Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
N3tra: Jatuh Cinta Versi Nera
0
Suka
3
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Upacara hari Senin biasanya menjadi momen yang paling dikeluhkan para siswa karena teriknya matahari yang membakar. Namun, bagi siswi bernama Nera Zenala, hari Senin adalah saat yang ditunggu-tunggu. Di bawah sinar matahari yang kian menyengat kulit, Nera menemukan keindahan dalam sepasang mata laki-laki yang membuat jantungnya berdegup lebih kencang—sosok yang telah lama mengisi hatinya. 

Upacara rutin hari senin berjalan seperti biasa, diiringi dengan cuaca yang terasa lebih panas dari biasanya, ditambah lagi dengan pidato kepala sekolah yang seolah tidak ada habisnya. Ketika akhirnya barisan dibubarkan, suasana langsung menjadi kacau. Di tengah keramaian itu, Nera kehilangan jejaknya; matanya sibuk berusaha mencari sosok “dia”.

Senyum Nera langsung merekah saat melihat punggung seseorang yang sangat dikenalnya. “Ayo Ya, lewat sini,” katanya sambil menarik tangan Yaya, teman sebangkunya, untuk berjalan di belakang “dia”. Hanya dengan berada sedekat ini, wajah Nera sudah memerah seperti tomat, apalagi jika ia berhasil berjalan berdampingan dengan “dia”.

Yaya yang sudah hafal dengan kebiasaan temannya itu berbisik, “Suka tuh bilang, jangan dipendam aja. Entar diambil orang, baru tau rasa lo.”

“Udah bilang, kok,” ucap Nera santai, membuat mata Yaya membelalak lebar.

“Hah?! Lo udah confess?”

“Udah gue aduin ke Yang Punya Kuasa hidup dan mati,” balas Nera sambil tertawa, lalu menerima pukulan kecil dari Yaya yang membuat mereka berdua tertawa besama.

Ditengah tawa itu, suara Andika—teman Putra—memecah suasana. “Semalem minta nomor Fia, ada perlu apa deh lo? Naksir ya?”

“Dia” yang dimaksud Nera adalah Putra, cinta pertamanya sejak SMP. Siapa yang menyangka Nera akan dipertemukan lagi dengan cinta pertamanya di SMA ini? Sudah tiga tahun lamanya Nera menjalani cinta bertepuk sebelah tangan, dari pertengahan kelas 8 SMP sampai sekarang kelas 11.

Nera dan Yaya saling pandang setelah mendengar perkataan Andika. Yaya bisa melihat perubahan ekspresi Nera, dari senang menjadi sendu. Fia adalah adik kelas sekaligus tetangga Nera yang sering berangkat dan pulang sekolah bersama. Nera mempercepat langkahnya melewati Putra dan Andika, diikuti Yaya yang mencoba mengimbangi langkah terburu-burunya.

“Ra, udah dong, jangan sedih gitu. Siapa tau Putra minta nomor Fia cuma mau nambah kontak doang,” ucap Yaya, mencoba menghibur Nera yang dari pelajaran pertama sampai pulang sekolah terus memasang wajah murung.

“Tapi nggak nutup kemungkinan kalau Putra naksir Fia, kan? Siapa tahu beneran mau deketin Fia,” balas Nera dengan nada khawatir.

“Lo jangan pesimis gitu dong. Positif thinking aja, Ra. Jangan dipikirin terus, nanti lo gila, gue nggak ada temen lagi,” Ucap Yaya dengan ekspresi sedih yang dibuat-buat.

Nera tersenyum, merasa beruntung masih punya teman seperti Yaya. Meskipun sering memperdebatkan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu, Nera bersyukur karena Yaya selalu ada di sisinya.

Saat tiba di parkiran, Nera melihat Fia sedang berbincang dengan seseorang yang sangat ia kenal—Putra. Melihat hal itu, Yaya langsung menghampiri dan menyapa Fia, membuat Fia dan Putra menoleh ke arah sumber suara. Tanpa berkata sepatah kata pun kepada Nera maupun Yaya, Putra segera mengakhiri pembicaraannya dengan Fia dan pergi meninggalkan mereka bertiga.

“Siapa, Fi? Gebetan lo, ya?” tanya Yaya pura-pura penasaran.

“Ah, bukan siapa-siapa kok. Ayo langsung pulang aja, Kak Ra,” balas Fia dengan senyum sumringah.

Di tengah perjalanan pulang, Nera mencoba menanyakan mengapa tiba-tiba Fia terlihat dekat dengan Putra. Namun, jawaban Fia sama saja seperti sebelumnya, membuat Nera semakin bingung. Ditambah lagi, raut wajah Fia hari ini terlihat seperti orang yang sedang jatuh cinta—sangat bahagia.

“Menurut Kak Ra, Kak Putra tuh orangnya gimana?”

“Kenapa nanya gue?” Nera melirik Fia dari kaca spion. Jujur saja, Nera merasa ingin menurunkan Fia di jalan jika benar gadis itu menyukai Putra, yang sudah menjadi incarannya selama bertahun-tahun. Namun, niat itu tentu hanya sebatas batin saja, hingga akhirnya mereka sampai di depan rumah Fia.

