Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
My Life Story
1
Suka
338
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

MY LIFE STORY

Hai semua, namaku Shiroyuki. Nama shiroyuki ini hanya nama samaran saja yang aku gunakan untuk menceritakan kisah hidupku. Mungkin banyak yang berpikir bahwa kisah hidup seseorang itu tidak terlalu menarik tapi aku hanya ingin berbagi kisah hidupku saja di sini. Aku mohon untuk jangan meniru perilaku buruk yang akan aku ceritakan di kisah ini. Disini aku juga ingin menunjukkan bahwa tidak semua anak dengan keluarga utuh atau anak bungsu itu bahagia dan dimanja.

Aku Shiroyuki, anak terakhir dari 4 bersaudara. Aku mempunyai 3 orang kakak laki-laki yang umurnya terpaut jauh dariku. kita sebut saja mereka dengan nama Andi, Budi dan Cendi. Aku adalah anak perempuan satu-satunya dikeluargaku. Banyak orang yang mengatakan bahwa aku pasti dimanja sekali karena posisi ku dirumah, pada kenyataanya semua yang mereka pikirkan tidaklah benar. Bagi beberapa keluarga mungkin, tetapi untuk keluargaku sepertinya itu sedikit mustahil.

Aku masih mengingat dengan jelas masa kecilku yang dulu kuanggap biasa saja tapi semakin aku dewasa hal itu menjadi sangat menyakitkan untuk diingat kembali. Saat aku berumur 5 tahun aku selalu dimarah serta dipukuli dengan tongkat rotan. Hal yang kuanggap biasa karena semua kakak laki-lakiku juga mendapatkan perlakuan yang sama. Ulang tahunku tidak pernah dirayakan saat aku kecil dan juga tidak ada foto masa kecilku. Hal ini agak aneh karena Ibuku menyimpan banyak sekali foto ulang tahun kakak laki-lakiku saat mereka seumuran denganku. Baju baru, kue ulang tahun yang besar, makanan yang berlimpah dimeja dan orang-orang yang datang untuk merayakan dengan kado yang banyak. Awalnya aku kira itu hal biasa, mungkin anak-anak seumuran denganku juga tidak merayakannya. Tapi ternyata hanya aku saja yang tidak pernah diantara teman SD ku. Kumaklumi karena keadaan ekonomi keluarga kami sedang tidak baik saat itu.

Semua barang yang kupunya selalu turunan dari kakak laki-lakiku sama seperti anak-anak bungsu kebanyakan. Saat kecil aku tidak pernah punya mainan, semua mainan yang aku punya adalah punya kakak laki-lakiku. Tetapi mereka tidak pernah membiarkanku memainkannya. Mereka juga tidak pernah mau menemaniku bermain jadi hari-hariku dilewati dengan membantu orang tua ku. Disaat kakak laki-lakiku keluar dan bermain dengan temannya aku hanya di rumah dituntut untuk belajar persiapan masuk sekolah. Aku juga tidak pernah masuk TK karena faktor ekonomi. Teman yang kupunya hanyalah beberapa anak anak di sekitar rumahku. Aku juga pernah ditinggal oleh Ibuku ditempat les karena aku tidak pandai dalam menulis dan berhitung. Tapi setelah 1 atau 2 jam menunggu, dia kembali.

Saat masih kecil aku sering sekali dipukuli dan dimarahi oleh orang tuaku sehingga hal tersebut sudah kuanggap biasa. Kadang dengan tongkat rotan, gantungan baju, tangan, tali pinggang dan pernah juga dengan tongkat kayu. Saat aku beranjak masuk SD kupikir kehidupanku akan berubah. Tetapi tidak banyak yang berubah, yang berubah hanyalah waktuku dirumah dan semakin banyak omelan dan pukulan yang kuterima. Kelas 1 kumulai dengan menjadi anak yang sangat susah diatur, kemungkinan karena aku tidak pernah mempunyai teman main maka dari itu disaat di kelas aku berlarian kesana kemari disaat murid murid yang lain duduk diam. Aku bahkan sempat diancam untuk diikat di kursi oleh guruku karena aku berlari di dalam kelas saat sedang berdoa. Untuk tambahan saat SD aku bersekolah di SD Swasta Kristen alasannya karena dari kakak laki-lakiku yang tertua sampai yang terakhir semua bersekolah di sekolah yang sama sehingga orangtuaku telah mengenal baik guru-guru disana.

