Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Dunia ini ramai, Kekasihku. Tetapi aku tidak ‘melihat’ siapapun selainmu.
***
1984.
Surai sekelam jelaga itu dibiarkan tergerai di kedua bahunya, topi rajut dengan warna merah muda di kepalanya, menambah keindahan parasnya. Seolah ia tercipta memang untuk dikagumi. Seakan Tuhan sedang tersenyum ketika dirinya diciptakan.
Keberkahan menaunginya, serta keberuntungan menyertainya sepanjang usia.
Sesuai makna dari namanya, Lentera Jiwa, dirinya dipenuhi dengan cahaya hangat yang menentramkan. Dipenuhi semangat yang berkobar dalam jiwanya. Serta paras dahayu yang menyejukkan pandangan.
Di sebuah gazebo kecil di sudut lapangan, Jiwa memasukkan beberapa lembar surat yang isinya berupa tulisan miliknya ke dalam tas selempangnya. Tas itu adalah hadiah dari kekasihnya untuk ulang tahunnya yang ke-23 bulan lalu.
Deru mesin mobil mendekat, sebuah Suzuki Jimny keluaran terbaru tahun itu berhenti tepat di depan gazebo. Seorang pemuda berkaos biru dongker turun, menghampiri Jiwa yang sudah siap dengan tasnya yang tersampir di bahu kanannya. “Maaf terlambat.” Ucap pemuda itu seraya menampilkan deretan giginya yang putih, tersenyum lebar ketika kekasihnya itu mengapit lengannya.
“Dua porsi nasi padang bisa membayarnya.” Pemuda bernama Teduh Samudera itu terkekeh renyah mendengar ucapan Jiwa. “Es teh juga terdengar menggiurkan.” Tambah Jiwa. “Baiklah, Nona. Di tempat biasa.” Teduh berujar seraya membuka pintu penumpang, mempersilahkan Jiwa masuk dengan isyarat tangannya.
Hari itu mereka ke kantor pos untuk mengirim beberapa tulisan Jiwa untuk dimuat ke dalam koran mingguan. Sudah dua tahun lamanya, Jiwa menjadi salah satu penulis cerpen di salah satu koran nasional yang cukup terkenal itu. Namanya kerap tercantum di dalam sertifikat penghargaan, medali bahkan piala di ajang bergengsi. Dirinya pun cukup vokal menjadi orator di berbagai kegiatan kampus maupun di luar itu.
“Aku akan mati sekali. Lalu hidup kembali, berkali-kali.” Jiwa membuka suara selepas keduanya mendudukkan bokong mereka di pasir pantai. Ucapannya lebur bersama debur ombak yang menyapu di depan sana, “di kehidupan yang satu kali ini, aku tidak hanya ingin hidup, mati, lalu terlupakan di tahun berikutnya.” Jiwa menambahi.
Kekasihnya melirik, lalu mengubah posisinya menghadap Jiwa. “Dengan apa? Dengan apa kau akan hidup berkali-kali?” tanyanya.
Jiwa tersenyum, masih betah menatap ombak yang saling berdatangan. “Dengan tulisan-tulisanku. Kau akan menemukan aku hidup berkali-kali pada tiap diri yang membacanya. Di tiap hati yang tersentuh, di tiap jiwa yang berkobar karenanya. Aku akan hidup di sana.”
Keduanya kemudian hanyut dalam pandangan masing-masing. Teduh menatap lamat kekasihnya, sedang yang ditatap sibuk menerawang jauh ke depan. Penuh khidmat.
Mereka saling diam, Jiwa tidak menuntut sanggahan atas ucapannya, dia hanya mengutarakan mimpinya yang sederhana.
Sedangkan Teduh semakin dibuat terkesima dengan gadis yang dicintainya itu.
"Kau tahu? Kalau ada kalimat yang lebih indah dari tulisan-tulisanmu, aku akan menyembahnya.” Teduh berujar, membuka kembali percakapan yang terhenti.
Jiwa menoleh, kalimat Teduh berhasil menarik atensinya. “Mustahil sekali menyembah tulisan.” Timpalnya.
