Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Nama Itu Doa
0
Suka
4
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

===

 

           Seorang gadis yang periang di usianya, sungguh. Mudah tertawa, lincah, aktif, bahkan orang tuanya berpikir ia adalah seorang anak yang tak pernah lelah. Ketika matanya terbuka, kakinya selalu berlari dari ujung depan sampai belakang rumah. Ketika sore hari, ia pergi mengaji bersama kawan-kawan. Sepanjang jalan mulutnya sibuk berceloteh ini dan itu yang entah benar atau tidak. Malam hari sepulang mengaji, ia akan menemui mamanya dan menceritakan betapa tadi pak ustadz memberikan pelajaran itu dan ini, sesekali menggerutu karena kesulitan dalam pengucapan beberapa huruf hijaiah.

           Mamanya dengan sabar penuh senyum mendengarkan semua cerita itu, kadang membalasnya sesekali. Ketika sudah selesai, mamanya akan menyuruh si gadis pergi makan lalu menggosok gigi sebelum tidur. Si gadis tak pernah membantah.

           Namanya Bintang, seorang gadis yang cantik, umurnya masih empat belas tahun, tapi bentuk-bentuk kecantikan dari wajah itu sudah nampak jelas. Dan, sesuai namanya yaitu Bintang, sepasang mata itu selalu menyorotkan sinar cerah yang dapat membuat siapa pun terpana. Ia gadis luar biasa.

           Hobinya juga termasuk dalam kategori unik. Bintang suka menulis, menulis apa pun itu. Ia bahkan pernah menang juara umum menulis cerpen, walau hanya tingkat antar satu sekolahnya saja, tapi itu cukup lumayan.

           Paling suka adalah menulis buku catatan. Bintang akan menulis semua yang dilakukannya dalam satu hari tersebut. Seperti halnya pada malam itu setelah makan, sebelum tidur ia menggosok gigi. Namun, setelah itu Bintang akan menyempatkan diri untuk duduk di meja belajar lalu membuka bukunya yang diberi nama “Buku Petualang”.

 

***

 

           Masuk di kawasan hutan, Lintang tak pernah bisa terbiasa. Walau hari masih siang, tapi keadaan sekitar selalu membuat bulu kuduk meremang. Pohon-pohon tinggi dengan semak belukar tak lebih pendek dari kepala orang dewasa, tanaman rambat menjuntai sampai bawah seperti sekumpulan tangan panjang yang siap menjerat siapa saja, atau suara-suara asing yang tak pernah terdengar di daerah perkotaan. Namun, inilah jalan satu-satunya untuk menuju Desa Panian, desa tempat Anniyah dilahirkan.

           Kemarin Anniyah bilang padanya bahwa ia merasa bosan terus duduk atau tidur di ruang rawat inap rumah sakit, maka dari itu Lintang mengajaknya keluar untuk jalan-jalan di taman. Anniyah tak menolak bahkan senang menerima ajakan itu, lalu berceletuk. “Sepertinya lebih baik kalau ada buku yang bisa aku baca.”

           Sebagai seorang suami yang baik, Lintang segera memahami kode dari istrinya. “Buku apa yang kamu mau?”

           Terlihat sinar kegembiraan di mata Anniyah. “Buku yang kusimpan di lemari kamar rumah nenekku.”

           Lintang menelan ludah. “Buku masa kecilmu?”

           Anniyah mengangguk.

           “Tak ada yang lain? Aku bisa belikan sekarang juga kalau perlu.”

           Anniyah menggeleng kuat-kuat.

           Demikianlah, maka pada keesokan harinya Lintang manaiki motor antiknya—yang tiada lampu dan plat nomor mati—untuk pergi ke Dusun Panian, dusun terpencil yang suasananya seperti dusun keramat di novel horor. Tak terlalu mengherankan karena di sekeliling dusun ini hanya diisi oleh hutan lebat.

           Ditambah dengan hujan gerimis malam tadi, dapat dibayangkan betapa “hebatnya” jalan setapak menuju tempat tersebut. Jalan berlumpur dengan bekas roda-roda sepeda motor atau mobil pickup, karena itu Lintang harus beberapa kali mengusap dada untuk menahan sabar.

           Sampai di dusun, celana Lintang sebelah kanan terlihat kotor dan lengan baju kirinya robek sedikit. Ia sudah jatuh dua kali di jalan penguji sabar itu, pertama kaki kanannya terpeleset saat tidak tepat memilih pijakan pada tanah ketika motornya miring dan lengan kiri itu sempat tergores ranting pohon beberapa puluh meter kemudian ketika Lintang kembali terjungkal karena tanpa sengaja menekan rem depan secara mendadak. Malang sekali.

