Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
Monday Coffee
0
Suka
3
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Aku sedang duduk-duduk di cafe sepulang kerja. Menikmati secangkir kopi, seolah itu bisa meluruhkan kelelahanku di awal minggu ini.

Kota ini jauh lebih sepi dibandingkan dengan Senin sore biasanya. Kendaraan bergerak pelan di tengah hujan. Beberapa pria berdasi sepertiku terlihat berdesakkan di halte seberang jalan—menunggu kedatangan bis selanjutnya.

Aroma hujan dan asap rokok bercampur jadi satu. Suasana yang sangat tenang ini membuatku tergugah untuk menyimpan ponsel dan mengeluarkan buku sketsa gambarku. 

Aku baru saja selesai membuat pola, garis-garis samar yang aku gambar dengan pensil tipis. Lalu pandanganku tertuju pada seorang wanita yang baru saja masuk ke dalam cafe.

Pensilku sampai terjatuh. Tentu saja aku mengenalinya, meskipun pikiranku menolak untuk mengakuinya.

Casey.

Ia mendorong pintu kaca itu dengan bahunya, satu tangannya menggenggam ponsel, sedangkan yang satunya lagi menggenggam gelas kopi yang mungkin baru saja dipesannya.

Aku bisa melihat dengan jelas tulisan di kap plastiknya: Cappucino. Ekstra Shot. Sedikit gula.

Jelas itu adalah kopi hari Seninnya Casey.

Aku tersenyum—hampir saja tertawa. Betapa konyolnya aku karena masih saja mengingatnya dengan jelas.

Casey pernah bilang padaku, kalau Americano memang selalu jadi kopi favoritnya.

Hitam, pahit, dan cocok diminum di sepanjang minggu.

Namun, dia bilang hari Senin bagaikan tokoh antagonis dalam sebuah film. Kejam, jahat dan membuatmu selalu ingin menangis. Dan ia butuh sesuatu yang manis untuk membuatnya bisa bertahan di hari itu. Gula dan susu.

Meja Casey sekarang ada di dalam ruangan, sedangkan aku di luar. Kami terpisahkan oleh sebuah dinding kaca besar dan lima tahun yang penuh dengan penyesalan. Ia duduk membelakangiku. Aku berani bertaruh, ia tak tahu ada aku di sini. 

Aku menatapnya dengan saksama. Kulit cokelatnya yang indah—bersinar bagaikan senja. Riasannya sangat tipis. Meski begitu, ia tetap terlihat cantik—sangat cantik. Tak pernah berhenti aku mengaguminya.

Casey mengenakan kemeja santai dan celana jeans. Ia nyaris tak tersentuh waktu. Tampilannya masih sama seperti kali terakhir kami bertemu. Sedangkan aku, malah terlihat sepuluh tahun lebih tua dari usiaku.

Namun ada satu hal yang membuatku sempat hampir tak mengenalinya.

Rambutnya.

Panjang bergelombang. Hitam legam. Diurai rapi dan dijepit setengahnya menggunakan jepit sederhana berwarna perak. Warna yang senada dengan cincin yang melingkar di jari manisnya.

Dulu Casey tak pernah membiarkan panjang rambutnya lebih dari sebahu. Ia juga selalu rajin mengganti warna rambutnya. Pernah berwarna biru. Beberapa kali ungu. Satu kali, berwarna pink terang—yang membuat siapapun akan menoleh padanya.

Casey selalu bilang kalau ia tak pernah suka terlihat biasa.

Dan sekarang, ia terlihat seperti seseorang yang telah benar-benar lelah untuk berlari.

Aku melihatnya membuka laptop. Ia merapikan rambutnya ke belakang telinganya sebelum memasang earphone. Beberapa menit kemudian, warna biru terang memantul dari layar laptopnya melalui jendela cafe. Aku tahu betul kalau ia sekarang sedang melakukan panggilan Zoom. Kupikir ia sedang mengajar. Karena yang terakhir kudengar, ia mengajar bahasa Perancis di salah satu lembaga di kota ini.

Aku masih ingat bagaimana ia berlatih melafalkan kosakata dalam bahasa Perancis di sela-sela istirahat makan siang. Ia juga sering menggodaku dengan kalimat yang bahkan aku tidak mengerti artinya. 

Casey bilang, bahasa Perancis itu terdengar seperti: “Bahasa yang ditulis oleh orang yang sedang jatuh cinta.”

