Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Modiii@R!!!
0
Suka
4
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Malam itu, dingin menusuk sampai ke tulang, tapi dadaku hangat oleh ciu oplosan yang baru saja kuteguk di gardu ronda. Pandanganku agak kabur, bayangan lampu jalanan mekar seperti bunga api yang pudar. Di bawah cengkeramanku, stang Motor Satria FU gres berwarna hitam mengkilap itu bergetar hebat. Suara knalpot brong-nya yang memekakkan teliga menggelegar membelah sepinya jalanan aspal yang basah sisa hujan.

Aku tertawa keras. Suara tawaku tenggelam oleh raungan mesin yang terus kupaksa merayap naik ke kecepatan tertinggi. Jarum spedometer terus meloncat: 70, 80, 90, hingga menyentuh angka 100 kilometer per jam.

Inilah aku. Awan. Umurku baru 15 tahun, kelas tiga di sebuah SMP negeri yang cat temboknya sudah mengelupas. Tapi malam ini, di atas besi panas beroda dua ini, aku merasa seperti raja. Tidak ada yang bisa menghentikanku. Tidak guru-guru di sekolah yang benci melihat muka pemalasku, tidak teman-temanku yang dulu kerap mengejekku jalan kaki, dan tentu saja... bukan orang tuaku.

Sejak kecil, rumah kami yang beratap seng dan berdinding papan lapuk di ujung gang sempit selalu beraroma sama: bau keringat, tanah basah, dan keputusasaan. Bapak cuma seorang tukang batu. Kulitnya hitam legam terbakar matahari, tangannya kasar seperti ampelas nomor satu. Saban hari, Bapak pulang dengan bahu melengkung, membawa uang puluhan ribu yang sudah lecek terkena semen. Ibu tak jauh beda. Sebelum subuh pecah, saat aku masih terbuai mimpi, Ibu sudah memikul keranjang kayu berisi sayur-mayur, menelusuri kompleks perumahan warga sampai kakinya yang varises itu bengkak-bengkak.

Lalu ada Mbak Ratih, kakak perempuanku. Dia menyandarkan cita-citanya di tempat sampah demi membantuku. Habis lulus SMA, dia tidak kuliah. Mbak Ratih kerja serabutan. Kadang ikut menjaga toko kelontong orang, kadang melipat kardus di pabrik rumahan, kadang mencuci piring di warung tenda. Apa saja, asal dapat uang seratus dua puluh ribu seminggu untuk membanting tulang menyokong dapur kami agar tetap ngebul.

Tapi, apa aku peduli? Tidak. Otakku yang dungu saat itu tumpul oleh gengsi.

Bagi anak-anak sepusiaku di sekolah, hidup adalah tentang siapa yang paling keren di tongkrongan. Dan di sekolahku, keren itu punya roda dua. Teman-temanku datang ke sekolah naik motor matic berkilau, memoles velg-nya tiap istirahat, dan membonceng cewek-cewek populer saat pulang sekolah. Sedangkan aku? Aku harus berjalan kaki dua kilometer, menahan debu dan cibiran, dengan sepatu kain yang solnya sudah menipis.

Rasa malu itu membusuk di dalam dadaku, berubah menjadi kebengalan yang tak terkendali. Aku benci sekolah. Buat apa belajar matematika kalau tidak bisa membelikanku gengsi? Aku mulai sering bolos. Sembunyi di balik benteng belakang sekolah, memanjat pagar saat bel pertama berbunyi, lalu bergabung dengan barisan anak-anak putus sekolah di pangkalan. Hari-hariku habis di sana. Isap batang rokok murahan, meludah ke tanah, dan meneguk minuman keras oplosan dalam plastik transparan. Semakin orang tuaku marah, semakin aku menjadi-jadi.

"Wan, eling, Le. Kowe iku wis mau ujian nasional. Sekolah sing bener," ucap Ibu suatu malam saat menangkapku merayap masuk lewat jendela kamar pukul dua pagi. Bau alkohol dan tembakau menyengat dari napasku.