“Iya, mustahil.” Teduh menjeda kalimatnya, “karena itu, tidak ada kalimat yang lebih indah dari tulisanmu.” Imbuhnya.
Jiwa terkekeh pelan, “yang benar saja.”
“Kalau kau hidup untuk menulis, maka aku akan hidup untuk memujamu. Kalau kau akan hidup karena tulisanmu, maka aku akan abadi dengan namamu."
Jiwa mengubah posisi duduknya menjadi berhadapan dengan Teduh. Mereka bertatapan sekian detik, “kalau aku tidak ada di dunia, siapa yang akan kau cintai?” Jiwa mengajukan tanya penuh penasaran.
Teduh tersenyum lebar memamerkan lesung di pipi kirinya, “namamu.” Jawabnya lugas. “Lentera Jiwa, aku akan mencintai itu.”
Kalimatnya sukses membuat degub jantung Jiwa menjadi abnormal. Hampir saja jantungnya melompat keluar. Sial, lelaki di hadapannya itu pandai sekali melontar kata.
“Kalau kehidupan itu indah, dia indah karena kau hidup. Betapa banyak hal yang tercipta di dunia ini, kekasihku, tetapi aku hanya menyukai kehadiranmu. Tidak ada yang lebih indah daripada itu. Kecuali namamu,” jeda tiga detik, “tulisanmu,” Teduh mengusap pipi Jiwa dengan tangan kanannya, “serta jejak kehidupanmu.”
Tak ada suara setelah itu, kecuali nyanyian burung-burung yang terbang bebas di atas langit bertudung oranye. Sinar mentari menyorot hangat ke wajah yang terpagut menjadi satu. Disaksikan nyiur-nyiur di tepi pantai yang menari seolah turut bahagia. Angin membelai wajah mereka dengan lembut, menyapa sepasang kekasih petang itu, memainkan anak rambut Jiwa yang menyembul malu-malu dari balik topi rajutnya.
***
Waktu bergulir bagaikan sekali kedip.
Kalau kemarin Jiwa dan Teduh menikmati hari-hari yang manis sebagai sepasang kekasih, maka hari ini mereka dipenuhi ketegangan.
Jiwa menggigit bibirnya menutupi rasa gugup, mungkin kalau tidak bertindak sekarang, kapan lagi? Sedangkan kehancuran diperlihatkan begitu nyata di pelupuk mata. Menari-nari menertawakan nasib anak bangsa yang berada di ujung tanduk. Kalau dia tidak bergerak, memangnya siapa lagi? Adalah hal paling pahit jika mengharapkan manusia yang lain.
Pintu berkerit pelan, Teduh masuk dengan gulungan kertas memenuhi tangannya. Disusul beberapa orang di belakangnya, derap kaki saling bersahutan menggema di ruangan yang terbengkalai puluhan tahun itu. Syukurnya masih bisa dipakai setidaknya untuk pertemuan yang semestinya dirahasiakan.
Anak-anak muda tersebut membentuk lingkaran dengan meja kayu berada di tengah mereka. “Halo, teman-teman. Selamat datang di pertemuan kita yang ketiga kalinya. Di tempat yang sama, dengan tujuan yang sama. Yaitu, Kemerdekaan Indonesia yang sesungguhnya.” Jiwa membuka topik.
“Seperti yang sudah kita bicarakan di awal pertemuan, untuk menuju Negara yang sejahtera, dibutuhkan perjuangan yang nyata. Dengan itu, dengan kesadaran penuh kita harus membuat langkah yang berani.”
“Negara kita sedang dalam masa kekacauan luar biasa. Tiap hari korban berjatuhan. Teman-teman kita diculik, masyarakat kita dicurangi, harta kita dikorupsi, serta masih banyak hal-hal yang harus kita tuntut ke Pemerintah."
"Kita akan mulai dari langkah rahasia. Selebihnya akan dijelaskan oleh Teduh.” Jiwa mempersilahkan, dibalas dengan anggukan yakin dari Teduh.
