Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Horor
Bronze
Nada Berdarah
1
Suka
5,354
Dibaca

Bab 1 – Pemutar Lagu, Pemanggil Luka

Bayu, seorang pemuda yang dibentuk oleh gema masa lalu, hidup dalam bayangan obsesi yang tak terlihat. Bukan harta atau kekuasaan, melainkan sejarah kelam Indonesia, khususnya tahun 1965, yang menariknya seperti magnet. Sejak kecil, ia dibisiki cerita tentang kakeknya, seorang pria yang lenyap ditelan kegelapan tahun itu, meninggalkan lubang menganga di hati keluarganya dan pertanyaan tak berjawab yang menghantui Bayu hingga dewasa. Ia percaya, dengan menggali masa lalu, ia mungkin menemukan jejak kakeknya, atau setidaknya, memahami kebisuan yang menyelimuti nasibnya.

Setiap akhir pekan, Bayu menjelajahi pasar loak, sebuah labirin waktu yang dipenuhi benda-benda usang, masing-masing menyimpan cerita bisu. Ia merasakan energi aneh dari barang-barang tua, seolah mereka adalah kapsul waktu yang menunggu untuk dibuka. Di antara tumpukan perkakas karat dan buku-buku lusuh, matanya terpaku pada sebuah pemutar piringan hitam antik. Kayunya yang kusam, jarumnya yang berkarat, dan tuasnya yang dingin seolah memanggilnya. Di samping pemutar itu, tergeletak satu piringan hitam tanpa sampul, hanya sebuah label kertas lusuh bertuliskan tangan: "Suara Nusantara 1940–1965". Angka-angka itu, terutama "1965", sontak membuat jantung Bayu berdesir. Ini dia, mungkin ini petunjuk yang selama ini ia cari.

Pemilik toko, seorang lelaki tua dengan mata cekung dan aura misterius, memperhatikan ketertarikan Bayu. "Nak, benda ini," katanya, suaranya serak dan perlahan, menunjuk pemutar dan piringan itu, "tidak sembarangan. Ia punya jiwanya sendiri. Ia tidak menyukai kebohongan sejarah." Matanya menatap Bayu tajam, seolah menembus relung jiwanya. "Kalau kau berniat membelinya hanya untuk sekadar koleksi, lupakan. Ia akan menunjukkan padamu apa yang benar-benar terjadi. Bersiaplah." Bayu mengangguk, jantungnya berdebar kencang, antara rasa takut dan antisipasi. Peringatan itu justru semakin menguatkan keyakinannya bahwa ia telah menemukan sesuatu yang luar biasa. Ia membayar harga yang diminta, yang sebenarnya tidak seberapa dibandingkan dengan potensi rahasia yang mungkin disimpannya.

Sesampainya di rumah, Bayu meletakkan pemutar piringan hitam itu di meja kerjanya, di samping tumpukan buku sejarah dan peta usang. Ruangan itu dipenuhi aroma kertas tua dan kopi dingin, mencerminkan dunianya yang tenggelam dalam masa lalu. Ia mengamati pemutar itu, membersihkan debu yang menempel, merasakan tekstur kayunya yang lapuk di bawah ujung jarinya. Ada aura mistis yang terpancar darinya, seolah benda itu bernapas, menunggu saatnya untuk hidup kembali.

Piringan hitam "Suara Nusantara 1940–1965" kini ada di tangannya. Ia membalik-balik piringan itu, mencari goresan atau cacat, tetapi permukaannya tampak mulus, seolah tak pernah disentuh. Kenapa tahun 1965? Apakah ini kebetulan, atau takdir? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di benaknya, menambah lapisan misteri pada temuannya. Ia teringat kata-kata penjua...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp10.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Cerpen
Bronze
Nada Berdarah
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
PUKNYARTINGI "Lilis"
Iena_Mansur
Novel
Gold
Fantasteen Deadly Claws
Mizan Publishing
Novel
Bronze
Putri Kiai yang Tak Berhijab
Yuli Yastri
Novel
Gold
Fantasteen Scary Soul Eater
Mizan Publishing
Novel
Gold
Fantasteen Ghost`s Whisper
Mizan Publishing
Novel
Bronze
Badan Intelijen HANTU
Ainun
Flash
Bronze
Meja Operasi
Nila Kresna
Cerpen
Bronze
Aku Dan Siapa
SUWANDY
Novel
Bronze
Sesal
an sanaz
Flash
Lukisan Rendra
Rafael Yanuar
Cerpen
Bronze
Not Your Nightmare: The Cliff (Jalan yang salah)
Memento Mori
Novel
TELUH
RF96
Novel
Gold
At the Mountains of Madness dan Other Stories
Noura Publishing
Cerpen
WARISAN KETIGA
IGN Indra
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Nada Berdarah
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Penjara Abadi
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Streamer Yang Tragis
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Tak Ada Percaya Pada Ku
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Luka Di Kota Tua
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Bayang - Bayang Senja
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Suwanita
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Harmoni Kegelapan
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Pelaku
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Jumat Akhir Bulan Juli
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Arga
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Indigo
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Ibu
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Kaca Retak
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Bayang Dalam Cermin
Christian Shonda Benyamin