           Sampai di depan rumah nenek Anniyah, bukan penghuni rumah yang menyambut, melainkan seorang pemuda seumuran dengannya yang datang dari arah samping.

           “Kau mau apa datang lagi ke sini?” tanyanya sinis.

 

===

 

           Namanya Bintang, Awan dan Lintang

           Bapak ibu guru menyebut mereka dengan nama julukan “Bawang”, alias Bintang, Awan, Lintang. Mereka adalah tga serangkai, tiga murid terpintar, dan tiga sahabat yang tak pernah terpisahkan ke mana pun itu.

           Di kantin, mereka selalu duduk semeja. Di kelas, mereka duduk tak pernah berjauhan. Di lapangan pada pelajaran olahraga, mereka selalu di dalam tim yang sama. Bahkan saking serangkainya, ranking tiga anak itu pun selalu berdekatan yaitu satu, dua dan tiga dengan Bintang urutan pertama dan Lintang urutan ketiga.

           Mereka sudah berteman sejak TK, Sekolah Dasar, sampai SMP. Namun, ketika SMA, mereka bersekolah di tempat berbeda. Bintang dan Awan bersekolah di tempat yang sama, sedangkan Lintang di tempat lain.

           “Aku ingin bertemu, naik ke puncak gunung, merasakan kebebasan. Sepertinya cukup bagus untuk acara reuni kita. Kamu bisa sekalian ajak Mawar untuk temani Bintang.

           Itu adalah penghujung surat yang dikirim Lintang kepada Awan minggu itu.

           Pemuda ini amat girang menerima kabar dari teman lamanya. Ia segera memberitahu Mawar, adiknya, akan isi surat tersebut.

           “Beritahu kak Bintang,” ucap adiknya itu penuh semangat. Baru saja ia pulang sekolah bahkan seragam putih birunya belum dilepas ketika kabar dari Lintang disampaikan oleh kakaknya. “Kapan kita berangkat?”

           “Liburan akhir semester, Lintang bilang begitu.”

           Mawar mengangguk semangat.

           Reuni kecil-kecilan itu amat meriah, Bawang berkumpul kembali. Lintang dan Awan saling rangkul satu sama lain, sedangkan kepada Bintang, Lintang hanya berjabat tangan. Namun, dalam jabat tangan itu terdapat suatu getaran yang hanya bisa dirasakan masing-masing.

           Mereka yang bahkan sudah saling mengenal sejak baru keluar dari rahim ibu—sebuah dongeng karangan Lintang—telah berpisah selama dua tahun lebih tanpa kabar. Dan kini mereka dipertemukan kembali dalam keadaan yang amat baik. Mereka merasa bahagia.

           Berangkatlah mereka. Karena sudah pernah mendaki gunung sebelum ini, maka tidak tanggung-tanggung, mereka mendaki gunung tertinggi Pulau Jawa, Gunung Semeru.

 

===

 

           “Mawar hilang, terpeleset ke dalam jurang. Dan Bintang menderita sakit yang entah bisa sembuh atau tidak, semoga bisa. Hanya saja, kini semuanya sudah berubah.

           Awan mengisi Buku Petualang milik Bintang tanpa peduli gadis itu akan mengizinkannya atau tidak. Ia menutup buku itu, menatap pintu rumah sakit yang selalu tertutup, menghela napas panjang. Entah kapan ia akan sadar.

           “Ini semua gara-gara kau!” sergah Awan setelah sekian lama lorong itu sunyi. Matanya merah menahan tangis. “Gara-gara kau, bajingan!”

           “Maaf.” Hanya itu yang bisa dikatakan oleh Lintang saat ini. Ia pun mati-matian menahan tangisnya. “Aku tak tahu akan berakhir seperti ini. Aku tidak menyangka Bintang akan terkena asma, dan Mawar ... aahh ....”

           Awan menangis.

           Ayah dan ibu mereka datang di waktu bersamaan. Tampak ekspresi khawatir menghiasai wajah-wajah mereka. Terutama mama Bintang yang amat sensitif.

           “Bagaimana keadaan Bintang?” tanya mamanya.

           Lintang menggeleng dan Awan masih terus menangis, membuat perempuan itu tak dapat menahan rasa khawatirnya.

           “Ma, tunggu sini!” Papa Bintang sudah menahan istrinya yang hendak pergi ke ruang ICU. Perempuan itu mulai menangis.

           Ketika Lintang ditanya oleh ayah dan ibunya, ia hanya bisa menjawab. “Aku tidak menduga akan berakhir seperti ini.”

