Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Pepatah kuno mengatakan: "Di atas langit masih ada langit." Tapi pepatah Hanif mengatakan: "Di atas suami yang sok tahu, ada istri mantan atlet yang sedang menyamar jadi emak-emak biasa."
Semua bermula pada Sabtu pagi yang cerah, secerah masa depanku yang belum ternoda oleh keringat dingin dan rasa malu. Aku sedang menyeruput kopi hitam (tanpa gula, biar sok fitness) di meja makan, ketika Feby istriku, datang menghampiri dengan wajah serius.
"Mas," panggilnya. "Aku gendutan ya?"
Pertanyaan jebakan. Code Red. Sebagai suami veteran, aku tahu jawabannya harus presisi. "Enggak kok, Yang. Kamu itu semok. Berisi di tempat yang tepat. Pas."
Feby cemberut. Dia mencubit lengan bagian bawahnya. "Ih, ini gelambir, Mas. Liat deh, goyang-goyang kayak puding sedot. Aku mau nge-gym deh."
Aku tersedak kopi. "Nge-gym?"
"Iya. Dulu kan aku rajin olahraga. Sejak nikah jadi mager. Pengen kencengin badan lagi."
"Bagus dong!" seruku. "Yaudah, sana daftar di Mega Gym yang di mall itu. Sewa Personal Trainer (PT) sekalian biar ada yang ngarahin."
Feby menggeleng cepat. "Gak mau ah. Mahal. Sayang duitnya, Mas. Mending buat beli skincare atau tabungan haji. Lagian aku denger-denger PT di sana suka genit. Males aku."
Alasan yang masuk akal. Aku mengangguk setuju. "Terus gimana?"
Feby menatapku dengan mata berbinar. Tatapan yang biasanya dia keluarkan saat minta dibelikan martabak manis jam 12 malam. "Kan ada kamu, Mas. Kamu kan member di sana. Kamu kan udah gym setahun (walaupun perut masih one pack). Ajarin aku dong. Kamu jadi PT pribadi aku. Gratis, romantis, dan pastinya jago. Ya? Ya?"
Di sinilah letak kesalahan fatal pertamaku. Ego laki-lakiku langsung membengkak. Dadaku membusung. Aku merasa seperti Arnold Schwarzenegger di film Terminator. Istriku... meminta bimbinganku. Dia mengakui otoritas maskulinitasku di dunia besi.
Aku lupa satu fakta sejarah penting: Feby adalah mantan atlet. Zaman kuliah, saat aku sibuk main Dota di warnet, Feby sedang sibuk memanjat tebing batu cadas tanpa tali pengaman, mendaki Gunung Rinjani sambil lari, dan menjadi kapten tim basket putri yang terkenal sadis di lapangan.
Tapi itu dulu. Sekarang dia cuma ibu rumah tangga yang hobi nonton drakor sambil makan cilok. Pasti ototnya sudah menyusut jadi adonan bakwan, pikirku.
"Oke, Sayang!" jawabku lantang. "Tenang aja. Mas akan bimbing kamu. Mas akan pahat tubuhmu jadi seperti Gal Gadot. Siapin baju olahraga. Kita berangkat sekarang!"
Aku tidak tahu, bahwa aku baru saja menandatangani kontrak kematian harga diriku sendiri.
Kami tiba di Iron Paradise Gym. Aku mengenakan outfit terbaikku: Kaos sleeveless (kutang) longgar bertuliskan "NO PAIN NO GAIN", wrist band, sabuk angkat beban (padahal belum ngangkat apa-apa), dan sepatu running neon. Aku terlihat seperti pro.
Sementara Feby? Dia hanya memakai kaos oblong bekas panitia 17 Agustusan yang kegedean, celana training kusam, dan sepatu kets biasa. Rambutnya dikuncir kuda asal-asalan. Dia terlihat seperti orang yang mau ke pasar sayur tapi nyasar ke gym.
"Inget ya, Yang," ceramahku saat kami berjalan masuk. "Gym itu tempat yang keras. Jangan minder liat orang-orang badannya gede. Fokus sama diri sendiri. Kalau ada alat yang bingung, tanya Mas. Mas ini udah hafal semua anatomi otot."
Feby mengangguk polos. "Iya, Mas Suhu."
