Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Bronze
Notifikasi Terakhir
1
Suka
1,228
Dibaca

Pukul 05.43.

Alarm ponsel berbunyi pelan. Raka meraba meja kecil di samping kasurnya, mematikan suara itu tanpa membuka mata. Namun seperti kebanyakan anak seusianya, tangan kanannya lebih dulu membuka media sosial daripada menyentuh lantai.

Layar dipenuhi wajah-wajah bahagia.

Seorang teman SMA mengunggah foto wisuda dengan toga terbaik. Teman lain memamerkan motor baru hasil menjadi afiliator. Ada yang sedang berlibur ke Korea, ada pula yang baru diterima magang di perusahaan impian.

Raka menggulir layar tanpa henti.

Semakin banyak melihat, semakin kecil dirinya terasa.

"Semua orang jalan terus," gumamnya lirih. "Kenapa aku seperti tertinggal?"

Ia mematikan layar.

Kamar kos berukuran tiga kali tiga meter itu kembali sunyi.

Di sudut ruangan terdapat rak kayu berisi novel-novel bekas, beberapa buku puisi, dan laptop tua yang sering mati mendadak. Menulis adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa hidup. Sayangnya, tak satu pun tulisannya pernah berani ia unggah.

Ia selalu menghapusnya sebelum orang lain sempat membaca.

Takut dianggap jelek.

Takut dibandingkan.

Takut gagal.

---

Di rumah sederhana di pinggir kota, ibunya sedang melipat pakaian sebelum berangkat bekerja di sebuah laundry.

"Ka, sarapan dulu."

Raka duduk.

Di meja hanya ada tempe goreng, sambal, dan nasi hangat.

"Ayah masih belum ada kabar?" tanyanya hati-hati.

Ibunya tersenyum tipis.

"Enggak usah dipikir."

Sudah lima tahun ayahnya pergi meninggalkan rumah. Tidak ada surat. Tidak ada telepon.

Yang tersisa hanya ibu yang bekerja dari pagi hingga malam demi membayar kuliah anak semata wayangnya.

Sebelum Raka berangkat, ibunya menyelipkan uang lima puluh ribu.

"Pegang."

"Masih ada, Bu."

"Kalau masih ada, simpan buat besok."

Raka tahu itu bohong.

Ia melihat dompet ibunya hampir kosong.

Hatinya terasa sesak.

--

Universitas Nusantara selalu ramai setiap Senin pagi.

Di depan kelas, Dimas melambaikan tangan.

"Bro!"

Raka tersenyum.

Dimas adalah sahabatnya sejak SMA. Berbeda dengan Raka yang pendiam, Dimas sangat percaya diri. Ia sedang naik daun sebagai content creator.

"Lihat ini."

Dimas menunjukkan layar ponselnya.

Video komedinya semalam sudah ditonton dua ratus ribu kali.

"Gila."

"Brand mulai masuk."

"Selamat."

Dimas tertawa lebar.

"Sebentar lagi aku bisa beli kamera baru."

Raka ikut senang.

Namun jauh di dalam hati muncul pertanyaan yang tak pernah ia ucapkan.

Mengapa orang lain begitu cepat menemukan jalannya, sedangkan ia masih sibuk mencari keberanian?

---

"Permisi."

Seorang perempuan menjatuhkan map biru ketika memasuki kelas.

Isinya berserakan.

Raka refleks membantu memungut.

"Makasih."

Senyumnya hangat.

"Aku Naya."

"Raka."

"Kita sekelas ya?"

"Iya."

Tak ada percakapan panjang.

Namun sejak detik itu, Raka merasa ada sesuatu yang berbeda dari tatapan mata perempuan itu.

Se...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Bronze
Notifikasi Terakhir
maulana
Cerpen
Rumah Harapan
Binti Uti
Cerpen
Bronze
Tumbler Yang Tertukar
Novita Ledo
Cerpen
Bronze
Peneliti Negeri Sipil
spacekantor
Cerpen
Bronze
Pesugihan Abah Miun
Bisma Lucky Narendra
Cerpen
Bronze
Larung Layang
Eva Maulidiyah BL
Cerpen
Penenun Pelangi
Rafael Yanuar
Cerpen
Bronze
Pulang
Lisnawati
Cerpen
Bronze
Wanita Pembatik
Nabilla Shafira
Cerpen
Bronze
Lonceng Bel sepeda dan Petak Umpet di Ujung Senja
Ezra Jo
Cerpen
Bronze
Tidak Benar Benar Terlihat
Shinta Larasati Hardjono
Cerpen
Bronze
Persahabatan Antar Planet
Shinta Larasati Hardjono
Cerpen
Jangan Mati Dulu, Dong, Bruh
Ryan Esa
Cerpen
Pelangi Impian
SITI RAHMATIKA FEBRIANI
Cerpen
Bronze
panana paapa nanaada panapapana
Marhaeny Benedikta
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Notifikasi Terakhir
maulana