“Soalnya kan Kakak kenal Kak Putra udah dari SMP, pasti tau dong Kak Putra orangnya gimana?” jawab Fia sambil turun dari motor Nera. Kini, ia berdiri di samping Nera yang masih berada di atas motor.

Nera menarik napas perlahan-lahan, berusaha menenangkan hatinya yang bergejolak. “Putra tuh nakal, suka main cewek, gak peka. Mending lo jangan deket-deket sama dia. Red flag banget deh pokoknya.” Sebenarnya itu hanya trik agar Fia tidak dekat-dekat lagi dengan Putra.

Mendengar jawaban itu, Fia terkekeh. “Oke deh, Kak. Oh iya, besok gue nggak berangkat bareng Kak Ra ya.”

“Lah, kenapa?”

“Ada deh,” kata Fia sambil melambaikan tangan sebelum masuk ke dalam rumah.

Awalnya, Nera mengira Fia hanya tidak berangkat bersamanya satu hari. Namun, hari demi hari berlalu dan Fia terus saja berangkat lebih dulu setiap pagi. Rasa penasaran Nera pun semakin memuncak, bertanya-tanya siapa yang menjemput Fia lebih awal.

Saat Nera membuka pintu untuk berangkat sekolah pagi ini, ia terkejut melihat Yaya sudah berdiri di depan rumahnya. “Lo ngapain di sini, anjay?” ucap Nera dengan mata terbelalak.

“Jemput lo lah. Lama banget sih lo, barusan Fia berangkat dijemput cowok, tahu!.”

“Serius? Lo liat siapa yang jemput Fia?” tanya Nera penasaran, alisnya terangkat.

“Gue liatnya cuma dari belakang, tapi masa mirip banget sama si Putra,” jawab Yaya, membuat Nera terpaku sejenak.

Nera merasakan hatinya berdebar. Apakah kisah cinta tiga tahunnya harus berakhir bahkan sebelum benar-benar dimulai? Bayangan Putra yang menjemput Fia terus menghantuinya sepanjang perjalanan ke sekolah, pikirannya dipenuhi tanda tanya tentang bagaimana kelanjutan kisahnya.

Sesampainya di parkiran, Nera tiba-tiba berkata, “Gue udah mutusin.” Suaranya tegas, seolah telah menemukan jawaban dari segala kebimbangannya.

“Lo mau relain Putra buat Fia, Ra? Emang bisa? Putra kan first love lo.” Sesaat, Yaya merasa bangga karena temannya itu ternyata bisa ikhlas juga setelah tiga tahun memendam perasaan.

“Siapa bilang gue mau relain Putra gitu aja? Gue baru bilang kalau udah mutusin, ya, bukan relain.” Hampir saja Yaya meneteskan air mata, lalu bingung—sebenarnya apa yang dipikirkan temannya itu?

“Terus yang lo maksud mutusin tuh mutusin apa? Hubungan lo? Mulai aja belum, udah main putus-putusin aja,” jawab Yaya, membuat Nera seperti ditampar fakta menyakitkan.

“Gue mutusin buat confess. Habis itu baru relain Putra sama Fia… kalau bisa.”

“Wah, kemana perginya Nera yang gengsian itu? Emang punya nyali buat bilangnya?”

“Berisik ah, temennya BoBoiBoy,” ujar Nera, lalu berlari meninggalkan Yaya yang sedang memakirkan motornya.

Sesampainya di depan kelas, Nera merasa heran. Mengapa pintu kelas masih tertutup? Apa belum ada yang datang sebelum dirinya?

Tiba-tiba, pintu kelas terbuka, dan yang membuat Nera terkejut adalah sosok Putra yang muncul di baliknya. Dalam sepersekian detik, Nera terpaku, hatinya berdegup kencang. Untuk pertama kalinya, Putra berdiri begitu dekat di depannya, hanya berjarak beberapa langkah saja.

“Hai, Nera.” Untuk pertama kalinya juga, Nera mendengar Putra menyebut namanya secara langsung. Suara itu membuat hatinya berdebar semakin kencang.

Karena terlalu gugup, Nera tidak membalas sapaan Putra. Ia hanya berjalan masuk melewati laki-laki itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

“Kenapa nggak bales sapaan gue? Gue cowok baik-baik, kok,” ucap Putra dengan nada menggoda, menghentikan langkah Nera tanpa membuatnya menoleh.

“Gue tahu,” jawab Nera sesingkat mungkin, berusaha menyembunyikan kegugupannya yang terasa semakin nyata.

“Gue juga nggak suka main cewek. Gue sukanya cuma lo.”

Ucapan Putra membuat Nera sontak berbalik menatapnya, membuat debar di dadanya kian tak terkendali. Apa maksudnya?