Kami masuk. Aroma keringat, besi berkarat, dan testosteron menyambut kami. Aku melihat sekeliling. Ada beberapa "monster" (pria-pria berotot raksasa) sedang mengangkat beban yang bisa dipakai buat pondasi rumah.
"Pemanasan dulu," perintahku. "Kita ke treadmill."
Kami naik ke mesin lari itu. "Pasang kecepatan 6 aja buat jalan cepat, terus naikin incline (tanjakan) ke level 3. Lima menit aja buat manasin sendi," instruksiku sok tahu.
Aku mulai berjalan. Napasku mulai teratur. Feby di sebelahku menekan tombol-tombol dengan bingung. "Mas, ini kalau mau lari mencet apa?"
"Jangan lari dulu, Yang. Nanti kaget jantungnya."
"Ah, lambat banget kayak siput stroke," gumam Feby. Tiba-tiba, dia menekan tombol kecepatan berkali-kali. Angka di layarnya naik drastis. 6... 8... 10... 12.
Mesin itu menderu kencang. Feby mulai berlari. Bukan jogging. Dia sprint. Langkah kakinya ringan, napasnya teratur, postur tubuhnya tegak sempurna. Kuncir kudanya bergoyang-goyang seirama. Dia terlihat seperti kijang yang sedang bermain-main di padang rumput.
Sementara aku, di kecepatan 6, sudah mulai ngos-ngosan mencoba mengimbangi aura atletisnya. "Yang... pelan-pelan..." tegurku.
"Enak Mas! Udah lama nggak lari! Sekalian ya Mas, 15 menit!"
Lima belas menit kemudian. Aku turun dari treadmill dengan kondisi memprihatinkan. Paru-paruku rasanya seperti habis diasapi knalpot Kopaja. Kakiku gemetar. Keringat membanjiri kaos "NO PAIN NO GAIN"-ku sampai lepek.
Feby? Dia turun dengan santai. Keringatnya cuma setitik di dahi, membuatnya terlihat glowing alami. Napasnya stabil. "Seger banget, Mas! Yuk, lanjut angkat beban!"
Aku menelan ludah. "O-oke. Kita ke... ke mesin Lat Pulldown. Melatih otot punggung. Biar... uhuk... biar punggung kamu seksi."
Kami menuju mesin Lat Pulldown (tarik beban dari atas ke bawah). Ini teritori kekuasaanku. Lari mungkin aku kalah, tapi kekuatan otot? Laki-laki punya hormon testosteron lebih banyak!
"Liat Mas dulu ya," kataku. Aku mengatur beban di angka 35 kg. Itu beban standar pemanasan buatku (padahal aslinya agak berat, tapi demi gengsi).
Aku duduk. Memegang stang. Menarik napas. "Hhhngggghhh!" Aku menarik beban itu ke bawah. Urat leherku menonjol keluar. Mukaku merah. "Satu... Dua... Tiga..." Aku melakukan 8 repetisi dengan susah payah.
"Nah," kataku sambil berdiri, mengatur napas agar tidak terdengar seperti sapi bengek. "Tekniknya gitu. Tarik pake otot punggung, bukan tangan. Kunci belikat. Paham?"
Feby mengangguk. Dia duduk di kursi mesin. "Bebannya segitu aja ya, Mas? Buat pemula?" tanyanya.
"Iya, jangan berat-berat. Nanti cedera. Cewek biasanya mulai dari 15 kg, tapi karena kamu mantan atlet, 35 kg bolehlah dicoba. Kalau gak kuat bilang ya, Mas bantuin."
Feby memegang stang. Tanpa aba-aba, tanpa teriak, tanpa muka merah. Wusss. Dia menarik beban 35 kg itu ke bawah seolah-olah dia sedang menarik tali jemuran. Ringan. Sangat ringan.
"Lho?" mataku melotot.
"Kok enteng banget ya, Mas?" tanya Feby polos. "Ini mesinnya rusak apa gimana?"
"Itu... itu 35 kilo lho, Yang. Bukan kapas."
"Kurang nendang ah." Feby berdiri. Dia mencabut pin beban. Dia memindahkannya ke angka 50 kg. Angka yang bahkan aku sendiri masih struggle setengah mati kalau ngangkat.
"Yang! Jangan! Itu berat banget!" teriakku panik. "Tulang kamu bisa patah!"