Lucunya, aku tak pernah bisa menuliskan satu bahasa pun yang bisa membuatnya mengerti bahwa aku menyesal.

Dan saat ini, seharusnya aku berpaling.

Alih-alih, aku masih menatapnya seperti seseorang yang putus asa.

Entah apa yang aku cari.

Mungkin aku hanya ingin meyakinkan diri bahwa luka itu sudah sembuh?

Meski nyatanya belum. Mungkin tidak akan pernah.

Aku ingin menghampiri dan menyapanya, “Cassandra.”

Meski ia pasti akan cemberut, namun tetap tertawa sambil merengek agar aku memanggilnya ‘Casey’ saja.

Aku ingin memberitahunya bahwa aku bukan lagi pria dua puluh lima tahun yang hanya bergantung pada orang tuaku. Bukan pengecut yang terus memintanya menanti tanpa tahu berapa lama ia harus menungguku. 

Aku punya pekerjaan tetap sekarang. Aku memakai kemeja yang selalu disetrika setiap hari. Aku juga sudah membeli mobil sendiri. Tak lagi meminjam mobil butut milik kakakku.

Bukankah menyedihkan betapa aku ingin dia tahu tentang hal itu?

Aku juga ingin dia tahu bahwa ibuku sudah meninggal tiga tahun yang lalu.

Ibuku—wanita yang selalu menyayangi Casey seperti anak perempuannya sendiri. Wanita yang sama—yang selalu diam-diam mengundang Casey ke rumah setiap kali kami bertengkar. 

Ibuku bahkan masih sempat menanyakan Casey di akhir hidupnya.

“Kupikir kau harus menelepon Casey sekali-kali dan mengundangnya ke rumah. Ibu ingin bertemu dengannya.”

Dan aku hampir saja menelepon Casey setelah pemakaman. Aku bahkan sudah mengetikkan pesan untuknya. Namun, aku terlanjur menyadari sesuatu.

Dua puluh sembilan Agustus. Tiga hari sebelum pesta pernikahan Casey.

Aku tahu ia akan menikah, meskipun Casey tidak pernah secara langsung mengundangku. Mungkin karena aku yang terlalu jahat, atau mungkin karena ia tak pernah mengingat aku.

Lalu aku memilih untuk menghapus pesan itu dan meyakinkan diriku sendiri bahwa memberitahu Casey tentang kematian ibuku bukanlah hal yang tepat.

Dan lucunya lagi, alasan sebenarnya aku tak pernah menghubunginya malam itu adalah karena aku tak ingin mendengar suaranya lagi.

Perhatianku kembali teralih ke dalam cafe, Casey mengangguk sambil tersenyum ke layar laptopnya. Beberapa detik kemudian, ia menoleh ke arah jendela. Aku panik dan menundukkan kepalaku. Aku baru ingat kalau tadi aku sedang menggambar di buku sketsaku. Aku bahkan belum mengambil pensilku yang terjatuh sejak setengah jam yang lalu.

Aku pun membalikkan halaman dan memutuskan untuk menggambar sesuatu yang baru.

Casey.

Aku mulai menggambar kedua matanya—sesuai dengan ingatanku saja. Mungkin aku sudah terbiasa melukisnya selama bertahun-tahun.

Casey selalu memintaku untuk melukisnya. Saat ia sedang memasak, saat pertama kali bisa menyetir mobil, bahkan saat ia mendapatkan sertifikat bahasa Perancis pertamanya.

Meskipun ia selalu protes, “Kau ini memang seniman yang payah, atau karena kau tidak ikhlas melukis aku?”

Casey bilang begitu karena aku tidak pernah melukis wajahnya. Bukan karena aku tidak pandai melukis wajah manusia. Aku bahkan selalu memperhatikan detail-detail kecil, meskipun itu hanya tahi lalat kecil di ujung bibir seseorang.

Aku pun mulai menggambar.

Casey masih tetap di dalam, berbicara pelan sambil tersenyum ke layar. Sesekali ia mengangguk sopan saat muridnya bicara. Ia terlihat sangat senang. Seperti seseorang yang akhirnya menemukan apa yang selama ini ia cari.

Dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun yang lalu, aku sadar bahwa aku tak lagi layak berada di hidup Casey.

Aku tersenyum pahit, menatap ke arah kursi kosong di seberangku.