“Ah, lo pasti bingung ya? Biar gue jelasin pelan-pelan. Gue tahu beberapa hari lalu lo denger percakapan gue sama Andika, iya kan? Gue cuma mau tanya-tanya soal lo lewat Fia.”

“Jangan bohong, Fia sampai tanya-tanya ke gue tentang lo orang nya kayak gimana,” balas Nera, akhirnya buka suara untuk menanyakan bagaimana sebenarnya hubungan Putra dan Fia jika laki-laki itu menyukai dirinya.

“Itu gue yang nyuruh. Gue cuma pengen tahu gimana sih gue di mata lo, tapi jawaban lo malah bikin sedih. Masa lo nganggep gue cowok nggak bener sih,” balas Putra dengan ekspresi sedih yang dibuat-buat, membuat Nera hampir tidak bisa menahan diri untuk tidak mencubit pria di depannya itu.

“Tapi lo tiap hari selalu berangkat bareng Fia, kan?” tanya Nera lagi, masih sedikit penasaran.

“Itu bukan gue, tapi adik gue. Kebetulan Fia suka adik gue, jadi kita saling bantu,” jelas Putra, membuat Nera tak bisa lagi menyembunyikan rasa senangnya.

“Maaf ya udah bikin lo salah paham berhari-hari. Gue cuma pengen tahu, apa lo juga ngerasain hal yang sama kayak yang gue rasain? Nera, gue harap kita bisa mulai jalin hubungan yang lebih dekat dan spesial. Gimana menurut lo?”

Nera tertegun sejenak. Otaknya sempat kosong, gagal memproses semua penjelasan yang baru saja ia dengar. Tiga tahun memendam rasa, mengira cintanya bertepuk sebelah tangan, dan mendadak, sosok di hadapannya ini menawarkan hal yang selama ini hanya berani ia impikan.

Alih-alih langsung menjawab, bibir Nera justru bergetar menahan senyum yang mendesak ingin keluar. “Lo… gak lagi ngeprank gue, kan?” tanyanya ragu-ragu.

Putra terkekeh pelan, tatapannya melembut. “Mana bisa aku ngeprank cewek yang udah aku perhatiin dari kelas delapan?” Mendengar kata aku keluar dari mulut Putra, pipi Nera yang tadinya sudah mereda kini kembali memerah hebat. Perlahan, pertahanannya runtuh. Ia menunduk sebentar untuk menyembunyikan salah tingkahnya, lalu kembali menatap Putra dengan mata berbinar.

“Gimana ya… sebenarnya hari ini gue juga udah siap mental buat confess ke lo, atau paling tidak, ikhlasin lo buat Fia asalkan lo bahagia,” suaranya melirih pelan karena malu. “Tapi kalau situasinya kayak gini… ya kali gue tolak?”

Putra tersenyum hangat, lalu mengelus pucuk kepala Nera lembut. “Mata kamu ternyata lebih cantik dilihat dari dekat, ya,” balasnya penuh arti.

“Emang boleh sebucin itu, Ra?” Suara Yaya yang tiba-tiba muncul dari balik pintu membuat pasangan baru itu terlonjak kaget.

“Kak Ra, maafin gue!” Fia yang mengekor di belaakng Yaya langsung berlari memeluk lengan Nera, meringis tanpa dosa karena sudah ikut-ikutan menyembunyikan rahasia.

“Gak usah meluk-meluk cewek gue, lu!” protes Putra sambil menarik pelan Fia agar menjauh dari Nera, membuat Yaya tergelak kencang.

Hari itu adalah hari yang sangat Nera nantikan. Kisah cinta yang selama tiga tahun hanya hidup dalam angan-angan kini resmi dimulai. Memang, tidak ada yang tahu bagaimana kelanjutan hari-hari mereka ke depan. Namun untuk saat ini, Nera hanya ingin menikmati rasanya menjadi tokoh utama yang bahagia di dalam ceritanya sendiri.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Cerpen
N3tra: Jatuh Cinta Versi Nera
nazwa azza
Novel
Can I With You
Cindy Permata
Novel
Rinai Kenya
Dya Dauri
Novel
Bronze
Fallen Angel
Naftalia Satra
Novel
Ruang Rindu
Shasadewa
Novel
Perempuan Asap Rokok
Rafdi Akbar
Flash
Belum diperbolehkan sayang
Rizky dewita silaban
Novel
Bronze
Dan Ada Cinta Yang Membunuh
Mikhael Dwi Arolly Putra Kufa
Novel
AFEKSI
Erisa Vindia
Novel
I Love You From Darkness to Light
Mesach Kartika
Flash
Bronze
Persentase yang Tertinggal
Ahmad Wahyudi
Flash
Gravitasi
lidia afrianti
Novel
Gold
Love Splash
Noura Publishing
Flash
Pamanku Pendiam
Dirman Rohani
Flash
Jadi, Ternyata...
Keita Puspa
Rekomendasi
Cerpen
N3tra: Jatuh Cinta Versi Nera
nazwa azza
Flash
Merayakanmu dari Jauh
nazwa azza
Cerpen
Cerita di Langit Kata
nazwa azza