Feby duduk lagi. Dia menarik napas sedikit. Sreeeet. Beban 50 kg itu terangkat naik turun dengan mulus. Satu... Dua... Tiga... Sepuluh repetisi.
Feby tersenyum. "Nah, ini baru kerasa dikit. Enak ya Mas, tarik-tarikan gini."
Aku berdiri mematung. Rahangku jatuh ke lantai. Bagaimana bisa? Lengannya kecil! Dia cuma makan cilok! Di mana dia menyembunyikan kekuatan supernya? Apakah dia diam-diam digigit laba-laba radioaktif?
"Mas? Kok bengong? Giliran Mas nih. Mau coba yang 50 kg juga?" tanyanya menantang (tanpa sadar).
Aku menatap tumpukan besi itu. Kalau aku bilang enggak, harga diriku hancur. Kalau aku bilang iya, tulang punggungku hancur. Aku memilih opsi ketiga: Alasan Absurd.
"Ehm... enggak dulu, Yang. Mas lagi... lagi deloading. Istilah teknis. Lagi ngurangin beban biar ototnya kaget. Mas pake yang 30 kg aja."
Feby mengangguk percaya. "Oh, gitu. Ilmu baru nih."
Aku selamat dari cedera fisik, tapi cedera mentalku baru saja dimulai.
Bencana sesungguhnya terjadi di Bench Press (latihan otot dada). Ini adalah rajanya latihan gym. Tolok ukur kejantanan.
"Oke, Yang. Ini namanya Bench Press. Ini bahaya kalau nggak kuat, bisa ketimpa. Jadi Mas contohin dulu, terus nanti Mas jagain (spotting) kamu."
Aku memasang beban standar: Kanan 10 kg, Kiri 10 kg. Total 20 kg (ditambah berat stang besi 20 kg, jadi total 40 kg). Aku berbaring. Mengangkatnya. Agak berat, tapi masih bisa kuatasi. Aku bangun dengan bangga.
"Giliran kamu. Tapi Mas kurangin dulu ya bebannya. Cewek jangan berat-berat." Aku mau mencopot piringan beban.
"Jangan dicopot, Mas. Biarin aja segitu. Aku mau coba," kata Feby.
"Yang, ini 40 kilo totalnya! Galon air aja cuma 19 kilo!"
"Bisa kok. Dulu pas manjat tebing kan aku narik badan sendiri. Badan aku kan lebih dari 40 kilo."
Logika yang sulit dibantah. Feby berbaring. Dia memegang stang besi. Aku berdiri di atas kepalanya, siap-siap menolong (spotting) dengan posisi tangan siaga penuh kecemasan.
"Bismillah..." Feby mengangkat besi itu. Stabil. Dia menurunkannya ke dada, lalu mendorongnya ke atas. Satu... Dua... Lima... Delapan. Tanpa gemetar sedikitpun.
"Gampang ternyata," komentar Feby sambil menaruh kembali stang besi ke raknya. "Mas, tambahin dong. Kanan kiri tambah 5 kilo lagi."
Aku menurut seperti asisten tukang bangunan. Menambahkan beban. Total sekarang 50 kg. Feby mengangkatnya lagi. Masih kuat. Sedikit bergetar di repetisi ke-6, tapi dia berhasil menyelesaikan 8 repetisi murni.
"Wah, gila," gumamku. Istriku Hulk.
"Mas Hanif coba dong! Masa kalah sama aku?" canda Feby.
Kalimat itu. "Masa kalah sama aku?" Itu bukan candaan. Itu adalah tantangan perang terbuka.
"Siapa yang kalah?!" sergahku. "Mas tadi kan cuma pemanasan! Sini!"
Aku berbaring di bangku itu. Beban 50 kg menatapku dari atas. Di dalam hati, aku tahu batas kemampuanku adalah 45 kg. 50 kg adalah wilayah terra incognita. Wilayah kematian. Tapi ada Feby di sana. Ada istriku yang menatap dengan kekaguman.
"Liat ya, Yang. Ini cara pro ngangkat beban."
Aku menarik napas dalam-dalam. Memegang besi. Angkat! Besi terlepas dari rak. Rasanya berat sekali. Seolah-olah ada anak gajah duduk di atas dadaku.
Aku menurunkannya perlahan ke dada. Bisa... bisa... Besi menyentuh dada. Sekarang dorong ke atas. Dorooong!
