Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Hari itu hari terakhir sebelum liburan musim panas mulai. Suhu dan kelembapan juga sudah semakin naik. Pepohonan menghijau, tapi tidak cukup teduh untuk mengurangi sengatan sinar matahari. Dimana-mana, di seluruh sudut sekolah, murid laki-laki maupun perempuan mengenakan atasan berlengan pendek.
Aku sedang makan siang di kantin saat tak sengaja mencuri dengar obrolan tiga orang gadis di meja sebelahku. Biasanya aku tidak peduli. Tapi kali ini topik mereka berhasil memancing perhatianku.
“Eh, hari Minggu depan Amemura Ramuda gelar fashion show di Shibuya Stream Hall, lo!”
“Heeeh? Beneran?! Amemura Ramuda yang itu? Mau ikut!”
“Mana di poster tulisannya gratis masuk. Duh, kita bakal desek-desekan sama orang satu Shibuya, nih.”
“Nggak apa, deh. Yang penting aku bisa lihat dia langsung! Emang acaranya mulai jam berapa?”
“Seingetku jam tiga, sih. Tapi mending kita datang jam dua. Takut nggak kebagian tempat.”
“Iya juga… Boleh, deh! Ini bakal jadi kesempatan besar—”
Shibuya Stream Hall, hari Minggu depan jam tiga… Yosh! Aku juga akan pergi! Aku segera lanjut makan dengan jantung berdebar. Akhirnya, setelah beberapa tahun hanya bisa melihatnya dari layar kaca, sebentar lagi aku akan bisa melihat idolaku di panggung dengan mata kepalaku sendiri.
***
Setelah memastikan keakuratan berita yang kucuri dengar kemarin, aku melakukan persiapan besar-besaran. Seminggu ini, aku begadang untuk menyelesaikan sketsaku setelah mengerjakan PR musim panas. Aku memilih ilustrasi yang menurutku paling bagus, lalu menyimpannya di sebuah amplop cokelat yang dibungkus plastik transparan. Setelah semuanya siap, aku berangkat jam setengah dua dari asrama
Sejak mengenal Amemura Ramuda—aku lebih suka memanggilnya Amemura-sensei—aku sudah tidak takut lagi mengenakan baju yang kata orang “aneh”. Apalagi ini Shibuya. Setiap pergi ke pusat kota, penampilan seperti itu menjadi makanan sehari-hari. Para gyaru, misalnya. Aku suka mereka yang sengaja mengubah tone kulit jadi cokelat, ditambah make-up dan pakaian mencolok.
Aku merasa sangat hidup di sini. Show window butik-butik dihiasi manekin berpakaian modis. Dan karena sudah memasuki musim panas, sebagian besar model yang ditampilkan adalah baju-baju minimalis dan berwarna cerah. Cukup mencolok dibandingkan dengan dandananku saat ini—kaus oversize putih, celana baggy biru denim dan beberapa buah jepit warna pastel di sisi kiri kepala.
Sampai di pintu masuk, aku memadankan pemandangan di depanku dengan titik di Maps. Yak, kurasa sudah benar ini tempatnya. Begitu kakiku menginjak lantai dalam gedung, semilir angin AC langsung menerpa kulit. Sejuk! Sambil berlari kecil, aku mencari denah gedung yang seharusnya ada di suatu tempat di sini…
…Dan, ada! Di dekat lift. Aku membaca setiap agenda dan menyesuaikannya dengan bagian yang sewarna. Lokasi fashion show-nya ada di lantai lima. Oke! Aku segera melangkah ke dalam lift yang kosong dan menekan tombol di dalam. Semoga saja masih kebagian tempat.
***
…Apa-apaan ini…?
Kukira aku sudah datang cukup awal. Tapi hall-nya sudah hampir penuh. Sebagian besar orang yang datang adalah wanita. Yah, aku tidak kaget, sih. Meskipun antusiasme mereka sedikit membuatku khawatir, aku tetap memilih masuk atau aku akan terseret keluar oleh penggemar lain.
Aku menunggu sambil minum sedikit-sedikit dan memainkan ponsel—entah mengecek notifikasi media sosial atau membalas chat. Udara dari AC ruangan masih cukup terasa sampai menjelang setengah jam sebelum acara dimulai. Semakin banyak penonton yang datang sampai akhirnya ruangan di sekitarku mulai menyempit. Aku yang sedari tadi duduk mengemper di lantai terpaksa berdiri. Daripada kena injak karena tidak terlihat.
Lalu, di jam tiga kurang lima menit, hall ini sudah benar-benar penuh sampai nyaris tidak ada ruang untukku bergerak. Aku terhimpit di pinggir ruangan, menempel pada tembok yang dingin. Dengan orang sebanyak ini, AC sekalipun seperti tidak berfungsi lagi. Untungnya tak lama, pembawa acara muncul dan segera memberikan sambutan.
