Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Komedi
Mission Impossible : Ngirit Protocol
0
Suka
10
Dibaca

Tanggal 25. Angka keramat. Hari di mana bunyi notifikasi "M-Banking: Dana Masuk" terdengar seperti nyanyian malaikat yang membawa surga, tapi dua jam kemudian berubah menjadi jeritan siksa kubur karena langsung dipotong autodebet cicilan.

Aku duduk di depan laptop kantor. Bukan kerja, tapi menatap saldo rekeningku dengan tatapan nanar. Gaji bulan ini numpang lewat lebih cepat dari pembalap F1 di tikungan Sentul. "Gila," gumamku. "Bulan lalu gue makan apa aja sampe saldo tinggal sisa recehan yang bahkan tukang parkir pun ogah nerima?"

Aku melakukan introspeksi diri. Masalahku adalah: Aku impulsif. Aku melihat lipstik diskon, aku beli. (Padahal di rumah ada 12 warna merah yang bedanya cuma bisa dilihat pake mikroskop). Aku melihat kopi susu gula aren kekinian, aku beli. (Padahal lambungku sudah berteriak minta ampun). Aku melihat kucing lucu di jalan, aku belikan Whiskas. (Padahal aku sendiri makan promag).

"Cukup, Devi. Cukup!" teriakku dalam hati (karena kalau teriak beneran nanti dipecat Si Botak). "Mulai bulan ini, gue akan berubah. Gue akan menjadi Devi yang Frugal Living. Devi yang Hemat Pangkal Kaya. Devi yang masa depannya cerah secerah lampu stadion GBK."

Dengan semangat membara, aku membuka Microsoft Excel. Aku akan membuat MAHAKARYA PERENCANAAN KEUANGAN. Aku menamai file itu dengan nama yang megah: "PROJECT ANTI GOLONGAN MISKIN: ROAD TO SULTAN 2026".

Aku mengetik pos-pos pengeluaran dengan kejam.

Makan: Rp 15.000 / hari. (Menu: Telur, Kecap, Nasi, Doa).

Transport: Rp 0. (Jalan kaki dari kosan ke stasiun, lanjut jalan kaki dari stasiun ke kantor. Anggap aja kardio biar kurus).

Kopi/Jajan: Rp 0. (Haram hukumnya. Kalau ngantuk, tampar pipi sendiri).

Skincare: Rp 0. (Pake air wudhu).

Dana Darurat: Rp 500.000. (Disimpan di rekening yang kartu ATM-nya sengaja kupatahkan biar gak bisa diambil).

Setelah dihitung-hitung, kalau aku disiplin dengan rencana gila ini, aku bisa menabung 3 juta sebulan! "Jenius!" pekikku. "Gue jenius! Kenapa gak dari dulu gue bikin ginian?"

Aku memandangi tabel Excel itu dengan bangga. Warna-warni kolomnya begitu indah. Rumus SUM dan IF-nya bekerja sempurna. Di atas kertas (atau layar), aku adalah wanita kaya raya yang disiplin. Aku tidak tahu, bahwa Excel itu adalah fiksi ilmiah belaka.

 

Hari pertama implementasi "PROJECT ANTI GOLONGAN MISKIN". Sesuai rencana, aku tidak beli makan siang di kantin kantor yang harganya selangit (Rp 25.000 sekali makan). Aku membawa bekal. Aku bangun jam 4 pagi demi memasak. Masalahnya, skill masakku setara dengan skill nyanyi Lucinta Luna: Ada usaha, tapi hasilnya bencana.

Aku menggoreng tempe dan menumis kangkung. Karena menghemat minyak goreng (minyak mahal, Bos!), aku pakai minyak sisa kemarin yang warnanya sudah hitam pekat seperti oli samping motor 2-tak. Dan karena aku masak sambil ngantuk, aku lupa mematikan kompor saat ditinggal mandi.

Bau gosong menyengat memenuhi kosan. Aku lari keluar kamar mandi dengan handuk melilit. Tempeku... Tempeku bukan lagi berwarna kuning keemasan. Tempeku berwarna hitam legam. Keras seperti batu kali. Kangkungku layu dan menyusut sampai tinggal seumprit, warnanya cokelat kusam.