“Masing-masing kita akan menyebarkan selebaran ini,” Teduh meletakkan gulungan kertas ke atas meja, mengambil satu lalu mengangkatnya setinggi bahu, “ini adalah ajakan untuk berpartisipasi dalam unjuk rasa yang akan kita lakukan pekan depan. Usahakan jangan sampai rencana kita ini diketahui oleh Aparat Negara. Baik itu Polisi, Abri, Pejabat maupun orang-orang yang Pro Pemerintah.” Lanjutnya.
“Setelah mengumpulkan massa, kita akan berkumpul lagi di tempat ini sehari sebelum unjuk rasa diadakan. Semoga Tuhan menyertai langkah kita semua. Semoga Tuhan memberikan keselamatan bagi kita semua.” Teduh menutup.
“Aamiin.” Sepuluh orang di ruangan tersebut kompak mengamini.
"Satu lagi, hanya di tempat ini kita saling mengenal. Satu langkah kaki kita keluar dari tempat ini, kita adalah orang asing. Mengerti?” Jiwa menambahkan.
“Mengerti.”
***
Bukan hal yang mudah untuk menjalani hari-hari tanpa bertemu kekasih, apalagi harus berpura-pura tidak saling mengenal di depan khalayak ramai. Namun demi keberhasilan rencana mereka, Jiwa dan Teduh harus kuat mengelus dada ketika rasa rindu membuncah di dalam sana.
Memasuki bulan Kemerdekaan Indonesia, ada banyak lomba serta karnaval yang diselenggarakan. Jiwa duduk di teras Masjid yang menghadap ke Kantor Bupati, tempat diadakannya berbagai lomba. Energi Jiwa tersisa setengahnya setelah lelah tertawa melihat aksi ibu-ibu yang melakukan lomba balap karung, lalu disusul teriakan heboh di lomba tarik tambang. Sekarang lomba panjat pinang sedang berlangsung, dan Jiwa memilih duduk seraya menuliskan tentang kegiatannya di hari itu di bukunya.
Jiwa mengaduh pelan ketika kerikil kecil mendarat di keningnya. Dia mendengus sebal ke arah Teduh yang berdiri tidak jauh dari tempatnya duduk, lelaki itu memamerkan cengiran lebarnya, dibalas Jiwa dengan bibirnya yang mencucu. Sekilas kemudian, pandangan Jiwa terkunci di sana. Menatap kekasihnya dengan penuh penghayatan seolah hiruk-pikuk di sekitarnya hanyalah bumbu tambahan.
Gadis bermanik hazel itu tidak pernah mengira akan menghadapi situasi seperti di film-film. Tak berangsur lama sejak melihat Teduh, kini kepalanya ditutup dengan kain.
Dirinya diseret oleh orang yang tidak dikenalinya. Hendak berteriak, namun kain yang ditetesi obat bius lebih dulu menyetuh wajahnya. Setelahnya, dia tidak ingat apapun.
Yang diketahuinya saat ini adalah, dirinya duduk di kursi kayu dengan kedua tangannya yang diikat ke belakang menggunakan tali tambang. Kain yang menutup matanya dibuka, membuat cahaya terasa mengiris kedua matanya.
Jiwa mengerang ketika seseorang mendekatinya dan menempelkan alat kejut listrik ke lehernya. Pria bertubuh tegap itu menyeringai iblis, “orang sepertimu mau melawan Pemerintah?” kembali ditempelkan alat kejut listrik ke leher Jiwa, membuat Jiwa memekik tertahan. “Bocah dungu!” umpat pria tersebut.
Sementara itu, Teduh yang menyaksikan Jiwa diseret oleh dua pria yang tidak dikenalnya, berusaha mengikuti mereka.
Namun Teduh harus rela kehilangan jejak kekasihnya itu saat sebuah becak menabrak dirinya.
Teduh kalang kabut, segala penjuru sudah didatanginya. Namun hasilnya nihil, tak ada jejak yang bisa diikutinya untuk membawanya ke tempat di mana Jiwa berada.
“Jawab!” suara baritone menggema di ruangan kecil itu, tulang kering Jiwa dihantam balok kayu, membuat sang empunya memejamkan mata menahan rasa sakit yang luar biasa.
