Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Thriller
MORTALIS
0
Suka
3
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Di Musim panas yang paling menyegarkan, Elliot Huge Christoper didiagnosa mengalami depresi akut dan harus menjalani waktu pemulihan yang teratur. Dia harus beristirahat sejenak pada apa yang membuatnya depresi, salah satunya adalah melukis dan melakukan hal-hal baru lainnya.

Tapi, laki-laki berusia 27 tahun itu adalah seorang seniman. Pelukis terkenal dengan bakat yang luar biasa, seorang jenius yang mendapat julukan Maestro. Hanya saja belakangan ini, ia merasa semakin sulit untuk mendapat inspirasi yang cocok dengan dirinya. Dan kabar tentang penyakitnya membuatnya tidak bisa menerima begitu saja. Dia tidak boleh berhenti melukis, dia harus melanjutkan apa yang dia mulai, begitulah pikirannya.

Ditambah tekanan dari galeri di Kota Besar telah menguras habis jiwanya, menyisakan jemari yang gemetar dan kanvas-kanvas kosong yang terlihat mengolok-oloknya.

Akhirnya, di tanggal 13 di bulan Baik, ia memutuskan untuk pulang sementara ke rumah peninggalan Neneknya, sebuah mansion megah bergaya Eropa klasik yang berdiri tangguh di antara hutan pinus. Elliot berharap suasana sunyi di sana bisa memulihkan kewarasannya.

Semua baik-baik saja, dan di malam ketiga, Elliot akhirnya mulai mencoba untuk melukis kembali. Di ruang tengah yang penuh dengan lukisan dan ornamen dari abad pertengahan itu, Elliot meletakkan peralatan tempurnya, mencari posisi yang nyaman untuk mulai menyelami apa yang ia rasakan. Matanya kini tertuju pada jendela besar yang menampung keindahan yang nyata. Ia memindahkan keindahkan itu-jendela besar berbingkai emas dan furnitur antik yang teersorot cahaya bulan- ke atas kanvasnya yang kembali menuntut segera diisi.

Tak ada beban, tidak ada rasa cemas. Tangannya terus menari selama berjam-jam di atas kanvas yang mulai terisi dengan banyak warna itu, menorehkan setiap garis yang entah mengapa mengalir begitu saja, Elliot hanya mengikuti instingnya. Ia tidak memperdulikan maid pribadinya yang memanggilnya untuk makan malam, ia tidak menghiraukan hujan yang tiba-tiba turun dengan petir yang menyambar, ia bahkan tidak menghiraukan udara yang memeluknya terasa lebih dingin dari sebelumnya.

Dan tepat di pukul tiga pagi, ia pun tertidur di sofa dengan kuas yang masih basah.

Saat fajar mulai menyinsing, angin lembut menerbangkan tirai tipis, membuat mentari hangat berhasil meraba wajah tampan Elliot. Alisnya menyulam nada sumbang karena terusik, perlahan Elliot terbangun dan masih berusaha mengumpulkan nyawa, dia bangkit sambil meregangkan tubuh, mendekati jendela yang kini sudah terbuka lebar, menampilkan halaman luas yang sedang dirawat oleh tukang kebunnya. Saat ia berbalik, ia menatap kanvas miliknya.

Kerut samar tercipta di dahinya yang agung, sambil mendekati karyanya semalam, ada perasaan janggal yang merambat di dadanya. Sebuah perasaan tidak nyaman, bahkan bulu tangannya sejenak berdiri. Semakin ia mendekat semakin tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Jantungnya bahkan diluar kendalinya sekarang.

Di depan jendela yang ia lukis semalam, kini berdiri gambar sosok wanita. Wanita itu mengenakan sebuah gaun sutra pucat, berdiri membelakangi jendela, menatap ke arah luar yang gelap. Goresan cat itu tampak halus dan penuh rasa, begitu menyatu dengan gaya lukisan Elliot, seolah-olah wanita itu memang sudah ada di sana sejak awal.

"Aku rasa...aku tidak pernah melukis ini," bisiknya pada keheningan ruangan.

Namun, ia tidak bisa memungkiri satu hal: lukisan itu menjadi sangat indah. Ada nyawa yang terpancar dari sosok misterius tersebut. Alih-alih merasa takut, ambisi Elliot yang dulunya sempat mati justru kini kembali hidup dengan kobaran api semangat seperti sedia kala. Ia bahkan bergegas mengambil ponsel mahalnya untuk memotret lukisan itu dan segera mengunggahnya ke media sosialnya dengan diberi judul "The Lady of The Manor".