Sejak aku masuk ke Sekolah Dasar ekspektasi orang tua ku semakin menjadi karena mereka menuntutku harus bersaing dengan kakak laki-lakiku. Kadang mereka lupa bahwa aku hanyalah anak yang baru mulai belajar san tidak sama seperti kakak laki-lakiku. Dikelas 1. aku merupakan siswi yang agak bermasalah karena selalu tidak bisa diam. Hal-hal kecil menarik perhatianku karena aku jarang bersosialisasi dengan banyak orang. Karena sifatku itu orang tua yang seharusnya menyemangati anaknya bersekolah menjadi tidak semangat dan bahkan mereka mengatakan bahwa aku tidak akan bisa naik kelas. Tetapi anehnya saat pembagian raport aku mendapat juara 5 yang merupakan sebuah kejutan untuk orang tua serta guru yang mengajarku. Untuk info saat aku berada di SD kelas 1, kakak laki-lakiku Cendi juga masih berada di SD yang sama sedangkan yang lain berada di SMP. Setelah melewati masa SD bagaikan penjara dan neraka aku berhasil masuk SMP.

Saat aku masuk SMP juga banyak kejadian menyakitkan yang terjadi seperti ulang tahun yang dilupakan, dimarahi karena nilai yang turun, kegiatan diluar sekolah yang tidak didukung dan masih banyak lagi. Kejadian yang tidak akan aku lupakan adalah saat aku kelas sembilan dan sedang mengikuti ujian akhir aku dipukuli dengan hanger baju sehingga membentuk angka 4 di tangan kananku. Aku sempat menunjukkannya kepada teman temanku dan menertawakannya. Hal lain yang masih kuingat adalah pulang kerumah dalam kondisi basah karena hujan disaat pengambilan nilai UN. Tentu saja aku masih dimarahi karena mendapat nilai rendah.

Tidak lama setelah itu aku masuk ke SMK. SMK yang di katakan menjadi SMK favorit karena menghasilkan banyak sekali murid pintar. Perjalanan masuk ke SMK ini tidaklah mudah, aku direndahkan oleh orang tua ku karena nilai yang rendah dan dibandingkan terus dengan teman temanku yang setelah kuselidiki itu semua hanyalah kebohongan yang diucapkan oleh mereka. Aku tidak tau alasannya tapi aku kesal. Setelah masuk ke SMK banyak hal lagi yang terjadi bayak amarah yang kudapat hanya karena nilaiku rendah. Aku selalu dibandingkan dengan kakak laki-lakiku karena orang tuaku tidak tau bahwa kurikulumku sangatlah berbeda dengan zaman kakak laki-lakiku. Saat aku memberitahu mereka, mereka malah tidak percaya dan menghinaku malas.

Hal-hal tersebut berlanjut hingga aku lulus dan bekerja. Kerja pertamaku menjadi admin disebuah minimarket yang bahkan tidak memberi libur atau pulang cepat. bahkan ketika sakit orang tua ku berkata bahwa sangat disayangkan bahwa aku sakit dan tidak bisa bekerja. Saat aku sedang bekerja dihari minggu ibuku keluar makan dengan kakak laki-lakiku, memfotonya dan mengirimkannya kepadaku. Aku tidak tau tujuannya apa tapi itu membuatku merasa kesal. saat aku bilang aku capek dan ingin berhenti mencari pekerjaan lain aku malah tidak diizinkan karena mereka berkata aku harus kerja.

