera kini ada di setiap tangan. Berita menyebar dalam hitungan detik. Orang-orang bisa menyaksikan demonstrasi dari ruang tamu, kantor, atau warung kopi.
Namun, tubuh manusia tetap sama.
Mereka masih bisa lelah.
Masih bisa haus.
Masih bisa terluka.
Dan masih membutuhkan seseorang untuk mengantar mereka pulang.
Samin menghela napas, lalu memandang kaca spion.
“Kalau jalan sudah dibuka, kita lewat mana, Pak?” tanya penumpangnya.
“Ya lewat jalan, Pak. Masa lewat televisi?”
Penumpang itu tertawa meskipun berusaha menahannya.
Samin tersenyum.
Di tengah ketegangan, humor kecil terkadang menjadi satu-satunya cara agar manusia tidak merasa kalah oleh keadaan.
7. Nasi Bungkus untuk Dua Orang Asing
Pukul dua siang, Joko menerima pesan dari istrinya.
Mas, nanti jangan lupa beli beras.
Ia membacanya sambil berhenti di pinggir jalan.
Joko menatap saldo dompet digitalnya. Penghasilannya hari itu belum sesuai harapan. Dua pesanan terlambat, satu dibatalkan, dan ia sudah menghabiskan uang untuk bensin.
Ia mengetik balasan.
Iya.
Ia tidak menulis bahwa ia belum tahu bagaimana membelinya.
Sebelum sempat memasukkan telepon ke saku, sebuah mobil berhenti di depannya. Pengemudinya membuka jendela.
“Mas, tahu jalan ke arah Kuningan?”
Joko mendekat.
“Kalau lewat sini, macet, Pak. Mending putar lewat jalan belakang, tapi saya tidak tahu apakah masih dibuka.”
“Wah, susah sekali. Semua jalan ditutup gara-gara demonstrasi.”
Joko mengangguk.
Pengemudi itu menatapnya sebentar.
“Mas sendiri tidak terganggu?”
Joko hampir tertawa.
“Ya terganggu, Pak. Saya juga bekerja.”
“Nah, itu.”
Pengemudi mobil menggeleng dan melaju pelan.
Joko kembali duduk di motornya.
Ia memikirkan jawaban yang tadi tidak sempat diucapkannya.
Bahwa demonstrasi memang mengganggu.
Bahwa pekerjaan bisa tertunda.
Bahwa orang yang harus menghadiri rapat, mengantar barang, atau membawa anak ke rumah sakit mungkin mengalami kesulitan.
Namun, bukankah banyak perubahan juga dimulai ketika orang-orang merasa tidak bisa lagi melanjutkan kehidupan seperti biasa?
Ia tidak tahu jawaban pastinya.
Ia hanya tahu bahwa di rumah, istrinya menunggu beras.
Di kampus, mahasiswa menunggu jawaban.
Di kantor-kantor, pegawai menunggu jalan dibuka.
Di gedung pemerintahan, orang-orang mungkin sedang menerima laporan tentang situasi di lapangan.
Masing-masing menunggu sesuatu yang berbeda.
Joko menyalakan mesin.
Ia memutuskan berhenti sejenak dari mengejar pesanan dan menuju sebuah warung yang masih buka. Ia membeli nasi bungkus untuk makan siang.
Ketika sedang makan, ia melihat dua mahasiswa duduk di trotoar beberapa meter darinya.
Mereka tampak kelelahan.
Salah satunya memijat betis. Yang lain memandang layar ponsel dengan wajah cemas.
Joko menghabiskan makanannya, lalu mendekati mereka.
“Belum makan?”
Keduanya menggeleng.
Joko memandang kantong plastik di tangannya. Ia tadi membeli dua bungkus nasi karena mengira akan makan satu sekarang dan satu lagi nanti.
Ia menyerahkan satu bungkus.
“Ini. Makan dulu.”
Mahasiswa yang menerima nasi tampak terkejut.
“Wah, terima kasih, Bang. Berapa?”
“Tidak usah.”
“Tapi, Bang—”
“Kalau punya uang, nanti belikan temanmu minum. Kalau tidak punya, ya sudah. Makan saja.”
Joko kembali ke motornya.
Ia tidak menunggu ucapan terima kasih berikutnya.
Bukan karena ia merasa telah melakukan sesuatu yang besar, melainkan karena ia tidak ingin percakapan itu menjadi lebih panjang daripada yang diperlukan.
Di atas motor, ia membuka aplikasi lagi.
Ada pesanan masuk.
Ia menerimanya.
Kehidupan tidak memberinya waktu untuk merenungkan kebaikan terlalu lama.