“Minna, genki desuka?!” serunya, menggema di seluruh ruangan. “Selamat datang di fashion show Amemura Ramuda yang ke-XX bertajuk Natsu Iro Pop Gala! Kali ini, desain-desain yang akan ditampilkan adalah outfiit yang segar dan…”
…Gawat. Aku makin terjepit! Kalau begini terus, gambar hadiah untuk Amemura-sensei bisa lecek… Tidak. Aku tidak boleh pasrah! Kalau gambarnya rusak, usahaku begadang seminggu ini akan sia-sia…
Melihat sebagian penonton di sekitarku sedikit lebih pendek, kurasa aku bisa menyelamatkan gambarku dengan… mengangkatnya tinggi-tinggi! Yak! Seharusnya di sana akan aman! Aku berusaha menyelinapkan amplop untuk mengeluarkannya dari kerumunan, lalu merentangkan tanganku ke atas kepala. Syukurlah, aku berhasil!
“…Selanjutnya, mari kita sambut desainer kesayangan kita! Sang pria berambut semanis gula kapas dan energi tanpa batas, Amemuraaa Ramudaaaa!!!”
Ini dia… INI DIA! Momen yang sudah kutunggu-tunggu sejak aku menyaksikan Amemura-sensei di TV. Seluruh hall bersorak riuh begitu dia melangkah keluar dari samping menuju tengah panggung, lalu bersiap dengan mikrofon di tangan kanannya.
“Yahooo! Idola kalian semua, Amemura Ramuda, hadir!”
Suaranya yang ceria, manis dan bernada tinggi terdengar sangat sensasional di speaker. Rambut ombre merah muda-lavender, jaket tosca dan mata biru cemerlang, juga senyumnya… Senyuman yang terkesan nakal tapi penuh keceriaan…
Rasanya sulit dipercaya! Aku akhirnya bisa melihat dan mendengarnya secara langsung!
Jeritan para penggemar menggaung dari berbagai sisi. Tapi untuk saat ini, aku tidak mempedulikannya. Bahkan aku tidak bisa ikut berteriak seperti mereka. Suaraku tidak mau keluar dan napasku terasa berat.
“Kalian udah siap lihat semua desain terbaruku musim ini?!”
“YAAAAA!!!”
“OKKEEE!! Kalo gitu, kita langsung mulai! Ini dia, model pertamaku! Breezyyy summeeer!”
Penonton kembali berisik. Di layar LED, terlihat seorang model wanita dengan gaun tanpa lengan selutut warna neon muncul dari sisi kiri panggung. Kombinasi yang mencolok—pink, cyan dan kuning. Warna-warna yang vibes-nya “super Amemura-sensei”.
Tapi aku tidak bisa memandangnya lama-lama. Aku lebih suka memperhatikan Amemura-sensei yang berdiri di tepi panggung sambil menjelaskan desain yang sedang ditampilkan. Aku bisa melihat tubuhnya dikelilingi bintang-bintang berkilauan. Dari jarak segini, aku tidak bisa menangkap ekspresinya dengan jelas. Tapi dari suaranya yang menggelegar, aku bisa membayangkannya tersenyum lebar dan penuh semangat.
Acara terus berlanjut dan semakin meriah. Satu per satu model bermunculan dari backstage, menampilkan berbagai macam desain yang unik dan colorful. Aku tidak bisa mengingat semuanya, tapi aku bisa melihat betapa terampilnya seorang Amemura-sensei. Dia memasukkan warna apa saja, termasuk warna-warna gelap seperti cokelat atau hijau lumut. Tapi semuanya tetap bisa terasa khas Amemura-sensei.
“…Dan inilah, signature design-ku musim ini! Bluuue mojitooo!!!”
Seorang wanita semampai dengan rambut pirang tersampir di pundak, mengenakan gaun asimetris yang bagian roknya berumbai dari lutut sampai ke ujung kaki. Seperti namanya, warnanya gradasi biru laut di atas dan semakin gelap seperti langin malam di bawah. Ada titik-titik putih kecil yang terlihat seperti bintang di atasnya. Hiasan rambut yang menempel di sisi kiri kepala sang model, berbentuk seperti irisan jeruk nipis dan sedotan hitam berbentuk hati. Sangat anggun. Aku tidak menyangka Amemura-sensei bisa memikirkan desain yang seperti ini juga.
“Itulah dia, desain-desain yang akan rilis di butik Empty Candy dua minggu lagi! Minna, jangan lupa mampir, yaaa~”
Hatiku terenyuh saat mendengar Amemura-sensei mengucapkan perpisahan pada penonton, meledakkan confetti dari atas panggung, lalu masuk kembali ke backstage. Suara pembawa acara kembali mengambil alih dan perlahan, keriuhan penonton mereda. Begitu juga dengan debar di dadaku.
