Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Minggu siang yang tenang. Harusnya. Aku sedang menikmati momen sakral, rebahan di sofa sambil menonton ulang highlight pertandingan bola semalam, ketika suara itu terdengar. Suara yang lebih menakutkan daripada sirene serangan udara.
"Mas..."
Suara Istriku, Feby. Lembut, tapi mengandung perintah mutlak yang tak terbantahkan. Dia sedang terbaring di kamar, terserang flu ringan yang membuatnya berubah menjadi Ratu Manja dari Kerajaan Kasur.
Aku segera menghadap. "Siap, Yang? Mau bubur? Mau teh anget? Atau mau aku pijitin kaki?"
Feby menggeleng lemah. Dia menatapku dengan mata sayu. "Aku... aku lagi bad mood banget gara-gara sakit. Aku butuh mood booster."
"Oke, sebutkan. Martabak? Seblak level pedas mampus? Boba?"
"Bukan," potongnya. "Aku mau lipstik."
Aku terdiam. Lipstik? Di saat sakit? "Buat apa lipstik, Yang? Kamu kan lagi demam, nggak ke mana-mana juga."
"Biar aku cantik pas sembuh nanti, Mas! Udah jangan banyak tanya. Pokoknya beliin sekarang."
Aku menghela napas. Baiklah. Lipstik. Seberapa susah sih beli batang pewarna bibir? Tinggal masuk toko, ambil yang merah, bayar, pulang. Misi selesai dalam 15 menit.
"Oke, mana contohnya?" tanyaku percaya diri.
Feby menunjukkan layar HP-nya. Sebuah foto bibir model yang menurutku warnanya merah. Cuma merah. "Ini namanya Shade Brick Red atau Merah Bata," jelas Feby. "Tapi dengerin baik-baik ya syaratnya."
Aku mengeluarkan catatan mental.
"Cariin warna Merah Bata. Ingat, Merah BATA. Bukan merah cabe, bukan merah marun, bukan merah darah. Merah Bata. Terus teksturnya harus Matte biar awet, TAPI..." dia memberi jeda dramatis, "...harus ada efek Glossy-nya dikit biar bibir gak kering. Jadi Velvet Matte with a hint of Gloss."
Otakku nge-lag. "Tunggu, Yang. Matte itu kan kering, Glossy itu kan basah. Gimana caranya kering tapi basah? Itu kayak minta es teh manis tapi anget."
"Ih, Mas Hanif bawel! Ada kok produk kayak gitu! Namanya Satin Finish atau Creamy Matte. Pokoknya cari aja! Jangan pulang sebelum dapet! Kalau salah warna, kamu tidur di luar sama kucing!"
Titah telah diturunkan. Aku, Hanif, seorang pria yang hanya tahu tiga warna dasar (Merah, Kuning, Hijau itu pun karena lampu lalu lintas), kini harus mencari sebuah benda mitologi bernama "Lipstik Merah Bata Matte tapi Glossy".
Dengan langkah berat dan doa keselamatan, aku menyalakan motor. Menuju medan perang.
Aku tiba di sebuah toko kosmetik ternama di dalam mall. Tempat ini... mengerikan.
Begitu aku melangkah masuk, hidungku langsung diserang oleh campuran aroma ribuan parfum, bedak, dan harapan palsu. Cahaya lampunya terlalu terang, didesain khusus untuk mengekspos setiap pori-pori wajahku yang penuh dosa.
Di sekelilingku, berjejer rak-rak setinggi gunung yang penuh dengan ribuan botol kecil, tabung, dan kotak berwarna-warni. Ini bukan toko. Ini adalah Hutan Amazon versi perempuan. Dan aku adalah turis yang tersesat tanpa kompas.
Aku berjalan menuju lorong bertuliskan "LIPS". Jantungku berdetak kencang. Di depanku terhampar ribuan batang lipstik dari berbagai merek. Maybelline, Wardah, Make Over, L'Oreal, dan merek-merek yang namanya susah dieja seperti Eschatology (atau apalah itu).
Aku mengambil satu sampel acak. Tutupnya merah. Aku buka. Isinya merah. Aku ambil sebelahnya. Tutupnya merah agak gelap. Isinya... merah juga.
"Anjir... ini apanya yang beda?!" gumamku frustasi.