8. Ketika Jalan Tidak Lagi Mengenal Pemiliknya
Sore itu, jalan-jalan di sekitar pusat kota mulai berubah.
Sebagian demonstran bergerak menuju titik yang telah disepakati untuk membubarkan diri. Sebagian lainnya masih bertahan. Petugas lalu lintas mengarahkan kendaraan ke jalur alternatif.
Di tepi jalan, seorang pedagang minuman menghitung uang hasil penjualan. Seorang petugas kebersihan mengumpulkan botol plastik. Beberapa jurnalis berdiri sambil memeriksa rekaman di kamera mereka.
Di antara kerumunan, Nadia kembali mencari jalan keluar.
Ia telah menghabiskan sebagian besar air minumnya. Kakinya pegal. Poster yang dibawanya sejak pagi mulai terlipat di beberapa bagian.
Namun, ia tidak menyesali keputusannya datang.
Ia juga tidak merasa bahwa dirinya telah mengubah apa pun.
Ia hanya tahu bahwa ia telah datang, mendengarkan, menyampaikan pendapat, dan menyaksikan orang-orang lain melakukan hal yang sama.
Ketika melihat seorang mahasiswa terduduk di pinggir jalan, ia segera mendekat.
Pemuda itu memegangi pelipisnya. Ada darah tipis di wajahnya. Beberapa orang membantunya berdiri.
Nadia ikut membantu mengarahkan pemuda itu menuju tempat yang lebih aman.
Di sana, ia melihat seorang pengemudi ojek daring sedang memberikan tisu.
“Mas, sudah ada yang menghubungi keluarganya?” tanya Nadia.
Pengemudi itu menggeleng.
“Belum tahu, Mbak. Tadi saya bantu pindahkan dari jalan.”
Nadia mengeluarkan ponselnya dan membantu mencari kontak keluarga pemuda tersebut.
Beberapa menit kemudian, seorang temannya datang.
“Terima kasih, Mbak. Kami bawa dia ke pos pertolongan.”
Nadia mengangguk.
Pengemudi ojol itu memasukkan tisu yang tersisa ke dalam tasnya.
“Kamu sendiri sudah makan, Mbak?”
Nadia tersenyum lelah.
“Belum.”
Pengemudi itu tertawa kecil.
“Saya juga hampir lupa makan.”
Mereka berdiri sebentar di tepi jalan.
Dua orang asing yang beberapa menit sebelumnya tidak saling mengenal, kini berbagi satu pengalaman yang mungkin akan mereka ingat dalam waktu lama.
Nadia memandang motor pengemudi tersebut.
“Bang, masih menerima pesanan?”
“Masih. Kalau tidak menerima pesanan, saya tidak dapat uang.”
“Tidak capek?”
“Capek.”
“Kenapa tetap bekerja?”
Pengemudi itu memandangnya, kemudian tersenyum.
“Kalau saya tidak bekerja, anak saya tidak makan.”
Nadia menunduk.
Jawaban itu begitu sederhana, tetapi membuatnya tidak bisa segera berkata-kata.
Ia selama ini memikirkan masa depan dalam bentuk angka-angka besar: anggaran negara, lapangan kerja, kebijakan publik, dan perubahan sosial.
Namun, di hadapannya, masa depan ternyata juga berbentuk semangkuk nasi untuk seorang anak yang menunggu di rumah.
“Terima kasih, Bang,” katanya akhirnya.
Pengemudi itu mengangguk.
“Sama-sama.”
Ia mengenakan helm, menyalakan motor, lalu pergi mencari pesanan berikutnya.
Nadia memperhatikan sampai kendaraan itu menghilang di antara mobil-mobil.
Kemudian ia mengeluarkan ponsel dan menelepon ibunya.
“Bu?”
“Ya, Nak. Sudah selesai?”
“Sebentar lagi pulang.”
“Kamu sudah makan?”
Nadia tertawa kecil.
“Belum.”
“Ya Allah. Dari pagi kamu ke sana, belum makan?”
“Nanti, Bu.”
Ibunya diam beberapa saat.
“Jangan lupa pulang, ya.”
Nadia memejamkan mata.
“Iya, Bu.”
Telepon berakhir.
Di tengah jalan yang masih dipenuhi orang, Nadia tiba-tiba merindukan rumah.
Bukan karena ia menyesali apa yang telah dilakukannya.
Melainkan karena ia baru menyadari bahwa keberanian untuk pergi tidak pernah menghapus kebutuhan untuk kembali.
9. Empat Puluh Dua, Bukan Empat Puluh Satu
Pukul empat sore, Harun menerima telepon dari ketua rombongan.