"Gapapa, Devi," hiburku sambil menangis dalam hati. "Ini namanya Charcoal Tempe. Ini sehat. Ini detoks. Orang kaya bayar mahal buat makanan item-item gini."

Siangnya di kantor. Hanif, teman semeja sekaligus saksi hidup penderitaanku, mengajak ke kantin. "Dev, kantin yuk. Ada menu baru, Soto Betawi."

"Enggak, Nif," tolakku dengan angkuh. "Gue bawa bekal. Gue lagi Frugal Living."

"Wuih, gaya. Yaudah gue duluan."

Saat jam makan siang, aku membuka kotak bekal tupperware (yang KW) di meja kerjaku. Aroma "eksotis" keluar. Bau gosong bercampur bau minyak jelantah. Teman sebelahku, Siska, menutup hidung. "Dev, lu bawa apaan? Kok baunya kayak ban dibakar pas demo mahasiswa?"

"Ini Smoked Tempeh, Sis. Lu gak ngerti fine dining," elakku.

Aku menggigit tempe itu. KRAK! Bunyinya nyaring. Gigiku ngilu. Keras banget ya Tuhan. Rasanya pahit. Pahit seperti kenyataan hidup. Aku berusaha menelan dengan bantuan air putih galon kantor (gratisan). Tenggorokanku seret. Kangkungnya alot seperti karet gelang.

Tapi aku bertahan. "Demi masa depan. Demi 3 juta sebulan," mantrakku.

Sorenya, perutku mulai bergejolak. Bukan lapar. Tapi mulas. Minyak jelantah oli samping itu mulai bereaksi. Asam lambungku naik, berdemo menuntut keadilan. "Woy! Kasih makanan bener napa! Jangan kasih arang!" teriak lambungku.

Aku bolak-balik toilet 5 kali. Wajahku pucat. Keringat dingin. Akhirnya, aku menyerah. Aku pergi ke apotek di lobi. Beli obat maag, obat diare, dan tolak angin. Total: Rp 45.000.

Evaluasi Hari 1:

Hemat makan: +Rp 25.000.

Biaya Obat: -Rp 45.000.

Total Kerugian: Rp 20.000.

Status: Diare dan Defisit.

Hari ketiga. Perutku sudah membaik. Aku kembali ke jalan yang lurus (beli makan warteg yang murah, berhenti masak sendiri demi keselamatan nyawa).

Malam itu, aku sedang rebahan di kosan. Niat hati ingin tidur cepat biar gak laper. Tapi tangan gatal ini membuka aplikasi oranye. Shopee. Ada notifikasi: "FLASH SALE 9.9! CUMA HARI INI!"

"Cuma liat-liat doang kok," dustaku pada diri sendiri. "Cuci mata digital."

Aku scrolling. Tiba-tiba, mataku tertuju pada satu benda. "Panci Listrik Multifungsi. Bisa Rebus, Goreng, Kukus, dan Terbang ke Bulan. Warna Pink Pastel. Diskon 80% jadi Rp 99.000."

Otak hematku berteriak: DEVI! JANGAN! DI EXCEL TULISANNYA BELANJA RP 0! Tapi otak Girl Math ku langsung mengambil alih dengan logika sesatnya: "Dev, pikirin. Panci ini investasi. Kalau lu punya panci ini, lu bisa rebus telor di kamar tanpa harus ke dapur umum yang antre. Lu bisa masak mie instan dengan estetik. Rp 99.000 itu murah. Kalau dipake setahun, berarti cuma Rp 270 per hari. Itu gratis, Dev! GRATIS!"

Jariku bergerak sendiri. Add to Cart. Terus aku liat lagi. "Baju Tidur Motif Dinosaurus Lucu. Rp 35.000." "Ih lucu banget! Kalau gue pake ini, tidur gue pasti nyenyak. Kalau tidur nyenyak, kerja makin produktif. Kalau produktif, gaji naik. Jadi beli baju ini bikin gue kaya!"

Add to Cart.

"Sendal Refleksi Akupuntur. Rp 15.000." "Ini kesehatan! Kesehatan itu mahal! Beli!"

Add to Cart.

Total keranjang: Rp 250.000 (sama ongkir). Aku menatap tombol Checkout. Excel "ROAD TO SULTAN" melintas di bayanganku, menangis darah. "Maafin gue, Excel. Gue lemah."

