Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
NEMO.
Hai, nama ku Edward. Aku punya kucing, Nemo namanya. Ku temukan Nemo di sekitar jalan raya, dekat warung makan favorit ku.
Waktu itu, aku sedang makan rendang nasi favoritku di meja, lalu disitulah Nemo muncul. Sambil mengeong manja, ia memperhatikan ku dengan mata hitam nya yang berkaca-baca. Aku yang sedang makan, jadi kasihan dengan kucing yang menatap ku ini. Lihatlah, badannya terlihat sangat kurus serta ringkih, belum lagi bulu putih nya yang terlihat sangat berdebu,bahkan jamur pun terlihat merambat di sekitar telinga nya.
Aku merasa sangat iba dengan kucing ini, jadi aku beranjak dari kursi ku, berjalan ke arah kucing itu, dan menggendongnya-untunglah ia tak berontak. ya, aku bisa merasakan tulang-tulang nya, tubuh nya benar-benar kurus sekali. Aku berjalan kembali ke meja makan ku, dan memangku kucing ini dipaha ku agar ia tak kabur. kucing ini terlihat nyaman di pangkuan ku, syukurlah. Tak lupa, aku memesan satu bungkus ikan utuh, untuk ia makan nanti. Melihat kucing ini, kasian sekali jika hanya aku beri makanan sekali lalu ia tak bisa dapat lagi. jadi aku berfikir untuk merawat kucing ini di rumah ku, lagi pula rumah ku nyaris selalu sepi, jadi tak akan ada yang tersinggung, dan tentu aku akan mendapat teman baru.
sembari aku makan, dan memangku kucing ini. aku sembari berfikir. Kira-kira apakah aku kuat merawat kucing ini ? jika hanya membeli makanan untuk nya tentu saja mudah. Tapi aku tau kucing memiliki banyak kebutuhan lain, seperti emm.. aku sendiri pun tak tahu apa kebutuhan kucing selain makan. Maksudku, Aku tahu ada kebutuhan kucing yang lain, tapi aku tak tahu itu apa. Hadeh, aku malah di buat pusing oleh kucing jalanan ini. sambil mengunyah daging rendang yang terasa alot-tak seperti biasanya. Aku kembali berfikir, mencoba mencari solusi lagi.
setelah berfikir sekian lama sampai piring makan ku habis. aku mendapat solusi.
jika memang aku tak bisa menemu kansolusinya sekarang, bukan berarti aku tak bisa mendapat kan nya di lain waktu kan ? Menurut ku, yang penting sekarang adalah apa kah aku benar-benar niat merawat kucing ini atau tidak. Dan tentu jawaban ku adalah ya.( Aku bisa pakai dokter hewan juga ko)
makanan yang kupesan untuk si kucing pun sudah di siap untuk kuambil. aku berjalan ke meja depan-mirip kasir sambil membawa si kucing bersama ku. saat aku sampai di depan ibu-ibu yang berjualan, aku menyampaikan ingin bayar makanan skaligus ambil bungkusan.
"wah nak, porsi yang persis seperti biasanya kan?" tanya si ibu pada ku
"ya bu" jawab ku
"oke nak," kata si ibu, sambil merogoh kantong di bajunya. sembari dia mencari uang kembalian, aku melihat dia sempat melirik ke si kucing ku juga.
"itu kucing mu nak?" tanya si ibu, yang akhirnya selesai mencari kembalian.
"iya dong bu, kalau bukan tak akan ada di saya" jawab ku sambil tersenyum tipis.
"kucing jalanan ya, baru kamu pungut?" tanya si ibu sembari memberi kembalian.
"iya bu, doain saya kuat ya rawatnya" jawab ku sambil nyengir, lalu menyambar duit yang diberi si ibu.
"kucing itu sering sekali datang ke sini untuk cari makan" ucap si ibu pelan, dan raut mukanya jadi agak sedih. "semoga bisa betah ya dengan mu, bisa makan enak tiap hari"
"aamiin bu, saya yakin ko bisa ngebeliin makanan yang enak tiap hari" ucap ku ringan sambil tersenyum.
"baiklah kalau begitu, semoga kau bisa dekat dengan nya" kata si ibu sambil tersenyum kepada balik pada ku.
"iya bu" aku merasa semua nya sudah selesai, dan berbalik ke kanan. ternyata ramai sekali antrian orang yang ingin membayar, aku sepertinya terlalu lama bercakap-cakap dengan si ibu.
sambil jalan aku sambil agak membungkuk, agar menunjukkan setidak nya sedikit rasa hormat.
itu lah kisah ku saat bertemu dengan nemo, singkat memang dan aku tak mengharapkan itu menjadi lebih panjang.
oh iya aku juga masih ingat cerita saat ku beri nama kucing itu nemo. wah waktu itu, aku persis habis pulang dari tempat makan di cerita tadi, jadi kufikir harusnya akan nyambung.
berkendara di sepeda sambil membawa kucing dalam kantong plastik, benar-benar bukan hal yang menarik.