“Pak, kami mulai bubar. Mungkin sebentar lagi menuju titik penjemputan.”
Harun melihat jam tangannya.
“Baik. Jangan berpencar. Saya tunggu di tempat tadi.”
Ia mematikan telepon.
Sejak siang, Harun duduk di dalam bus yang diparkir di area yang telah ditentukan. Ia sudah dua kali membeli air mineral dan sekali makan nasi bungkus dari warung di dekat parkiran.
Ia membaca berita dari telepon genggamnya.
Informasi datang dari berbagai arah. Ada kabar bahwa demonstrasi mulai mereda di satu lokasi, tetapi di tempat lain massa masih berkumpul. Ada pula video pendek yang memperlihatkan kerumunan berdesakan.
Harun tidak tahu mana yang menggambarkan situasi secara utuh.
Ia hanya ingin memastikan semua mahasiswa yang dibawanya pulang dalam keadaan selamat.
Pukul empat lewat dua puluh menit, beberapa mahasiswa mulai terlihat di ujung jalan.
Mereka berjalan berkelompok.
Sebagian tertawa.
Sebagian diam.
Ada yang memegangi sepatu di tangan karena talinya putus. Ada yang menenteng botol kosong. Seorang mahasiswa perempuan berjalan sambil menyandarkan kepala ke bahu temannya.
Harun turun dari bus.
“Semua lengkap?”
Ketua rombongan menghitung teman-temannya.
“Sebentar, Pak.”
Harun menunggu.
Satu per satu mahasiswa naik.
Ketika jumlahnya mencapai empat puluh satu, ia kembali menghitung.
“Kurang satu.”
Ketua rombongan menoleh panik.
“Siapa?”
Mereka menghitung ulang.
Seorang mahasiswa bernama Bagas belum terlihat.
Teleponnya tidak aktif.
Harun merasakan dadanya mengencang.
“Terakhir kali ada yang melihat dia di mana?”
“Dekat pos medis, Pak.”
“Kenapa tidak menunggu bersama?”
Ketua rombongan menunduk.
“Kami kira dia sudah bersama teman yang lain.”
Harun menarik napas panjang.
Ia ingin marah, tetapi kemarahan tidak akan membawa Bagas kembali.
Ia meminta beberapa mahasiswa tetap berada di bus dan menghubungi Bagas melalui berbagai cara. Ia sendiri berjalan menuju pos pertolongan yang letaknya tidak terlalu jauh.
Di sepanjang jalan, orang-orang mulai meninggalkan lokasi demonstrasi.
Ada yang berjalan menuju halte.
Ada yang mencari kendaraan.
Ada yang duduk di trotoar sambil menunggu jemputan.
Harun melihat seorang pengemudi ojol sedang berbicara dengan dua mahasiswa. Ia mendekat dan menunjukkan foto Bagas di layar ponselnya.
“Mas, melihat anak ini?”
Pengemudi itu mengamati foto.
“Sepertinya saya melihatnya tadi, Pak. Dia dibawa teman-temannya ke pos pertolongan. Pelipisnya berdarah sedikit.”
“Sekarang di mana?”
“Coba Bapak tanya di sana.”
Harun bergegas menuju pos pertolongan.
Di sana, beberapa orang sedang duduk. Seorang petugas memberikan air minum kepada mahasiswa yang terlihat kelelahan.
Harun menunjukkan foto Bagas.
Seorang mahasiswa yang duduk di bangku segera mengangkat tangan.
“Pak Harun!”
Harun menoleh.
Bagas berdiri dari kursinya.
Di pelipisnya terdapat perban kecil. Wajahnya pucat, tetapi ia masih bisa tersenyum.
“Ya Allah, kamu di sini!”
“Maaf, Pak. Ponsel saya mati.”
Harun menepuk bahunya.
“Kamu bisa jalan?”
“Bisa, Pak.”
“Pusing?”
“Sedikit.”
“Kita periksa lagi kalau perlu. Jangan memaksakan diri.”
Bagas mengangguk.
Mereka berjalan kembali menuju bus.
Di tengah jalan, Bagas bertanya, “Pak, Bapak marah?”
Harun berhenti sejenak.
“Marah.”
Bagas menunduk.
“Tapi bukan karena kamu ikut demonstrasi,” lanjut Harun. “Saya marah karena kamu lupa bahwa ada orang yang menunggu kamu pulang.”
Bagas terdiam.
Harun melanjutkan langkahnya.
“Saya tidak melarang kamu memperjuangkan sesuatu. Tapi jangan sampai kamu menganggap orang-orang yang menunggu di rumah tidak penting.”
Bagas berjalan tanpa menjawab.