           Beberapa saat berselang, pintu ruang ICU terbuka dan dokter keluar dari sana. Wajahnya nampak sedikit kaget melihat tiba-tiba sudah banyak orang yang menunggu di luar.

           Mama Bintang tak mampu menahan diri lagi, ia bangkit dan menghampiri sang dokter. “Bagaimana keadaan anak saya, Dok?”

           “Anda orang tuanya?”

           Mama Bintang refleks mengangguk cepat.   

           Si dokter menghela napas. “Kondisinya buruk. Ia mengalami syok hebat dan saat ini dalam keadaan koma.”

           Saat itu juga, mama Bintang roboh terkulai. Pingsan.

 

***

 

           Pertemuannya dengan Awan di Desa Panian membangkitkan semua kenangan lama. Lintang terus memikirkan perkataan pemuda itu. Saat perjalanan kembali ke rumah sakit dengan tas besar yang berisi berbagai buku Anniyah, ucapan Awan terus terngiang-ngiang

           Setelah ia keluar dari rumah nenek Anniyah yang kini ditempati ayahnya, ternyata Awan masih menunggu di luar dengan bertopang pada cangkulnya yang sudah berkarat, sabit melengkung terikat pada pinggangnya. Entah ia sudah pulang atau hendak berangkat ke sawah.

           Awan menatapnya sengit. Tidak ada lagi persahabatan di antara mereka sejak hari itu.

           “Untuk istrimu?”

           “Ya ...,” jawab Lintang jujur. Ia coba tersenyum seraya menjinjing tas tersebut. “Kau kelihatan sehat.”

           Awan tak menjawab.

           Keadaan mereka menjadi canggung. Lintang beranjak menghampiri motornya. Ia sebelumnya sudah berpamit dengan ayah Anniyah bahwa ia akan segera pergi setelah mengambil semua buku, pria itu mengangguk menyetujui lantas pergi keluar rumah dari pintu belakang, mungkin pergi ke sawah. Maka dari itulah saat Lintang akan pulang, tak ada yang mengantar sampai pintu rumah.

           “Bagaimana keadaan istri dan anakmu?” tanya Lintang mencoba akrab.

           “Baik,” ketus Awan. “Jauh lebih baik seandainya kau tidak mengajak pergi ke puncak kala itu.”

           Lintang menghela napas panjang, menatap sahabatnya­, atau mungkin mantan sahabatnya, dengan iba. “Oh, ayolah ... jangan mengungkit masa lalu. Bukalah matamu, ini kenyataan. Semua sudah terjadi dan tak akan pernah berubah.”

           “Ya. Ini kenyataan,” ulang Awan. Ia memanggul cangkulnya lalu mendengus. “Aku sudah menerimanya. Aku mencinta istriku, sama seperti aku mencinta Bintang. Hanya saja ....” Ia menunjuk wajah Lintang. “Aku belum memaafkanmu. Lebih tepatnya tidak tahu bagaimana cara memaafkanmu.”

           “Bintang itu ....”

           “Mawar hilang!” Mata Awan melotot marah. “Dan Bintang mati tak lama kemudian. Kaupikir perbuatan siapa itu?”

           Dada Lintang memanas, ia mulai emosi. “Awan, kau keterlaluan! Bintang tidak ....”

           “Cukup!” bentak Awan. “Pulanglah dan urus urusanmu. Bagaimanapun, bagiku Bintang sudah mati, Bintang sudah tidak ada, tidak ada lagi Bintang, tidak ada lagi Bawang. Sampai jumpa dan jangan kembali lagi ke sini!”

           Setelah itu Awan pergi meninggalkannya tanpa menoleh sedikit pun.

           Perasaan Lintang campur aduk. Benar saja, benar ucapan Awan. Jika saja waktu itu ia tidak mengajak mereka pergi mendaki, atau setidaknya mendaki gunung yang lebih pendek, mungkin sampai sekarang Bawang masih ada.

           “Bintang ...,” ucapnya lirih.

 

***

 

           Keadaan Anniyah tak kunjung membaik. Beberapa bulan setelah itu, penyakitnya bahkan makin parah. Tetapi, Anniyah sungguh luar biasa, walau matanya semakin redup seiring bertambahnya hari, ia tak pernah lupa memberi senyum hangat setiap kali Lintang pulang kerja dan menjenguknya di rumah sakit.

           “Ini bukan kali pertama kau melihatku masuk rumah sakit,” Anniyah terkekeh. Ia membalik satu halaman buku, tapi tak langsung dibacanya. Ia lebih fokus menatap suaminya. “Kau tahu tubuhku sudah lemah sejak dulu kala, bahkan ketika masih remaja. Kenapa kau kelihatan khawatir sekali?”

