Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Ada sebuah pepatah kuno yang mengatakan bahwa kesabaran itu tidak ada batasnya. Orang yang membuat pepatah itu pasti belum pernah disuruh mengajari ibu-ibu boomer umur 55 tahun cara membuat akun Gmail dari nol.
Pagi ini, Divisi Akunting yang biasanya sepi, dingin, dan sibuk, hanya diisi oleh suara ketikan keyboard dan helaan napas penderitaan para admin yang sedang balance laporan, mendadak kedatangan bencana alam berskala HRD.
"Devi, kenalkan. Ini Bu Kusuma," kata Mas Hanif sambil tersenyum lebar tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Beliau pindahan dari Divisi Arsip Marketing. Mulai hari ini, beliau akan membantu kamu merekap faktur."
Aku menoleh. Di depanku berdiri seorang ibu-ibu paruh baya dengan sanggul sasak tinggi yang kokohnya menyaingi Candi Prambanan. Beliau memakai kacamata plus dengan rantai emas yang menggantung di leher, lipstik merah cetar, dan baju batik motif burung merak. Auranya sangat keibuan, tipe ibu-ibu yang kalau di grup WhatsApp keluarga suka ngirim gambar cangkir kopi bertuliskan “Semangat Pagi, Jangan Lupa Bersyukur 🙏🌹”.
"Halo, Mbak Devi. Mohon bimbingannya ya, saya orang lama, otaknya udah agak karatan kalau disuruh mikir cepet," sapa Bu Kusuma dengan senyum ramah yang tulus.
"Oh, tentu saja, Bu Kusuma! Selamat datang di Akunting. Nanti kita belajar bareng-bareng ya, santai aja," jawabku dengan senyum paling manis yang pernah diciptakan oleh otot wajahku. Senyum customer service level dewa.
"Oh ya, Devi," sela Mas Hanif, melempar bom waktu ke pangkuanku. "Peraturan baru dari Direksi. Semua staf Akunting WAJIB masuk ke dalam grup WhatsApp 'Akunting Siaga 24 Jam' untuk koordinasi faktur real-time. Masalahnya, Bu Kusuma ini selama sepuluh tahun kerja di Marketing Arsip, cuma pakai HP Nokia pisang."
Jantungku berhenti berdetak selama tiga detik. Nokia pisang? Maksud lu hape monokrom yang nada deringnya polifonik itu?! Yang layarnya masih warna ijo kuning?!
"Jadi, karena anak-anak Bu Kusuma baru aja beliin beliau smartphone Android, tugas kamu hari ini adalah... setting-in HP barunya. Ajarin dari nol ya, Dev. Bikin email, bikin WA, ajarin ngetik, sampe bisa masuk grup. Pokoknya hari ini Bu Kusuma harus online! Saya tinggal ya!" Tanpa menunggu persetujuanku, Mas Hanif ngeloyor pergi, meninggalkanku berdua dengan Bu Kusuma.
Di dalam kepalaku, sebuah sirine serangan udara Perang Dunia II meraung-raung. TIDAAAKKKK!!! YA ALLAH CABUT SAJA NYAWAKU SEKARANG! GUE KAN ADMIN KEUANGAN BUKAN COUNTER ERAFONE!
Namun, di luar, wajahku tetap seanggun bidadari surga. "Wah, asyik banget Ibu dibeliin HP baru sama anak-anak! Mana nih Bu HP-nya? Sini Devi bantu," kataku dengan nada suara meliuk lembut seperti penyanyi seriosa.
Bu Kusuma merogoh tas kulit buayanya, lalu mengeluarkan sebuah kotak kardus HP Samsung yang segel plastiknya bahkan belum dibuka.
"Ini, Mbak Devi. Anak saya yang bontot beliin kemarin. Katanya disuruh 'tat crin tat crin'. Ibu mah takut meledak kalau salah pencet."
TAT CRIN DENGKULMU MELEDAK, BU! ITU TOUCHSCREEN! batinku menjerit histeris hingga pita suara mentalku nyaris putus.
"Oh, touchscreen maksudnya, Bu. Enggak meledak kok, aman. Sini kita buka ya," ucapku lembut bak putri keraton.
Aku membuka kotak itu, menyalakan HP Android yang mulus dan mengkilap tersebut. Layar menyala menampilkan logo selamat datang. Aku menyerahkannya ke tangan Bu Kusuma.
"Nah, Ibu. Ini namanya smartphone. Kalau mau milih menu, Ibu cukup sentuh aja layarnya pelan-pelan," jelasku.
