Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
My Wife
0
Suka
16,083
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

“KRIIIINGGGG!!!!”

Suara beker yang sangat keras membangunkanku dari tidurku yang tak lelap.

“KRIIIIINGGG!!!” Dengan kesal kumatikan beker itu. Ya ampun, hampir saja kubanting saking kesalnya.

“Pagi sayang.” Kubalikkan badanku, terdapat Ayunda yang juga terbangun. Wajahnya begitu cantik meski rambutnya acak-acakan karena baru bangun tidur.

Kukira setelah bangun aku akan menjalani hidupku seperti biasa, tapi lagi-lagi ia kembali kemari setelah sekian lama.

Kuputuskan untuk tidak menjawab perkataan Ayunda dan langsung bangun untuk bersiap-siap sebelum berangkat bekerja.

Namaku Aditya Dwi Harsono, seorang pria berusia 35 tahun yang bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan. Hari-hariku sekarang ini seperti biasa, selalu saja membosankan. Setiap hari sibuk dengan rutinitas yang hambar. Bangun pagi, pergi bekerja, pulang, tidur. Begitu terus setiap hari. Hari Minggu dan libur hanya kugunakan untuk beristirahat di rumah atau melakukan hal lain yang tak bisa kulakukan di hari biasa.

Ayunda Maharani, itulah nama istriku. Terakhir ia berulangtahun yang ke 29, kerjanya mengurus rumah sebagai ibu rumah tangga. Aku dan Ayunda belum memiliki anak, kami cukup bahagia meski kehidupan kami serba pas-pasan.

“Mau langsung berangkat? Nggak sarapan dulu?” Ayunda berkata padaku saat aku sedang mengenakan sepatu. Aku terdiam. “Aku buatin sarapan dulu ya bentar. Kamu kalau nggak sarapan nantinya lemes lho di kantor.” Kata Ayunda sambil mencari-cari bahan makanan yang bisa dimasak di dapur.

Menjengkelkan sekali...

“Aku berangkat.” Kataku berpamitan padanya. “Hati-hati.” Jawab Ayunda. Akupun berangkat ke kantor dengan motor kesayanganku.

Kulihat jam tanganku. Jam sudah menunjukkan waktu 07.53. Jalanan macet lagi. Ngalamat bakal dimarahin bos lagi ini. Aku menghela napas, kejadian seperti ini sudah menjadi makanan sehari-hari bagiku. Macet di jalan, telat lalu dimarahin bos, lalu potong gaji. Begini saja sudah telat, gimana kalau tadi sarapan dulu...

Akhirnya aku sampai di kantor. Sesuai dugaanku, bos marah-marah lagi karena aku telat.

“Adit! Kamu ini telat lagi! Sekarang alasan apalagi yang mau kamu gunakan hah!?” Bentak bosku.

“Anu, tadi istri saya...” Kuhentikan kata-kataku. “Nggak jadi pak, saya salah. Saya tidak akan beralasan lagi.” Tidak bijak juga menjadikannya alasan atas keterlambatanku.

Pak bos menatapku sejanak lalu menghela napasnya.

“Ya sudah, kerja sana.”

“Baik, maaf pak. Saya permisi.”

Aku menjauh dari meja bos lalu pergi ke mejaku.

“Baiklah, kembali bekerja.”

 

Akhirnya jam istirahat tiba. Aku meregangkan badanku sebelum beranjak dari mejaku. “Dit.” Seseorang menyapaku, oh ternyata Awang. Awang adalah rekan kerjaku. “Napa, Wang?” Kutanya tujuannya menyapaku. “Dicari pak bos tuh di warung seberang.” Mendengar perkataan Awang, aku menelan ludah. Ada apa lagi ini... Kenapa pak bos memanggilku lagi...? “Oke Wang, thanks yak infonya.” Kataku sambil mengacungkan jempol.

Sesuai permintaan bos, aku pergi menemuinya di warung seberang kantor. Warung itu sering didatangi oleh karyawan kantorku karena jaraknya dekat dan harga makanannya murah. Tak jarang pula aku makan di sini. Tak perlu waktu lama, aku menemukan bosku yang sedang makan sendirian di sebuah meja.

“Saya duduk sini ya pak.” Kataku sambil meletakkan piring di meja. “Oh, Adit. Silahkan.” Kata bosku ramah. “Jadi, ada apa ya pak memanggil saya kemari?” Tanyaku to the point.

