Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Orang-orang berlalu lalang saja di hadapanku, membuka pintu, menuju kasir, memesan minuman dan kudapan yang mereka inginkan, kemudian memilih tempat duduk yang nyaman, di antara kursi dan sofa kosong yang tersedia. Cafe ini berada di pinggiran pantai, yang tepatnya adalah Samudra Hindia, didominasi oleh dinding kaca yang sedikit gelap. Kursi-kursi tinggi disusun menghadap ke pantai, sedangkan sofa tersusun rapi di bagian dalamnya. Aku memilih duduk di sofa yang berada dekat dinding kaca, paling sudut di ruangan itu.
“Sangat menghargai privasi,” gumamku.
Lama-lama cafe ini menjadi penuh dan sedikit berisik, dengan suara pengunjung bak lebah dalam sarang yang sibuk memenuhi rumahnya dengan nektar. Gaungan itu sama sekali tidak menggangguku. Bahkan senang. Tidak riuh yang memekakkan telinga dan juga tidak sepi yang menghanyutkan dalam kesunyian.
Betapa lemahnya aku, itulah yang kurasakan dalam beberapa tahun ini. ditambah lagi dengan kondisiku yang tidak bisa memakai kendaraan bermotor, meskipun aku punya semua jenisnya.
Aku selalu diantarkan oleh suami yang setia, kemana saja dan dimana saja tempat, yang aku butuhkan. Bukan tempat yang aku ingin pergi. Karena aku sudah lama mengubur keinginan ku, untuk berjalan-jalan, atau sekedar menikmati hidup dengan sedikit bersantai. Tidak. Aku tidak mungkin meminta itu. Itu kulakukan agar tidak merepotkan pria baik yang selalu, bersedia hidup bersama ku.
Lama kelamaan aku bosan dengan semua ini, dan menyalahkan keadaan, mengapa aku harus seperti ini. Tidak bisa kemana-mana. Selalu butuh bantuan orang, atau selalu bergantung pada transportasi umum. Dan orang yang tepat aku salahkan dialah ibu dan ayahku. Pantang bagi mereka, memperbolehkan aku dan adik-adikku, menyentuh barang-barang kesayangan mereka. Bahkan ayah lebih tahu kapan dia membeli sepeda motor itu. Mengingat dengan detail tanggalnya, tahun pembelian, dan kejadian yang terjadi saat motor itu diperoleh, daripada mengingat ulang tahun kami.
Dan sudah berapa kali aku meminta agar aku diajarkan mengendarai, dengan sepeda motor miliknya. Jawabannya sungguh tidak mengenakkan di telingaku, dan merusak suasana hatiku seketika itu. Bukan satu atau dua kali ku minta, tapi jawaban yang aku terima tetap sama. Intinya tidak boleh, bahkan mendekat saja dilarang. Hukum itu juga berlaku buat adik-adik ku. Hasilnya. Hanya anak laki-laki saja yang bisa mengendarai motor. Tapi bukan dari ayah dia belajar. Bukan. Dia belajar dari temannya plus juga sepeda motor itu, milik sang teman juga.
Kekuranganku yang tidak bisa berkendaraan itu, seperti momok bagiku. Haruskah aku menunggu suami dulu jika hendak pergi ke pasar? Walau hanya untuk berbelanja keperluan dapur kami. Atau mengantarkan aku bekerja ke kantor, dan menjemputku, dikala lembur, karena tidak ada transportasi umum lagi pada malam harinya.
Aku sungguh lelah, jiwaku terasa tersedot kedalam sebuah vacum yang maha kuat, dahsyat, membawa diriku beserta debu-debu kebencian dan keputusasaan. Kalau aku hanya wanita lemah yang tidak bisa diandalkan dalam urusan kantor dan rumah tangga tempatku bernaung.