           Memang wajah Lintang amat kusut. Pikirannya penuh dengan segala persoalan di tempat kerja, ditambah tubuh yang lelah, dan yang pasti, khawatir akan kesehatan Anniyah. Ia tak pernah bercerita soal pertemuannya dengan Awan beberapa bulan lalu, takut hal itu bisa memperparah kondisi Anniyah. Untungnya Anniyah tak banyak tanya, memang sosok istri yang memahami suaminya.

           Anniyah menekuk sebagian kertas di salah satu halaman lantas menutupnya. Ia mengambil teko berisi air putih dan menuangkannya pada sebuah gelas. “Minumlah.” Anniyah menyodorkan gelas itu pada suaminya.

           Lintang mengangguk dan meneguknya habis. “Kau istri yang baik, seperti namanya.”

           Anniyah tersenyum malu. “Kukira kau tak lupa, istri yang baik memang kewajiban setiap istri. Itu tak ada hubungannya dengan namaku.”

           Lintang tertawa. “Haha, maksudku istri yang kuat.”

           Anniyah ikut tertawa.

           Lintang tak pernah menyangka seujung rambut pun bahwa pada sore hari itu, jam empat lewat dua puluh menit, adalah hari terakhirnya bisa merasakan kebersamaan bersama sang istri. Tertawa bersama dan berbagi kisah lama. Sesekali Anniyah tersipu ketika ia diingatkan dengan cerita-cerita romantis mereka sewaktu masih menjadi pasutri baru, dan akan tertawa terpingkal setiap kali Lintang mengungkit kembali cerita masa kecil. Ketika Lintang terpeleset dan masuk ke sawah yang hampir panen, dan ia diomeli oleh pemilik sawah. Anniyah hanya mampu tertawa.

           Tetapi itu bertahan sampai jam sembilan malam saja.

           “Aku mengantuk, mau tidur.”

           “Tidurlah,” Lintang mengecup kening istrinya lembut. “Sampai jumpa besok.”

           Anniyah tersenyum, mencium pipi suaminya, dan menutup mata.

           Hari esok, Anniyah tak pernah lagi membuka mata. Itu perjumpaan terakhir Lintang dengan Anniyah ketika ia melihat wanita itu “tidur” miring ke arah kanan dengan bibir merekah membentuk seutas senyum. Lintang baru menyadari saat menyentuh tangan Anniyah keesokan harinya, tak ada perasaan hangat, dan wajah itu, tangan itu, bibir itu, tidak seperti sebelumnya. Kini terlihat lebih pucat. Lintang tak bisa menahan tangis.

           Sama seperti Bintang, Anniyah pun kini tak akan kembali lagi.

 

===

 

           Penyakit yang diderita Bintang akibat syok dan kedinginan itu dapat membaik. Tetapi mulai saat itu, tubuh Bintang melemah, daya tahan tubuhnya berkurang dan sering kali jatuh sakit. Beberapa kali ia izin tidak masuk sekolah hingga wali kelasnya memutuskan untuk mendatangi rumah Bintang setiap kali ada ulangan. Sedangkan materi untuk guru lain, wali kelas mewajibkan teman-temannya untuk membagi catatan kepada Bintang.

           Gadis yang malang.

           Tubuhnya makin lemah disusul kecerian yang jauh berkurang dari sebelum-sebelumnya. Mawar hilang, berita terkini menyampaikan tak dapat menemukan gadis itu dan akhirnya tim pencari angkat tangan. Bintang menyesali perbuatannya yang tak mampu meraih tangan Mawar tepat sebelum gadis itu masuk jurang. Kala itu tubuhnya sudah seperti membeku dan sedang dalam perjalanan turun atas usul Awan yang melihat keadaan Bintang. Terjadilah malapetaka itu.

           Mawar tak sengaja menginjak tempat licin yang miring. Tanahnya merosot sekaligus menyeret Mawar ke dalam jurang yang teramat dalam. Teriakan Mawar terdengar makin lirih ketika tubuhnya meluncur deras, lalu tak terdengar apa pun tepat setelah tubuhnya ditelan daun-daun pohon di bawah sana.

           Sejak hari itu, sepasang matanya yang secerah dan segemilang bintang di langit malam, mulai meredup bahkan kehilangan cahayanya.

           Siang hari itu rumahnya didatangi banyak orang, salah satunya adalah guru ngajinya dulu waktu kecil, Pak Fikri. Ia tersenyum ramah ketika dapat melihat lagi muridnya setelah sekian lama.

