Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Moon And Sun
3
Suka
51
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Lintang menyadari perasaan itu secara perlahan. Iya. Ia baru menyadari bahwa bagi dirinya, Lyra bukan sekadar teman biasa. Sebelumnya lelaki berkacamata itu tidak dapat jujur kepada dirinya sendiri. Lelaki yang terbiasa menggunakan otaknya dibandingkan hatinya tersebut sering meragukan perasaannya. Lyra merupakan satu-satunya teman perempuan yang dimilikinya. Mungkin saja, kan dirinya salah paham dengan perasaan yang ia miliki?

Namun ketika Lyra mulai bercerita mengenai Bintang, ketika gadis itu bicara mengenai lelaki itu tanpa henti, Lintang tahu bahwa yang ia rasakan memang perasaan suka. Dia juga tahu bahwa dirinya terjebak dalam perasaannya sendiri. 

"Lintang! Kamu dengerin apa yang aku omongin gak sih?"

"Gue denger. Lanjutin aja cerita lo."

"Jadi, kak Bintang itu...,"

Setelah hampir tujuh belas tahun hidup, Lintang akhirnya merasakan apa yang orang lain sebut sebagai jatuh cinta. Perasaan ini menurutnya aneh sekali. Terkadang ia sibuk menata hatinya di depan Lyra. Lintang tidak terbiasa ketika sekumpulan kupu-kupu menggelitik perutnya atau ketika telinganya terasa panas ketika Lyra membicarakan Bintang, orang yang kini tengah disukai oleh gadis itu. Perasaannya campur aduk.

Laki-laki itu hampir-hampir tidak dapat menahan luapan emosi yang dirasakannya. Laki-laki logis itu berpikir bahwa dirinya berubah tak seperti dirinya yang biasanya. Dirinya melihat dunia lebih berwarna. Ia juga melihat hal-hal yang tadinya terkesan biasa atau netral menjadi ekspresif. Misalnya ketika lelaki tersebut melihat Lyra, ia melihat kilauan di sekitar gadis itu. Laki-laki yang tak pernah merasakan perasaan suka itu tidak sanggup melihat senyum manis yang dimiliki gadis itu. Jantungnya menjadi berdetak tak karuan.

Apakah jatuh cinta memang seperti itu?

Lintang juga berperilaku berbeda dari biasanya. Lelaki yang sebelumnya tidak pernah memperhatikan penampilannya itu tiba-tiba saja jadi ingin berpakaian rapi setiap menemui Lyra. Ia ingin berolahraga untuk memperbaiki bentuk tubuhnya. Ia memakai parfum yang sebelumnya tak pernah dirinya gunakan. Pokoknya, Lintang ingin terlihat menarik di hadapan Lyra.

Rasanya ia ingin melompat kegirangan ketika diajak untuk belajar bersama dengan Lyra. Namun, harapannya pupus ketika dirinya melihat gadis itu duduk berdampingan dengan Bintang. Ternyata, hari itu Lyra tidak hanya mengajak dirinya untuk belajar bersama.

"Oi, Lintang! Akhirnya kamu sampai juga," sambut gadis manis itu kepada Lintang. Ia melambaikan tangannya sambil berdiri dari tempat duduknya. Angin berhembus pelan dan rambutnya yang terurai turut bergoyang. Cantik. Lintang sangat menyukai saat rambutnya Lyra terurai, menurutnya Lyra menjadi lebih elegan.

"Kenalin, ini kak Bintang. Ke depannya kak Bintang ini yang bakal jadi mentor untuk olimpiade astronomi jadi kita bakal sering ketemu dengan kak Bintang," papar Lyra kepada Lintang sambil tersenyum senang. 

Tidak mudah untuk tidak membandingkan dirinya sendiri dengan Bintang. Apakah benar Bintang memang sekeren dan sehebat seperti yang Lyra ceritakan hampir setiap saat?

Bintang merupakan seorang mahasiswa jurusan astronomi di ITB. Ia merupakan pemenang medali emas OSN astronomi. Jujur saja, pantas saja Lyra menyukainya. Tidak hanya pintar, ia juga merupakan tipe orang yang pasti disukai banyak orang. Mulai dari cara berpakaiannya yang trendy. Postur tubuhnya yang tinggi dan atletis. Ia juga memiliki sifat humoris dan humble.

Berbeda sekali dengan dirinya. 

