Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Suara detak jam dinding di ruang tengah terdengar seperti dentuman drum di telingaku. Pukul dua pagi. Rumah sudah lama terlelap dalam kegelapan, kecuali satu sudut di ujung lorong—kamar Bang Yudha yang juga merangkap sebagai studionya.
Cahaya biru dari layar monitor mengintip dari celah bawah pintunya. Aku berdiri mematung di depannya, menggenggam naskah lombaku yang baru saja ditolak untuk ketiga kalinya. Ada isakan yang kutahan di tenggorokan, namun aku ragu untuk mengetuk. Bang Yudha bukan tipe orang yang suka diganggu saat sedang bekerja.
Tiba-tiba, suara kursi roda berderit. Pintu terbuka perlahan sebelum tanganku sempat menyentuh kayunya.
Bang Yudha berdiri di sana. Kaos hitam kebesaran, rambut yang sedikit berantakan tertutup beanie, dan sepasang mata yang tampak lelah namun sangat tajam. Dia tidak bertanya kenapa aku menangis. Dia tidak panik.
“Masuk,” ucapnya singkat.
Aku masuk ke dalam ruangannya yang beraroma kopi hitam dan kabel hangat. Dia tidak menawarkan pel...