Bagi mata lelakiku yang sederhana, semua ini adalah MERAH. Ada Merah 01, Merah 02, Merah 03. Tapi Feby minta "Merah Bata".
Aku mencoba membayangkan bata. Bata itu warnanya oranye kemerahan kan? Atau merah kecoklatan? Atau coklat kemerahan? Sial. Aku bahkan tidak tahu warna bata yang sejati. Apakah bata ringan (hebel)? Bata merah Cikarang? Atau bata ekspos kafe industrial?
Aku butuh bantuan. Aku mengeluarkan HP. Video Call Feby.
Connecting... Wajah Feby muncul. Tapi sialnya, sinyal di dalam toko ini busuk sekali. Gambar Feby pecah-pecah seperti karakter game Minecraft 8-bit.
"Halo? Yang? Liat nih!" Aku mengarahkan kamera HP ke deretan lipstik. "Yang mana yang Merah Bata?"
Suara Feby terdengar putus-putus seperti robot kehabisan baterai. "Maaas... i...tu... bureeeem... ge...lap..."
"Ini udah terang banget, Yang! Lampunya kayak stadion bola!" Aku mengambil satu lipstik secara acak. Merek 'Bibirkoe', Shade 05: Spicy Brick. "Ini bukan? Tulisannya Brick! Brick itu Bata!"
Di layar, Feby menyipitkan mata. "Koka... warnanya... jadi... ungu... di... layar?"
"Hah? Ungu? Ini merah, Yang!"
"Jangan... beli... yang... ungu... Mas... jelek..."
"INI MERAH! Sinyalnya yang bikin ungu!" teriakku frustasi. Orang-orang mulai menoleh.
Tiba-tiba koneksi terputus. Reconnecting... Layar mati. Sinyal hilang total. "Mampus. Mati gue."
Aku sendirian. Tanpa panduan. Tanpa sinyal. Di tengah kepungan ribuan warna merah yang memusuhi keberadaanku.
Aku tidak bisa menyerah. Kalau aku pulang tangan kosong, aku akan tidur di teras. Aku harus menguji warnanya.
Aku melihat seorang wanita di sebelahku sedang mencoret-coret punggung tangannya dengan berbagai warna lipstik. "Oh, gitu caranya," batinku. "Uji sampel."
Aku menyingsingkan lengan kemeja panjangku. Masalahnya satu: Tangan wanita itu mulus, putih, dan tidak berbulu. Tangan kiriku? Tangan kiriku adalah hutan tropis. Bulu tanganku lebat, hitam, dan keriting.
"Bismillah, demi cinta," bisikku.
Aku mengambil tester pertama. Shade: Ruby Red. Aku menggoreskannya di punggung tangan. Teksturnya menabrak bulu-bulu tanganku. Lipstiknya menggumpal di antara helai bulu, tidak menempel di kulit. Warnanya jadi aneh, seperti darah kering yang nyangkut di karpet berbulu.
"Jijik banget anjir," komentarku pada diri sendiri.
Aku mencoba mencari space yang agak gundul. Di dekat pergelangan tangan. Goresan kedua. Shade: Chili Pepper. Warnanya merah menyala. Terlalu terang. Ini mah merah bendera partai.
Goresan ketiga. Shade: Brown Sugar. Ini coklat. Kayak orang habis makan coklat tapi belepotan. Feby minta merah bata, bukan coklat bata.
Goresan keempat, kelima, keenam... Dalam waktu lima menit, tangan kiriku sudah penuh dengan garis-garis merah, oranye, coklat, dan ungu. Aku terlihat seperti korban KDRT yang baru saja dicakar oleh sekawanan kucing garong yang memakai make-up. Atau seperti kanvas lukisan abstrak yang gagal total.
Aku membandingkan garis nomor 3 dan nomor 7. "Ini perasaan sama aja warnanya," gumamku sambil memutar-mutar tangan di bawah lampu. "Apa bedanya anjir? Yang satu 100 ribu, yang satu 50 ribu. Apa yang mahal ada rasa stroberinya?"
Keringat dingin mulai menetes. Aku bingung. Pusing. Mual karena bau kosmetik yang menyengat. Aku merasa seperti berada di dalam Inception. Apakah warna merah itu nyata? Atau hanya ilusi optik?