“Siapa dalang dari semua ini?!” Pria itu mengangkat selebaran tepat di depan muka Jiwa, sedang Jiwa mendongak sedikit, menampilkan keningnya yang dibasahi darah segar. “Jawab!” Gertaknya lagi.
Tak ada jawaban.
“Pukul lagi!” Perintah pria tegap itu kepada seorang yang bersamanya. Lengan Jiwa kembali dihantam balok kayu. Belum puas menyiksa Jiwa, kini mereka melepas ikatan di tangan perempuan malang itu, membuat tubuh Jiwa rubuh ke lantai.
Pria dengan tato ular di lengannya itu melempar secarik kertas dan juga pulpen ke arah Jiwa. “Tulis.” Perintahnya. “Tulis semua nama yang berkomplotan denganmu. Juga tulis tujuan kalian menyebarkan selebaran untuk unjuk rasa. Waktumu hanya 30 menit.”
Jiwa tidak meraih kertas itu, bahkan meliriknya saja tidak. “Kalau kau tidak menulis apapun dalam 30 menit, maka kau akan dilenyapkan di sini. Dan jasadmu tidak akan pernah ditemukan di mana pun.” Ancam pria bertato itu.
Bagi Jiwa, mati mungkin lebih baik daripada menjadi pengkhianat dalam rencana yang dia susun bersama teman-temannya. Jemari Jiwa bergerak pelan meraih kertas tersebut, digenggamnya pulpen dengan tangannya yang lemah.
Bajingan Keparat.
Jiwa menulis kata itu di atas kertas, membuat dua pria yang menyekapnya murka luar biasa. Ditembakkannya pistol ke udara untuk menggertak Jiwa. “Kau pikir ini pistol mainan? Ini bisa membunuh perempuan sialan seperti dirimu dengan sekali tembak!”
“Pistol bukan anjing yang tahu siapa tuannya,” Jiwa berujar lirih, “dia bisa berbalik membunuhmu kapan saja.” Jiwa tersenyum miring di akhir kalimatnya.
Tembakan kedua memekak telinga.
Tuhan memang Maha Pengasih diantara yang mengaku paling mengasihani, Teduh dan dua temannya tiba tepat waktu di tempat Jiwa disekap. Hampir saja peluru melesat menembus kepalanya, namun karena kaget, pria bertato ular itu menembak kursi di samping Jiwa.
"Sialan!” Teduh mengumpat ketika netranya menatap tepat ke arah kekasihnya yang penuh luka. Hatinya teriris melihat perempuan yang begitu dicintainya harus menerima kekerasan yang tak semestinya. Kepalan tinjunya berhasil mengenai tulang pipi pria bertato ular itu.
Ditinjunya terus pria itu sampai jatuh tersungkur ke lantai. Tak sampai di situ, Teduh mendaratkan balok kayu bertubi-tubi ke badan pria itu. Sedang pria satunya dipukuli oleh dua teman Teduh yang bernama Aji dan Ringgo.
Teduh membawa Jiwa pergi begitu dua pria yang menyekap Jiwa tak sadarkan diri, disusul kemudian oleh Aji dan Ringgo. Menaiki Nissan Jimny milik Teduh, mereka melenggang membelah jalan menuju rumah sakit.
Benar sekali kata orang, bahwa, Ibukota lebih kejam daripada Ibu tiri. Jika Ibu tiri memukul sekali, maka Ibukota menghantam puluhan kali. Jika Ibu tiri membunuh perlahan, maka Ibukota membunuhmu dengan kejam. Keras sekali kehidupan di Ibukota.
Hanya selang beberapa hari sejak Jiwa dirawat di rumah sakit, kini Jiwa sudah berada di sebuah bangunan tua yang mereka sebut markas. Ini adalah rapat terakhir mereka sebelum melakukan aksi protes terhadap kebijakan Pemerintah dalam menangani kasus penembakan misterius yang marak terjadi, serta protes terhadap Abdi Negara yang dikabarkan kerap menculik masyarakat yang melakukan demo, dan juga rumor tentang terlibatnya anggota keluarga Presiden terhadap korupsi besar-besaran di tambang emas.
