Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Ada monster yang selalu bersamaku, berbisik padaku, menjejalku ke dalam lubang kehancuran. Aku tak sedang meracau. Aku benar-benar mendengarnya, bahkan melihat bayangan hitamnya yang menyerupai manusia.
Melihat wajahnya, kaubilang? Tentu saja aku tak mau. Aku tak berani. Memangnya siapa yang berani melihat rupa monster?
Kau berani? Jangan membual. Lebih baik kau diam dan biarkan aku menceritakan tentang monster itu agar kau percaya.
Kau mau dengar? Bagus. Tapi ingat, kau tak boleh menyela. Tak boleh meragukan ceritaku karena monster itu benar-benar nyata.
Aku beralih pandang ke langit-langit kusam, tepat ke lampu putih buram. Penerangan di sini payah. Lampu bodoh itu sudah tak bisa melakukan tugasnya. Lalu karena mulai silau, mataku berkeliling menerawang dinding putih dengan bercak-bercak lumut menjijikkan. Akhirnya aku terpaku pada seekor cicak yang bergeming di sudut sana.
Duduk di atas tikar tipis membuat bokongku dingin. Pinggangku mulai pegal. Aku meregang badan lalu menghela napas. Dari mana aku harus memulainya?
Pandanganku masih berpusat pada titik yang sama. Cicak itu mulai bergerak dan aku mengikuti ke mana arahnya melenggang. Geraknya sedikit saja, lalu berhenti lagi. Tapi kali ini mata hitam joroknya memelototiku. Aku tertegun dan refleks membuang muka.
...