Aku hanya mendengus, melempar tas sekolahku yang kosong tanpa buku ke sudut ruangan. "Gak usah ngatur Awan! Awan cape diomongin orang! Cape dijauhin teman-teman gara-gara miskin!"

"Awan!" suara Bapak terdengar berat dari balik pintu kamar sebelah. Bapak keluar dengan sarung lusuh dan kaos oblong penuh tambalan. Tangannya gemetar. "Kowe pikir Bapak karo Ibumu iki ra banting tulang gawe kowe? Ojo dadi anak durhaka!"

"Banting tulang apa?!" teriakku kesetanan. Emosi remaja yang dangkal dan racun alkohol membakar nalarku. "Anak orang lain kelas tiga SMP sudah dibelikan motor! Rian punya, Rio punya! Awan saja yang kayak gembel jalan kaki! Awan malu!"

Ibu terduduk di lincak kayu. Tangannya yang keriput menutupi wajahnya, dan bahunya mulai terguncang hebat. Tangisan tanpa suara—tangisan orang tua yang merasa gagal—pecah di ruangan sempit itu.

Mbak Ratih keluar dari kamarnya, matanya merah menatapku penuh amarah sekaligus kesedihan yang mendalam. "Wan! Cukup! Kamu pikir cari uang gampang?! Bapak itu sudah tua, pinggangnya kerap kumat! Ibu kakinya bengkak tiap malam! Kamu bukannya bantu malah nuntut yang enggak-enggak!"

"Bodo amat!" pekikku penuh kebencian. Aku menatap mereka satu per satu dengan mata melotot. "Awan gak bakal masuk sekolah lagi! Awan bakal bolos selamanya, sekalian keluar sekolah, kalau minggu depan gak ada motor baru di depan rumah ini!"

Aku membanting pintu kamar, menguncinya rapat-rapat, tak peduli pada isak tangis Ibu yang kian menjadi-jadi di luar.

Aku tidak pernah tahu bagaimana cara mereka melakukannya secara pasti. Tapi selama satu minggu berikutnya, suasana rumah berubah menjadi seperti kuburan.

Bapak berangkat lebih awal dari biasanya, jam lima subuh, dan baru pulang jam sembilan malam dengan tubuh yang kurus kering dan mata yang cowong. Aku sempat mencuri dengar dari balik dinding kamar; Bapak mengambil pekerjaan tambahan memborong galian got di kompleks sebelah, bekerja belasan jam tanpa henti di bawah guyuran hujan dan terik matahari.

Ibu meminjam uang ke sana-sini. Aku melihatnya mendatangi tetangga-tetangga kaya dengan wajah menunduk dalam-dalam, menahan malu disindir dan ditolak, demi mengumpulkan rupiah demi rupiah. Mbak Ratih bahkan menggadaikan satu-satunya perhiasan peninggalan Almarhumah Nenek—sebuah cincin emas tipis seberat dua gram—dan menarik seluruh simpanan uang gajinya yang tak seberapa.

Mereka menggadaikan harga diri, kesehatan, dan masa depan demi menuruti ego seorang anak sialan berusia 15 tahun.

Dan hari yang kutunggu itu tiba.

Sebuah truk bak terbuka berhenti di depan gang rumah kami. Dua orang petugas menurunkannya: sebuah motor bebek sport warna hitam berkilau. Plat nomornya masih putih, catnya begitu mulus merefleksikan wajahku yang penuh kemenangan.

Ibu berdiri di pintu, memegang pinggir kain sampingnya yang kusam. Matanya sembap, mukanya pucat. Bapak duduk di lincak, mengelus dadanya yang sesak berkali-kali, tak sanggup melihat motor itu. Ada lembaran kertas utang berkop koperasi dengan bunga mencekik yang menumpuk di atas meja makan.

Tapi aku tak peduli pada kertas utang itu. Aku tak peduli pada nafas Bapak yang terengah-engah.