Aku sedang dalam perjalanan pulang menuju rumah ku, rumah yang kosong, karena orang tua ku yang dua-dua nya bekerja di perusahaan luar, tak pernah kunjung pulang. Sekali-sekali ingat anak kek, kadang aku berkata seperti itu dalam hati, kesal orang tua ku tak pernah kembali. tapi walaupun mereka tak pernah pulang, setidak nya mereka meberikan ku uang mingguan, nominal sekitar dua ratusan ribu. Nomial nya cukup besar sebenarnya untuk aku yang masih sekolah belum bekerja, dan masih tinggal di rumah layak. Tapi tentu uang tak bisa memberikan perhatian, sebesar perhatian orang tua.
TREETTT!!, lamunan ku terpecah karena suara klakson di belakang sepeda Segera saja aku fokus kembali pada perjalan pulang. Aku tak ingin tersesat, sambil membawa kucing lagi.
Setelah itu sebenarnya aku masih melamun lagi, pikiran ku melayang ke mana-mana, tapi kali ini tak ada suara klakson yang memecahnya, jadi tiba-tiba aku sudah ada dirumah saja.
Sesampainya dirumah, aku memparkirkan motor ku di bagasi rumah, dan berniat mengambil si kucing dari kantong plastik. Saat aku melihat ke arah plastik itu, aku melihat kucing itu ternyata tertidur, padahal perjalanan ke rumah ku naik motor, hanya sekitar sepuluh menitan.
“kamu suka tidur ya cing?” tanya ku, sambil berusaha meraih si kucing di dalam plastik.
Meong, si kucing malah mengeong kepada ku, mungkin maksudnya ia ingin bilang iya.
“ga laper, emang cing?”
Meong, mungkin maksudnya laper.
“yaudah, sini kugendong kedalam rumah. Entar ku siapin dulu makannya.”
Si kucing langsung lompat ke tangan ku yang ingin menggendongnya. Aku agak tersentak kaget, lalu tertawa kecil “kau sepertinya suka makan ya cing.”
Aku masuk kedalam rumah, mebawa si kucing, dan membawanya mengelilingi rumah ku. kalo kata teman-teman ku yang jago bahasa inggris sih, mereka nyebutnya house tour
Rumah ku hanya satu lantai, tapi bagian dalamnya cukup besar, apalagi aku hanya tinggal sendiri.
Aku meletakkan si kucing di sofa ruang tamu, menyuruh nya menunggu sembari aku menyiapkan makanan makanan.
Aku berjalan lagi ke sepeda ku, lupa mengambilnya tadi.
Setelah itu, aku langsung ke dapur menyiap kan makanan untuk ku dan si kucing.
Selesai menyiapkan makanan, aku membawanya ke ruang tamu untuk makan bareng dengan si kucing.
“Eh cing”
Meong
“Aku ada niatan ngasih kamu nama, biar gak cing-cing terus.”
Meongg?
“Mungkin nama yang berkesan, nama yang tak biasa. Oh iya!” Aku teringat sesuatu, “Kau mau dengar sedikit cerita?”
Meongg
“Dulu waktu masih kecil, aku suka sekali animasi tentang ikan yang bertualang. Nama nya finding nemo kalau aku ga salah.” Aku bercerita, “Nah, karena itu dulu aku sempat membeli ikan hias yang warnanya mirip warna antagonis di film tersebut. Kuberi nama ikan itu nemo persis nama ikan antagonis di film tersebut. Tapi sayang sekali, karena aku masih kecil waktu itu, aku tidak memberi nemo cukup makanan, karena kufikir nemo bisa minum air langsung dari aquarium. Tak sampai satu minggu nemo pun mati mengenaskan, mengambang diatas air aquarium.
Meonggg, keliatan dia mengerti.
“Nah, berarti kau kuberi nama nemo ya” kata ku, “mulai sekarang nama mu nemo”
Meong, artinya ia setuju mungkin.
“okeyy, mulai sekarang kamu nemo ya” aku berkata, senang.
Meong.
Mulai hari itu, kucing yang baru ku pelihara itu punya nama, nemo.
Aku merawat nemo seiklas yang aku bisa, aku bermain dengannya, makan dengannya,( makanan nemo selalu lebih mahal) dan memberinya perawatan yang layak.