Klik. Bayar. Saldo berkurang. Dopamin meledak. Aku tidur dengan senyum puas, melupakan fakta bahwa aku baru saja menghabiskan jatah makan 2 minggu untuk panci pink dan baju dinosaurus.

Minggu kedua. Kondisi keuangan mulai kritis karena insiden 9.9 dan insiden diare. Aku menerapkan mode "Puasa Daud" tapi versi "Puasa Duit". Jatah makanku turun jadi Rp 10.000 sehari (Cuma dapet nasi + orek tempe + kuah sayur banyakin).

Siang itu, cuaca Jakarta panasnya seperti simulasi neraka bocor. Matahari ada 9. Aku mengantuk parah di kantor. Mataku tinggal 5 watt. Hanif datang membawa gelas plastik yang berembun. Dingin. Menggoda. Di gelas itu tertulis logo hijau putri duyung. Starbucks. Varian: Caramel Macchiato Extra Shot.

"Seger banget gila," kata Hanif, menyeruput kopinya dengan suara slurp yang provokatif. "Dev, lu gak ngopi? Muka lu kayak zombie kurang sesajen."

Aku menelan ludah. Tenggorokanku kering kerontang. "Enggak, Nif. Gue lagi detoks kafein," jawabku lemah. "Gue minum air putih aja. Sehat. Mineral."

"Yakin? Di bawah lagi Buy 1 Get 1 lho. Patungan yuk? Cuma 30 ribu dapet yang Venti."

Tiga puluh ribu. Itu jatah makan 3 hari. Tapi bayangan rasa kopi dingin, manisnya karamel, dan tendangan kafein yang bisa membangkitkan orang mati... itu terlalu kuat.

Otakku mulai berdebat lagi. Logika: Jangan Dev! 30 ribu itu berharga! Hawa Nafsu: Tapi Buy 1 Get 1! Itu artinya diskon 50%! Kapan lagi?! Kita untung Dev! Kita untung!

"Ayo Nif!" teriakku tiba-tiba. Pertahanan runtuh dalam 3 detik.

Aku turun ke bawah. Membeli kopi itu. Menyeruputnya. "AAAHHHH..." Surga dunia. Dopamin naik. Dompet turun. Sorenya, karena kebanyakan kafein dan perut kosong (cuma makan nasi orek), asam lambungku naik lagi. Tapi kali ini aku menolak beli obat. Sayang duit. Aku hanya duduk di kubikel sambil menekan perut, gemetar karena caffeine jitters, tapi tetap merasa happy karena minum kopi mahal. Dasar manusia bodoh.

Minggu ketiga. Saldo ATM tinggal sisa 3 digit. Padahal gajian masih 10 hari lagi. Aku benar-benar harus masuk mode survival. Tidak ada lagi ojek online. Aku jalan kaki. Tidak ada lagi lampu nyala di kamar kalau siang. Gelap-gelapan. Mandi sehari sekali biar hemat sabun.

Tapi, Tuhan sepertinya ingin menguji seberapa kuat mental "calon orang kaya" ini. Malam itu, aku pulang ke kosan. Aku menyalakan keran wastafel untuk cuci muka. Krek. Kerannya patah. Bukan cuma patah gagangnya. Patah dari pipanya.

CROOOOT! Air menyembur deras seperti air mancur bundaran HI. "WAAAAA!" Aku panik. Aku mencoba menutupnya dengan tangan. Gagal. Airnya kencang banget. Tekanannya setara tekanan hidupku.

Air membanjiri lantai kamar. Membasahi karpet. Membasahi kasur yang ada di lantai (aku gak punya dipan). Dan yang paling horor: Air itu mengalir ke arah Colokan Listrik di mana Laptop Kantor dan HP ku sedang di-charge.

"JANGAN! JANGAN LAPTOP GUE!" Aku melakukan aksi heroik. Aku melompat (terpeleset sedikit, pantat terbentur lantai, sakit banget), lalu mencabut kabel-kabel itu secepat kilat. Laptop selamat. HP selamat. Tapi aku basah kuyup. Kamarku becek.

Aku lari keluar memanggil penjaga kos. "PAK! PAK ASEP! TOLONG BANJIR PAK!"

Pak Asep datang dengan santai, mematikan pusat air. Banjir berhenti. Tapi kamarku hancur. Karpet bau apek. Kasur basah.

