Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
BAB I: SUDUT MEJA NOMOR TUJUH DAN AROMA ARABIKA
Di antara desis mesin uap dan trotoar megapolitan yang basah. Pukul 21.15 WIB - Kedai Kopi Karsa, Sudut Jalan Thamrin.
"Bagi orang-orang yang bergegas pulang, malam adalah akhir dari hari. Namun bagiku, malam adalah saat dunia membuka topengnya dan membiarkan cerita-ceritanya bernapas."
Hujan senja baru saja menyisakan genangan berair kecokelatan di sepanjang aspal Jalan Sudirman ketika Rian mendorong pintu kaca Kedai Kopi Karsa. Lonceng kuningan kecil di ambang pintu berdentang lembut, suara ramah yang kontras dengan dengung klakson dan raungan bus kota yang sejak dua jam lalu saling menyumpahi kemacetan Jakarta. Begitu kakinya melangkah masuk, kehangatan yang dipenuhi aroma biji kopi arabika yang baru digiling dan desis mesin espresso Nuova Simonelli langsung menyelimuti tubuhnya yang agak basah di bagian pundak.
"Meja nomor tujuh lagi, Rian?" suara serak basah menyapa dari balik bar marmer hitam. Itu suara Pak Teguh, pria paruh baya berusia lima puluh tahunan dengan celemek kanvas cokelat yang sudah pudar di bagian saku. Rambutnya telah memutih di kedua pelipis, namun tangannya memegang porta-filter dengan ketenangan seorang empu yang sedang menakar racikan pusaka.
"Selalu, Pak," jawab Rian sambil tersenyum tipis. Wajahnya yang tirus memperlihatkan lingkaran hitam samar di bawah mata—tanda khas seseorang yang menukar waktu tidurnya dengan bait-bait kalimat yang belum rampung. "Tolong seperti biasa. Single origin Gayo seduh manual, v60. Jangan terlalu panas."
"Biji yang baru disangrai tiga hari lalu. Karakter buah dan aroma rempahnya sedang di puncak kejayaan. Duduklah, biar kuantarkan sebentar lagi," kata Pak Teguh dengan kerlingan mata yang penuh pengertian. Sudah hampir delapan bulan Rian menjadi penghuni tetap meja nomor tujuh, meja kecil dari kayu jati reklamasi yang bersandar tepat di sudut kaca etalase toko yang menghadap ke persimpangan jalan protokol.
Rian melepas ransel kanvas lusuhnya, meletakkannya di kursi kayu cadangan, lalu menghempaskan diri ke kursi rotan yang sudah akrab dengan lekuk punggungnya. Ia menarik napas panjang, membiarkan udara beraroma kafein, kayu manis, dan uap air membersihkan rongga dadanya dari asap knalpot dan kelelahan mental yang menumpuk seharian. Di siang hari, Rian adalah buruh kata: seorang copywriter tingkat menengah di sebuah agensi periklanan digital di kawasan Kuningan. Tugasnya adalah menyusun slogan lima detik untuk detergen ramah lingkungan, menata narasi promosi diskon tanggal kembar, atau memoles takarir media sosial agar terdengar memikat di mata algoritma. Pekerjaan itu memberinya uang sewa kamar kos seluas tiga kali empat meter di gang sempit Karet Pedurenan dan sepiring nasi rames dua kali sehari. Namun, pekerjaan itu perlahan mengikis jiwanya.
Di siang hari, kata-kata yang ia susun adalah komoditas mati yang dipe...