Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Ada ritual-ritual sunyi yang dilakukan orang untuk bertahan hidup dari kehilangan. Sebagian orang memandangi foto lama, sebagian lagi mengunjungi makam. Bara, ia mengirim pesan WhatsApp ke nomor telepon yang sudah mati.
Sudah tiga tahun sejak Nayla pergi. Tiga tahun sejak kontak di ponselnya yang bernama “Nayla ❤️” menjadi sebuah nisan digital. Foto profilnya kosong, sebuah siluet abu-abu anonim. Statusnya bisu: “akun ini sudah tidak digunakan”. Terakhir terlihatnya membeku dalam waktu, sebuah tanggal dari era yang terasa seperti kehidupan orang lain.
Setiap orang waras yang pernah patah hati akan menghapus, memblokir, atau setidaknya mengarsipkan kenangan digital itu ke folder terlupakan. Tapi Bara tidak waras. Ia adalah seorang peziarah yang tersesat, dan nomor itu adalah satu-satunya kiblat yang ia kenal.
Malam ini, seperti ribuan malam sebelumnya, Bara rebah di kasur sempitnya, menjadikan langit-langit kamar sebagai layar proyektor bagi kenangan yang tak henti-hentinya ia putar. Lampu kamar sengaja ia matikan. Hanya cahaya dingin dari layar ponsel yang melukis wajah letihnya, menyoroti lingkaran hitam di bawah matanya yang tak pernah cukup tidur.
Di layar, jendela percakapan dengan Nayla terbuka. Kolom pesan yang kosong menunggu untuk diisi, seperti sebuah halaman di buku harian yang tak akan pernah dibaca siapa pun. Jari-jarinya bergerak lincah di atas keyboard, sebuah koreografi kesedihan yang telah dihafal di luar kepala.
“Hai, Nay… hari ini hujan lagi di Bogor. Masih ingat nggak, dulu kamu suka banget bau tanah setelah hujan? Katanya baunya seperti janji, bau dari sesuatu yang akan tumbuh lagi. Aku tadi berdiri di balkon, mencoba mencium bau itu. Tapi yang tercium cuma bau knalpot basah. Mungkin karena nggak ada kamu di sini. Aku kangen banget sama janji itu, Nay. Aku kangen kamu.”
Pesan itu ia ketik. Tatapannya nanar, menggantung lama di layar, seolah berharap kekuatan rindunya bisa menembus ketiadaan dan mengubah takdir. Lalu … klik. Tombol kirim ia tekan. Sebuah tanda centang abu-abu muncul. Sendirian. Selalu sendirian. Seperti nisan yang baru ditancapkan.
Tidak akan pernah ada balasan. Dan kesadaran itulah yang entah bagaimana membuatnya tetap hidup.
***
“Lo itu udah gila, Bar. Gila stadium akhir,” suara Fajar, sahabat baiknya menggelegar di warung kopi langganan mereka, memecah lamunan Bara. Asap rokok mengepul di antara mereka.
“Udah tiga tahun. TIGA tahun, Bro!” Fajar menekankan setiap katanya. “Dan lo masih aja ngirim ‘surat cinta’ ke nomor yang sudah mati? Itu bukan setia, itu namanya kerasukan arwah penasaran.”
Bara menyesap kopi hitamnya yang pahit, rasanya tak sepahit kehampaan di dadanya. “Gue cuma … nggak bisa berhenti, Jar. Rasanya kayak kalau gue berhenti ngirim pesan, dia bakal bener-bener hilang dari alam semesta ini. Seolah gue sendiri yang ngehapus dia. Gue nggak siap.”
Fajar menghela napas berat, asap rokok ia hembuskan dengan kasar. “Tapi dia emang udah pergi, Bar! Sadar, dong! Dia bukan milik lo lagi. Dia bahkan mungkin udah bahagia di dunianya.”
Bara menunduk, menatap pusaran hitam di cangkir kopinya. Ia tahu Fajar benar. Logikanya tahu. Tapi hatinya menolak untuk mengerti. Bagaimana caranya melepaskan sesuatu yang bahkan setelah hancur berkeping-keping, serpihannya masih menjadi satu-satunya hal yang membuatnya merasa bernapas?
Malam itu, ia kembali ke ritualnya. Tapi kali ini, ia membuka galeri foto. Sebuah foto lama muncul: Nayla tertawa, matanya menyipit karena silaunya matahari, rambutnya berantakan ditiup angin pantai. Di belakangnya, Bara tersenyum, merangkulnya dengan posesif. Dulu, ia pikir ia bisa melindungi senyum itu selamanya. Betapa bodohnya dia.
Ingatan malam terakhir itu kembali menghantamnya tanpa ampun.