Akhirnya aku berhenti setelah sebulan dan mulai mencari pekerjaan baru. Selama beberapa hari aku menjadi penggangguran aku selalu didesak untuk mencari kerja secepatnya. Untungnya setelah 1 atau 2 minggu aku berhasil mendapat kerja dan melanjutkan hidupku. Hal yang sama terulang kembali yaitu saat aku sakit kau tidak diperbolehkan untuk izin karena kata ibuku itu sangat disayangkan seharusnya aku bekerja. Sedangkan kakak laki-lakiku yang hanya batuk sedikit saja sudah disuruh tidak usah bekerja. Kadang aku merasa bahwa aku bukan anak mereka. Gaji yang kuterima harus kuberikan hamoir sebgian ke orang tuaku dan aku harus mencicil motor untuk kedaraanku ke kantor serta aku harus berbelanja untuk kebutuhan rumah dan membayar kuliah sendiri. Setelah bekerja satu setengah tahun akhirnya aku resign karena habis masa kontrak. Aku dikebut untuk mencari pekerjaan lagi tanpa diberi waktu istirahat. Bahkan sebelum aku resign aku disuruh segera mencari pekerjaan.

Setelah seminggu mencari aku mendapat tawaran interview dan masuk kerja sampai hari ini. Hal hal di pekerjaan sebelumnya masih terjadi. Parahnya sekarang kakak laki-lakiku Andi pergi ke dubai sengan pacarnya untuk bekerja tapi cuma mengirim sedikit uang untuk keluarganya sedangkan dia dan pacarnya makan dan belanja barang barang mewah, Budi yang berhenti kerja dan cuma tinggal dirumah saja tanpa ada niat bekerja, Cendi yang punya pacar dan membeli rumah sendiri dan tidak terlalu membantu dirumah. Ujung ujungnya hanya akulah yang harus menanggung beban berat keluarga ini seperti membayar listrik, tagihan wifi, memberi orang tua, belanja bulanan, dan lain lain. Dengan gaji yang tidak sampai 2 juta aku membantu dirumah sembari berusaha menyelesaikan kuliah.

Aku berharap orang yang membaca series cerpen ini bisa tetap semangat dan tidak menyerah. walaupun banyak masalah dihidup ini, suatu saat pasti akan ada saatnya kita mengingat kembali kejadian yang lalu sembari tertawa dan bertanya tanya bagaimana dulu kita melewati hal tersebut. semoga pembaca tetap tersenyum. untuk karya berikutnya aku ingin membuat sebuah karya fiksi. mohon dukungannya ya, aku ingin mendapatkan sedikit uang dengan menceritakan kisah yang telah aku buat. aku harap pembaca bisa terhibur dan berbaik hati kepadaku.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
My Life Story
yuki
Cerpen
Bronze
Kanak Rinjani
ahmad yusro ahmad yusro
Cerpen
Bronze
Pelukan Ibu
Lely Saidah Al Aslamiyah
Cerpen
Bronze
Mat Tabik
Bonari Nabonenar
Cerpen
Bronze
UANG IURAN KELUARGA
N. HIDAYAH
Cerpen
Bronze
Perjuangan Menggapai Mimpi di Tengah Cobaan
Azhar Ainun Hidayat
Cerpen
Bronze
Lentera Pecah
Alya Nazira
Cerpen
Raenna
Hilda Pratiwi
Cerpen
Tetangga Depan Rumah
ken fauzy
Cerpen
Bronze
Ibu Jangan Tinggalkan Adek
Yona Elia Pratiwi
Cerpen
Bronze
Kesumat
Dyna Rukmi Harjanti Soeharto
Cerpen
Bronze
Lelaki Bermata Teduh
Munkhayati
Cerpen
Terlahir Kembali
zain zuha
Cerpen
Menyatukan Dua Keluarga
Yovinus
Cerpen
All about Dewi
Dewi Fortuna
Rekomendasi
Cerpen
My Life Story
yuki
Cerpen
Bronze
PETUALANGAN TANPA BATAS
yuki