Aku menyambar kunci motor dari tangan petugas dengan senyum lebar. "Ini baru orang tua Awan!" seruku tanpa rasa dosa sedikit pun.

Sejak hari itu, hidupku sepenuhnya berubah—atau setidaknya, begitulah pikirku.

Motor itu menjadi Tuhanku yang baru. Aku lupa jalan ke sekolah. Tas sekolahku membusuk di bawah kasur. Setiap sore, setelah memoles bodi motor sampai mengkilap, aku memakai jaket kulit imitasi, memutar gas kencang-kencang di depan rumah hingga asap knalpotnya memenuhi ruang tamu, lalu ngacir pergi.

Aku bangga luar biasa saat teman-teman tongkronganku bersorak melihatku datang. "Wih, Awan sekarang berkelas!" kata mereka. Aku merasa berada di puncak dunia. Aku melupakan wajah lesu Bapak yang tiap malam memijat kakinya sendiri pakai minyak angin. Aku melupakan Mbak Ratih yang kini harus makan nasi dengan garam agar uang belanjanya cukup untuk membayar cicilan motor per bulan.

Hari-hariku hanya diisi dengan keluyuran. Pergi sore, pulang dini hari. Menyusuri jalanan kota, balapan liar di jalan lingkar, dan pesta minuman keras di pinggir kali. Aku merasa tidak tersentuh.

Hingga malam berdarah itu datang.

Malam Minggu. Angin berhembus cukup kencang. Di sebuah pangkalan gelap dekat jembatan, aku dan kelompokku menghabiskan tiga botol ciu campuran. Kepala melayang, dadaku membara, dan kewaspadaanku menguap sepenuhnya.

"Wan, berani gak lo trek-trekan dari sini sampai simpang empat?" tantang salah seorang temanku sambil tertawa megejek.

"Siapa takut!" jawabku sesumbar, lidahku sudah kelu karena pengaruh alkohol. "Motor gue paling kencang di sini!"

Pukul dua dini hari. Jalanan arteri sudah lengang. Aku menaiki motor, memutar kunci kontak. Lampu depan membelah kegelapan. Aku menarik gas dalam-dalam saat temanku memberi aba-aba turunnya sapu tangan.

BRRRRRRRMMMM!

Motor melesat bak anak panah lepas dari busurnya. Angin malam menghantam wajahku tanpa helm, mengibaskan rambutku. Kecepatan meloncat naik dengan cepat. Aku tertawa bahak-bahak dalam helaan napas yang bau alkohol. Aku merasa melayang, bebas, dan tak terkalahkan.

Deru mesin meraung semakin keras. Angka di spedometer terus merambat naik. 100 km/jam.

Lalu, di sebuah tikungan tajam dekat jalan layang yang minim penerangan, mataku yang berat dan kabur merespons terlalu lambat. Di depanku, pembatas jalan dari beton tebal berdiri kokoh.

Dalam hitungan milidetik, alkohol di darahku menyisakan kepanikan yang terlambat. Aku mencoba menarik tuas rem mendadak.

CJJJJJRRRREEEEKKK!

Ban belakang terseret, meliuk liar di atas aspal yang licin. Aku kehilangan kendali penuh. Motor tidak mau berbelok. Besi berkecepatan tinggi itu terbang lurus, menghantam keras beton pembatas jalan.

BLLAAARRRRR!

Suara benturan logam dan beton terdengar begitu memekakkan dada.

Duniaku berputar hebat. Tubuhku terlempar dari jok, melayang di udara sebelum akhirnya terseret belasan meter di atas aspal kasar. Aku mendengar bunyi KRAK yang mengerikan dari lengan kanan dan tungkai kakiku. Kulit dan dagingku terkelupas digerus jalanan. Helm yang tak terpasang di kepalaku melayang entah ke mana, dan kepala bagian belakangku menghantam trotoar dengan sangat keras.

Lalu sepi.