"Waduh Neng Devi," kata Pak Asep sambil melihat keran yang patah. "Ini mah Neng Devi makenya kasar ya? Patah gini harus ganti satu set sama pipanya. Terus ini harus bobok tembok dikit."

"Berapa Pak biayanya?" tanyaku dengan suara bergetar.

"Ya... sama tukang, sama beli keran baru yang bagusan dikit biar gak patah lagi... siapin aja 300 ribu Neng."

Tiga ratus ribu. Saldo ATM ku tinggal 400 ribu. Dunia gelap. Pandanganku kabur. "Pak... boleh nyicil gak? Pake SpayLater?" "Mana bisa Neng. Tukang minta cash."

Malam itu, aku tidur di atas kasur yang setengah basah (aku balik kasurnya, bagian kering di atas). Bau apek mulai menyeruak. Uangku sisa 100 ribu. Untuk 10 hari. Artinya: Rp 10.000 per hari. Target Excel "Makan Rp 15.000" tercapai secara paksa. Bahkan lebih hemat. Terima kasih, keran air. Kau memaksaku diet.

Lima hari terakhir sebelum gajian. Uang di tangan: Rp 20.000. (Sisa 80 ribu habis buat beli pulsa darurat dan beli air galon karena air keran mati total seharian pas diperbaiki). Dua puluh ribu. Untuk lima hari. Matematikanya: Rp 4.000 per hari.

Apa yang bisa dimakan dengan 4.000 rupiah di Jakarta tahun 2026? Permen karet? Gorengan 2 biji? Aku menjadi gila.

Di kantor, aku menjadi pemulung elit. Ada rapat di ruang bos? Aku nungguin di depan pintu. Begitu selesai, aku masuk pura-pura beresin meja. "Wah, ada sisa snack box nih, sayang kalau dibuang." (Padahal isinya cuma pastel dingin dan air mineral gelas). Aku ambil semua.

Ada teman ulang tahun? Aku yang paling kencang nyanyi "Happy Birthday" dan paling depan antre kue tart. Potongannya aku minta yang gede. "Buat sarapan besok," kataku tanpa malu.

Hanif mulai curiga. "Dev, lu kurusan deh. Pucet banget. Lu sakit?" "Enggak Nif. Ini Intermittent Fasting. Biar sehat," dustaku. Padahal cacing di perutku udah main smackdown.

Puncaknya di H-1 gajian. Uangku tinggal NOL RUPIAH. Benar-benar nol. Ada receh 500 perak di tas, tapi gak cukup buat apa-apa. Beras di kosan habis. Mie instan habis. Air galon tinggal setetes.

Malam itu, aku duduk di kamar kosan yang suram. Perutku sakit karena lapar. Sakit yang perih melilit. Aku membuka laptop. Membuka file Excel "ROAD TO SULTAN". Aku melihat kolom "Dana Darurat: Rp 500.000". Uang itu ada di rekening terpisah. Kartu ATM-nya sudah kupatahkan. M-Banking-nya sudah ku-uninstall biar gak tergoda. Untuk mengambilnya, aku harus ke Bank, bawa buku tabungan, antre di CS. Dan besok hari Minggu. Bank tutup.

Aku terjebak dalam perangkap kemiskinan yang kubuat sendiri. "Sialan lu Devi! Sok-sokan matahin ATM! Rasain lu sekarang!" makiku pada cermin.

Aku menggeledah seluruh kamar. Mencari harta karun. Di sela-sela sofa, aku menemukan koin 1000. Di saku celana jeans kotor, aku menemukan uang kertas 2000 yang sudah lecek dan hampir hancur kecuci. Di laci meja, aku menemukan koin 500 dua biji. Total: Rp 4.000.

Aku lari ke warung Madura. "Bang, Indomie goreng satu. Sama telur satu. Mentah aja." "Kurang Neng, 5 rebu." "Yah Bang... diskon dong. Nanti saya doain Abang masuk surga." "Yaudah deh, kasian amat muka lu Neng."

Aku pulang membawa Indomie dan telur itu seperti membawa piala Oscar. Aku memasaknya dengan hati-hati (takut gosong lagi). Saat aku makan suapan pertama... rasanya nikmat luar biasa. Air mata menetes di pipi. Ternyata bahagia itu sederhana: Mie instan di akhir bulan. Persetan dengan Frugal Living. Persetan dengan Excel. Yang penting hidup.