Lintang bukan termasuk murid yang pandai bersosialisasi namun ia cukup terkenal di sekolahnya karena kepintaran yang dimilikinya. Guru-guru sering membicarakan dirinya di depan murid lain dan para murid pun menjadikannya sebagai bahan pembicaraan. Namun sayangnya hal ini menyebabkan Lintang tidak bisa berbaur dengan baik. Hal ini dikarenakan ekspektasi berlebih yang mereka gantungkan kepadanya. Mereka menganggap lelaki introvert itu terlalu fokus pada nilai akademis dan tidak mementingkan hal lainnya. Hal ini membuat lelaki pintar tersebut disegani oleh teman-temannya. Hal ini pulalah yang membuat ia menjaga jarak dengan mereka. Dirinya tidak suka dengan orang yang percaya dengan gosip tanpa mencari tahu kebenaran akan gosip tersebut. 

Orang-orang menyebut dirinya misterius. Terkadang ada yang memanggil dirinya sebagai orang yang arogan atau sombong hanya karena lebih banyak menyendiri.

Bisa dibilang, Lyra merupakan teman pertamanya di sekolah ini. Gadis cantik itu berbeda dengan dirinya. Lyra tidak terlalu terkenal di sekolahnya namun ia merupakan orang yang supel dan ramah. Walaupun sebenarnya dia cukup pemalu. Tak jarang rona di wajahnya memerah setiap berbicara dengan Lintang. 

Namun kini, Lyra sudah tidak mudah merasa malu di hadapannya. Lintang melihat bahwa gadis berlesung pipi itu tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Lyra adalah seseorang yang hangat bagaikan matahari. Dengan kehadirannya saja, ia mampu menularkan perasaan hangat kepada orang lain. Lambat laun perempuan tersebut juga menularkan sikap hangatnya kepada Lintang. Berkat gadis itu, Lintang memiliki beberapa teman di sekolah. 

Di satu sisi lainnya, seseorang pernah berkata bahwa Lintang memiliki sifat yang menenangkan namun misterius bagaikan bulan yang menyinari malam. 

Matahari dan Bulan. Konon mereka tidak dapat berjumpa di waktu dan tempat yang sama. Matahari pada pagi hari dan bulan pada malam hari. Namun pada satu kesempatan, di waktu dan tempat yang tepat, mereka dapat bersinggungan. Pada saat itulah terjadi suatu keajaiban. 

Dan kepada keajaiban itulah, Lintang menggantungkan harapannya. Dirinya berharap bahwa Lyra akan selalu bersama dengannya. Jika pada akhirnya perasaannya saat ini diketahui oleh Lyra, ia berharap Lyra tidak akan menjauhinya. 

 ***

Lyra termenung sambil memandangi rintik hujan di jendela kelasnya. Sekarang sedang ada jam kosong, waktu dimana guru mendadak ada urusan dan tidak bisa mengajar. Sebenarnya dirinya memiliki janji temu dengan Lintang dan kak Bintang untuk mempersiapkan olimpiade astronomi yang kini tinggal menghitung hari. Namun, di saat seharusnya ia belajar lebih giat dirinya malah terjebak oleh pikiran yang menghantuinya sedari kemarin.

Kemarin sore Lyra tidak sengaja mencuri dengar percakapan antara Lintang dan kak Bintang dan percakapan tersebut ternyata mengenai dirinya! Kak Bintang mengatakan pada Lintang bahwa dirinya menyadari bahwa Lintang memiliki perasaan khusus kepada Lyra. Kak Bintang lalu mengatakan bahwa dia akan mendukung perasaan Lintang dan berkata bahwa ia dan Lintang sangatlah cocok menjadi pasangan.

Lyra seperti mendengar ada sesuatu yang pecah dari dalam dirinya. Pernahkan kalian membayangkan seseorang yang kamu suka malah mendukung kamu untuk menyukai orang lain? 

Lyra sebenarnya tahu bahwa dirinya mungkin tidak memiliki harapan dan peluang dalam percintaan. Terlebih dengan orang sehebat kak Bintang. Namun tetap saja, rasanya sungguh menyakitkan. 

Kejutan lainnya, Lyra sama sekali tidak menyangka bahwa Lintang menyukai dirinya! Lyra yang selalu merasa dapat menebak isi hati Lintang yang terkenal misterius merasa kalah telak. Sebenarnya apa yang Lintang lihat dari dirinya?