“Gini Dit. Kamu ini kan sering telat karena kena macet, rumahmu jauh juga. Gimana kalau kamu ngekos aja di dekat kantor? Ada tuh kos bulanan murah dekat sini. Rumahmu yang sekarang jual aja, pastilah bakal cepet laku. Rumahmu lumayan strategis kan.”

Kata-kata pak bos membuatku berpikir. Memang akan lebih baik untuk pekerjaanku kalau aku tinggal di dekat kantor. Gajiku juga cukup besar untuk meng-cover itu semua. Tapi...

“Saya pikir-pikir dulu ya pak. Soalnya itu bukan perkara gampang, rumah saya masih kredit soalnya meski tinggal beberapa bulan.” Kataku.

“Ya, tapi jangan kelamaan mikirnya. Kamu itu sudah berkali-kali telat. Awas aja kalau sampai kamu telat lagi.” Jawab pak bos atas pernyataanku.

Kami lalu melanjutkan makan siang lalu kembali ke kantor.

 

Jam menunjukkan pukul 20.04. Saatnya aku pulang. Kerja lembur membuatku lelah sekali.

“Dit, sudah mau pulang? Kamu pikirkan ya kata-kata saya tadi.” Pak bos berkata padaku sebelum aku meninggalkan kantor.

“Ya pak, saya akan pikirkan baik-baik.” Jawabku.

Akupun pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, kulihat makanan sudah tersaji di meja makan.

“Ah, sudah pulang ya! Ini udah kumasakin.” Sapa Ayunda. Aku tidak menjawabnya, aku lelah sekali setelah seharian bekerja. Keberadaannya di sini malah membuatku kesal. Kenapa ia kembali lagi setelah sekian lama? Aku sudah berusaha untuk hidup seperti biasa, tapi dia tanpa permisi tiba-tiba kembali ke kehidupanku? Kenapa?

Kupandang lagi makanan yang sudah tersaji di meja makan. Kumakan sajalah, entah siapa yang memasaknya. Tidak mungkin Ayunda yang masak. Ia tidak begitu bisa masak, apalagi sekarang.

“Enak.” Aku menggumam pelan. “Enak kan? Siapa dulu yang masak!”

Kupandang wajah Ayunda yang tersenyum cerah. Tidak, tidak. Tidak mungkin ia yang memasak. Daripada aku kehilangan kewarasanku, aku memutuskan untuk tidak memikirkannya dan menghabiskan semua makanan yang tersaji.

Aku lalu beranjak tanpa mengatakan apapun. Kuraih ponselku lalu memeriksa agenda esok hari. Besok hari Minggu dan tepat dengan jadwal rutin check-up kesehatanku. Baiklah, besok harus kuceritakan semua ini.

Kulihat juga jadwal lain di hari itu: “Ulangtahun pernikahan.” Tertulis di situ.

 

Keesokan harinya, aku terbangun sebelum beker berdering. Kulihat Ayunda juga terbangun bersamaan denganku.

“Pagi, sayang.”

Kumatikan beker sebelum ia berbunyi lalu bersiap-siap untuk check-up rutin. Sebelum berangkat, seperti biasa Ayunda menyuruhku untuk sarapan dulu.

“Sayang, kamu mau ke mana? Ayo sarapan dulu. Kubuatin nasi goreng nanti.” Lagi-lagi tak kujawab perkataan Ayunda. “Sayang? Ayo sarapan dulu. Jangan langsung berangkat.”

Aku menjadi kesal mendengar perkataannya. Menyuruh-nyuruhku melakukan sesuatu terus menerus. Aku punya kehendak sendiri! Aku punya kontrol atas diriku! Kamu tidak punya hak!

Sekarang ia malah menangis. “Sayang... Kenapa... Kenapa kamu nyuekkin aku terus?” Katanya sambil menangis tersedu-sedu.

Melihatnya, aku jadi tak tega. Ingin sekali aku memeluknya, membelai rambut dan wajahnya. Tapi aku sadar, sekarang aku tak bisa melakukannya. Aku sudah membulatkan tekad, aku tak ingin semua itu terulang lagi. Aku pun membiarkannya lalu berangkat.

Sepanjang perjalanan aku terus memikirkan Ayunda. Tak bisa kualihkan perhatianku darinya. Wajahnya, ekspresinya, rambutnya, tangisannya, semua begitu nyata. Hingga tanpa sadar aku sampai di rumah sakit.

Kuceritakan semua kejadian mengenai Ayunda dari kemarin.