Ngomong-ngomong tentang perawatan, selama satu minggu aku merawat nemo, aku sadar bahwa walaupun bulu nemo sudah putih dan bersih, tapi ternyata jamur-jamur di telinga nya tak kunjung hilang.
Karena aku sama sekali tak paham tentang perawatan kucing, akhirnya membawa nemo ke dokter hewan dekat rumah ku.
Nama dokter nya, dok henri. Dok henri sudah lama lumayan menjadi dokter hewan, aku tak heran, karena umur dok henri juga sudah lumayan senior.
1 jam berlalu, dan dari percakapan singkat ku dengan dok henri. Dok bilang kalau masalah telinga di nemo belum terlalu serius, jadi sebaiknya langsung diberi perawatan sebelum penyakitnya menjadi lebih serius. Dok henri pun menyaran aku untuk memberi perawatan rutin khusus ke telinga nemo yang berjamur. Karena namanya juga perawatan khusus, ia menyaran kan ku untuk membeli obat yang khusus pula, seperti yang ia jual. Jadi aku memutuskan untuk membeli obat yang dijual dok henri secara rutin, untuk nemo tentunya.
Jadilah duit mingguan ku terkuras dengan sangat hebat mulai hari itu, karena banyaknya keperluan ku untuk si nemo. Belum lagi aku masih harus mengerjakan tugas sekolah yang makin lama makin menumpuk, karena aku terlalu sibuk mengurus nemo.
Ketekunan ku pun lama-lama mulai goyah, belum pernah aku merasa se ling-lung ini, apakah ku lepaskan nemo saja? Toh, kalau dipikir-pikir aku mengambilnya hanya karena iba watu itu.
itu lah yang kupikir kan hari itu. tapi namanya juga remaja labil, pikiran berubah-ubah terus tiap harinya. Lepas, atau tetap.
Tapi di sekolah pun, aku masih terus memikirkan nemo, dan keperluan-keperluannya. Aku jadi sering bengong dan hilang fokus saat belajar, itu sangat berdampak pada nilai rata-rata ku, yang awalnya delapan puluh sampai dengan sembilan puluh, menjadi lima puluh sampai dengan lima puluh lima, jeblok sekali.
Tapi tiap kali aku pulang rumah, bertemu nemo, melihat ia berlarian, dam melompat ke arah ku, semua rasa untuk melepasnya menjadi sirna seketika, berubah menjadi rasa ikhlas dan senang karena masih bisa merawat nya.
Itu lah yang terjadi terus, sampai dengan 1 bulan ini. Perasaan itu terulang terus
Tapi akhirnya setelah 1 bulan merawat nya terus menurus, seperti nya aku akan bertemu jurang perjuangan ku merawat nemo.
pengeluaran ku tak teratur, nilaiku sudah sangat jeblok, dan jamur di telinga si nemo tak kunjung sembuh, jadi kali ini niatan ku untuk melepaskannya sudah mulai bergejolak di kepala dan hati ku.
Tapi aku tak sejahat itu, Kalau pun aku harus melepas nemo, aku tak mau melepasnya ke jalan begitu saja. Kebetulan aku memiliki teman yang keluarga nya adalah keluarga pecinta kucing, dan memiliki sekitar 10 kucing di rumahya. Dan temanku bilang ia dan keluarga nya akan dengan senang hati mengadopsi si nemo, jika aku mau.
Malamnya, ditemani nemo, aku berfikir keras apakah akan melepaskannya atau tidak. Tapi kelihatannya nemo juga terlihat agak sengsara dirawat oleh ku, karena aku tak pernah sempurna saat merawatnya, Dan kadang aku terkesan mengabaikannya. Jadi kelihatannya melepaskannya adalah pilihan terbaik, lagipula aku tak ingin membunuh satu peliharaan ku lagi.
Jadilah, pada esok hari aku melepas nemo ke teman ku itu. teman ku bilang bahwa jangan ragu untuk mengunjungi nemo di rumahnya, kalau aku mau.
Setelah nemo pergi, hidup ku berjalan seperti biasa, tak ada hal-hal aneh yang terjadi, dan memang itulah yang kuharap kan. Syukur, nilai sekolah ku kembali seperti dahulu kala, dan keungan ku menjadi stabil lagi. Hanya ada satu yang kurang, aku kesepian, tak ada mahluk hidup yang menemani ku dirumah, hanya buku, komputer, dan alat tulis.
----
Kita belajar untuk melepas seseorang yang belum bisa kita sanggupi. pahit memang, tapi inilah hidup. Walau begitu, tetap ingat kalau kita bersyukur, hal yang pahit sekalipun bisa menjadi manis.
Itulah kisah merawat kucing dari Edward, si anak kelas tujuh yang kekurangan perhatian.