Dalam hitungan jam, dunia seni gempar. Pujian membanjiri kolom komentarnya dan mendapat lebih dari dua juta 'suka' bahkan pengikutnya naik drastis menjadi Lima Ratus Ribu-an. Para kritikus bahkan menyebutnya "Kebangkitan Sang Maestro".

Tak mau menyia-nyiakan sorotan yang sudah ada. Elliot kembali melukis di malam berikutnya, Elliot sengaja membiarkan kanvas barunya terpasang di tripod. Kali ini ia melukis sebuah sudut perpustakaan besar nan tua yang berada di mansion neneknya. Sebuah perpustakaan dengan sejarah panjangnya, salah satu tempat favorit Elliot sejak kecil saat ia berkunjung.

Pagi harinya, siapa sangka, sosok wanita itu muncul kembali di dalam lukisannya. Kali ini, wanita itu duduk di salah satu kursi beludru berwarna hijau keemasan, kepalanya sedikit menoleh ke samping, memperlihatkan garis rahang yang sempurna namun pucat pasi. Sosoknya seperti seorang Putri Bangsawan yang ada di buku-buku sejarah.

Senyum Elliot merekah sempurna, ia memang tidak mengenal siapa perempuan yang ada di dalamnya, tapi ia tidak merasa takut atau terancam, justru ia sangat bersyukur karena ada yang bisa menyempurnakan lukisannya yang terasa kosong itu. Maka ia akan memanfaatkan ini semua untuk bangkit kembali.

Setiap hari, Elliot melukis dengan seluruh jiwanya. Waktunya lebih banyak ia habiskan dengan duduk di depan kanvasnya, lukisan Elliot bahkan kini semakin hari semakin terasa hidup. Dan setiap hari pula, Elliot merasa tubuhnya semakin lemah. Kulitnya kian pucat, matanya cekung, dan berat badannya telah turun drastis.

Namun, ia tidak peduli. Elliot terus mempublish karya-karya "kolaborasi" misterius itu, menikmati kejayaannya yang telah kembali seperti sedia kala, yang selama ini ia idam-idamkan, yang selama ini selalu ia usahakan sekeras mungkin. Akhirnya ia bisa bangkit lagi.

Kini sudah tiga bulan Elliot berada di Mansion Neneknya itu dan dalam tiga bulan itu, ia sudah menghasilkan 12 Karya Masterpiece yang hampir mustahil ia selesaikan dalam waktu singkat.

Hingga saat ini, Elliot masih belum juga menemukan siapa yang menambahkan goresan demi goresan yang sangat serasi dan sangat mirip dengannya itu. Bahkan pelayannya mengatakan bahwa tidak ada satupun yang masuk ke ruangan di mana Elliot melukis, kecuali Elliot sendiri.

Hingga suatu malam yang begitu damai, Elliot membuka matanya, bukan karena sebuah cahaya pagi, melainkan rasa damai yang bahkan terlampau nyaman, namun sejenak, rasa dingin mulai menjalar ke tubuhnya, ke sekelilingnya, ia melihat asap hitam yang bercampur dengan merah pekat, bergerak ke sembarang arah dan berhenti tepat di depan kanvasnya yang ke-13nya itu. Kanvas yang menampung karyanya yang belum selesai. Ia masih mengerjakannya saat ini.

Saat kabut itu kian memudar, ia melihat ke arah kanvas miliknya yang berada di tengah ruangan. Di sana, muncul kembali gambar wanita di dalam lukisan itu. Wanita itu tidak lagi memunggunginya, tidak lagi menengok ke arah samping atau menutupi wajahnya dengan objek seperti biasanya. Dia berbalik sepenuhnya. Wajahnya tampak cantik, namun matanya kosong, hitam legam seperto lubang tanpa dasar.

Wanita itu memang menarik, berpakaian sederhana namun begitu memikat. Tapi yang membuat Elliot membeku adalah apa yang dipegang wanita itu di dalam lukisannya. Wanita itu memegang sebuah kuas. Kuas yang sama persis seperti milik Ellios. Dan diujung kuas itu, terdapat sebuah cairan merah segar yang masih menetes.

Matanya terpaku, seperti terhipnotis akan satu titik yang menyala itu, ia mengikuti arah di mana kuas itu tertuju. Seolah paham, Elliot dengan gerakan yang lambat menunduk untuk melihat dadanya. Ada sebuah lubang kecil di sana, kaos putihnya ternoda, ada rembesan cairan yang semakin lebar di sana. Baunya amis dan warnanya merah pekat. Ini bukan cat. Ini adalah darah.

Darah itu seolah tidak bisa berhenti keluar dari tubuhnya, ia terus mengalir, seolah-olah ada seseorang yang sedang mengambil "cat" lansung dari nadinya untuk menyelesaikan detail terakhir di atas kanvas. Setiap rembesan merah di kaosnya melebar, semakin lengkap juga lukisan di depannya.