Sensasi terbakar membakar seluruh tubuhku. Bau bensin bercampur bau amis darah yang hangat merembes cepat menggenangi wajahku. Motor baruku—motor yang dibeli dari tetesan darah dan air mata orang tuaku—hancur berkeping-keping di depanku. Rangkanya tertekuk, rodanya terlepas, dan apinya menyala kecil sebelum padam.

Aku tergeletak tak berdaya di atas aspal dingin. Pandanganku perlahan menggelap. Dada rasanya remuk, untuk mengambil satu napas saja rasanya seperti ditusuk belati.

Dalam samar-samar kesadaran yang tersisa, bayangan wajah-wajah itu mendadak hadir memenuhak pikiranku.

Aku melihat wajah Bapak yang kelelahan dengan tangan gemetar memegang cangkul di bawah hujan. Aku melihat mata Ibu yang sembap dan tangannya yang mengelus dada sambil menangis di pojok rumah. Aku melihat Mbak Ratih yang menyerahkan uang gajinya demi anak kelakuan setan seperti aku.

"Bapak... Ibu..." bisikku lirik dari tenggorokan yang tersumbat darah.

Rasa sakit fisik di tubuhku tiba-tiba kalah hebat oleh rasa penyesalan yang mendadak menikam dadaku dengan sangat jahat. Aku sadar, tetapi semuanya sudah terlambat. Motor yang kuinginkan dengan kesombongan itu kini hanya menjadi tumpukan besi tua tak berguna, sementara tubuhku terbujur kaku menyatu dengan kegelapan malam.

Pandanganku benar-benar memutih, lalu hitam kelam. Kesadaranku terengut habis, meninggalkan diriku sendiri dalam penyesalan yang tak lagi punya arti.

 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Cerpen
Modiii@R!!!
Haris Fadilah Hryadi
Skrip Film
Ketika Hujan Menyentuh Matahari
Dani Manesah
Flash
Hutang Fiksi
Sugiadi Azhar
Cerpen
Escort Girl
Haris Fadilah Hryadi
Novel
Gemini
NO-NAME
Novel
Roti dan Kopi
Rahmi Djafar
Flash
Bronze
Lingkaran Kecil
Muhammad Yunus
Novel
Dandelion
Tinta Emas
Komik
Bronze
This is Classic Love Story
Drawshocker
Novel
Tira
wulan widi Astuti
Novel
Our Dreams Together
Emma N.N
Cerpen
Bronze
Formalitas di atas ranjang
penulis kacangan
Cerpen
Dibutakan oleh cinta
rehanaja
Skrip Film
Selamat Tidur Pagi
Ardi Rai Gunawan
Flash
Gelap
Fajar R
Rekomendasi
Cerpen
Modiii@R!!!
Haris Fadilah Hryadi
Cerpen
Escort Girl
Haris Fadilah Hryadi
Novel
Bronze
Pengantin Lembah Bangkai
Haris Fadilah Hryadi
Cerpen
Bronze
27 Mei 2006
Haris Fadilah Hryadi
Cerpen
Bronze
DINGIN KOPI DI MEJA MAKAN
Haris Fadilah Hryadi
Novel
Keris Penyebar Maut
Haris Fadilah Hryadi
Novel
Bronze
Kidung Di Atas Tanah Jawa
Haris Fadilah Hryadi
Cerpen
Bronze
Diary SMP
Haris Fadilah Hryadi
Cerpen
Bronze
Orang Ketiga Jodoh mu
Haris Fadilah Hryadi
Cerpen
PHK
Haris Fadilah Hryadi
Cerpen
Bronze
Cinta Berawal Dari Jepretan Karet Gelang
Haris Fadilah Hryadi
Novel
Pajineman
Haris Fadilah Hryadi
Cerpen
Bronze
CLBK : Cek Nomor Lama Bawa Keruwetan
Haris Fadilah Hryadi
Cerpen
Bronze
Dia Selalu Ada Di Situ
Haris Fadilah Hryadi
Novel
Ngipri Ular
Haris Fadilah Hryadi