Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Kursor vertikal di sudut kiri bawah layar laptop Boaz berkedip, menimbulkan suara yang bergaung langsung di dalam tempurung kepalanya yang mulai berdenyut akibat dosis tinggi kafein.
Jam dinding analog di kamarnya yang berantakan sudah melewati pukul tiga pagi. Baginya, waktu bukan lagi sebuah dimensi ke-4 yang objektif, melainkan sebuah siklus menyiksa yang diukur dari seberapa banyak jumlah kata yang berhasil ia kumpulkan di pojok kiri bawah aplikasi pengolah kata. Targetnya malam ini adalah menyelesaikan Bab 19 dari novel debutnya yang berjudul Yamai Kai, sebuah fiksi detektif amatir yang ia gantungkan harapannya untuk menembus seleksi penerbit mayor nasional.
Namun, narasinya macet total. Tokoh utamanya, seorang inspektur bermantel abu-abu bernama Rully, sedang duduk termenung di barisan kalimat paragraf kedua sejak pukul sebelas malam tadi. Rully menolak bergerak.
"Dialog yang kamu ketik untukku terlalu klise, Boaz. Aku merasa seperti karakter figuran di sinetron kriminal murahan," sebuah suara bariton yang berat dan serak mendadak memecah kesunyian kamar.
Boaz tersentak hebat. Kursi plastiknya berdecit nyaring di atas lantai, dan ia hampir saja menyenggol cangkir kopinya hingga tumpah. Ia mengucek matanya yang perih dan merah, meyakini bahwa ini adalah halusinasi visual akibat gejala psikosis karena kurang tidur selama tiga malam berturut-turut.
Namun, sosok itu nyata. Di sudut kamarnya yang remang-remang, bersandar pada lemari pakaian kayu yang pintunya sudah copot sebelah, berdiri seorang pria bertubuh tegap. Pria itu mengenakan mantel abu-abu panjang dengan kerah tegak dan topi fedora yang menutupi sebagian wajahnya. Ia sedang sibuk menyalakan sebatang rokok tanpa merek. Bau asapnya aneh. Bukan bau tembakau, melainkan bau menyengat khas tinta printer murah yang baru diganti katridnya.
"Ru ... Rully?" suara Boaz bergetar, tercekat di tenggorokan. "Bagaimana bisa kamu ... kamu keluar dari dokumen `.docx` milikku?"
Pria bernama Rully itu mendengus, mengembuskan asap pekat yang melayang membentuk formasi huruf Times New Roman sebelum akhirnya pudar di udara.
"Sederhana," jawab Rully dingin sambil melangkah maju. Langkah sepatunya sama sekali tidak mengeluarkan suara, sebuah detail yang membuat Boaz teringat bahwa ia memang belum sempat mengetik deskripsi atau efek suara tentang jenis lantai di kamar tersebut. "Aku melakukan boikot. Aku menolak melanjutkan penyelidikan pembunuhan di Gedung Tua pada halaman 89. Kamu menjebakku dalam sebuah plot yang luar biasa stagnan. Kamu membuatku mencurigai pelayan rumah yang gagap itu, padahal pembaca Gen Z yang paling bodoh sekalipun sudah tahu kalau pembunuhnya pasti si pemilik rumah yang pura-pura lumpuh sejak Bab 2. Mengapa semua penulis amatir selalu terjebak pada formula yang monoton?"
Boaz menggelengkan kepala dengan panik, tangannya meraba-raba meja kerja yang berantakan untuk mencari botol tetes mata, berharap cairan itu bisa membasuh kegilaan ini.
"Ini tidak masuk akal! Aku ini penulisnya!" bentak Boaz, mencoba mengumpulkan sisa-sisa otoritasnya sebagai seorang pencipta. "Hak prerogatif, alur, takdir, dan setiap helai napasmu ada di tanganku! Kamu harus mengikuti garis akhir yang sudah kususun rapi di draf kasar ini. Kamu harus tertembak di bagian lengan pada akhir bab ini demi membangun ketegangan!"
Rully berjalan mendekat hingga bayangan mantelnya yang hitam pekat menutupi separuh meja kerja Boaz. Ia meletakkan telapak tangannya di atas pundak Boaz. Sensasi sentuhannya aneh. Telapak tangan Rully terasa kaku, kering, dan berserat, persis seperti permukaan kertas HVS.
Rully menunduk, mendekatkan wajahnya yang kaku ke telinga Boaz, lalu berbisik dengan nada dingin seorang profesional yang tidak bisa dinegosiasi.
"Kesalahanmu adalah melawan orang yang memiliki kekuasaan."
Boaz melepaskan tawa getir yang parau, mencoba menutupi rasa ngeri yang mulai merayapi tulang belakangnya. "Kekuasaan? Jangan bercanda! Kamu hanya karakter fiksi! Karakter dua dimensi yang kuciptakan dari imajinasiku sendiri! Aku bisa menghapusmu dari semesta digital ini sekarang juga hanya dengan menekan tombol Backspace atau Delete bertubi-tubi di kibor ini!"
"Oh, ya? Coba saja," tantang Rully santai. Ia menjentikkan abu rokoknya, yang anehnya langsung terbakar lenyap begitu menyentuh teks narasi yang sedang Anda baca saat ini.
"Silakan tekan tombol itu, Boaz. Hapus aku. Tapi kamu tahu persis apa konsekuensinya? Jika aku hilang dari narasi ini, novelmu tidak akan pernah selesai. Batas waktu pengiriman naskah ke penerbit adalah lusa. Kontrak penerbitan yang kamu impikan akan melayang, dan uang muka yang kamu rencanakan untuk membayar tunggakan kosan bulan depan juga akan musnah. Di dunia industri literasi yang pragmatis ini, aku bukan sekadar tokoh fiksi. Aku adalah asetmu. Aku yang memiliki daya tawar untuk membuat pembaca rela mengeluarkan uang dari dompet mereka. Tanpa kehadiranku yang memikat, kamu hanyalah seorang pria pengangguran kesepian yang mengetik omong kosong di kamar sempit jam tiga pagi."