Bu Kusuma memegang HP itu seperti memegang bom rakitan yang waktu detonasinya tinggal dua detik. Beliau menurunkan kacamata plus-nya ke ujung hidung, menatap layar dengan jarak dua meter dari wajahnya (ciri khas boomer membaca layar).
"Disentuh aja, Mbak? Gak usah diketok?" tanyanya ragu. "Iya, Ibu sayang. Disentuh pelan aja pake ujung jari. Coba Ibu sentuh tombol panah biru itu untuk mulai."
Bu Kusuma mengangguk tegang. Beliau mengangkat jari telunjuk tangan kanannya tinggi-tinggi ke udara, mengambil ancang-ancang seperti pendekar Shaolin yang hendak melakukan jurus Tapak Budha, lalu... TAK! Beliau menusuk layar HP itu dengan kekuatan setara palu godam menembus paku bumi. HP di tangannya sampai terdorong ke belakang.
YA ALLAAAHHH!!! ITU LAYAR GORILLA GLASS BUKAN ADONAN PEMPEK KAPAL SELEMMM!!! LU MAU NGEBOLONGIN LAYARNYA APA GIMANA SIH BUUU!!! Urat di dahiku berkedut hebat. Otak kecilku rasanya mau pecah.
Tapi di luar, aku tersenyum makin manis. Mataku menyipit sampai nyaris tertutup. "Ya ampun Ibuuu... tenaganya kuat banget kayak atlet angkat besi hehehe. Enggak apa-apa, Bu, tapi nanti sentuhnya selembut sutra aja ya. Kayak ibu ngelus-ngelus pipi cucu. Gak usah ditekan keras-keras, layarnya sensitif kok."
"Oh gitu toh? Ibu kebiasaan neken tombol mesin tik kelurahan zaman Pak Harto, Mbak," kekehnya polos. IYA BU IYA, TAPI ZAMAN PAK HARTO UDAH LEWAT TIGA DEKADE YANG LALU! UPDATE PATCH OTAKNYA DONG BU!
Setelah melewati drama menyentuh layar tanpa kekerasan fisik, kami masuk ke setup Android. HP meminta akun Google.
"Ibu udah punya email belum?" tanyaku. "Imel? Imel itu apa, Mbak? Temen arisan Ibu namanya Bu Imel, suaminya jualan pecel lele," jawab Bu Kusuma polos.
GUSTI PANGERAAANNN!! BUKAN IMEL TUKANG PECEL LELE! E-MAIL! ELECTRONIC MAIL!! Aku menggigit bagian dalam pipiku kuat-kuat agar tidak mengaum seperti Godzilla. Rasa anyir darah mulai terasa di mulutku.
"Bukan, Ibu cantik... E-mail itu surat elektronik. Syarat buat masuk ke HP ini. Biar Devi buatin aja ya. Nama lengkap Ibu siapa?" tanyaku penuh kelembutan, walau tangan kiriku di bawah meja sudah meremas pensil sampai bengkok.
"Kusuma Wardhani, Mbak." Aku mengetik: kusumawardhani@gmail.com. Layar menampilkan pesan merah: Username is taken.
"Wah, namanya udah ada yang pakai, Bu. Gimana kalau ditambahin tahun lahir? Ibu lahir tahun berapa?"
"Ibu lahirnya Senin Pon, Mbak. Pas Gunung Agung meletus pokoknya."
BAJIGUR!!! GUE GAK BUTUH WETON ATAU SEJARAH VULKANOLOGI! GUE BUTUH ANGKA TAHUN!! Napasku mulai berat. Paru-paruku mendadak kehabisan oksigen murni.
"Ehehehe, maksud Devi tahun angkanya, Bu. 1960 ya? Kita coba ya: kusumawardhani1960@gmail.com." Aku mengetiknya. Layar menampilkan: Username is taken. "Lho, udah ada yang pakai juga, Bu," kataku.
"Kok gitu?! Kan Kusuma Wardhani yang lahir Senin Pon cuma Ibu! Itu pasti ada yang malsuin identitas Ibu! Laporin ke kelurahan, Mbak!" Bu Kusuma mulai ngegas, merasa data pribadinya dicuri konspirasi elit global.
YA KALI GUE KE KELURAHAN NGELAPORIN SUNDAR PICHAI (CEO Google) GARA-GARA EMAIL LU UDAH DIPAKE ORANG, BU!! SIAPA JUGA YANG MAU MALSUIN IDENTITAS IBUUU! Aku memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam. Oksigen masuk, emosi kutelan. "Gak usah lapor kelurahan, Bu. Ini biasa kok di dunia maya. Kita tambahin kata lain aja ya. Misalnya... kusumawardhanicantik1960@gmail.com."