Hujan deras mengguyur Jakarta. Bara sedang berada di puncak dunianya atau begitulah yang ia pikir. Ia baru saja mendapatkan promosi, sebuah proyek besar yang ia kejar mati-matian. Malam itu adalah malam perayaannya bersama tim. Ponselnya bergetar di tengah riuhnya tawa dan denting gelas. Nama “Nayla ❤️” muncul di layar.
“Halo, Sayang?” sapanya sedikit mabuk, mencoba mengecilkan volume musik di sekitarnya.
“Bara … kamu di mana?” suara Nayla terdengar lemah, bergetar. “Bisa ke sini nggak? Aku … aku lagi butuh kamu.”
Bara melirik jam tangannya, lalu pada bosnya yang sedang mengajaknya bersulang. Ego dan ambisi adalah iblis yang berbisik paling merdu. “Aku lagi ngerayain proyek baru, Nay. Penting banget. Besok pagi aku ke sana ya, janji. Kamu nggak apa-apa, kan? Cuma sedih biasa, kan?”
Ada jeda hening yang panjang di seberang sana, hanya terdengar isak tangis yang ditahan. “Iya … nggak apa-apa. Cuma sedih biasa.” Lalu panggilan itu ditutup.
Sebuah kebohongan. Kebohongan terakhir Nayla untuk melindunginya, dan keegoisan terakhir Bara yang menghancurkan segalanya. Dua hari kemudian, Nayla pergi. Bukan putus. Tapi pergi untuk selamanya.
Malam ini, ingatan itu terasa begitu membakar. Bara meraih sebotol wiski murah dari laci, menenggaknya langsung dari botol. Cairan panas itu membakar kerongkongannya, tapi tak mampu membakar habis rasa bersalahnya.
Dengan tangan gemetar dan pandangan mengabur, ia membuka WhatsApp.
“Nay … gue nyesel. Demi Allah, gue nyesel banget malam itu. Gue nggak semestinya melakukan itu. Lo bilang lo butuh gue, dan gue malah milih ngerayain setumpuk kertas nggak berarti. Gue pengecut, Nay. Gue egois. Andai waktu bisa gue putar balik, gue bakal lari ke lo, gue bakal peluk lo, gue nggak akan pernah lepasin. Seribu kali, sejuta kali, gue bakal milih lo. Gue masih sayang lo, Nay. Gue nggak pernah berhenti, bahkan sedetik pun.”
Kali ini pesannya panjang. Setiap hurufnya adalah tetesan air mata yang jatuh ke layar. Ia menekan ‘kirim’ dengan sisa tenaganya. Centang abu-abu. Ia terisak hebat, meraung dalam sunyi, hingga akhirnya tertidur di lantai yang dingin, ponsel masih tergenggam erat di dadanya.
***
Paginya adalah neraka. Kepalanya berdenyut sakit, matanya bengkak, dan mulutnya terasa seperti gurun pasir. Ia meraih ponselnya tanpa niat, hanya sebuah refleks menyedihkan dari seorang pecandu. Ia membuka WhatsApp.
Dan dunianya berhenti berputar.
Di bawah pesan yang ia kirim semalam, bukan lagi satu centang abu-abu.
Dua centang biru.
Terbaca.
Bara ternganga. Napasnya tercekat. Jantungnya yang tadinya berdebar sakit, kini berhenti total. Ia mengucek matanya, mengira ini adalah halusinasi dari sisa alkohol. Tapi tidak. Dua tanda centang biru itu menatapnya dengan tajam. Pesannya semalam … terkirim dan terbaca.
Tangannya menjadi sedingin es. Itu berarti nomor Nayla atau siapa pun pemiliknya sekarang telah aktif kembali. Seseorang telah membaca pengakuan paling telanjang dari jiwanya yang hancur.
Tiba-tiba, layar bergetar. Tiga titik pengetikan muncul … lalu menghilang … lalu muncul lagi. Jantung Bara mulai berdebar begitu kencang hingga terasa menyakitkan.
Sebuah gelembung pesan masuk.
“Maaf, ini siapa ya? Sepertinya Anda salah kirim.”
Kalimat formal itu, kalimat dari orang asing, terasa seperti tamparan di wajah. Bara ingin membanting ponselnya ke dinding, menghancurkannya hingga berkeping-keping. Tapi jari-jarinya yang gemetar justru mengetik balasan.
“Nomor ini … dulu milik seseorang. Seseorang yang sangat berarti buat saya. Saya hanya … terbiasa menulis di sini. Saya tahu tidak akan pernah dibaca. Maaf kalau mengganggu.”
Jawaban datang lebih cepat dari yang ia duga.
“Oh … begitu. Tapi kalau boleh saya bilang, mungkin sudah saatnya Anda berhenti. Anda tidak sedang mengenangnya, Anda sedang menyakiti diri sendiri. Melepaskan itu bukan berarti melupakan, tapi menerima bahwa cerita itu sudah selesai.”