Ketika mereka tiba di bus, mahasiswa lain menyambutnya dengan lega.
Harun memeriksa jumlah penumpang sekali lagi.
Empat puluh dua.
Lengkap.
Ia menyalakan mesin.
Sebelum bus bergerak, ketua rombongan berdiri di bagian depan.
“Teman-teman, mari kita berdoa sebentar. Semoga perjalanan pulang lancar.”
Suasana menjadi tenang.
Harun menundukkan kepala.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada tuntutan mereka. Ia tidak tahu apakah pejabat yang mereka kritik akan membaca berita tentang demonstrasi hari itu.
Tetapi untuk malam itu, ia memiliki satu tugas yang jelas.
Membawa empat puluh dua anak muda pulang.
Dan ia berniat menyelesaikannya.
10. Kota Kembali Menghitung Uang
Samin akhirnya bisa melewati kawasan yang sejak siang membuat angkotnya terjebak.
Ia sudah mengantar beberapa penumpang ke tempat tujuan. Pendapatannya tidak banyak, tetapi cukup untuk membeli sebagian kebutuhan yang tercantum di secarik kertas anaknya.
Ia berhenti di dekat sebuah warung untuk membeli beras.
Dua kilogram.
Satu bungkus minyak goreng kecil.
Obat batuk untuk cucu.
Ia menghitung uangnya sebelum membayar.
“Kurang seribu, Pak,” kata pemilik warung.
Samin merogoh saku celananya. Ia menemukan selembar uang seribuan yang terlipat di bagian paling dalam.
“Nah, ini.”
Pemilik warung tersenyum.
“Pas, Pak.”
Samin memasukkan barang-barang itu ke dalam angkot.
Ia belum membeli semua kebutuhan. Uang sekolah cucunya masih menjadi urusan besok.
Namun, setidaknya malam itu ada beras di rumah.
Ia kembali mengemudi ketika mendengar radio memberitakan bahwa demonstrasi telah berlangsung selama beberapa jam dan sebagian massa mulai membubarkan diri.
Penyiar menyebut jumlah peserta, beberapa tuntutan, serta pernyataan dari pihak berwenang. Ada juga laporan tentang gangguan lalu lintas di sejumlah ruas jalan.
Samin mendengarkan sebentar.
Lalu ia mematikan radio.
Ia sudah terlalu lelah untuk mendengar orang-orang berbicara tentang masa depan.
Ia ingin mendengar suara mesin angkotnya saja.
Di persimpangan berikutnya, ia melihat seorang perempuan berdiri sambil menggendong anak kecil. Perempuan itu melambaikan tangan.
Samin menghentikan angkot.
“Ke mana, Bu?”
“Ke arah pasar, Pak.”
“Naik.”
Perempuan itu masuk dan duduk di belakang. Anak kecil dalam gendongannya tertidur.
Angkot bergerak lagi.
Di kaca spion, Samin melihat langit mulai berubah warna.
Ia memikirkan mahasiswa-mahasiswa yang tadi pagi naik kendaraannya.
Ia memikirkan pemuda berkacamata yang belum makan.
Ia memikirkan sopir bus yang menunggu rombongan mahasiswa.
Ia memikirkan pengemudi ojol yang mungkin masih mengejar pesanan.
Dan ia memikirkan dirinya sendiri.
Apa sebenarnya yang telah berubah sejak 1998?
Ia tidak memiliki jawaban yang bisa disampaikan dalam pidato.
Ia hanya tahu bahwa dulu, setelah Reformasi, ia masih menjadi sopir bus. Sekarang, ia mengemudikan angkot yang sudah berulang kali masuk bengkel.
Dulu ia berharap harga-harga menjadi lebih bersahabat.
Sekarang ia masih menghitung uang seribu demi seribu.
Dulu ia mengantar mahasiswa yang berjanji bahwa Indonesia akan berubah.
Sekarang ia mengantar mahasiswa lain yang menginginkan perubahan.
Mungkin memang ada banyak hal yang telah berubah.
Mungkin ada juga yang berjalan terlalu lambat.
Samin tidak tahu.
Ia hanya tahu bahwa besok pagi, ketika matahari muncul, ia akan kembali memutar kunci kontak.
Mesin akan batuk tiga kali.
Ia akan menepuk dasbor.
Dan ia akan berangkat mencari penumpang.
Seperti hari ini.
Seperti kemarin.
Seperti orang-orang kecil yang tidak pernah benar-benar punya pilihan untuk berhenti.
11. Pulang
Malam mulai turun ketika Mira menyelesaikan perjalanan terakhirnya.
Ia memarkir mobil di sebuah tempat yang cukup lengang, lalu mengambil botol air minum dari konsol tengah.
