Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Kupandangi lagi undangan itu.
Kertas berwarna krem dengan tulisan emas yang berpendar terkena cahaya lampu meja apartemenku di Berlin, diantar teman yang ikut program Doppelabschluss, Dual Degree Program. Sudah hampir satu jam undangan itu berada di tanganku, namun aku masih membaca nama yang sama berulang-ulang seolah berharap huruf-huruf itu bisa berubah.
Namamu, dan nama laki-laki yang akan menjadi suamimu.
Di bagian bawah undangan itu ada pesan singkat yang ditulis olehmu.
"Datang ya kalau bisa. Jangan nggak datang."
Aku tersenyum, meski rasanya sakit. Senyum yang lebih mirip luka mengangga di ruang hatiku.
Di luar jendela, musim gugur mulai menguningkan pepohonan. Langit Berlin gelap lebih cepat dari biasanya. Disertasi doktoralku tinggal sedikit lagi selesai. Hanya beberapa revisi terakhir setelah aku tak bisa menolak tawaran profesor yang dulu membantuku saat mengambil magisterku.
Dulu aku berpikir semua perjuangan ini akan berakhir padamu, ternyata tidak.
Ingatanku kembali pada perdebatan terakhir kita beberapa bulan lalu.
"Aku nggak bisa nunggu terus."
Kau mengatakannya ragu malam itu.
"Kamu selalu bilang sedikit lagi, sedikit lagi, sedikit lagi."
Aku menghela napas.
"Sekarang memang sedikit lagi."
"Kamu bilang begitu tiga tahun lalu."
"Aku melakukan ini untuk kita."
"Tapi aku capek."
Aku masih ingat bagaimana suaramu bergetar, katamu adikmu sebentar lagi menikah, kamu tak mau dilangkahi, itu dasar alasan utamamu untuk segera menikah.
Pamali, kata ibumu, nanti jauh jodoh.
Orang-orang mulai bertanya macam-macam, bergunjing, kamu perawan tak laku, perawan tua. Kalimat-kalimat itu menghujanimu setiap hari, sedangkan aku ada ribuan kilometer jauhnya.
Aku berkata,
"Tunggu saja. Toh aku calon jodohmu yang sudah dititipkan Tuhan. Tinggal menunggu waktu."
Kau hanya tersenyum waktu itu, tapi senyum itu tidak sampai ke matamu.
"Aku udah terlalu lama menunggu."
"Aku akan pulang."
"Kapan?"
"Setelah ini selesai."
"Kapan selesai?"
Aku diam, karena bahkan aku sendiri tidak tahu pasti, dan mungkin diamku itulah yang membuatmu kalah, atau mungkin membuatmu menyerah.
***
Lima tahun, bahkan hampir lebih dari lima tahun kita menjaga cinta itu mati-matian.
Aku masih ingat pertama kali bertemu denganmu di perpustakaan kampus. Kau gadis yang selalu duduk di pojok dekat jendela. Membaca novel sambil sesekali menggigit ujung pulpen. Aku jatuh cinta bahkan sebelum sempat berkenalan.
Lalu kita tumbuh bersama, melewati skripsi, magister, ribuan panggilan video yang sering terputus karena sinyal. Perbedaan waktu, kesepian dan rasa rindu yang selalu bergejolak.
Aku selalu percaya bahwa orang yang saling mencintai akan sampai pada tujuan yang sama, ternyata aku salah, cinta tidak selalu menang melawan waktu.
Suatu malam, beberapa bulan setelah pertengkaran itu, pesanmu masuk. Aku sedang berada di laboratorium, layar ponselku menyala.
"Aku mau tunangan."
Hanya itu, tiga kata yang membuat seluruh ruangan mendadak terasa hampa.
Aku membaca ulang, lagi, dan lagi, seolah otakku menolak memahami maknanya. Aku tak sanggup menunggu, lalu meneleponmu.
Tidak diangkat, Aku menelepon lagi, lagi dan lagi, karena gemuruh di dadaku tak kuasa aku tahan.
Akhirnya kau menjawab, suaramu terdengar lelah.
"Benar?"
"Iya."
"Dengan siapa?"
Kau terdiam sesaat.
"Pashya."
Aku mengenalnya, aku tahu dia teman kecilmu, anak pamanmu. Orang yang dulu membantu biaya kuliahmu sampai selesai magister.
Aku memejamkan mata, ada ribuan kata yang ingin kuucapkan, namun yang keluar justru satu pertanyaan sederhana.
"Kamu mencintainya?"