Besi itu naik... lima sentimeter. Lalu berhenti. Tenagaku habis. Otot tricep-ku mogok kerja. Otot dadaku menyerah.
Gravitasi mengambil alih. Besi itu mulai turun perlahan kembali ke dadaku. Aku panik. Mataku melotot. Wajahku berubah ungu. "Yang... Yang..." cicitku. Suaraku hilang tercekik beban.
Feby yang berdiri di sampingku bingung. "Mas? Kok berhenti? Teknik baru ya? Isometric hold?"
"BUKAN!!!" teriakku dalam hati. "INI GUE MAU MATI!!!"
Besi itu semakin menekan leherku. Aku melihat cahaya putih di ujung lorong. Aku melihat nenek moyangku melambaikan tangan. Malaikat Izrail sepertinya sudah siap mencatat amal terakhirku: Mati konyol ketimpa barbel karena gengsi.
"TOLOOONG..." bisikku parau.
Tiba-tiba, sebuah bayangan besar menutupi cahaya lampu. Dua tangan kekar berotot, dengan urat-urat yang menonjol seperti kabel listrik tegangan tinggi, menyambar stang besi itu.
Wush. Beban 50 kg yang tadi mau membunuhku, diangkat dengan mudah oleh sosok itu. Seolah dia cuma mengangkat tusuk gigi.
Aku terbatuk-batuk, menghirup udara rakus. Nyawaku kembali.
Aku menoleh ke atas. Sosok penyelamatku adalah seorang pria. Bukan sembarang pria. Dia adalah Titan. Tingginya mungkin 190 cm. Otot bisepnya lebih besar dari kepalaku. Dadanya bidang seperti tembok pertahanan keraton. Dia memakai kaos ketat yang sepertinya menjerit minta tolong karena kekecilan.
"Hati-hati, Mas," suara pria itu berat dan ngebass, menggetarkan lantai gym. "Kalau nggak kuat jangan dipaksa. Ego lifting itu bahaya."
Dia tersenyum ramah. Senyum yang menyilaukan. Aku, Hanif, yang terbaring lemas di bangku dengan posisi seperti kura-kura terbalik, merasa menjadi makhluk paling kecil di alam semesta.
Namanya Mas Ade (bukan Ade Rai, tapi mirip). Dia adalah "penguasa" gym ini.
"Mbaknya kuat juga ya tadi," kata Mas Ade, beralih menatap Feby. "Tekniknya bagus, cuma posisi sikunya tadi agak terlalu lebar. Bahaya buat bahu."
Feby, yang tadi melihatku hampir mati dengan tatapan bingung, kini menatap Mas Ade dengan antusias. "Oh gitu ya, Mas? Terus yang bener gimana?"
Mas Ade mendekat. Adegan selanjutnya adalah mimpi buruk bagi setiap suami yang insecure.
Mas Ade mulai mempraktikkan gerakan tangan di udara. "Gini, Mbak. Sikunya masuk dikit. Coba Mbak posisiin tangannya."
Feby mengangkat tangan. Mas Ade dengan sangat profesional dan tanpa niat mesum menyentuh bahu dan siku Feby untuk membenarkan posisi. "Nah, kunci di sini. Rasain kontraksi di otot dada."
"Wah! Iya! Lebih kerasa!" seru Feby girang. "Makasih ya, Mas Ade! Mas jago banget!"
Aku berdiri di pojokan, memegang botol minumku erat-erat sampai plastiknya penyok. Hatiku perih. Lihatlah mereka. Si Istri Bionik dan Si Titan Otot. Mereka terlihat serasi. Sama-sama kuat. Sama-sama mengerti bahasa tubuh. Sama-sama spesies unggul.
Sementara aku? Aku hanyalah remah rempeyek di dalam kaleng Khong Guan. Suami yang tadi hampir mati dicekik besinya sendiri. Suami yang sekarang ngos-ngosan cuma karena berdiri.
"Mbaknya minum suplemen apa?" tanya Mas Ade. "Power-nya oke lho buat cewek."
"Nggak minum apa-apa, Mas. Cuma tadi pagi makan bubur ayam diaduk," jawab Feby polos.
Mas Ade tertawa renyah. "Wah, bakat alami itu. Sayang kalau nggak diasah. Coba deh Mbak mulai perhatiin asupan protein. Whey Isolate bagus buat recovery. Terus jangan lupa Creatine."