Saat Elliot mencoba berteriak, suaranya hilang. Tubuhnya terasa kaku, mendatar, dan kehilangan dimensi. Pandangannya mengabur, hingga akhirnya ia hanya bisa melihat ruangan itu dari sudut pandang yang sangat sempit.

Pagi harinya, seorang kurir galeri datang ke rumah itu untuk menjemput karya terbaru.

Di atas tripod, terpampang sebuah lukisan mahakarya yang luar biasa nyata.

Seorang wanita cantik berdiri di depan jendela, di sampingnya, duduk seorang pria muda yang tampak sangat lemas dengan kuas di tangannya. Mereka berdua tampak sangat menyatu dengan latar ruangan bergaya Eropa itu. Begitu cantik. Begitu abadi. Dan sangat...sangat mati.

"Tuan Elliot sangat Jenius, Madam. Tidak salah jika ia mendapat jukukan seorang Maestro." ucap Adrian, sang kurir, ia tersenyum sambil membungkus hati-hati lukisan itu, sesekali sambil berbincang ramah pada wanita yang memakai gaun hijau beludru mewah bergaya Eropa abad ke-18 itu.

Senyumnya ramah namun Adrian merasa ada yang janggal, bukan karena apa, wanita itu, menurutnya sangat cantik, sampai-sampai memiliki atsmofer yang begutu serasi dengan gaya mansion dan lukisan-lukisan yang ada.

Setelah itu, ia pamit untuk pergi dari sana.

Adrian melewati sebush taman yang sedang dirawat oleh Nicolas, Adrian tidak pernah tidak puas jika mengambil pesanan Tuan Elliot, karena dengan begitu, ia bisa melihat kastil berkedok mansion mewah ini.

"Oh, Adrian, kau datang lagi?" sapa Nicolas yang berhenti memotong tanaman.

"Ya, paman Nicolas, karya Tuan Elliot kali ini juga luar biasa!" ucap Adrian menggebu-gebu, "Madam juga sangat ramah,"

"Nyonya?" tanya Nicolas menyernyitkan dahinya.

"Ya, itu di sana." tunjuk Adrian dengan sorot matanya yang mengarah ke jendela di ruang lukis Elliot.

"a-ah..begitu?"

"Paman? kenapa?"

Nikolas tidak melihat siapapun di sana. Hanya ada jendela kosong yang samar-samar tirainya tertiup angin.

"Dengar Adrian, aku sarankan kau jangan terlalu banyak bekerja, kelelahan itu tidak baik bagi tubuh dan pikiran—"

"dan jujur, aku tidak tahu apa maksudmu, tapi, Tuan Elliot bahkan belum memiliki tunangan, jangankan ada seorang Nyonya Rumah, bahkan semua pelayan di mansion ini adalah laki-laki. Tidak ada wanita di sini, Adrian." jelas Nicolas ramah.

Saat itu juga, Adrian membeku dan tertawa garing untuk meredakan pikirannya yang berkecambuk. Sekilas ia melirik dari ekor matanya dan di sana, Elliot dengan wajah dan tubuh sepucat porselen hingga cahaya bahkan bisa saja menembus kulitnya, ia berdiri tanpa ekspresi. Di sebelahnya, ada sosok yang tadi berbincang dengannya.

Sebelum tirai itu ditarik kasar, sekilas, ia melihat sosok itu tersenyum.

Sebuah senyum namun bergaris duka.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Thriller
Cerpen
MORTALIS
KIN DOUTZEN
Cerpen
Bronze
Setan-Setan dari Rumah Hijau
Jie Jian
Novel
Bronze
Gadis Kecil Dari Neraka
ken fauzy
Novel
Revenge Riddle
Tiara Elsabila
Novel
Bronze
Delapan Bidak
Jimmy Alexander
Flash
Nea
SeirenešŸ€
Novel
Bronze
DELANGGUNG
Era Ari Astanto
Novel
Rumi El Habsy
Oktonawa
Skrip Film
Remang
Muhammad Alfi Rahman
Novel
Bronze
Ranting
Ariya Gesang
Cerpen
TENTANG GRAVITASI YANG HILANG DI DESA KAMI
Rian Widagdo
Novel
Bronze
Impian dan Dendam
Riswandi
Novel
Gold
Into the Water
Noura Publishing
Novel
Meja Bundar
Hendra Purnama
Novel
Bronze
Krisis Moral
Dodi Spur
Rekomendasi
Cerpen
MORTALIS
KIN DOUTZEN
Cerpen
MY MUSE
KIN DOUTZEN
Novel
ARCANA DOMUS
KIN DOUTZEN