Dia yang sudah lama tidak muncul, kini muncul kembali. Dia yang seharusnya sudah meninggal 5 tahun yang lalu karena kecelakaan, kini kembali di hadapanku sebagai halusinasi yang nampak begitu nyata. 4 tahun yang lalu dia juga muncul. Anehnya, ia hanya nampak di rumah saja, tidak di kantor, tidak di warung, tidak di manapun, hanya di rumah. Rumah yang kami tinggali selama 9 tahun 8 bulan. Rumah yang menjadi saksi bisu kemesraan kami berdua. Rumah yang kami cicil bersama-sama dari gaji kami berdua.

Dokter menyarankan untuk menenangkan diriku, pergi berlibur atau semacamnya lalu memberiku beberapa resep obat.

Setelah dari rumah sakit, aku pergi untuk mengunjungi makam Ayunda dengan membawa beberapa tangkai bunga kesukaannya. Di sana aku bertemu dengan kakak ipar dan ibu mertuaku. Mereka mengunjungi makam Ayunda juga. Aku sedikit berbincang dengan mereka. Sudah lama sekali sejak aku berbicara langsung pada mereka. Semenjak mendiang Ayunda tiada, aku jarang menghubungi keluarganya. Terlebih saat bayangan Ayunda muncul 2 tahun lalu. Rasa bersalah yang selalu menghantuiku membuatku tak berani untuk berbicara pada mereka.

Masakan yang kumakan kemarin ternyata kiriman dari kakak iparku. Ialah yang mengajari Ayunda memasak. Ia khawatir padaku karena aku jarang menghubungi, maka dari itu ia bermaksud untuk makan bersama denganku, tentu membawa ibu mertuaku juga. Tapi karena aku tak kunjung pulang, mereka menata makanan di meja makan lalu pulang. Tak heran makanan sudah disajikan dengan rapi di meja makan karena sesuai kesepakatan kami berdua, keluargaku dan Ayunda kami beri kunci rumah untuk berjaga-jaga kalau-kalau terjadi sesuatu.

Saat aku hendak meninggalkan makam, terlihat sosok Ayunda yang tersenyum ke arahku. Mulutnya berkata sesuatu tapi tak bersuara. Dari bibirnya, aku mengetahui apa yang ia katakan.

 

“Hati-hati.”

Dengan senyumku, kubalas perkataannya.

“Aku berangkat.”

 

Esok harinya, aku menolak saran dari bosku. Ia hanya berkata, “Terserah kamu, yang penting jangan sampai terlambat lagi.” Aku lalu memutuskan untuk bangun lebih pagi supaya terhindar dari macet. Sejak saat itu, kualitas hidup dan kerjaku perlahan meningkat dan akhirnya aku mendapat promosi jabatan setelah sekian lama.

Ayunda? Sejak kami berpisah di makam kemarin, bayangannya tidak pernah lagi muncul.

Mungkin saat itu ia muncul saat aku berada di kondisiku yang memprihatinkan. Stres kerja, beban pikiran yang menumpuk, dimarahi bos, dan lain-lain. Aku sampai melewatkan sarapan karena takut terlambat. Aku hampir setiap hari lembur karena tidak fokus bekerja. Ia datang jauh-jauh dari alam sana hanya untuk mengingatkanku.

Terima kasih.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
A Letter
Shelly Habsari
Novel
Bronze
Muara Rindu
penamaliafara
Flash
Waktu Yang Singkat
Felis Linanda
Cerpen
My Wife
AlexSF
Novel
Celebrity
Ara
Novel
SETIAP WAKTU ADALAH KENANGAN
Linda Fadilah
Flash
Di Balik Kaca Mobil
Dhea FB
Flash
Buah tangan
Mahmud
Novel
Bronze
Pretend to Forget
Afifah Azzahra
Novel
This Is Why We Don't Break People
Aurum
Novel
Bronze
Mimpi - Gadis Berkerudung Merah Muda
Imron Mochammad Alghufara
Novel
Bronze
Parabunga
Robeni
Novel
PASUTRI SABLENG
dea antika purbasari
Novel
CAREN
IS KUN
Skrip Film
LIFT: Ketika Masa Lalu Berdiri di Hadapanmu
Ade Ubaidil
Rekomendasi
Cerpen
My Wife
AlexSF
Novel
Flowers of Battlefield
AlexSF
Cerpen
Hidup?
AlexSF
Novel
Kutkh
AlexSF
Novel
Tale of Two
AlexSF