Aku tidak terlalu memperhatikan apa saja yang terjadi sampai acara berakhir. Setelah beberapa waktu yang terasa lama, kerumunan mulai terurai hingga akhirnya aku punya ruang untuk bernapas. Semakin lama, semakin banyak penonton meninggalkan venue.
Sekarang, tinggallah aku sendirian di sini. Masih di pinggir tembok yang sama, duduk dengan kaki terselonjor ke depan.
Entah kenapa, sekarang hatiku malah terasa hampa. Tentu saja aku lelah, tapi bukan itu masalah utamanya. Aku dan ilustrasi hadiah untuk Amemura-sensei yang ujungnya kusut di genggamanku ini…
Padahal aku sudah susah payah datang ke sini. Bahkan, aku berbohong pada kedua orang tuaku bahwa aku ingin serius menjadi desainer dan belajar ekstra keras agar bisa sekolah di sini. Padahal sebenarnya aku hanya berharap bisa menjadi lebih dekat dengan Amemura-sensei…
Kalau aku tidak bisa bertemu dengannya secara langsung, rasanya usahaku jadi percuma… Beberapa tetes air mata membasahi plastik pembungkus amplop. Aku buru-buru mengelapnya, lalu mengusap wajahku sendiri dengan lengan kaus.
Tidak… Aku tidak bisa menyerah sekarang. Aku sudah pergi sejauh ini… Ratusan kilometer dari rumah, di kota yang sama dengan Amemura-sensei… Yosh! Apapun yang terjadi, hadiah ini harus sampai padanya! Dan jika mungkin, aku yang akan memberikannya secara langsung!
Sekarang tinggal masalah dimana aku bisa menemukan Amemura-sensei… Apakah dia masih ada di backstage? Bagaimana kalau aku memanjat panggung dan menerobos langsung lewat sana?
Ah, tidak, tidak. Ide yang konyol. Tempat ini pengamanannya ketat. Pasti akan gampang ketahuan. Kalau begitu, aku hanya akan mempermalukan diriku…
Setelah menghela napas berat, aku segera bangkit, lalu berjalan keluar ruangan. Rasa-rasanya, mustahil sekali untuk bisa bertatap muka dengannya…
***
Aku keluar dari lift dengan energi yang sudah surut. Sebaiknya aku segera pulang dan makan malam. Tapi, saat sadar aku masih menggenggam amplop, aku berhenti tepat beberapa langkah sebelum pintu keluar. Aku menatapnya, lalu menghela napas panjang. Rasanya aku masih tidak rela kalau harus semudah ini menyerah…
“—Katanya ada fan meet di atrium setelah ini, lo. Mau ke sana dulu, nggak?”
Aku menoleh, melihat dua wanita sedang mengobrol di belakangku.
“Ih! Aku baru tahu! Mana aku nggak bawa apa-apa lagi. Padahal akhirnya ada kesempatan bisa ketemu langsung sama Ramu-chan…”
“Ya, udah. Kita beli aja sekarang! Mumpung acaranya belum mulai.”
Mereka lalu beranjak pergi keluar. Tapi, Ramu… chan? Apa maksudnya Amemura-sensei? Ada fan meet? Dengannya? Di atrium?!
Oh, Tuhan, syukurlah aku belum pulang! Makan malam bisa menunggu. Tapi kesempatan untuk bertemu dengan Amemura-sensei mungkin hanya sekali ini.
***
Aku menunggu di sekitar venue sambil membaca-baca beberapa unggahan di media sosial. Ternyata fan meet ini sudah dipromosikan di akun pengelola dan Amemura-sensei sendiri, tapi aku lupa mengecek. Entah kenapa mereka tidak membuatkan poster cetak khusus.
Jam setengah tujuh, para staf mulai memasuki area. Dan di akhir barisan, muncullah Amemura-sensei. Aku tidak tahu apakah ini hanya perasaanku atau dia memang terlihat lebih tenang dibanding saat di panggung tadi. Kurasa dia juga lelah, berbicara dengan semangat penuh selama show. Dan sekarang, dia masih mau mengadakan fan meet seperti ini. Astaga… Sungguh, aku penggemar yang beruntung…
Aku mengikuti orang-orang berbaris dalam pembatas, memperhatikan Amemura-sensei berbicara sebentar dengan setiap penggemar sambil menerima hadiah dari mereka. Tiba-tiba, tubuhku terasa begitu ringan. Tapi debar jantungku semakin menjadi dan tanganku mulai berkeringat. Aduh, aku harus bicara apa nanti? Kalau aku tidak mengatakan apa-apa, kesempatan ini jadi sia-sia…
Tinggal dua orang lagi sebelum giliranku. Aku berusaha mengatur napas. Satu orang. Sebentar lagi. Moment of truth. Wanita di depanku sudah beranjak. Aku melangkah maju, lalu menghadap Amemura-sensei yang berdiri di belakang meja panjang. Amplop kusodorkan dengan kedua tangan sambil menunduk. Tidak, aku tidak bisa menatapnya! Bahkan saat sudah lelah pun, Amemura-sensei masih terlihat berkilauan…
“Hm? Ini apa?” tanyanya sambil menerima hadiahku.