Hari itu ia tidak memperoleh pendapatan sebanyak biasanya. Beberapa pesanan dibatalkan. Waktu tempuh bertambah. Bensin terpakai lebih banyak karena ia harus mengambil jalan memutar.
Ia membuka aplikasi penghasilan.
Angka di layar membuatnya menghela napas.
Tidak buruk.
Tetapi juga tidak cukup untuk membuatnya merasa tenang.
Mira menyandarkan kepala ke kursi.
Ia teringat Nadia.
Mahasiswi yang turun di dekat persimpangan dan berjalan menuju demonstrasi.
Ia bertanya-tanya apakah Nadia sudah pulang.
Ia membuka telepon, kemudian menutupnya lagi.
Tidak ada nomor Nadia yang tersimpan.
Ia bahkan tidak tahu nama lengkap mahasiswi itu.
Namun, ada sesuatu dari percakapan mereka yang tertinggal di pikirannya.
Kalau terus ditakuti, akhirnya tidak pernah berubah.
Mira memandang kaca depan.
Ia tidak ingin anaknya hidup dalam ketakutan. Tetapi ia juga tidak ingin anaknya menganggap bahwa keberanian selalu berarti menantang bahaya.
Ia ingin anaknya memiliki pekerjaan yang layak.
Ia ingin anaknya bisa membayar sewa rumah tanpa harus meminjam uang.
Ia ingin anaknya bisa menyampaikan pendapat tanpa takut kehilangan masa depan.
Mungkin keinginan-keinginan itu terdengar sederhana.
Tetapi justru karena sederhana, ia tahu betapa sulitnya mewujudkannya.
Mira menyalakan mobil.
Sebelum menjalankan kendaraan, ia mengirim pesan kepada anaknya.
Sudah makan?
Balasan datang beberapa menit kemudian.
Sudah, Bu. Ibu masih di jalan?
Mira tersenyum.
Sebentar lagi pulang.
Ia memasukkan telepon ke tempatnya, lalu mengemudikan mobil menuju rumah.
Di sepanjang perjalanan, ia melewati jalan-jalan yang mulai lengang.
Sisa-sisa demonstrasi masih terlihat di beberapa sudut: botol air kosong, kertas yang terinjak, poster yang tertinggal, dan petugas kebersihan yang bekerja mengumpulkan sampah.
Kota perlahan kembali seperti semula.
Lampu-lampu gedung menyala.
Restoran membuka pintu.
Kendaraan memenuhi persimpangan.
Orang-orang kembali memikirkan makan malam, cicilan, pekerjaan esok hari, dan hal-hal kecil yang tidak pernah masuk dalam berita.
Mira mengemudi dengan tenang.
Ia tidak tahu apakah demonstrasi hari itu akan membawa perubahan.
Ia tidak tahu apakah tuntutan mahasiswa akan dipenuhi.
Ia juga tidak tahu apakah anaknya kelak akan memilih jalan yang sama dengan Nadia.
Tetapi ia tahu satu hal: ketika seseorang masuk ke mobilnya, ia membawa lebih dari sekadar ongkos perjalanan.
Ia membawa kecemasan, harapan, kemarahan, kebahagiaan, dan berbagai hal yang tidak selalu sempat diceritakan.
Tugas Mira bukan menyelesaikan semua persoalan itu.
Tugasnya adalah mengantar orang tersebut ke tempat tujuan dengan selamat.
Kadang-kadang, ia merasa itu tidak banyak.
Namun, malam itu ia mulai berpikir bahwa barangkali kehidupan memang disusun dari pekerjaan-pekerjaan kecil yang dilakukan dengan sungguh-sungguh.
Seseorang menanam padi.
Seseorang mengajar di sekolah.
Seseorang membersihkan jalan.
Seseorang memperbaiki kendaraan.
Seseorang mengemudikan mobil.
Dan seseorang berdiri di jalan, menyuarakan sesuatu yang ia anggap penting bagi masa depan.
Tidak satu pun dari mereka bisa menyelesaikan seluruh persoalan negeri ini sendirian.
Tetapi tanpa mereka, negeri ini juga tidak akan bergerak.
12. Mesin yang Kembali Menyala
Pukul sembilan malam, Harun menghentikan bus di halaman kampus.
Satu per satu mahasiswa turun.
Ada yang langsung dijemput orang tuanya. Ada yang berjalan menuju gerbang sambil menelepon teman. Ada yang masih membicarakan demonstrasi dengan suara bersemangat.
Harun duduk di kursi pengemudi sambil memperhatikan mereka.
Ketua rombongan mendekat.
“Terima kasih, Pak Harun.”