“Ini mungkin akan jadi pertemuan terakhir kita, teman-teman. Entah apa yang akan terjadi kepada kita setelah ini, semoga Tuhan melindungi kita semua dari marabahaya. Jikapun ada yang mati atau tertangkap, ingat, kita tidak saling mengenal di luar markas ini. Begitu cara kita agar melindungi satu sama lain.” Jiwa berujar. “Merdeka!” serunya.
“Merdeka!” timpal yang lain penuh semangat.
Massa yang terkumpul membludak di jalanan menuju Istana Negara. Para Polisi serta ABRI dikerahkan untuk memblokir masyarakat yang hampir mencapai gerbang Istana. Jiwa memimpin barisan dari sayap kiri, serta Teduh memimpin barisan sayap kanan. Mereka bersatu dan berhenti tepat di depan pembatas yang dibuat Polisi, sementara Polisi berada di seberang dilengkapi senjata.
“Kami warga Negara Indonesia mengutuk Pemerintah yang diam saja ketika tahu banyak teman-teman kami diculik karena bersuara! Kembalikan teman-teman kami!” Teduh berorasi. Pengeras suara menggemakan suaranya yang lantang.
“Kami mengutuk pejabat-pejabat korup yang tak tahu malu menjilat di Pemerintahan! Lengserkan semua! Miskinkan koruptor!”
“Miskinkan koruptor!” warga berseru menimpali.
"Negara kita tidak baik-baik saja! Ini saatnya kita bersuara! Negara kita membutuhkan kita semua!”
Suasana semakin memanas ketika para pendemo sudah berdiri berjam-jam tetapi hasil yang diinginkan belum juga tercapai. Bentrokan kecil antara warga dan aparat mulai bermunculan. Tak sejalannya keinginan warga dan aksi yang ditunjukkan Pemerintah serta aparat membuat warga berada di puncak amarah.
Kejadian baku hantam dengan Polisi mulai terjadi, suasana mencekam mulai tercipta. Api berkobar dari ban-ban yang dibakar di tengah jalan. Asapnya mengepul memayungi langit Ibukota. Polisi yang dipukul mundur oleh warga yang jumlahnya dua kali lipatnya, akhirnya menembakkan gas air mata. Massa mulai lari pontang-panting.
"Munduuuurrr!” beberapa massa berseru lantang.
Suami-Istri, Ibu-Anak, pasangan kekasih, teman sejawat, karib sahabat mulai menyelamatkan diri masing-masing. Kacaunya situasi saat itu membuat genggaman tangan yang erat terlepas begitu saja. Insting bertahan hidup tiap individu mulai menyala.
“Munduuurrr!!!” Bahkan para Reporter juga turut menjadi korban dari amukan Polisi. Dipukul rata saat itu.
Situasi yang tidak kondusif semakin parah ketika warga mulai berdatangan membawa senjata tajam dan menebas siapa saja, sebab mata mereka yang terkena gas air mata. Sakit yang mereka rasakan dilampiaskan dengan cara membabi buta. Para Polisi yang menjadi sasaran warga mulai menarik pelatuk pistolnya, siap menembak kalau-kalau mereka merasa terancam.
Dua tembakan,
Sepuluh tembakan,
Hingga, tak terhitung berapa jumlahnya yang pasti. Korban mulai berjatuhan, baik dari pihak warga maupun pihak kepolisian. Di bawah pohon, Teduh menyeret kakinya yang terkena tebasan pedang dari warga, berteriak kalut ketika menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, kekasihnya, Lentera Jiwa, jatuh terhuyung ketika dua peluru melesat tepat di dada dan perutnya.
Di tengah suasana yang semakin parah, Teduh menghampiri tubuh Jiwa yang mulai diinjaki. Dia dengan susah payah membawa perempuan yang dicintainya dengan teramat sangat itu menjauh dari kerumunan. Sejauh mungkin. Sejauh yang dia sanggupi dengan kakinya yang terluka parah.