Aku menelan ludah, lalu berbicara sekenanya, “I-Ilustrasi… A-aku gambar sendiri…” Aku kembali mencoba memandangnya. Oh, Tuhan, dia memang sangat manis…
“Gambar sendiri? Wah, langka banget~ Jarang-jarang ada yang ngasih aku ilustrasi. Makasih, ya~ Oh, ya. Bajumu simpel, tapi efektif. Aku suka! Terutama stiker permen di kaus dan jepit rambut itu. Cocok!”
“Ah, akan, akan…” sangkalku sambil menggeleng, lalu tertawa canggung. Pipiku tiba-tiba panas dan napasku tertahan. Ini… ini bukan mimpi, ‘kan? Itu tadi benar-benar Amemura-sensei yang memujiku, ‘kan? Benar-benar keluar langsung dari mulutnya sendiri, ‘kan?
“Baik, selanjutnya!”
Kakiku mendadak lari dengan sendirinya dan baru bisa berhenti setelah beberapa meter menjauh. Aku berbalik, melihat Amemura-sensei menyapa penggemar berikutnya. Tahu-tahu, air mata mulai meleleh ke pipiku—hangat, lalu mendingin diterpa udara AC. Aku berhasil… Kukira ini hanya akan jadi mimpi semata. Tapi ternyata Tuhan masih baik padaku dan memberiku kesempatan berharga ini…
KRUYUK~
Ah, ya, ampun. Ternyata perutku sudah protes. Haha! Semoga tidak terdengar oleh siapapun. Aku segera mengusap wajah dengan punggung tanganku, menyedot ingus yang mulai menetes dan beranjak pulang. Sungguh, aku tidak akan melupakan semua yang telah terjadi hari ini.
***
Dua hari ini, aku lanjut mengerjakan sisa PR musim panas. Tinggal beberapa materi sulit dari matematika dan geografi. Ugh, kepalaku jadi sakit melihat rumus-rumus berserakan dan istilah-istilah panjang itu di atas kertas…
PLING!
Dering notifikasi mengalihkan perhatianku pada ponsel yang tergeletak di atas tempat tidur. Sudah setengah hari ini aku belum sempat menggunakannya sama sekali. Aku turun dari kursi untuk mengeceknya. Beberapa adalah unggahan dari seniman favoritku yang sudah menumpuk sejak kemarin. Tapi yang teratas… dari Amemura-sensei! Aku segera mengetuknya tanpa berpikir panjang.
Hadiah dari para penggemar! Makasih banyak, semuanya~
Paling suka ilustrasi ini! Dari anak cowok yang dialek Osaka-nya kentel banget! Dan dandanannya juga imut. Teehee~
Aku menahan napas. Ilustrasi hadiahku diunggah ke akun media sosialnya, dan di-mention, oleh Amemura-sensei sendiri…?!
…
……
KYAAAA!! AMEMURA-SENSEEEEI, OOKI NIIII!! PASTI AKAN KUINGAT TERUS MOMEN INI DALAM KENANGANKU!
Aku langsung menghempaskan diri ke kasur, berguling-guling sambil tertawa tertahan dan menutup wajahku. Aku tidak pernah membayangkan akan disorot seperti ini oleh idola terbesarku sejak SMP!
Setelah puas tertawa, aku melihat kembali unggahan itu dan memberinya like. Lalu aku berniat menulis komentar… tapi semua yang ada di dalam kepalaku rasanya terlalu lancang. Jadi aku hanya menulis “Aku senang jika Amemura-sensei menyukainya. Semoga bisa bertemu lagi lain kali ^^” dan menekan ikon kirim. Rasanya kepalaku mendadak ringan dan jantungku berdebar. Meskipun sebentar, pertemuan hari Minggu itu benar-benar luar biasa!
Sekarang, aku akan kembali melanjutkan PR sambil merencanakan: hadiah ilustrasi apalagi yang bisa kubuat untuknya? Oh, atau mungkin aku bisa mencoba memberikan lembaran desain? Ah, aku jadi tidak bisa berpikir! Baiklah, aku akan membuat beberapa sketsa dulu, baru kembali menghadap PR lagi. Siapa tahu, otakku jadi lebih jernih setelahnya.
__THE END__
N. B.
Akan: “tidak” dalam dialek Osaka
Ooki ni: “terima kasih” dalam dialek Osaka