Sungguh, Lyra tidak ingin bertemu dengan mereka untuk saat ini. Lyra rasa dirinya akan menjadi canggung ketika bertemu dengan mereka berdua. Ketika mendapat dua berita yang bertentangan respon apa yang harus Lyra rasakan dan berikan?

"Oi, Lyra!" teriak Lintang menyadarkan Lyra kembali dari lamunannya. Tiba-tiba saja Lintang sudah duduk di kursi di hadapannya.

"Kenapa nggak datang ke ruang astronomi? Lo sakit?" tanya Lintang dengan nada terdengar khawatir.

"Nggak apa-apa. Nggak sakit kok," ucap Lyra tanpa menatap mata Lintang. Lyra masih merasa canggung untuk menghadapi Lintang saat ini.

"Tumben biasanya lo yang paling excited setiap mau ketemu sama kak Bintang," ucap Lintang keheranan. 

"Apa hari ini kita bolos aja ya, Lintang?" Lyra memang masih merasa canggung dengan Lintang. Namun ia lebih tidak berani menghadapi kak Bintang.

"Lo beneran nggak apa-apa, kan?" hampir saja telapak tangan Lintang menyentuh dahi Lyra namun Lyra yang terkejut tiba-tiba berdiri. 

"Maaf, Lintang." 

Ternyata rasanya berbeda ketika kamu mencintai seseorang dan ketika kamu dicintai oleh seseorang. Ketika kamu mencintai seseorang, dunia terasa indah. Kamu juga berusaha untuk menjadi sosok yang pantas untuk orang tersebut. Ketika kamu dicintai, kamu menerima banyak sekali afeksi dari orang tersebut seakan-akan dirimu istimewa dan berharga. 

Soal Lintang yang menyukai dirinya, Lyra tidak tahu harus bersikap seperti apa di hadapan Lintang. Apakah kalau tetap berteman dengannya akan terlihat seperti memberi harapan palsu? Namun, Lyra yakin sepenuhnya bahwa dia tidak sanggup memutus pertemanan dengan pemuda itu. Karena pemuda yang terkenal misterius itu teramat berharga bagi dirinya. 

"Kemarin, aku mendengar percakapan kalian berdua," ucap Lyra sambil menahan tangis. Bagi Lyra rasanya sangat tidak adil karena dia mendapat penolakan dan pengakuan sekaligus. Lyra tidak ingin menyakiti hati Lintang. 

Lintang terkejut namun Lintang lebih terkejut karena Lyra hampir menangis. 

"I'm sorry, Lyra. Gue nggak ingin membebani lo dengan perasaan gue ini."

"Lo gausah pikirin apa-apa dulu sekarang. Yuk, gue temenin makan di tempat bakso kesukaanmu. Atau lo lebih nyaman kalau gue ga ketemu lo dulu?"

"Aku gamau kehilangan kamu, Lintang."

"You won't. I promise."

“Lyra, we are moon and sun. Tahukah kamu bahwa bulan masih dapat terlihat di langit ketika matahari terbit? Tahukah kamu bahwa bulan bercahaya hanya karena memancarkan cahaya matahari? We are unseparated, Lyra. Kita saling melengkapi dan saling membutuhkan, apapun yang terjadi, kita akan selalu bersama.”

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Cerpen
Moon And Sun
Ra
Novel
Gold
Mau Minum Obat Seumur Hidup
Mizan Publishing
Novel
Jalan di Kepalaku
Rahmi Djafar
Cerpen
Aroma Hujan
Ra
Flash
Pangeran Matahari
Tazkia Irsyad
Flash
Bronze
Buku Bertanda Tangan
Afri Meldam
Cerpen
PEREMPUAN PEMELUK KABUT
Heru Patria
Cerpen
Bronze
Aku Bukanlah Lukaku
Ra
Flash
Bronze
Permintaan Maaf
Alfian N. Budiarto
Flash
Bronze
Aku dan Ijah
Rere Valencia
Novel
Guys & Girls
Ayuk SN
Novel
WARNA RASA DISETIAP HUJAN
Vy
Novel
Sang Maharani
Sabrina Yunio
Cerpen
Belenggu yang Memudar Dimakan Zaman
Yutanis
Cerpen
Bronze
ZINA
Iman Siputra
Rekomendasi
Cerpen
Moon And Sun
Ra
Cerpen
Aroma Hujan
Ra
Cerpen
Bronze
Aku Bukanlah Lukaku
Ra
Cerpen
Aku Si Pemberontak
Ra
Cerpen
Ana Mia
Ra