"Wah, apa itu Mas? Aku nggak ngerti."
"Nanti saya jelasin. Jadi gini..."
Mereka asyik mengobrol. Feby bertanya tentang nutrisi, tentang set dan repetisi, tentang hal-hal yang tadi coba kujelaskan tapi gagal total karena aku sok tahu. Aku lihat sepertinya Feby menatap Mas Ade dengan tatapan kagum. Istriku cantik, Mas Ade kekar.
Aku? Aku tidak diajak ngobrol. Aku dianggap butiran debu. Atau mungkin Mas Ade pikir aku supirnya Feby.
Aku berjalan mundur perlahan, menjauh dari mereka. Aku duduk di alat Leg Press, menatap nanar ke arah cermin. Di cermin, aku melihat pantulan diriku. Kurus (tapi buncit dikit). Lemah. Keringetan bau asem. Muka pucat pasca-trauma barbel. "Menyedihkan," batinku. "Kau gagal, Hanif. Kau gagal melindungi istrimu. Kau malah hampir mati dan sekarang istrimu sedang belajar dari pejantan alpha yang sesungguhnya."
Rasa minder itu merayap naik, mencekik leherku lebih kuat daripada barbel tadi. Aku merasa tidak berguna. Apa gunanya aku jadi kepala keluarga kalau ngangkat besi 50 kilo aja nggak becus? Apa gunanya aku kalau istrimu lebih nyaman nanya sama orang lain? Tanganku bergetar, menatap nanar Feby yang sedang dilatih oleh Mas Ade.
Satu jam kemudian, kami pulang. Langit di luar mendung gelap, segelap perasaanku. Hujan mulai turun rintik-rintik, membasahi kaca mobil.
Di dalam mobil, Feby masih bersemangat. Energinya seolah tak habis-habis. "Gila, seru banget tadi Mas! Mas Ade baik banget ya, ngasih tau banyak tips. Ternyata selama ini aku salah cara napasnya. Terus dia bilang aku punya potensi jadi powerlifter lho!"
Aku hanya diam. Mengangguk lemah. "Hmm. Iya. Bagus."
"Terus tadi dia bilang suruh beli sepatu yang alasnya datar kalau mau latihan kaki. Mas, besok kita liat sepatu yuk?"
"Iya. Nanti diliat."
Feby mulai menyadari perubahanku. Dia berhenti bercerita. Dia menatapku dari samping. "Mas? Kamu kenapa? Kok diem aja dari tadi? Sakit? Apa dada kamu masih sakit kena besi tadi?"
Pertanyaan itu menusuk lagi. Mengingatkan pada kelemahanku. Aku mencengkeram setir mobil erat-erat. Knuckle-ku memutih. Hujan semakin deras. Wiper mobil bergerak srek-srek, seperti menghapus sisa-sisa harga diriku.
"Mas Hanif?" panggil Feby lembut. Tangannya menyentuh lenganku.
Aku tidak tahan lagi. Bendungan emosiku jebol. Aku menepikan mobil ke pinggir jalan. Menyalakan lampu hazard. Suara hujan yang memukul atap mobil menjadi musik latar kesedihanku.
Aku menunduk, menatap setir. "Feb," panggilku pelan. Aku tidak memanggilnya 'Yang' atau 'Sayang'.
"Ya, Mas? Kamu kenapa sih? Jangan bikin aku takut."
Aku menarik napas panjang, suaraku bergetar. "Aku... aku ngerasa nggak berguna."
Feby terkejut. "Hah? Maksudnya?"
Aku menoleh menatapnya. Mataku mungkin berkaca-kaca (semoga karena AC, bukan air mata). "Liat tadi. Aku payah banget. Aku sok-sokan mau ngajarin kamu, mau jadi pelindung kamu, mau jadi jagoan. Tapi nyatanya? Kamu lebih kuat dari aku. Kamu lebih jago. Aku malah hampir mati konyol dan harus ditolong cowok lain."
"Mas..."
"Terus tadi liat kamu ngobrol sama Mas Ade itu... Kalian nyambung banget. Dia kuat, gagah, ngerti semua hal. Aku cuma suami yang bisanya ngos-ngosan di treadmill. Aku ngerasa... kecil. Aku ngerasa kamu mungkin lebih pantes sama cowok kayak dia yang bisa ngimbangin fisik kamu, aku kalah segala-galanya."
