Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
Bronze
Nanti
0
Suka
2
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Pukul dua dini hari, gaming house Prime Esports belum juga tidur. Rumah dua lantai di sebuah kompleks di Jakarta Selatan itu dari luar terlihat seperti rumah biasa, dengan pagar hitam, carport berisi tiga motor dan satu mobil tim, serta pot-pot tanaman yang dirawat Bang Andra sendiri. Tapi begitu masuk, siapa pun akan langsung tahu rumah ini tidak pernah benar-benar istirahat. Lantai bawah masih terang oleh monitor-monitor di ruang latihan, AC disetel terlalu dingin seperti biasa, dan bau sisa mi instan rasa soto masih menggantung di udara bercampur bau kopi saset yang diseduh terlalu kental.

Di meja makan yang lebih sering jadi meja kerja, Anju duduk bersila di kursi dengan laptop terbuka dan rambut dicepol asal-asalan dengan pulpen. Di satu tab ada spreadsheet jadwal scrim minggu depan yang masih penuh kolom kosong, di tab lain ada makalah kuliah yang baru setengah jadi. Dua-duanya harus dikumpulkan besok, dan Anju sudah berhenti menghitung berapa kali ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mengerjakan tugas di menit terakhir lagi. Di sebelah laptopnya ada segelas teh manis yang sudah dingin sejak satu jam lalu dan ponsel yang layarnya terus menyala karena notifikasi grup koordinasi dengan tim-tim lain.

Dari ruang latihan, suara Adam terdengar paling keras, menyalahkan Ren karena memilih drop di tempat yang menurutnya jelas-jelas bunuh diri. Adam tidak ikut main malam itu. Sebagai pemain cadangan, ia lebih sering duduk di belakang kursi Ren sambil memeluk bantal sofa dan mengomentari segala hal, dari pilihan senjata sampai cara Ren duduk. Ren membalas bahwa Adam tidak main jadi sebaiknya diam saja, dan bahwa tadi ia sedang melindungi Fajar dari skuad yang datang dari arah bukit. Adam bertanya melindungi dari mana, karena yang ia lihat Ren malah sibuk mengambil celana di dalam rumah. Ren membela diri dengan bilang celananya bagus dan warnanya cocok dengan jaketnya. Fajar, yang kebetulan memang mati karena tidak dilindungi siapa-siapa, tidak berkomentar apa-apa dan hanya menghela napas panjang.

Anju tersenyum tanpa mengangkat kepala. Tiga tahun bekerja di Prime, dua tahun di antaranya tinggal di rumah ini, membuatnya hafal pola pertengkaran mereka. Adam dan Ren akan saling menyalahkan sekitar lima menit, Fajar akan pura-pura tidak mendengar, lalu Bayu, kapten mereka yang bicaranya selalu pelan seperti orang yang baru bangun tidur, akan bilang, "Udah. Rewatch aja," dan semuanya diam. Benar saja, tidak lama kemudian kalimat itu terdengar, dan ruang latihan langsung hening, berganti suara rekaman pertandingan yang diputar ulang. Di sofa dekat televisi, Bang Andra duduk dengan kacamata melorot di hidung dan tablet di pangkuan, memutar ulang rekaman pertandingan sore tadi dengan kecepatan dua kali sambil sesekali mencatat di buku kecil bersampul cokelat yang selalu dibawanya ke mana-mana. Kalau ada orang asing yang tiba-tiba masuk, mungkin Bang Andra akan dikira dosen yang salah alamat, bukan pelatih tim esports.

Pintu kamar paling ujung terbuka. Anju tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang keluar. Langkah kakinya pelan dan hampir tidak bersuara, dan Anju sudah terlalu sering mendengarnya untuk bisa salah. Bagas berjalan ke dapur dengan headset menggantung di leher dan kaus hitam polos yang sudah pudar di bagian bahu. Rambutnya berantakan dan matanya merah karena terlalu lama menatap layar. Ia membuka kulkas, mengambil sebotol air dingin, menutupnya lagi, lalu berjalan kembali melewati meja makan.

Anju mengangkat wajah dan mengingatkannya bahwa besok latihan tanding dimulai jam satu siang, bukan jam dua seperti biasanya, karena salah satu tim lawan minta dimajukan. Ia juga bilang ada nasi goreng di microwave yang sudah ia pesankan sejak jam sepuluh, jadi Bagas tinggal menghangatkannya sebentar dan makan dulu sebelum tidur. Bagas hanya menggumam pendek tanpa menoleh, gumaman yang bisa berarti iya, bisa berarti tidak, dan bisa juga berarti ia sama sekali tidak mendengar. Beberapa detik kemudian, pintu kamarnya tertutup lagi.

Anju kembali menatap laptopnya. Kursornya berkedip di tengah kalimat yang sama sejak setengah jam lalu. Besok pagi, ia tahu, nasi goreng itu masih akan ada di dalam microwave, kotaknya belum dibuka, karetnya masih terikat seperti waktu kurir mengantarnya. Ia akan membuangnya sambil berpura-pura tidak kecewa. Ia sudah terbiasa diperlakukan seperti itu. Sungguh, ia sudah sangat terbiasa.

Umur Anju baru tujuh belas waktu pertama kali datang ke rumah ini. Ia masih kelas sebelas, masih memak...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Gold
The Coffee Memory
Bentang Pustaka
Novel
Bronze
The Ex Next Door
Sofia Nouva
Flash
Tiga Kali Tagih Janji Berakhir Cari Pengganti yang Pasti
kutipan.izs
Cerpen
Bronze
Rendang, Ramen & Jarak
lidia afrianti
Cerpen
Bronze
Nanti
Lala
Skrip Film
Labuan
Tanya Fransisca
Novel
The Meaning Of You
Febby Juniatara
Novel
THE RHYME OF THE DAY: Yang Tertinggal di Antara Nada
Adzikra Cakrawala
Novel
Bronze
Pulang Menuju Pelukan
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Rumah yang Tak Berharap Kembali
Sayidina Ali
Cerpen
Bronze
Bulan Separuh Keranjingan Bercerita
YK-Andriyana-RBD
Flash
Reuni
Sylvia Y
Cerpen
Bronze
Raksasa Kesayangan Aku
Nuel Lubis
Cerpen
ketika takdir membukakan pintu kedua
Farhan Bashori Hasan
Cerpen
Bronze
Kenapa Jadi Serba Salah?
Nuel Lubis
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Nanti
Lala