Jari-jemari Boaz menggantung kaku di atas papan tik. Di bawah lampu belajar yang kuning redup, ia menatap tombol Ctrl+A dan Delete. Jarinya bergetar. Ia ingin sekali membuktikan bahwa ia adalah penguasa di atas lembar kerja putih itu. Namun, kebenaran pragmatis dari ucapan Rully perlahan-lahan merembes masuk ke logikanya, mengunci setiap otot lengannya.
Kekuasaan dalam dunia sastra, pikir Boaz dengan gusar, ternyata tidak pernah berada di tangan siapa yang memegang pena atau menciptakan ide pertama. Kekuasaan berada di tangan siapa yang memiliki nilai jual untuk mengepulkan asap dapur.
Boaz menurunkan tangannya dari atas kibor. Bahunya merosot, kalah oleh argumen logis dari makhluk yang bahkan tidak memiliki kartu identitas di dunia nyata. Mata lelah Boaz menatap layar laptop, kursor itu terlihat berkedip menari, seolah ikut menertawakan kelumpuhan absolut si pencipta cerita.
"Jadi," Boaz berbisik, suaranya terdengar asing di telinganya sendiri, "apa yang kamu inginkan?"
Rully tersenyum puas. Ia tidak lagi tampak seperti ancaman, melainkan seperti seorang editor senior yang sedang menguliti naskah penulis pemula. Ia melangkah mundur, melompati batas marjin halaman imajiner, lalu dengan santai mendudukkan dirinya di atas tumpukan buku referensi di sudut meja Boaz.
"Ubah pembunuhnya," tuntut Rully sembari mengetuk-ngetuk ujung jarinya pada dagu. "Buat si pelayan rumah yang gagap itu menjadi agen rahasia dari masa depan yang terjebak paradoks waktu. Dan biarkan aku memenangkan baku tembak di akhir bab tanpa perlu terluka di bagian lengan. Aku benci adegan rumah sakit, Boaz. Terlalu klise. Kamu juga buruk dalam mendeskripsikan bau obat-obatan."
Boaz memijat pelipisnya yang semakin berdenyut tegang. "Jika aku mengubah pelayan itu menjadi agen masa depan, genre novel ini akan berubah dari fiksi detektif realis menjadi fiksi ilmiah absurd! Penerbit akan langsung membuang naskah ini ke tempat sampah pada halaman pertama!"
Rully terkekeh, suara tawanya terdengar seperti kertas yang diremas. "Penerbit? Mereka menyukai hal yang absurd jika dikemas dengan rasa percaya diri yang tinggi. Lagi pula, siapa yang peduli pada kemurnian genre di abad ini? Pembaca hari ini bosan dengan realitas yang lurus. Mereka ingin distorsi. Mereka ingin cerita yang tahu bahwa dirinya adalah cerita."
Dengan helaan napas pasrah, Boaz mulai menggerakkan jemarinya di atas kibor. Ia menekan tombol Backspace berkali-kali, menghapus tiga paragraf deskripsi TKP yang telah ia susun dengan susah payah sejak sore hari. Di bawah dikte sang tokoh utama, Boaz mulai mengetikkan baris-baris kalimat baru. Ia memodifikasi takdir, merombak masa lalu Rully, dan menyerahkan kedaulatan kreatifnya demi sewa kosan yang harus dibayar bulan depan.
Saat kalimat terakhir Bab 19 selesai diketik dengan tanda titik yang tegas, sosok Rully di sudut kamar perlahan-lahan mulai memudar. Tubuhnya merenggang, berubah menjadi debu piksel hitam yang melayang kembali, tersedot masuk ke dalam lubang ventilasi laptop, lalu tersusun rapi menjadi barisan teks teks digital di layar monitor.
Rully telah kembali ke rumahnya. Sebuah dokumen digital berukuran 450 kb.
Boaz menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menatap nanar ke arah layar yang kini menampilkan plot baru yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Novel detektifnya kini telah bermutasi menjadi fiksi absurd yang kacau, namun anehnya, narasinya terasa jauh lebih hidup.
Ia melirik ke luar jendela kamar. Di luar sana, langit subuh mulai menampakkan semburat warna abu-abu keunguan yang dingin. Kota berjalan dengan hukum liniernya yang membosankan, di mana orang-orang berangkat kerja, membayar tagihan, dan meyakini bahwa mereka memiliki kendali penuh atas hidup mereka sendiri.
Boaz menutup laptopnya dengan pelan. Di dalam keheningan pagi yang merayap masuk, ia merenung. Jika seorang karakter fiksi bisa melompat keluar dan merebut kekuasaan atas takdirnya sendiri karena sebuah motif pragmatis, lalu bagaimana dengan dirinya? Bagaimana dengan manusia-manusia di luar sana?
Apakah kita semua benar-benar sedang mengendalikan cerita hidup kita, atau jangan-jangan, kita hanyalah karakter-karakter malang di dalam draf kasar milik seorang Penulis di dimensi ke-13 yang membiarkan kita bertarung melawan plot yang klise dan melelahkan setiap harinya?
Boaz tidak menemukan jawabannya. Ia hanya tahu, di halaman terakhir nanti, tidak akan ada tombol Backspace yang bisa menyelamatkannya dari akhir sebuah bab di kehidupan nyatanya.