Ting! Berhasil. "Nah, berhasil Ibu! Sekarang kita bikin password alias kata sandi ya. Harus rahasia. Kata sandinya harus ada huruf besar, huruf kecil, dan angka."
Bu Kusuma mendekatkan wajahnya ke telingaku, lalu berbisik dengan nada super rahasia seolah kami sedang merencanakan kudeta negara. "Pake PIN ATM BRI Ibu aja, Mbak. Enam angka. Kosong-kosong-empat-lima..."
BUUU!!! JANGAN KASIH TAU PIN ATM LU KE GUE!! GUE KAN ADMIN KEUANGAN, NANTI KALO DUIT LU ILANG GUE YANG DISALAHIN!!! LAGIAN GOOGLE MINTA HURUF BUKAN ANGKA DOANG! Kepalaku mulai pusing. Pandanganku berkunang-kunang.
"Jangan PIN ATM, Ibu. Bahaya kalau ketahuan. Gimana kalau nama anak Ibu yang pertama aja ditambah tahun lahir?" "Nama anak pertama Ibu... Budi. Tapi udah diganti jadi Dwi. Tapi panggilannya Koko."
GUE HARUS NGETIK YANG MANAA BUSEETTT!! "Oke, kita bikin BudiDwiKoko123! ya Bu," putusku sepihak sebelum urat otak kananku pecah. Akun Gmail selesai. Mari kita lanjut ke aplikasi pembawa petaka: WhatsApp.
Aku mengajari Bu Kusuma cara membuka Play Store. "Ibu, di sini tempat kita download atau unduh aplikasi. Ibu ketik W-H-A-T-S-A-P-P di kotak pencarian ini ya."
Bu Kusuma melihat keyboard virtual (QWERTY) yang muncul di layar. Wajahnya menegang seolah melihat prasasti hieroglif peninggalan zaman firaun. "Mbak Devi... ini keyboardnya salah cetak ya? Kok huruf A, B, C-nya berantakan? Gak urut abjad? Pusing Ibu nyarinya."
SALAH CETAK DARI HONGKONG!! ITU NAMA FORMATNYA QWERTY, BUUU!! DARI ZAMAN MESIN TIK DIBIKIN EMANG UDAH BEGITU BENTUKNYAAA!! Jiwaku meronta-ronta di padang gurun keputusasaan.
"Enggak salah cetak, Ibuuu... Emang dari sananya begini biar ngetiknya gampang. Yuk, dicari huruf W-nya. Ada di deretan paling atas," panduku sehalus sutra.
Bu Kusuma mulai mencari huruf W. Telunjuknya mengambang di atas layar, matanya menyapu setiap huruf dengan kecepatan satu huruf per menit. Sepuluh detik. Dua puluh detik. Tiga puluh detik.
YA ALLAH LAMA BANGET!! HURUF W ADA DI SEBELAH KIRI ATAS BU! ITU GEDE BANGET W WARNA ITEM!! MATAKU MINUS TAPI BISA LIAT DARI JAUH!! Aku menggigit bibirku. Ingin rasanya aku merebut HP itu dan mengetikkannya dalam kecepatan kilat. Tapi HRD bilang aku harus mengajarinya sampai bisa.
"Itu Bu, yang deket huruf Q," tunjukku lembut. Tak! Bu Kusuma memencet dengan keras. Tertulis huruf E. "Eh, meleset, Mbak," kekehnya. Beliau mencari tombol hapus. Menemukan tombol 'Silang' (Backspace). Beliau memencetnya keras-keras. Tapi kali ini, jarinya TIDAK DIANGKAT. Jarinya menekan dan MENAHAN tombol backspace itu.
Karena ditahan, keyboard itu tidak hanya menghapus huruf E, tapi juga menghapus seluruh history pencarian sebelumnya. "LHO LHO LHO! KOK ILANG SEMUA MBAK! IBU GAK NGAPA-NGAPAIN LHO! HP-NYA KESURUPAN INI!" Bu Kusuma panik, menjauhkan HP itu dari wajahnya seolah benda itu akan menyemburkan api.
BUKAN HP-NYA YANG KESURUPAN, JARI LU YANG BERATNYA SATU TON ITU NGEREM DI ATAS LAYAR BUUU!!! Tanganku yang berada di bawah meja kini sudah merobek-robek kertas sisa fotokopian menjadi serpihan debu saking stresnya.