           “Lama tidak jumpa, Bintang.”

           Bintang hanya mengangguk.

           Mama Bintang menyediakan secangkir teh hangat di atas nampan lalu meletakkannya di meja.

“Maaf merepotkan,” ucap Pak Fikri sungkan.

           Mama Bintang hanya tersenyum.

           “Kenapa Pak Ustadz datang?” Bintang terkejut sendiri dengan ucapannya beberapa saat kemudian, menyadari ucapan itu terlalu kasar.

           “Mama dan papamu yang mengundang,” Pak Fikri menjawab. “Mereka bilang matamu mulai redup, tidak secerah bintang di langit sana.”

           “Mama memang terlalu puitis,” potong Bintang. Kembali ia terkejut, refleks menutup mulutnya. “Maaf.”

           Ustadz itu terkekeh. “Sepertinya papamu benar.”

           “Papa?”

           “Ya,” Pak Fikri mengangguk-angguk, menghela napas. Masih dengan senyum lembutnya ketika berkata. “Papamu bilang kau berubah. Sekarang jadi lebih ketus, lebih keras, semua berubah sejak kejadian itu.”

           Bintang termenung. Sejauh itukah ia berubah? Ia menatap papa dan mamanya yang juga ada di sini, kemudian menundukkan kepala.

           “Karena itulah papamu mengusulkan satu hal yang membuat aku ini datang ke sini.”

           “Apa itu?” Bintang tertarik.

           “Kamu sudah berubah, tidak seriang dulu, begitu kata papamu. Dan sekarang aku bisa melihat matamu redup, memang redup, tidak sesuai dengan nama Bintang.”

           “Lalu kenapa?” sergah Bintang. “Setelah semua kejaian itu, apa aku masih bisa tetap tertawa seperti dulu?”

           “Itu sulit,” jawab guru ngajinya. “Tapi bukan itu yang ingin gurumu ini sampaikan. Ini soal kesehatanmu.”

           Bintang sama sekali masih belum punya dugaan untuk apa gurunya ini datang. Ia hanya diam mendengarkan.

           “Nama itu doa, dan papamu ingin aku memberimu nama baru terkait keadaanmu itu.”

           Bintang menatap papanya, setengah tidak percaya. Nama baru? Yang benar saja.

           “Pak Ustadz, aku tidak butuh nama baru. Apa hubungannya dengan kesehatanku?”

           “Ada,” jawab gurunya. “Agar kau diberi ketabahan dan kekuatan untuk melawan dirimu sendiri. Kau sekarang mungkin tak seriang dulu, tak selincah dulu, tapi itu tidak masalah. Aku, mama dan papamu ingin kau menjadi kuat, menjadi wanita kuat yang mampu melawan penyakitmu itu. Kau pasti bisa”

           Bintang masih diam.

           “Karena itu aku sudah putuskan, nama belakangmu akan ditambah kata Anniyah, dalam bahasa arab artinya kuat. Namamu kini bukan hanya Bintang yang berarti gemilang dan bersinar terang. Namun juga Anniyah, Bintang Anniyah. Bintang yang kuat, cahaya yang tangguh. Kau pasti kuat menghadapi masa depanmu, Nak.”

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Cerpen
Nama Itu Doa
Rakanta
Novel
Masa Lalu Itu...
Thoriq Hood
Novel
Bronze
Hidden Memories
Rene
Novel
Melody Untuk Dylan
Aoi Hon
Novel
Bronze
Putih Polos Avicenna
Ravistara
Novel
Lara Larasati
almiralth
Novel
Tidak Ada Kata Berhenti Untuk Seorang Bajingan
ferry fansuri
Novel
Rantau 1992
Saras Agustina
Novel
EVERY SECOND
Nisa Jihad
Novel
Gold
PCPK Forever Friends
Noura Publishing
Novel
BE A SOCCER MANAGER
kikukukakaka
Novel
Skizofrenia
Adhi Saputra Batubara
Novel
Bronze
Thongngin Fanngin Jitjong
Megumi
Novel
KARTINI REFORMASI
Laili Rachmawati
Novel
Bronze
Resolusi-Resolusi Gila
Ansito Rini
Rekomendasi
Cerpen
Nama Itu Doa
Rakanta
Flash
Kakek, Lihatlah Hari Ini
Rakanta
Cerpen
Rindu Tak Bertepi
Rakanta
Cerpen
Personifikasi
Rakanta
Cerpen
Bronze
Cintai Aku Tuhan
Rakanta
Cerpen
Dia Sahabatku
Rakanta
Cerpen
Warna-Warna Palsu
Rakanta