Aku menumpahkan semuanya. Rasa minder, cemburu, kelemahan, ketakutan. Ini adalah momen terendah seorang Hanif. Aku siap jika Feby tertawa, atau membenarkan ucapanku, atau bahkan minta turun dari mobil.
Hening sejenak di dalam mobil. Lalu, tiba-tiba, Feby tertawa. Bukan tawa mengejek. Tapi tawa geli yang renyah.
"Ya ampun, Mas Hanif... Mas Hanif..." Feby memegang kedua pipiku, memaksaku menatap matanya.
"Kamu ini mikirnya kejauhan banget sih? Drama banget kayak sinetron Indosiar."
"Aku serius, Feb!"
"Dengerin aku," potong Feby tegas. Tatapan matanya lembut tapi menusuk. "Mas, aku nikah sama kamu itu bukan nyari bodyguard. Bukan nyari atlet angkat besi. Bukan nyari Hulk."
Feby mengusap pipiku yang kasar. "Aku milih kamu karena kamu Hanif. Suami yang selalu bikin aku ketawa kalau aku lagi stres. Suami yang rela ujan-ujanan beliin aku martabak. Suami yang sabar dengerin curhatan aku yang nggak penting. Suami yang walaupun sok tahu dan konyol, tapi selalu berusaha nyenengin aku."
Feby tersenyum manis. "Masalah angkat beban? Itu mah urusan otot, Mas. Otot bisa dilatih. Tapi hati yang tulus kayak kamu? Itu langka. Mas Ade mungkin kuat ngangkat besi 200 kilo, tapi emang dia mau mijitin kaki aku kalau lagi kram? Emang dia mau dengerin aku nyanyi fals di kamar mandi? Enggak kan?"
Aku terdiam. Hangat merambat di dadaku. "Jadi... kamu nggak ilfeel liat aku lemah tadi?"
"Sedikit sih," canda Feby sambil nyengir. "Tapi lebih banyak lucunya. Kamu tuh gemesin kalau lagi sok kuat padahal gemeteran."
"Jahat kamu."
"Tapi aku tetep sayang. Sayang banget. Kamu tuh hero aku di kehidupan nyata, Mas. Bukan di gym."
Feby mencium pipiku. Singkat tapi menenangkan. "Udah ah, jangan melankolis. Jelek tau mukanya ditekuk gitu."
Aku menghela napas lega. Beban 50 kg di dadaku tadi rasanya tidak seberat beban pikiran yang baru saja diangkat oleh kata-kata Feby. "Makasih ya, Yang. Kamu emang istri terbaik."
"Iya dong. Istrinya siapa dulu?"
Aku kembali menjalankan mobil. Hujan mulai reda.
"Tapi Mas..." kata Feby tiba-tiba saat kami hampir sampai rumah.
"Ya?"
"Kayaknya mulai besok aku sewa PT aja deh."
Jantungku berdesir lagi. "Sama Mas Ade tadi?" tanyaku was-was.
Feby menggeleng cepat. "Enggak lah! Gila apa? Nanti kamu insecure lagi terus mogok makan. Lagian Mas Ade biayanya mahal banget, tadi aku sempet nanya."
"Terus sama siapa?"
"Sama PT Cewek aja. Tadi aku liat ada Mbak Susi, badannya kekar tapi mukanya keibuan. Biar aku latihannya enak, kamu juga tenang nungguinnya. Kamu fokus aja latihan sendiri sampe kurus, oke?"
Aku tertawa. Tertawa lepas. "Oke. Deal."
"Nah gitu dong. Yuk ah, pulang. Aku laper. Pengen makan mie ayam."
"Lho? Katanya mau bentuk badan?"
"Besok aja. Hari ini merayakan keselamatan kamu dari maut."
Dan begitulah. Hari itu aku belajar bahwa kekuatan suami bukan terletak pada seberapa berat beban yang bisa dia angkat, tapi pada seberapa besar dia bisa menekan egonya demi kebahagiaan istri.
Dan satu hal lagi: Jangan pernah remehkan kekuatan istri yang pernah berlatih fisik dimasa lalu. Karena kalau dia marah, dia bisa mematahkan lehermu semudah mematahkan lidi.