Harun mengangguk.
“Hati-hati kalau pulang.”
“Bapak juga, Pak.”
Mahasiswa itu hendak pergi, tetapi kemudian berhenti.
“Pak, tadi Bapak bilang tidak bisa memastikan kami didengar. Sekarang, setelah melihat demonstrasi hari ini, apakah Bapak masih berpikir begitu?”
Harun mematikan mesin.
Ia berpikir beberapa saat sebelum menjawab.
“Saya masih tidak bisa memastikan apakah kalian didengar.”
Mahasiswa itu menunggu.
“Tapi saya melihat kalian berusaha menyampaikan sesuatu. Itu sudah terjadi. Sekarang, kalian harus memikirkan apa yang akan dilakukan setelah ini.”
“Setelah ini?”
“Ya. Besok, lusa, minggu depan. Kalau kalian percaya ada sesuatu yang perlu diperbaiki, jangan hanya memikirkan hari ini.”
Mahasiswa itu tersenyum.
“Baik, Pak.”
Ia mengulurkan tangan.
Harun menyambutnya.
Setelah mahasiswa terakhir pergi, Harun turun dari bus dan memeriksa bagian luar kendaraan. Ia memeriksa ban, lampu, dan pintu bagasi. Semuanya masih baik.
Ia masuk kembali, mengambil tas kecilnya, lalu mengeluarkan telepon genggam.
Ada pesan dari istrinya.
Sudah selesai?
Harun mengetik.
Sudah. Semua anak pulang.
Ia menambahkan sebuah hati, lalu mengirim pesan itu.
Beberapa detik kemudian, istrinya menelepon.
“Bagaimana tadi?”
“Ramai.”
“Anak-anaknya baik-baik?”
“Baik. Ada satu yang terluka sedikit, tetapi sudah diperiksa.”
“Ya Allah. Hati-hati, Pak.”
Harun tersenyum mendengar suara istrinya.
“Iya, Bu.”
Setelah menutup telepon, ia duduk beberapa saat dalam kesunyian.
Di dalam bus yang kosong, ia kembali memikirkan anaknya sendiri.
Besok pagi, ia mungkin akan kembali mencari pekerjaan tambahan. Bulan depan, ia harus membayar cicilan. Ia masih ingin memperbaiki atap rumah yang bocor.
Demonstrasi hari ini tidak mengubah semua itu.
Tetapi ketika mengingat empat puluh dua mahasiswa yang berhasil diantarnya pulang, Harun merasa ada sesuatu yang layak disyukuri.
Ia bukan orang yang membuat sejarah.
Ia tidak berdiri di depan mikrofon.
Ia tidak membawa poster.
Ia tidak masuk berita.
Ia hanya memastikan bahwa orang-orang yang pergi membawa harapan bisa kembali membawa tubuh mereka sendiri.
Harun menyalakan mesin.
Bus bergerak keluar dari halaman kampus.
Di kaca depan, tasbih kecil bergoyang mengikuti getaran kendaraan.
Ia akan pulang.
Besok, mungkin ia akan mengantar penumpang lain ke tempat yang berbeda.
Dan mungkin, beberapa tahun dari sekarang, salah seorang mahasiswa yang diantarnya hari ini akan mengingat perjalanan itu.
Mungkin tidak.
Harun tidak perlu mengetahuinya.
Ia cukup tahu bahwa hari itu, ia telah melakukan pekerjaannya.
13. Beras Dua Kilogram
Lewat pukul sepuluh malam, Joko akhirnya pulang.
Ia membeli beras dua kilogram dalam perjalanan. Uang yang tersisa tidak banyak, tetapi cukup untuk membeli lauk sederhana di warung dekat rumah.
Ketika ia masuk, anak bungsunya sudah tidur.
Istrinya duduk di ruang tengah sambil melipat pakaian.
“Capek, Mas?”
Joko mengangguk.
“Lumayan.”
“Ramai tadi?”
“Ramai sekali.”
Ia meletakkan beras di dapur, lalu duduk di lantai.
Istrinya membawakan segelas air.
“Dapat berapa hari ini?”
Joko menyebutkan jumlahnya.
Istrinya menghitung sebentar.
“Ya sudah. Besok kita atur lagi.”
Tidak ada pertengkaran.
Tidak ada keluhan panjang.
Mereka sudah terlalu sering menghadapi hari-hari semacam itu untuk membuang tenaga dengan saling menyalahkan.
Joko menatap anaknya yang tidur di kamar.
Ia teringat mahasiswa yang terluka di pinggir jalan. Ia teringat dua pemuda yang menerima nasi bungkus darinya.