Aku selalu ingat biasanya Casey duduk di sana sambil tersenyum padaku. Sesekali ia mencuri kentang goreng dari piringku, mengumpat dengan bahasa Perancis tentang hari Senin yang sibuk dan memaksaku untuk mencicipi kopi miliknya. Karena ia bilang, kopi milikku terlihat seperti seseorang yang depresi dan tak punya gairah hidup.

“Kalau aku perhatikan, sepertinya kau hanya minum Espresso saat kau mencoba menghukum dirimu sendiri,” tebaknya.

Tapi, dia salah besar.

Karena setelah ia pergi, aku mulai meminum Cappucino.

Entah karena aku ingin menyiksa diriku sendiri, atau karena aku ingin mengenang Senin bersama Casey. Tak ada bedanya.

Sebelum beranjak pergi, aku melirik ke arah Casey untuk yang terakhir kalinya, seolah merasa belum cukup menyakiti diriku sendiri. Namun cukup untuk mengingatnya di Senin sore ini: dewasa, cantik, tak tersentuh, dan... bukan milikku.

Aku menatap lalu lalang kendaraan sambil menghela napas panjang. Semuanya nampak sama, seolah tak pernah ada yang terjadi.

Suara klakson mobil di perempatan jalan. Anak-anak SMA yang berlarian di trotoar. Dan juga suara musik yang samar-samar terdengar dari minimarket di dekat sini.

Aku membuka kembali halaman ke dua puluh empat buku sketsaku. Lukisan Casey yang belum selesai.

Lalu, perlahan aku mulai menggambar lagi. Rambut panjang hitam yang bergelombang. Bibir tipisnya yang mengenakan dipoles lipstick warna merah. Lelah dibalik senyumnya.

Versi Casey yang baru.

Saat aku selesai, aku menatap lekat-lekat hasil lukisanku.

Delapan tahun kami berpacaran.

Lima tahun sejak kami putus.

Tiga tahun sejak Casey menikahi pria lain.

Dan ini adalah kali pertama aku bisa melukis wajahnya dengan sempurna.

Casey benar. Aku adalah seniman yang payah. Aku bahkan tak bisa menggambarkan setengah dari kecantikannya di dalam lukisanku.

Aku menutup bukuku dan mulai beranjak pergi.

Aku memalingkan wajahku saat melewati mejanya.

Kurasa dia tidak melihatku.

Atau mungkin sebaliknya.

Mungkin kami sama-sama pengecut untuk saling bertegur sapa.

Aku berjalan menghampiri konter. Pegawai cafe bertanya apa yang ingin aku pesan.

Untuk beberapa detik, mataku melirik ke arah gelas plastik milik Casey yang disimpan di samping laptop miliknya.

Monday Coffee.

Cappucino. Extra Shot. Less sugar.

Dadaku mendadak sesak.

“Saya pesan Espresso,” ucapku pada kasir.

Tak lama kemudian, kasir itu memberikanku segelas Hot Espresso yang aku pesan.

Casey tidak menyadari kehadiranku. Tentu saja tidak akan.

Untuknya, hari ini mungkin hanya hari Senin sore biasa.

Bagiku, rasanya seperti berdiri di atas penyesalan yang tak pernah bisa benar-benar aku lupakan.

Aku meneguk Espressoku sesaat setelah keluar dari cafe.

Lalu diam-diam berjanji, aku tak akan pernah meminum Cappucino lagi.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Cerpen
Monday Coffee
Vania Faustin
Novel
Bronze
HONE-STLY
Mutiarampulembang
Novel
Bronze
Singularity
Rezky Armitasari
Novel
After Seven Years
Vania Faustin
Komik
Lean on me
maimai
Novel
Eunoia
Name of D
Novel
Bronze
Akhir Cerita
Eshal
Novel
Gold
Brisbane
Mizan Publishing
Novel
Bronze
BUKAN PILIHAN
essa amalia khairina
Novel
TEQUILA
Cloudslyy
Novel
Bronze
Kopi Pahit dan Janji Manis
Erfi Ulul Azmi
Flash
Bronze
SEPASANG MUG YANG MERINDUKAN BIBIR
Nimas Rassa Shienta Azzahra
Novel
MENGEJAR CAHAYA
Wini Afiati
Novel
Bronze
Saudade
Gulla
Novel
QUEEN
Tiara Indriani
Rekomendasi
Cerpen
Monday Coffee
Vania Faustin
Novel
After Seven Years
Vania Faustin
Novel
The Unsent Letters
Vania Faustin
Novel
Kala Karma Bertamu
Vania Faustin
Novel
The Fake Boyfriend Project
Vania Faustin