"Enggak apa-apa, Bu. Emang layarnya licin," (Aku bohong, layarnya gak salah apa-apa). "Sini Devi bantu ketikin nama aplikasinya aja ya biar cepet." Aku mengetik WhatsApp, mengunduhnya, dan membukanya.
"Nah, sekarang masukkan nomor HP Ibu." Bu Kusuma memasukkan nomornya (butuh waktu 5 menit hanya untuk mengetik 12 angka). "Sekarang kita tunggu SMS masuk ya Bu. Ada kode 6 angka rahasia (OTP) buat ngaktifin WA-nya."
Ting! SMS dari WhatsApp masuk. Tampil di notifikasi atas. Bu Kusuma melihat pesan itu. Wajahnya tiba-tiba berubah galak. Beliau menggeser pesan itu ke kanan, lalu memencet logo tempat sampah. DELETE.
Aku ternganga. Mataku melotot lebar. "IBU?! KOK DIHAPUS?!" (Untuk pertama kalinya nada suaraku sedikit meninggi). Bu Kusuma menatapku dengan wajah penuh kemenangan dan kebijaksanaan seorang tetua. "Itu penipuan, Mbak Devi! Ibu ini sering nonton berita di TV One! Kalau ada pesan masuk ngasih-ngasih kode angka asing, itu pasti komplotan 'Mama Minta Pulsa' yang mau nguras rekening! Ibu gak bisa dibohongin!"
ITU BUKAN MAMA MINTA PULSA!! ITU SISTEM WHATSAPP YANG MAU VERIFIKASI NOMOR LUUU IBUUUU!!!! YA ALLAH YA RABB, APA DOSAKU DI MASA LALU SAMPAI HARUS MENGALAMI SIKSAAN BATIN SEBERAT INI?! Cairan otakku rasanya mendidih. Aku merasa ubun-ubunku mengeluarkan asap putih seperti cerobong pabrik.
"I-I-Ibu..." suaraku bergetar hebat. Aku memaksakan otot bibirku untuk melengkung ke atas membentuk senyuman psikopat. "Ibu pinter banget... Ibu waspada... Bagus... Tapi, khusus yang tadi, itu beneran dari WhatsApp, Bu. Bukan penipu. Kita... kita ulang minta kodenya lagi ya, Bu? Hehehe..."
"Oh, dari WhatsApp toh? Bilang dong dari tadi. Ibu kan protektif sama data Ibu," sahutnya enteng. GUE MAU RESIGN. SUMPAH GUE MAU RESIGN HARI INI JUGA.
Setelah melewati badai OTP, akun WhatsApp Bu Kusuma akhirnya jadi. Layar menampilkan daftar kontak kosong.
"Alhamdulillah, udah jadi Bu! Sekarang kita masuk ke grup 'Akunting Siaga 24 Jam' ya. Devi masukin nomer Ibu dulu ke grup." Aku add nomor Bu Kusuma ke grup kantor. Di layar HP Bu Kusuma, muncul grup tersebut.
"Nah, Ibu. Karena Ibu anak baru di grup ini, adatnya kita harus say hello atau nyapa orang-orang di grup. Ibu ketik pesannya di kolom bawah ini ya."
Bu Kusuma mengangguk paham. Beliau memegang HP dengan dua tangan, menjauhkan jarak pandangnya lagi, dan telunjuk kanannya mulai bersiap di atas keyboard QWERTY laknatullah itu.
Misi: Mengetik kalimat "Selamat pagi semua. Saya Kusuma, mohon bimbingannya." (Total 48 karakter).
Ini adalah rekam jejak waktunya:
Menit ke-1: Bu Kusuma berhasil mengetik huruf 'S'.
Menit ke-2: Bu Kusuma mencari huruf 'E'. Beliau tidak menemukannya, malah memencet huruf 'R'. Tertulis: Sr.
Menit ke-3: "Mbak, cara hapusnya gimana tadi?" Beliau menahan tombol backspace lagi. Terhapus semua. Kembali ke nol.
Menit ke-4: Aku mulai menghitung berapa banyak bintang di alam semesta yang mati dan lahir kembali selama ibu ini mengetik satu kata.
Menit ke-7: Layar HP Bu Kusuma meredup lalu mati (Auto Screen Off karena kelamaan gak disentuh). "LHO KOK GELAP MBAK?! MATI LAMPU HP-NYA?!" teriak Bu Kusuma panik.
BUKAAAN MATI LAMPU BUUUU!!! HP LU KETIDURAN GARA-GARA NUNGGUIN LU NGETIK HURUF 'L' GAK KETEMU-KETEMU!!!! Aku memukul dahiku sendiri ke atas meja. JDUG! "Mbak Devi? Kok kepalanya dijedukin meja? Pusing ya mikirin kerjaan?" tanya Bu Kusuma polos.