Teduh memeriksa denyut nadi kekasihnya, memeriksa tarikan nafasnya, memukul-mukul dada Jiwa ketika kekasihnya itu tidak juga membuka mata. Tangis Teduh pecah, tumpah ruah, kini kekasihnya telah tiada. Kekasih yang dijaganya dengan penuh kehati-hatian. Kekasih yang nafasnya adalah hidup itu sendiri.
“JIWA!” Teduh berteriak kehilangan.
Perasaannya tak bisa dijelaskan. Seluruh rasa marah, kecewa, frustasi dan bersalah menggerogoti dirinya. “Jiwa, kekasihku.” Teduh menangis pilu sembari memeluk jasad Jiwa yang pucat.
Entah berapa jam kekacauan berlangsung. Mayat-mayat kini bertebaran di jalan. Tak ada harganya sama sekali. Bahkan untuk ditukar dengan sekeping biskuit pun juga tak ada yang mau. Teduh menyesap ujung nikotin, mengepulkan asapnya ke udara. Menarik nafas panjang ketika netranya menyapu seluruh pemandangan di depan sana.
Digenggamnya erat tangan Jiwa yang mulai dingin di sampingnya. Perempuan itu tertidur lelap sekali. Bagaikan membayar tuntas kelelahan yang dipikulnya. “Tidurlah lelap, kekasihku. Malam ini kau menjadi putri tidur yang paling cantik yang pernah ada.” Ujar Teduh seraya menatap kepulan asap rokoknya yang menggelung-gelung di udara.
Sirine ambulans mulai berdatangan.
Semakin mendekat ke arahnya, dirinya tersenyum kecut lalu menggendong tubuh kekasihnya menjauh. “Mau jadi apa Negara ini, Kekasihku?” tanyanya, yang tidak ada jawabannya. Tidak akan pernah ada.
***
2024.
Rambutnya kini sudah memutih, garis kerutan tampak jelas menghiasi wajahnya, walau masih kelihatan bahwa dirinya pernah menjadi yang tertampan di masanya.
Tangannya sibuk mengusap satu sama lain, agar terasa hangat. Jaketnya dirapatkan, kakinya siap melangkah pergi, namun terhenti ketika telinganya menangkap percakapan samar tak jauh dari posisinya duduk.
“Lentera Jiwa? Nama yang bagus.” Seorang wanita berkerudung hitam mengomentari.
“Iya. Aku juga suka sekali tulisan tulisannya.” Perempuan satunya lagi menjabarkan. “Dia adalah perempuan pemberani di masanya.”
“Di masanya? Sekarang bagaimana?”
“Dia sudah tidak ada. Dia meninggal saat kerusuhan tahun 84 terjadi kata Ibuku—” Teduh meninggalkan pantai ketika obrolan dua perempuan itu semakin panjang. Tersenyum simpul sembari mengingati Lentera Jiwa, kekasihnya. Seorang perempuan hebat, satu-satunya yang ia cintai sejak dulu hingga sekarang.
“Lihatlah, Kekasihku. Kau sudah hidup kembali. Di tempat ini, kau nyata berkali-kali.”
Teduh bergumam pelan. “Kalau Tuhan menghadiahi Surga atas rasa sabar, maka aku akan memintamu sebagai wujud dari Surga itu. Demikian aku mencintaimu.” Teduh menatap langit sore, kalau saja kekasihnya itu ada di depan matanya, niscaya keindahan senja akan kalah dengan tatapan mata seorang Jiwa.
Apalah arti segala keindahan di dunia ini, Kekasihku. Jika bukan dirimu yang berada di urutan teratasnya.
Setelah kau tidak ada di bumi, namamu adalah hal yang paling aku cintai. Namamu adalah yang pertama dan terakhir di perjalanan hidupku yang hanya satu kali ini.
Kekasihku, semoga Tuhan sudi memberi Surga dalam wujud engkau. Hanya kepadaku.
Teduh menutup bukunya. Memejamkan matanya, meresapi tiap cinta yang dimilikinya untuk satu nama. Lentera Jiwa. Nama yang akan abadi, yang akan hidup kembali. Berkali-kali. Persis seperti mimpinya yang sederhana.
***