Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Tiga tahun lalu, di taman kota, saat bayangan pohon lebih panjang dan rebah di sebelah timur, saya melihat gadis memakai kemeja flanel dan celana jin hitam dan sandal jepit duduk di bangku dengan memangku kardus asongan dan terisak-isak sendirian. Rambutnya tergelung di balik topi hitam pudar dan kulitnya cokelat panggang matahari. Saya mendekatinya dan mengulurkan sapu tangan. Malu-malu, ia menolak, tapi saya tetap memaksa, dan akhirnya ia ambil juga sapu tangan saya untuk membesut ingusnya.
"Ditolak stasiun?" tebak saya.
Ia mengangguk. "Disuruh sewa kedai, katanya."
Saya lalu duduk di sampingnya sambil mengatur senar gitar. "Di sini aja dulu. Kalau malam rame."
Gadis itu mengembalikan sapu tangan saya. Saya menolaknya. "Ambil aja. Itu juga nemu kemarin di warung tenda."
Ia tersenyum dan memasukkan sapu tangan itu ke saku kemeja, lalu mengulurkan tangan, "Nona."
Saya menjabatnya. "Datuk." Ia melongo. "Panggil aja gitu. Nama asliku nggak cocok."
"Biasa mangkal di sini?"
"Iya. Lumayan, buat makan besok."
Bangku yang kami duduki menghadap langsung ke lapangan basket. Dari balik pagar kawat, empat remaja seumuran kami sedang asyik bermain. Salah satu dari mereka tertawa setelah berhasil memasukkan bola ke keranjang. Lalu mereka berkejaran dan berebut bola. Dan tatapan Nona tak lepas dari mereka.
"Enak ya, jadi mereka. Nggak usah pusing mikirin besok bisa makan apa enggak," ucapnya diikuti tawa yang terasa mencubit hati saya.
"Kata orang, sih, rezeki sudah ditakar."
"Iya. Takaran kita bagian apes."
Kami tertawa bersama, lalu saya melontarkan lelucon-lelucon omong kosong demi membuat Nona melupakan kejadian menyebalkan yang baru saja dialaminya. Saya berhasil. Ia tertawa.
Saat adzan Magrib mengalun dari masjid dekat sana, mengalirlah cerita dari Nona, tanpa saya minta. Hari itu, ia harus dapat uang. Bapaknya yang gila judi, mewariskan utang berbunga-bunga di rentenir. Jika ia tidak mencicil utang setiap hari, ia akan dijual ke rumah bordil.
"Kata mereka, enak, cari duit tinggal ngangkang. Tapi aku nggak bisa gitu. Nggak bisa bayangin, malah."
"Yang bilang, 'enak tinggal ngangkang', pasti cowok."
"Kok, kamu tahu?"
"Cuma nebak."
"Enak, ya, kamu dilahirkan jadi cowok. Nggak banyak aturan, bisa bebas."
Saya tertawa. "Bebas itu dari pikiran, Non."
"Iya juga, sih. Tapi kalau cewek, mau ke mana-mana, rawan bahaya. Makanya aku enggak suka jadi cewek." Ia menyandarkan punggung ke bangku, lalu mendesah. "Andai terlahir kembali, aku pengen jadi cowok aja."
"Enakan jadi kangkung, tumbuh, hidup sebentar, dipetik, terus ditumis. Kelar."
Ia tertawa. "Emang bisa kita minta jadi kangkung?"
Saya diam, sengaja memberi jeda. Saya masih ingat yang saya katakan hari itu, dan saya menyesalinya hingga sekarang. Tapi, sebelum itu, kamu dengar dulu. Saya benar-benar tidak sengaja begitu. Itu di luar kendali saya. Mungkin saat itu saya sedang lelah dan terbawa perasaan.
"Tuhan itu lucu. Kita dilahirkan untuk mati. Biarpun gitu, kita disuruh mati-matian buat berusaha bertahan hidup. Lucu, kan?"
Gantian Nona yang terdiam. Empat remaja yang main basket tadi berkemas, lalu pulang dengan sepeda. Dari tempat kami duduk, saya melihat sepasang muda-mudi naik motor, berhenti di depan warung nasi goreng. Mereka turun dan duduk di kursi warung.
"Aku pengen kayak mereka," ucap Nona sambil memandang muda-mudi itu. "Enak, ya. Pengen makan, tinggal beli. Punya pacar, baju bagus, naik motor …."
Saya memetik gitar, lalu menyanyikan lagu "Suara Hati" milik band Ungu. Nona tidak mengalihkan pandangan. Ia tetap memandangi muda-mudi itu. Tak lama kemudian, saya melihat ada kilauan air terkena cahaya lampu di pipinya. Perasaan saya tidak enak. Saya langsung menghentikan aksi, lalu mengajaknya berdiri. "Ayo, kita ke sana. Kamu yang nyanyi. Nanti hasilnya kita bagi dua." Ia menurut.
Malam itu, kami berkeliling dari tenda ke tenda. Hasilnya lumayan. Suara Nona juga tidak jelek-jelek amat. Hanya kadang ia kepleset di nada-nada tinggi. Tapi, itu tertolong dengan caranya berimprovisasi mengiringi suara gitar dengan musik mulut ala kadarnya. Banyak yang tampak terhibur dengan penampilan kami. Mereka bahkan request lagu favorit untuk menemani santap malam.