Ia tidak tahu apakah mereka sudah sampai di rumah.
Ia tidak tahu nama mereka.
Ia juga tidak tahu apakah bantuan kecilnya akan diingat.
Namun, sebelum tidur, ia mengirim pesan kepada salah satu temannya sesama pengemudi.
Besok kalau ada pesanan dekat lokasi demo, hati-hati, ya.
Temannya membalas dengan stiker tertawa.
Memangnya kita tentara?
Joko ikut tertawa.
Bukan. Kita cuma orang yang harus pulang.
Ia mematikan telepon.
Di luar rumah, suara kendaraan semakin jarang terdengar.
Jakarta belum benar-benar tidur. Kota itu tidak pernah sepenuhnya tidur. Tetapi malam mulai memberi ruang bagi orang-orang yang sejak pagi berlari mengejar kebutuhan hidup.
Di tempat lain, Samin sedang memarkir angkotnya di pangkalan.
Ia mematikan mesin.
Suara kendaraan yang sejak pagi menemaninya mendadak menghilang. Untuk beberapa detik, ia hanya mendengar bunyi jangkrik dari sela bangunan dan suara televisi dari warung di seberang jalan.
Ia mengambil tas kecil, lalu memeriksa hasil kerjanya.
Uang yang terkumpul tidak banyak.
Namun, beras sudah terbeli. Minyak goreng ada. Obat batuk cucunya tersimpan dalam kantong plastik.
Ia menyelipkan uang untuk setoran esok hari ke dalam dompet, lalu mengunci pintu angkot.
Sebelum berjalan pulang, ia menoleh sekali lagi ke arah kendaraannya.
“Besok jangan rewel, ya, Le.”
Angkot itu diam.
Samin tersenyum sendiri.
Ia mulai berjalan menyusuri gang.
Di rumah, cucunya mungkin sudah tidur. Anak perempuannya mungkin masih menunggunya. Besok pagi, mereka akan sarapan dengan nasi hangat, dan ia akan kembali mengemudi.
Tidak ada yang luar biasa.
Tidak ada yang akan menulis berita tentangnya.
Tidak ada yang akan menyebut namanya dalam laporan demonstrasi.
Namun, di kota yang sejak pagi dipenuhi suara, Samin telah mengantar beberapa orang menuju tujuan mereka.
Sebagian ingin menyampaikan tuntutan.
Sebagian ingin pulang bekerja.
Sebagian ingin mencari nafkah.
Sebagian hanya ingin kembali kepada keluarga.
Dan tanpa pernah merencanakannya, semua perjalanan itu telah bertemu dalam satu hari yang sama.
14. Orang-Orang yang Mengantar Revolusi
Malam itu, berita televisi menayangkan demonstrasi mahasiswa.
Kamera memperlihatkan kerumunan yang memenuhi jalan. Suara orator terdengar lantang. Poster-poster terangkat. Petugas berjaga. Para jurnalis melaporkan perkembangan situasi dari berbagai sudut.
Pembawa berita menyebut tuntutan mahasiswa, jumlah massa menurut laporan yang tersedia, serta tanggapan dari pihak berwenang.
Seseorang di ruang redaksi memilih gambar yang dianggap paling mewakili peristiwa hari itu.
Seseorang menyusun judul.
Seseorang mengedit rekaman.
Seseorang menulis laporan.
Keesokan paginya, masyarakat akan membaca, menonton, membicarakan, dan memperdebatkan apa yang terjadi.
Nama-nama tertentu mungkin akan dikenal.
Pernyataan-pernyataan tertentu mungkin akan dikutip.
Tuntutan-tuntutan tertentu mungkin akan memperoleh tanggapan.
Namun, tidak ada kamera yang mengikuti Samin sampai ke rumahnya.
Tidak ada wartawan yang bertanya kepada Harun berapa lama ia menunggu empat puluh dua mahasiswa.
Tidak ada berita yang menyebut Joko kehilangan sebagian pendapatannya karena membantu seorang pemuda yang terluka.
Tidak ada yang menuliskan percakapan Mira dengan Nadia di dalam taksi.
Mereka tidak tercatat.
Bukan karena pekerjaan mereka tidak penting.
Melainkan karena dunia sering kali lebih mudah mengingat orang yang berdiri di tengah panggung daripada orang yang menyediakan jalan menuju panggung itu.
Padahal, revolusi tidak hanya berlangsung di tempat orang berteriak.
Ia juga berlangsung di dalam bus yang menunggu.
Di angkot yang terjebak kemacetan.
Di atas sepeda motor yang harus berhenti karena jalan ditutup.
Di dalam taksi yang membawa seorang anak muda menuju peristiwa yang mungkin akan mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan.