Mengapa mereka tidak memikirkan hari tua mereka yang indah dengan kami, dengan sedikit mengorbankan uang untuk sepeda motor, yang bisa memudahkan mereka jika membutuhkan sesuatu. Mereka hanya tinggal memerintahkan aku saja, dengan cepat pasti aku penuhi semuanya itu, jika aku mampu.
Tapi kini semuanya terlambat, semuanya harus menunggu suamiku. kedokter menunggu suamiku, menjenguk saudara, pasti melibatkan suamiku. Bahkan sampai merusak mendapatkan ku. Nafkah yang diberikan suamiku, menjadi terhenti, karena dia harus libur berdagang hari itu, demi membawa mertuanya pergi berobat atau berkunjung.
Dan bagaimana dengan karirku? semua lini pekerjaan di kantor butuh mobilitas yang tinggi dan serba cepat. Sedangkan aku lemah dalam hal itu. Aku seperti manusia yang tidak hidup, pun disebut mati tidak juga.
Makanan dan minuman yang terletak diatas meja ku, tak selera untuk kusentuh. Aku hanya ingin membiarkan diriku bebas, melamun dengan sadar, sembari memikirkan bagaimana kesudahan masalahku ini. Dengan pandangan jauh ke pantai yang permai, menyajikan pemandangan langit biru, memberikan bayangan air laut, sehingga warnanya menjadi senada, ditemani oleh mega putih strato cumulus, laksana kapas putih yang mengambang di udara.
Mendadak lamunanku dihentikan oleh sesosok makhluk putih dengan campuran hitam yang menghiasi bulunya yang tebal. Dengan anggun dia berjalan, mengangkat ekornya seperti kemoceng, berlenggak lenggok di hadapan para pengunjung demi mencari perhatian. Hampir semua mata menuju padanya. Dia memilih duduk di dekat dinding kaca itu, yang disusupi cahaya matahari siang menuju sore. Bulu putihnya menjadi lebih masygul. Dia mandi, menjilati kaki depan dan mengusap-usap wajahnya, kemudian duduk roti membelakangi dinding kaca itu.
“Berhentilah berpikir tentang harapan memiliki karir yang indah, stop. Itu bukan bagian dari dirimu. Lebih kamu berprasangka bahwa bekerja yang dilakukan selama ini adalah rezeki dari Allah melalui suamimu, yaitu kamu memiliki waktu luang yang berguna dan bisa menghasilkan uang. dengan begitu tiada lagi kesedihan, rasa kecewa.”
Apa…? Dari mana datangnya suara itu? Aku menoleh kekiri dan kekanan, tidak ada siapa-siapa di mejaku, aku sendirian dari tadi bahkan sampai saat ini?
Aku menoleh pada kucing yang dalam posisi cat loaf itu, dia menatapku
Masih juga tidak paham? Katanya.
Aku membelalakkan mataku, dan dia membalas dengan seringai kecil, tidak seram tapi lucu, dengan lidah memelet.
“Omong kosong.” Kataku sinis.
“Wanita sepertimu, tidak bisa, terlalu jauh dalam mengejar jabatan. Biarkan suamimu yang melakukannya.”
“Menurutmu aku tidak pantas?” Serangku.
“Masih tidak tahu diri juga?”
‘Apa katamu?”
Masih tidak tahu diri juga? Apa kamu sanggup bekerja pada tekanan yang tidak mungkin kamu pikul. Pada tekanan jam kerja yang tidak sesuai. Sanggup masuk kantor ataupun pergi menemani atasanmu, sampai larut malam. Sanggup mencari simpatisan, pemilih, mempengaruhi orang yang kamu sayangi agar memilih calon legislatif, kepala daerah, suruhan mereka, pada saat pemilihan itu tiba. Agar memperoleh jabatanmu, yang sementar. Sanggup mengorbankan dan berkorban demi profesimu yang dinilai tidak seberapa penting nya.”
Aku ternganga, tapi dia tidak peduli dan melanjutkan bualannya.