Sekitar jam delapan, saya mengajaknya istirahat di bawah patung di tengah-tengah taman sambil menghitung penghasilan. Jumlahnya ada tiga ratus lima puluh tiga lima ratus rupiah. Nona tampak gembira. Katanya, baru kali itu ia dapat penghasilan di atas enam puluh ribu. Itu pun tanpa mengeluarkan modal sama sekali. Ia berkata, enam puluh ribu yang didapatkannya harus dibagi dengan cicilan utang sebesar lima puluh ribu dan kebutuhannya sehari-hari. Pendapatan bersihnya hanya sepuluh ribu. Kalau ia mendapat di bawah enam puluh ribu, artinya ia harus rela tidak makan hari itu.
"Kayaknya enakan ngamen daripada ngasong, ya," ucapnya girang.
Saya ikut tersenyum. "Mungkin besok kita bisa bikin grup duo, terus ikut audisi, biar jadi artis."
"Ini kalau dibagi dua, berarti per orang dapat seratus tujuh puluh enam tujuh ratus lima puluh. Ini enggak ada koin ratusan sama lima puluhan. Gimana, nih?"
"Kamu pintar berhitung, ya?"
Binar di mata Nona mendadak redup. Ia menggenggam erat lembaran rupiah lecek di tangannya. "Dulu, aku sering ranking satu. Cita-citaku jadi dokter. Tapi …."
Suasana mendadak biru. Dan saya tidak menyukai itu. Sebenarnya, bukan urusan saya juga Nona mau jadi apa. Tapi, entah mengapa ketika melihat kilauan sungai di kedua pipinya, rasanya seperti ada sesuatu berputar-putar di hati saya. Sesuatu yang tidak bisa saya tahan, yang menggerakkan tangan saya untuk menepuk-nepuk punggung Nona yang sudah mulai terisak.
Menyadari saya menepuk-nepuk punggungnya, ia mengusap wajah dengan sapu tangan yang saya berikan tadi, lalu tertawa–tawa yang terdengar dipaksakan. "Kamu benar. Tuhan itu lucu." Ia lalu menghitung uang lagi, lalu menyodorkan beberapa lembar kepada saya. "Kamu yang seratus delapan puluh aja. Makasih udah ngajak aku ngamen."
Saya menghitung jumlah yang saya terima, lalu menyodorkan selembar dua puluh ribuan, tiga lembar lima ribuan, dan lima lembar dua ribuan, kepadanya. "Kamu yang bikin orang-orang ketawa tadi. Kamu pantas dapat lebih banyak."
Ia tidak menolak. "Makasih banyak buat hari ini."
Sebelum berpisah, kami makan nasi goreng bersama. Ia makan dengan lahap dan saya sesekali melontarkan lelucon-lelucon payah agar ia tak menangis lagi. Ia memang tersenyum, tapi saya tidak melihat binar di matanya lagi–sesuatu yang saya sadari keesokan harinya.
Malam itu, ia menolak saya antar pulang. Ia bilang, rumahnya dekat dengan stasiun. Ketika saya bertanya, apa besok ia mau mengamen bersama saya lagi, ia bilang, bisa iya, bisa tidak. Saya mengangguk. Ia berjalan pulang sendiri, dan saya hanya bisa memandanginya hingga tubuhnya hilang ditelan tikungan jalan.
Sebenarnya, saya belum ingin pulang. Hari itu adalah hari kesebelas saya kabur dari rumah. Sebenarnya, itu pun bukan yang pertama kalinya. Saya berharap, mereka mencari saya. Mereka memang mencari, tapi setelah itu saya ditinggal lagi. Jalanan menjadi teman akrab saya sejak mereka memutuskan tak bisa bersama lagi. Namun, setelah melihat Nona, saya berubah pikiran. Saya mendadak ingin pulang dan bersyukur dengan apa yang saya miliki sekarang: punya rumah, bisa sekolah, dan seorang ayah yang tidak gemar judi atau berutang seperti ayahnya Nona.
Keesokan harinya, ketika hendak berangkat, di jalan dua ratus meter sebelum stasiun, saya melihat ambulans dan mobil polisi. Biasanya kalau dua benda itu berdampingan, pasti ada yang tertabrak kereta. Jalanan agak macet. Entah kenapa, saya tiba-tiba penasaran ingin bergabung dengan kerumunan orang-orang itu.
Saya pun menepi dan memarkir motor, lalu berjalan mendekati kerumunan. Dua lelaki paruh baya yang berdiri di depan saya, membicarakan betapa kasihan anak yang tertabrak kereta itu. Orang-orang berasumsi, ia bunuh diri.
Ketika saya membelah kerumunan agar bisa melihat proses evakuasi jenazah, saya melihat Nona. Ia berdiri tak jauh dari polisi-polisi dan petugas ambulans yang sedang menutup jenazah di atas tandu dengan kain putih.
Nona menyadari kehadiran saya. Ia melambaikan tangan sambil tersenyum.
Saat itu, saya sadar: baju yang dipakai Nona, sama dengan baju yang dipakai jenazah itu.