Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Lampu kafe yang temaram memantul di lensa kacamatanya yang sering kali melorot ke ujung hidung. Hanum tidak peduli. Jari-jarinya yang sedikit ternoda tinta hitam dari pena murahnya terus menari di atas buku catatan kumal. Di layar laptop yang mulai panas, judul "Memeluk Angin" berkedip-kedip, dikelilingi ribuan baris kata yang ia susun dengan keringat dan begadang berbulan-bulan.
Baginya, angka 300 pembaca adalah prestasi besar. Ia hanya penulis kecil. Penulis yang suaranya sering kali kalah oleh bisingnya musik kafe, atau tertelan oleh nama-nama besar di rak best-seller.
"Satu bab lagi," bisiknya pada diri sendiri sambil membetulkan letak kacamatanya.
Ia tidak tahu, bahwa di sebuah apartemen mewah tak jauh dari sana, seorang penulis besar dengan jutaan pengikut sedang menatap layar yang sama. Menatap draf milik Hanum dengan tatapan lapar. Penulis besar itu sedang kehabisan kata-kata, dan ia menemukan "nyawa" baru di dalam tulisan Hanum yang jujur.
Hanum kembali menggoreskan penanya. Tanpa ia sadari, noda hitam di ujung jarinya adalah segel nasib. Ia tidak sedang menulis cerita, ia sedang menulis bukti yang kelak akan menghancurkan sebuah topeng kemasyhuran.
Malam itu, kopi Hanum sudah dingin. Ia baru saja akan menekan tombol publish untuk bab terbaru, saat sebuah notifikasi muncul di pojok layar.
[Komentar Baru - User99]:
"Lho, Kak Hanum... kok plot ceritanya mirip banget sama novel 'Gema Langit' karya Penulis Dirga yang baru terbit minggu lalu? Sampai detail adegan di kafenya sama persis. Cuma beda nama tokoh aja. Kakak terinspirasi atau... gimana ya?"
Jantung Hanum serasa berhenti berdetak. Tangannya yang memegang pena gemetar hebat hingga ujung pena itu menekan kertas buku catatannya, meninggalkan sebuah noda hitam yang besar dan pekat.
Dengan napas memburu, ia mencari judul buku yang disebutkan itu di internet. Begitu halaman pertama terbuka, Hanum merasa dunianya runtuh. Kata demi kata, baris demi baris, bahkan metafora tentang "angin" yang ia susun sambil menahan kantuk di kafe ini, terpampang nyata di sana. Di bawah nama besar: Dirga Mahardika.
Air mata Hanum jatuh, tepat di atas noda hitam tadi.
Ia mencoba mengetik balasan dengan tangan yang masih gemetar: "Tapi saya sudah menulis draf ini sejak enam bulan lalu di platform ini secara bertahap..."
Namun, sebelum ia sempat mengirim, komentar lain muncul:
"Halah, penulis kecil mau pansos ya? Dirga itu penulis besar, nggak mungkin dia nyontek draf amatir kayak gini. Paling kakaknya yang halu."
Hanum menutup laptopnya dengan keras.
Di kafe yang masih gemerlap itu, ia merasa sangat sendirian. Ia menatap buku catatannya. Di sana ada coretan asli tangannya, noda tinta dari pena murahnya, dan tanggal draf yang ia tulis secara manual. Semua itu adalah bukti nyata.
Namun, di hadapan jutaan pengikut Dirga dan tumpukan uang industri, noda hitam di buku catatan Hanum hanyalah sampah.
Hanum mulai membaca baris demi baris "Gema Langit" di layar laptopnya. Setiap kalimat yang ia baca terasa seperti pukulan godam yang menghantam dadanya. Satu bab, dua bab... ia tersedak. Ini bukan sekadar kemiripan. Ini adalah penjarahan.
Delapan puluh persen isinya adalah jiwanya. Deskripsi tentang aroma kopi yang bercampur bau hujan, metafora tentang rindu yang seperti kepulan asap—semuanya ada di sana. Hanya nama tokohnya yang berubah. Judulnya yang megah, "Gema Langit", terasa seperti ejekan di depan wajahnya.
Kacamata Hanum melorot hingga ke ujung hidung, tertahan oleh bulir keringat dingin. Matanya mulai menggenang, membuat pandangannya kabur. Ia menoleh perlahan, menatap buku catatan di samping laptopnya.
Di layar: Gema Langit berkilat, dipuja, dan terpampang di beranda utama platform.
Di atas meja: Memeluk Angin buku catatan penuh coretan tangan, noda tinta, dan pinggiran kertas yang mulai menguning.
"Ini milikku..." bisiknya parau. Suaranya tenggelam oleh deru mesin pendingin ruangan di kafe.
Ia memegang penanya erat-erat, hingga buku jarinya memutih. Tetesan air mata pertama jatuh, mendarat tepat di atas kata "Angin" yang ia tulis dengan tangan dua bulan lalu. Tinta itu meluber, menciptakan noda hitam baru yang seolah melambangkan masa depannya yang mendadak gelap.
Bagaimana mungkin seseorang yang memiliki "Langit" tega mencuri "Angin" milik seorang gadis kecil yang bahkan untuk membeli segelas kopi saja harus menyisihkan uang makan siang?
Hanum tidak menyerah begitu saja. Dengan sisa keberanian yang ia kumpulkan dari remah-remah harga dirinya, ia memberanikan diri mengirim pesan ke akun media sosial Dirga yang bercentang biru.
"Selamat malam, Pak Dirga. Saya Hanum, penulis 'Memeluk Angin'. Saya hanya ingin bertanya, mengapa plot novel Bapak sangat identik dengan draf saya?"
