Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Malam belum sepenuhnya runtuh ketika kami bertiga tiba di pondok registrasi terakhir Gunung Argopuro. Gemericik air hujan gerimis menyapu atap seng yang berkarat, menciptakan irama monoton yang menambah sunyi lereng gunung. Suhu udara saat itu merosot tajam hingga menembus celah-celah serat jaket windproof yang kami kenakan.
Aku, Rendy, duduk menyandar pada pilar kayu yang lapuk, memperhatikan jemariku yang mulai memucat akibat udara dingin. Di sampingku, Maya sibuk memeriksa ulang isi tas carrier-nya—memastikan kompor portabel, tabung gas cadangan, dan jas hujan tersusun rapi. Sementara itu, Aris—sahabat kami yang paling ambisius dan selalu menganggap remeh hal-hal mistis—sedang menatap peta jalur pendakian sambil terkekeh pelan.
"Jalur ke Pos Empat cuma butuh waktu lima jam jalan santai, Ren," ujar Aris seraya menepuk pundakku. "Kalau kita jalan jam dua siang besok, pas malam minggu kita udah bisa bikin api unggun sambil minum kopi di puncak."
Seorang lelaki tua bertubuh bungkuk keluar dari pintu dalam pondok. Beliau adalah Mbah Tirto, juru kunci pendakian yang telah menjaga gerbang Argopuro selama lebih dari empat dekade. Wajahnya dipenuhi garis-garis keriput dalam, dan matanya yang agak keruh menatap kami bert...