Di ujung sana hanya ada keheningan. Hening yang ternyata lebih menyakitkan daripada jawaban apa pun yang ingin kudengar
"Aku capek menunggu."
"Aku hampir selesai."
"Aku tahu."
"Tinggal satu langkah lagi."
"Aku tahu."
"Kenapa nggak percaya?"
Kau menangis, aku bisa mendengarnya. Tangis yang selama ini mungkin kau sembunyikan.
"Kamu selalu bilang satu langkah lagi."
Aku menggenggam ponsel erat-erat.
"Karena memang satu langkah lagi."
"Tapi hidupku nggak bisa berhenti sampai kamu selesai."
Kalimat itu melukai tepat di dadaku. Aku tersadar, mungkin selama ini aku seperti meminta seseorang menunggu di stasiun yang jadwal kedatangannya bahkan aku sendiri tidak tahu.
Setelah telepon itu berakhir, aku tidak menangis. Aku hanya duduk berjam-jam, sendirian. Memandangi salju pertama yang turun di Berlin.
Lalu aku teringat semua janji yang pernah kita buat, rumah kecil, perpustakaan pribadi, dua anak, tak peduli laki-laki atau perempuan katamu, dan seekor kucing Persia kesayanganmu.
Liburan setiap akhir tahun, dan ajakanmu hunting yang selalu memaksaku memotret bunga-bunga liar di pinggir jalan. Semua mimpi itu perlahan berubah menjadi kenangan, bukan masa depan.
***
Kini undangan itu berada di tanganku, tanggal pertunanganmu tinggal dua minggu lagi.
Aku membuka galeri ponsel, masih ada ribuan fotomu, ada voice note-rekaman suara yang pernah kukirim ketika kau menangis karena nilai tesismu jelek. Masih ada juga video saat kau tertawa karena aku salah mengucapkan kata dalam bahasa Jerman. Masih ada semuanya, kecuali kita.
Ponselku bergetar, pesan baru dari kamu masuk.
"Kamu marah?"
Aku membaca lama, menimang jawaban apa yang kupilih, lalu membalas.
"Nggak."
"Bohong."
Aku tersenyum, aku tahu kamu masih mengenalku dengan baik, dan kamu tak percaya jawabanku.
"Sedikit."
"Maaf."
Aku menatap layar, lama sekali, lalu mengetik.
"Aku cuma sedih."
Titik-titik tanda kau sedang mengetik balasan muncul.
Hilang.
Muncul lagi.
Hilang lagi.
Akhirnya pesanmu datang.
"Aku juga sedih."
Aku tertawa.
Untuk apa kita sama-sama sedih jika pada akhirnya tetap tidak bersama? batinku
"Kalau waktu bisa diulang, mungkin aku tetap memilih kamu."
Pesan itu muncul, mataku mulai panas.
Aku membalas.
"Kalau waktu bisa diulang, aku akan pulang lebih cepat."
Tidak ada balasan selama beberapa menit, lalu sebuah pesan terakhir muncul.
"Aku pernah sangat yakin sama kamu."
Aku memejamkan mata.
Pernah.
Ternyata kata itu lebih menyakitkan daripada kata berpisah, karena "pernah" berarti semua itu memang nyata, pernah ada, pernah tumbuh, pernah diperjuangkan, pernah dicintai, namun tidak berhasil sampai tujuan.
Aku meletakkan ponsel, kemudian kembali memandangi undangan itu, akhirnya aku memahami sesuatu. Kadang-kadang Tuhan tidak mempertemukan dua orang untuk dipersatukan, hanya agar dua orang mereka belajar mencintai dengan sungguh-sungguh, lalu belajar melepaskan dengan ikhlas.
Aku mengambil pena, menuliskan satu kalimat kecil di belakang undangan itu. Kalimat yang tak akan pernah kau baca.
"Aku tetap bersyukur pernah menjadi alasanmu bertahan selama lima tahun."
Di luar jendela, daun-daun musim gugur terus berjatuhan, sama seperti harapan yang dulu kami bangun bersama, dan malam itu, setelah sekian lama akhirnya berguguran, dan aku tidak lagi memohon agar Tuhan mengembalikanmu.
Aku hanya berdoa satu hal, semoga laki-laki yang menggenggam tanganmu nanti mampu membuatmu merasa ditunggu, diperjuangkan, dan dicintai lebih baik daripada yang pernah kulakukan.
Sebab meskipun cintaku kandas, aku tetap mencintaimu cukup dalam untuk mengikhlaskanmu bahagia bersama orang lain.