Revolusi juga berlangsung di dapur rumah seorang pengemudi, ketika istrinya menghitung uang yang tersisa dan memutuskan bahwa besok mereka akan mengatur pengeluaran lagi.
Ia berlangsung ketika seorang ayah menunggu anaknya pulang.
Ketika seorang ibu bertanya apakah anaknya sudah makan.
Ketika seorang sopir tua memberikan roti kepada mahasiswa yang kelaparan.
Ketika seorang pengemudi ojek menyerahkan nasi bungkus kepada dua orang asing, meskipun ia sendiri harus memikirkan beras untuk keluarganya.
Tidak semua kebaikan mengubah kebijakan.
Tidak semua pertolongan menyelesaikan ketidakadilan.
Tidak semua orang yang berbuat baik akan dikenang.
Tetapi mungkin sebuah negeri tidak hanya dibangun oleh keputusan-keputusan besar yang diambil di gedung-gedung pemerintahan.
Mungkin negeri juga dibangun oleh jutaan keputusan kecil yang dibuat orang biasa setiap hari.
Keputusan untuk tetap bekerja.
Keputusan untuk tidak menambah penderitaan orang lain.
Keputusan untuk membantu seseorang yang tidak dikenal.
Keputusan untuk menunggu sampai semua penumpang turun.
Keputusan untuk menelepon seorang anak dan bertanya apakah ia sudah makan.
Dan keputusan untuk tetap membuka pintu ketika seseorang membutuhkan jalan pulang.
Pagi berikutnya, Jakarta akan kembali bergerak.
Mesin-mesin kendaraan akan menyala.
Angkot merah akan meninggalkan pangkalan.
Bus putih akan membawa penumpang menuju kota lain.
Sepeda motor akan mengejar pesanan yang muncul di layar.
Taksi daring akan menjemput seseorang yang belum dikenal pengemudinya.
Mahasiswa akan kembali ke kampus.
Pegawai akan kembali ke kantor.
Pedagang akan kembali membuka lapak.
Dan di suatu tempat, mungkin seorang mahasiswa akan mengingat percakapannya dengan sopir angkot yang pernah memberinya roti.
Mungkin ia akan mengingat seorang pengemudi ojek yang memberinya makan.
Mungkin ia akan mengingat sopir bus yang menghitung penumpangnya berkali-kali karena takut ada yang tertinggal.
Atau mungkin, setelah beberapa tahun, ia akan lupa semuanya.
Tidak mengapa.
Sebab, kebaikan tidak selalu membutuhkan ingatan sebagai imbalan.
Di sebuah pangkalan kecil, Samin kembali memutar kunci kontak.
Mesin batuk tiga kali.
Ia menepuk dasbor.
“Ayo kerja, Le.”
Angkot merah itu bergerak meninggalkan pangkalan.
Di kaca spion, jalan yang baru saja dilaluinya semakin jauh.
Di hadapannya, penumpang pertama hari itu sedang melambaikan tangan.
Samin menginjak rem.
Pintu terbuka.
Seorang pemuda naik sambil membawa tas ransel.
“Ke mana, Mas?” tanya Samin.
“Ke kampus, Pak.”
Samin mengangguk.
“Silakan.”
Angkot kembali berjalan.
Dan di suatu tempat di kota yang luas itu, roda-roda kehidupan mulai berputar lagi.
Sejarah mungkin akan mencatat siapa yang memimpin demonstrasi.
Sejarah mungkin akan mencatat siapa yang membuat keputusan.
Sejarah mungkin akan mencatat siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Tetapi ada orang-orang yang tidak pernah meminta namanya dituliskan dalam sejarah.
Mereka hanya ingin bekerja dengan tenang.
Mereka hanya ingin keluarga mereka makan.
Mereka hanya ingin kendaraan yang mereka kemudikan tidak mogok di tengah jalan.
Dan ketika hari besar datang, mereka melakukan sesuatu yang sederhana.
Mereka mengantar orang-orang menuju tujuan.
Lalu, ketika hari besar itu berakhir, mereka mengantar orang-orang kembali ke rumah.
Mungkin itulah sebabnya mereka jarang disebut dalam pidato.
Mereka tidak berdiri di atas panggung.
Mereka tidak memegang mikrofon.
Mereka tidak berteriak paling keras.
Mereka hanya memastikan bahwa perjalanan tetap berlangsung.
Sebab, di negeri ini, tidak semua orang diberi kesempatan untuk mengubah sejarah.
Sebagian orang hanya diberi kemudi.
Dan dengan kemudi itu, mereka berusaha menjaga agar kehidupan tidak berhenti.
TAMAT