“Tega kamu mempengaruhi orang-orang tersayangmu? Itu sama saja dengan penipuan halus.”
Aku terdiam. Dia merubah posisi duduknya dengan sphinx pose. Kali ini dia menatapku lama, tanpa ada kedipan lembut seperti sebelumnya. Aku Pun membalas dengan tatapan yang penuh kesal dan marah, tidak ada lagi pandangan lucu yang menggemaskan pada saat, awal kami bersua.
Tapi bagaimanapun dia benar. Aku tidak bisa bekerja lebih seperti orang-orang, yang terpaku dan mengejar karir mereka. Bukan sadar posisi, tapi sadar dengan jenis pekerjaan apa yang kujalani selama ini.
Aku meneguk caffe latteku yang sudah dingin, untuk mengurangi grogi. Tiramisu cake pun sudah tinggal setengahnya. Tiba-tiba handphone ku bergetar ditambah dengan bunyi beep. Dengan cepat aku buka kotak kecil itu. Ternyata chat masuk dari ibu.
“Assalamualaikum, Arsyla, nanti kalau ke rumah ibu, tolong belikan, obat ayah di apotik biasa ya, sekalian dengan susu penguat tulang yang biasa ibu minum, ditambah dengan buah-buahan. Sudah lama kami tidak makan pisang.” Panjang dan lebar chat dari ibu.
“Baik bu, Insya Allah Sabtu akan Syla bawa”
“Jangan lupa tanya, menantu ibu, kapan dia bisa mengantarkan ibu ke dokter mata ya nak….” Ujar ibu setengah merayuku.
“Baik bu, akan aku bicarakan dengan ayahnya Najib dulu.”
Itu saja alur kegiatanku beberapa tahun ini. Aku menghirup caffe latte ku dalam-dalam, ku teguk air yang berwarna keruh manis pahit itu. Kuhabiskan sampai ke dasar cangkir sehingga tidak ada yang tersisa. Kemudian ku lahap tiramisu cakenya sesendok-demi sesendok. Tanpa menghiraukan kucing putih itu.
“Kalau tidak ingin tersedak, jangan makan terlalu cepat.”
“Apa?” Ujarku tersentak.
Ternyata dia masih disana, dan sekarang sudah dalam posisi santai menyamping dan menggoyangkan ekor kemoceng yang lebat.
“Kataku tadi, bukan meremehkan dirimu tentang kemampuan berkarir. Ingat kamu seorang istri. Menjadi ibu rumah tangga lebih mulia. Bekerja juga tidak salah. Jangan kehilangan waktu bersama keluargamu hanya karena mencari materi yang belum bisa membahagiakan. Uang tidak dibawa mati.”
Aku terdiam, dia benar, tapi perasaan berat merelakan keinginan untuk maju, membuat ku terasa seperti terombang-ambing.
“Apa ada kekurangan dalam dirimu, menahan lapar, kedinginan tidak ada rumah, dan pakaian. atau gengsimu yang ternodai karena tidak bisa fashionable, seperti rekan kerja, saudaramu? cobalah perbanyak bersyukur.”
Aku hanya diam, tidak memandang kepadanya, berusaha acuh, walaupun suaranya begitu jelas terdengar olehku. Dia terus menceracau, menasehatiku.
“Sekali lagi kamu berceloteh padaku, sendok ini akan melayang padamu.” Ujarku ketus.
“Snowy….” Ada suara anak perempuan yang berjalan, dan memanggil nama itu.
“Oh, ternyata kamu di sini. Ayo saatnya kita pulang,” ujarnya pada kucing putih itu, sembari mengulurkan tangan dan menggendongnya. Anak gadis itu tersenyum padaku sambil membungkukkan sedikit badannya, dan kubalas dengan senyuman juga.
Kucing itu terus menatapku, sesekali matanya mengedip lembut, dan mereka pun berlalu. Aku pun berjalan ke pintu menuju pulang dengan ojek online yang sudah dipesan.