Satu menit. Satu jam. Satu hari.
Tanda seen atau "dibaca" itu muncul, namun tidak ada balasan. Kesunyian dari Dirga lebih menyakitkan daripada makian mana pun. Detik berubah menjadi jam yang menyiksa, hingga akhirnya sebuah unggahan muncul di akun Dirga.
Bukan permintaan maaf, melainkan pembelaan diri yang angkuh:
"Karya original lahir dari pikiran yang jujur. Jangan biarkan semut kecil mengganggu perjalanan raksasa hanya karena mereka ingin mencicipi sedikit panggung."
Seketika, notifikasi di ponsel Hanum meledak. Aplikasi baca yang biasanya sepi, tempat ia menaruh harapan, kini berubah menjadi neraka.
"Plagiat nggak tahu diri!"
"Pansos ke Bang Dirga ya? Malu-maluin!"
"Hapus aja ceritanya, nggak pantas ada di sini!"
Hanum gemetar. Ribuan tuduhan tak berdasar itu menyerang tanpa mereka mau melihat fakta sederhana: bahwa draf Hanum sudah ada di sana, berbulan-bulan sebelum "Gema Langit" dicetak. Logika tertutup oleh fanatisme.
Ia menatap kacamata melorotnya yang kini buram oleh uap tangis. Hanum menyentuh layar laptopnya, ingin menjelaskan, ingin berteriak bahwa dia adalah korban. Tapi jarinya terhenti. Di dunia yang hanya melihat "siapa yang besar", kebenaran milik penulis kecil hanyalah noda hitam yang ingin mereka hapus dengan paksa.
Layar ponsel itu memantulkan wajah Hanum yang pucat. Matanya sembap, kacamata melorotnya ia letakkan di meja—ia sudah terlalu lelah untuk membetulkannya lagi. Di depannya, sebuah kamera menyala. Ia tidak sedang menulis plot cerita hari ini. Ia sedang menulis surat kematian untuk mimpinya sendiri.
Dengan suara bergetar dan naskah permintaan maaf yang dipaksakan oleh tekanan netizen di tangan, Hanum memulai video klarifikasinya.
"Saya Hanum... saya ingin meminta maaf kepada Bapak Dirga Mahardika dan seluruh penggemarnya. Saya mengakui bahwa cerita 'Memeluk Angin' hanyalah upaya saya untuk mencari perhatian. Cerita itu... cerita itu memang terinspirasi sepenuhnya dari karya original Bapak Dirga yang jenius, 'Gema Langit'. Saya mohon maaf atas kegaduhan ini."
Begitu tombol upload ditekan, Hanum merasa separuh jiwanya ikut terhapus. Ia mengalah. Ia dipaksa mengakui dosa yang tidak pernah ia perbuat hanya agar teror di kolom komentarnya berhenti.
Ironi yang pahit terjadi hanya berselang lima menit kemudian.
Notifikasi besar muncul di beranda aplikasi: "RESMI! Novel 'Gema Langit' Karya Dirga Mahardika Akan Diadaptasi Menjadi Film Layar Lebar Produksi Studio Terbesar di Negeri Ini!"
Ribuan ucapan selamat membanjiri Dirga. Dunia merayakan pencurian itu dengan pesta pora. Sementara video permintaan maaf Hanum tenggelam di sudut internet, dicaci maki sebagai pecundang yang akhirnya mengaku.
Hanum menatap buku catatannya. Di sana, di halaman pertama yang ia tulis dengan tangan di kafe remang-remang itu, tinta penanya meluber—menciptakan noda hitam yang menutup kata "Karya Original oleh Hanum".
Dunia digital tidak butuh fakta; mereka hanya butuh idola. Dan bagi penggemar fanatik, Langit tidak mungkin salah, meskipun ia baru saja memadamkan api kecil milik seorang gadis yang hanya punya pena untuk bertahan hidup.
Hanum menutup buku catatannya perlahan. Ia tidak lagi menangis. Ia hanya mematikan lampu kamarnya, membiarkan noda hitam itu hilang ditelan kegelapan, sama seperti mimpinya yang kini menjadi milik orang lain.
Di sisi lain kota, di sebuah aula hotel bintang lima yang mewah, Dirga Mahardika berdiri di tengah sorotan lampu. Ratusan lensa kamera tak henti-hentinya berkedip, menangkap sosok sang "maestro" yang sedang memegang pena mahal bermata emas.
Suara tepuk tangan dan puja-puji saling menyahut saat Dirga menggoreskan tanda tangan di atas map kerja sama dengan sebuah Production House ternama. Gema Langit resmi akan menjadi layar lebar.
"Pena ini," ucap Dirga ke arah mikrofon dengan senyum karismatik yang palsu, "adalah saksi bisu kejujuran dan kerja keras saya selama ini."
Kilatan flash kamera kembali membutakan mata. Tidak ada yang melihat bahwa di balik jas mahalnya, tangan Dirga sedikit gemetar. Tidak ada yang peduli bahwa di atas kertas kerja sama itu, tinta dari penanya sedikit meluber—sebuah noda hitam kecil yang tertutup oleh tanda tangannya yang besar dan jumawa.
Bagi dunia, itu adalah noda kesuksesan. Padahal, itu adalah noda pencurian yang baru saja mematikan lampu di sebuah kamar sempit milik gadis bernama Hanum.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Pena boleh dicuri, tapi nyawa di dalamnya tak punya kaki untuk pindah tangan. Jangan tutup mata; nama besar bukan jaminan harga diri, karena raksasa pun punya peluang jadi pelaku plagiarisme.”
END..