Kata-kata itu …
Kata-kata dari orang yang tak ia kenal, menusuknya tepat di luka yang paling dalam. Bara jatuh terduduk di lantai, kepalanya ia benamkan di antara kedua lututnya. Ia meraung, bukan lagi isak tangis, tapi raungan dari seekor binatang yang terluka. Orang asing ini benar. Ia tidak sedang mengenang Nayla, ia sedang memenjarakan dirinya sendiri dalam sebuah museum penderitaan.
Malamnya, rasa penasaran mengalahkan rasa malunya. Ia harus tahu.
“Maaf kalau saya lancang. Tapi boleh saya tahu, Anda dapat nomor ini sejak kapan?”
Balasan datang setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya.
“Sekitar dua bulan lalu. Saya minta nomor baru, dan entah bagaimana nomor ini yang saya dapat. Seharusnya nomor ini sudah hangus. Mungkin sebuah kesalahan sistem.”
Kesalahan sistem. Sebuah anomali. Bara membeku.
“Saya … saya sebenarnya tidak bermaksud membaca. Tapi notifikasinya terus masuk. Pesan-pesan dari Anda. Saya tidak tahan lagi, jadi saya buka. Saya baca beberapa … dan jujur, saya menangis.”
Darah serasa surut dari wajah Bara.
“Maksudnya… kamu lihat pesan-pesan saya dari dulu?”
“Iya. Semuanya. Tentang hujan, tentang janji, tentang penyesalanmu malam itu. Dan saya tahu siapa kamu, Bara.”
Jantung Bara berhenti berdetak. Seluruh tubuhnya menegang.
“Siapa kamu sebenarnya???”
Layar hening selama beberapa menit. Bara menahan napas, matanya terpaku pada layar. Lalu sebuah pesan panjang masuk. Setiap kata di dalamnya meretakkan dunianya, lalu menghancurkannya hingga menjadi debu.
“Bara … ini Nayla.”
“Aku sakit keras sejak setahun sebelum kita putus. Kanker. Aku nggak pernah cerita karena aku nggak mau kamu melihatku sebagai perempuan yang rapuh. Aku mau kamu mengingatku sebagai Nayla-mu yang ceria. Malam itu, saat aku meneleponmu, aku sebenarnya butuh kamu untuk membawaku ke rumah sakit. Tapi aku mengerti. Kamu punya duniamu sendiri. Aku tidak pernah menyalahkanmu, Bar. Aku hanya … lelah.”
“Aku pergi beberapa minggu setelah itu. Nomor ini, entah bagaimana, aktif lagi. Mungkin Tuhan, atau alam semesta, memberiku satu kesempatan terakhir. Anggap saja ini caraku untuk benar-benar pamit. Aku baca semua pesanmu, setiap kata. Aku senyum, aku nangis. Aku merasakan semua cintamu, bahkan dari tempatku sekarang. Terima kasih sudah tidak pernah melupakanku. Tapi, Bara … sekarang saatnya kamu hidup. Jangan terus terjebak di sini bersamaku. Aku sudah damai. Kamu juga harus.”
Pesan terakhir masuk, singkat dan final.
“Aku selalu sayang kamu. Selamat tinggal.”
Ponsel itu terlepas dari genggaman Bara yang lemas, jatuh ke lantai dengan bunyi yang pelan. Air matanya yang sejak tadi ia tahan, kini pecah tanpa bisa dikendalikan. Ia menangis, bukan hanya dengan air mata, tapi dengan seluruh tubuhnya, dengan seluruh jiwanya yang terkoyak.
Malam itu, Fajar datang dan menemukannya dalam keadaan hancur. Ia memeluk sahabatnya yang gemetar hebat, membiarkannya menangis di bahunya.
Di antara isak tangis yang memilukan itu, Bara hanya bisa berbisik lirih, “Kenapa harus gini, Bar … kenapa dia baru pamit sekarang … dan ternyata dia …”
Beberapa minggu kemudian, Bara duduk di depan sebuah buku catatan baru. Dengan telaten, ia menyalin semua pesan yang pernah ia kirim, semua percakapan terakhir itu. Ia menciptakan sebuah pemakaman kertas untuk cintanya.
Ia menutup buku itu dengan tangan gemetar. Di halaman terakhir, ia menulis:
“Nomor itu memang sudah lama mati. Tapi untuk sekali saja, ia hidup kembali, hanya untuk mengajariku cara melepaskan.”
Dan kali ini, dengan hati yang berat namun ikhlas, ia membuka WhatsApp, mencari kontak itu untuk terakhir kalinya, dan menekan tombol ‘Hapus Kontak’. Layar itu kini kosong. Sebuah awal yang baru. Sebuah keheningan yang damai.