Aku mengangkat kepalaku perlahan. Rambut cepolku sudah berantakan. Mataku menatap kosong ke dimensi lain. "Enggak, Bu... Devi lagi... lagi senam kepala. Biar peredaran darah lancar. Hehehe. Sini layarnya Devi nyalain lagi."
Menit ke-15: Setelah perjuangan berdarah-darah, keringat, dan air mata, Bu Kusuma akhirnya berhasil mengetik kalimat itu. Tapi karena beliau salah menekan tombol spasi dan malah menekan autocorrect, kalimatnya berbunyi:
Selatan pagi semut. Sate kusuma, monyet bimbingannya
Aku membaca layar itu. Mataku panas. 'Selatan pagi semut? Sate Kusuma? Monyet bimbingannya?!' Kalau pesan ini masuk ke grup direksi, besok pagi Bu Kusuma akan dipecat, dan aku akan ikut dipancung karena dianggap gagal melatihnya!
LU MAU NGATAIN PAK BOSS MONYET APA GIMANA BUUUUU!!!
Tanganku melesat seperti kilat ninja, merebut HP itu sedetik sebelum ibu jari Bu Kusuma menyentuh tombol SEND (Kirim).
"I-i-ibu! Sebentar!" napasku memburu. "Typo, Bu! Salah ketik! Biar Devi benerin dikit ya! Hehehe!" Dengan kecepatan 1000 kata per menit, aku menghapus dosa-dosa autocorrect itu dan memperbaiki kalimatnya menjadi benar. Aku serahkan kembali ke Bu Kusuma.
"Nah, sekarang tinggal dikirim, Bu. Pencet panah ijo ini." Bu Kusuma memencetnya. Pesan terkirim ke grup. Ting! Ting! Balasan dari staf lain bermunculan menyambut Bu Kusuma.
"Wah, canggih ya, Mbak! Langsung dibales. Temen-temennya ramah-ramah," Bu Kusuma tersenyum sumringah melihat layar. Matanya berbinar-binar seperti anak kecil yang baru melihat sulap.
Melihat senyum tulus itu, jujur, sebagian dari amarah iblisku di dalam dada sedikit mereda. Kasihan juga sih, orang tua dipaksa ngikutin zaman yang bergeraknya terlalu cepat buat mereka.
"Iya, Ibu. Nanti kalau ada faktur, mereka ngirimnya foto di sini. Ibu tinggal buka aja," jelasku dengan sisa-sisa energi di nadiku.
"Mbak Devi, Ibu mau tanya satu lagi dong." "Apa, Bu?" tanyaku santai, mengira pertanyaannya soal kerjaan.
"Di HP ini, pesbuk (Facebook) ada di sebelah mana ya? Ibu mau upload foto bunga mawar yang dikasih caption 'Sing Sabar Narimo Ing Pandum'. Terus Ibu mau nge-tag Bu Imel yang kemarin utang panci belum bayar. Biar dia nyindir di beranda."
Aku membeku. Seluruh sisa kewarasanku yang tadi baru saja terkumpul, kembali menguap ke lapisan ozon. PESBUK?! NYINDIR UTANG PANCI DI BERANDA?! YA ALLAAAAAHHHHH!!!!!!
Tubuhku lemas. Kepalaku terasa berat. Tengkukku tegang dan kaku seperti ditarik kabel baja. Pandanganku mulai berputar. Aku bisa mendengar suara detak jantungku sendiri di telinga. Dug... Dug... Dug...
"Mbak Devi? Kok diem aja? Mbak??" Suara Bu Kusuma terdengar mendengung, menjauh, seperti di dalam lorong gua.
"Bu..." suaraku nyaris seperti bisikan arwah. "Devi... Devi ke toilet sebentar ya, Bu... Devi mau cek tensi darah... Kayaknya... kolesterol Devi naik nembus plafon..."
Aku berdiri dengan langkah terhuyung-huyung, memegang partisi kubikel agar tidak ambruk. Meninggalkan Bu Kusuma yang sedang asyik memencet-mencet lambang stiker WhatsApp secara acak, mengirimkan stiker gambar kucing joget ratusan kali ke dalam grup "Akunting Siaga 24 Jam" yang isinya jajaran direksi.
Di ujung lorong menuju toilet, aku akhirnya tidak bisa menahan diri lagi. Aku menengadah ke langit-langit kantor. "MAS HANIIFF!!!!! SAYA MAU CUTI SEMINGGUUUU!!!!"