Tanggal 25 lagi. Ting! Notifikasi M-Banking. Gaji masuk. Angka saldo kembali gemuk. Hatiku berbunga-bunga. Penderitaan sebulan lenyap seketika.

Aku lupa rasanya makan tempe gosong. Aku lupa rasanya sakit perut nahan laper. Aku lupa rasanya tidur di kasur basah. Otakku mereset ulang. Amnesia total.

"Wah, gajian!" seruku. "Gue harus Self Reward nih. Kan bulan lalu gue udah menderita banget. Gue butuh kompensasi."

Aku membuka aplikasi ojek online makanan. Memesan Sushi Platter yang harganya Rp 150.000. "Sekali-kali gapapa lah. Kan gue kerja keras."

Lalu aku membuka Excel "ROAD TO SULTAN". Aku menatap tabel perencanaan bulan lalu yang berantakan, penuh warna merah (artinya overbudget). Aku klik File -> New. Aku buat rencana baru. "PROJECT ANTI GOLONGAN MISKIN: EDISI REVISI (PASTI BERHASIL KALI INI)".

"Oke, bulan ini gue pasti bisa hemat. Gue udah belajar dari kesalahan," gumamku optimis sambil mengunyah Sushi mahal.

Di layar HP, notifikasi Shopee muncul lagi: "PAYDAY SALE! CASHBACK 50%!"

Mataku berbinar. "Wah, ada Air Fryer murah nih! Kalau beli ini, gue bisa masak tanpa minyak! Lebih hemat! Investasi!"

Add to Cart. Checkout.

Dan begitulah, roda setan kemiskinan berputar kembali. Devi tetaplah Devi. Excel hanyalah sebuah doa, tapi belanja adalah takdir.

 

Pesan Moral: Membuat rencana keuangan itu mudah, semudah berjanji "besok diet". Melaksanakannya? Itu butuh mukjizat. Dan ingat, jangan pernah mematahkan kartu ATM Dana Darurat Anda, kecuali Anda hobi makan mie instan mentah.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Cerpen
Keberhasilan Yang Tidak Diharapkan
cahyo laras
Cerpen
Mission Impossible : Ngirit Protocol
cahyo laras
Cerpen
Cinta Di Ladang Ranjau
cahyo laras
Cerpen
Jatuh Hati Pada Guru SD
cahyo laras
Komik
Lelaki Koin
Ockto Baringbing
Komik
Bronze
KEMBAR SIAL
Agam Nasrulloh
Flash
Bronze
manis manis manja
Okhie vellino erianto
Flash
Asap Rokok, Kopi dan Pisang Goreng
Aneidda
Cerpen
DENDAM ARJUNA
Darryllah Itoe
Komik
Bronze
AFTER MARRIAGE
Agam Nasrulloh
Cerpen
Bronze
Paket xxx
Rizal Syaiful Hidayat
Cerpen
Sobat Halu
cahyo laras
Flash
Bronze
Generasi Keempat Tukang Sapu Rumah Sakit Jiwa
Silvarani
Cerpen
Diet Fotosintesis Demi Motor
cahyo laras
Flash
Kejutan Ulang Tahun
Lovaerina
Rekomendasi
Cerpen
Keberhasilan Yang Tidak Diharapkan
cahyo laras
Cerpen
Mission Impossible : Ngirit Protocol
cahyo laras
Cerpen
Cinta Di Ladang Ranjau
cahyo laras
Cerpen
Jatuh Hati Pada Guru SD
cahyo laras
Cerpen
Sobat Halu
cahyo laras
Cerpen
Diet Fotosintesis Demi Motor
cahyo laras
Cerpen
Kurir Dikira Debt Collector
cahyo laras
Cerpen
Steak Medium Rare Rasa Ban Dalam
cahyo laras
Cerpen
Dituduh Penculik
cahyo laras
Cerpen
Jempol Laknat, Gebetan Minggat
cahyo laras
Cerpen
Perang Dingin Melawan Mbak Google
cahyo laras
Cerpen
Diet Hanya Wacana
cahyo laras
Cerpen
Gagal Jadi Perokok
cahyo laras
Cerpen
Korban Prospek
cahyo laras
Cerpen
Ngajarin Istri Nge-Gym
cahyo laras