Saat aku sedang melamun menatap tanganku yang penuh coretan, seorang entitas mendekat. Seorang Mbak SPG (Sales Promotion Girl). Dandanannya full make-up. Alisnya presisi seperti digambar pakai penggaris teknik sipil. Senyumnya ramah tapi mengintimidasi.
"Ada yang bisa dibantu, Kak?" tanyanya. Matanya melirik ngeri ke arah tanganku yang penuh luka buatan itu.
"Mbak... tolong saya," kataku putus asa. "Saya mencari Holy Grail. Saya mencari Lipstik Merah Bata."
Mbak SPG itu tersenyum maklum. "Oh, Brick Red ya Kak. Merek apa?"
"Merek apa aja Mbak, yang penting warnanya Merah Bata. Terus Matte tapi Glossy."
Alis Mbak SPG itu berkerut sedikit. Satu milimeter. "Maksudnya Satin atau Velvet, Kak? Kalau Matte ya kering, kalau Glossy ya kilap."
"Nah itu! Istri saya minta yang ajaib, Mbak. Velvet kali ya? Pokoknya yang gak bikin bibir kering kayak gurun sahara."
Mbak SPG itu mengangguk. Dia membawaku ke sebuah rak. "Ini Kak, Best Seller kami. Shade: Terracotta Wall."
Dia mengambil tester dan menggoreskannya di tangannya sendiri (yang mulus). Warnanya oranye kecoklatan.
Aku menggeleng. "Mbak, ini oranye. Istri saya minta Merah Bata."
"Ini Merah Bata, Kak. Bata kan ada unsur oranye tanah liatnya."
"Enggak Mbak," bantahku sok tahu (padahal aslinya buta). "Bata di rumah saya warnanya lebih gelap. Ini mah warna jeruk mandarin yang kematengan."
Mbak SPG itu menarik napas panjang. Dia mengambil warna lain. "Shade: Burnt Sienna." Warnanya merah gelap kecoklatan.
"Nah! Ini agak mirip!" seruku. "Tapi kok kayak warna darah beku ya Mbak? Terlalu serem gak sih?"
"Ini lagi tren Kak, warna Vampy Look."
"Istri saya lagi flu Mbak, bukan lagi mau casting jadi vampir GGS (Ganteng-Ganteng Serigala). Ada yang lebih... ceria dikit?"
Mbak SPG itu mulai terlihat lelah. Senyumnya mulai luntur. "Kak, definisi Merah Bata itu luas. Ada yang Warm Undertone, ada yang Cool Undertone."
"Hah? Undertone? Apa itu? Nada bawah? Emang lipstik bisa nyanyi?"
Mbak SPG itu memijat pelipisnya. "Begini Kak. Kakak liat urat nadi di tangan Kakak. Warnanya biru atau hijau?"
Aku melihat pergelangan tanganku. Tertutup bulu lebat dan coretan lipstik. "Gak keliatan Mbak. Tertutup hutan belantara dan coretan merah."
"Ya ampun..." Mbak SPG itu menyerah. "Yaudah Kak, menurut feeling Kakak aja deh. Yang mana yang paling mirip bata?"
Aku kembali menatap rak itu. Ribuan warna merah menatapku balik. Mereka mengejekku. Pilih aku, Hanif! Salah pilih, kamu mati!
Aku melihat satu warna. Merek Luxe. Nomor 12. Namanya: "Brick My Heart". Namanya sangat relevan dengan kondisiku saat ini. Hatiku serasa dilempar bata. Warnanya merah, ada coklatnya dikit, gak terlalu oranye, dan teksturnya pas dicoba di tangan (di sela-sela bulu) terlihat agak lembut, gak kering kerontang.
"Ini!" tunjukku. "Saya ambil ini!"
"Yakin Kak?"
"Yakin Mbak! Ini takdir! Namanya Brick My Heart. Ini pasti jodoh."
"Oke, harganya 250 ribu ya Kak."
Jantungku berhenti berdetak. "Dua... dua ratus lima puluh ribu?" Untuk satu batang kecil seukuran jari kelingking? Itu setara dengan 20 mangkok mie ayam bakso!
"Iya Kak, ini High End Brand. Tahan 24 jam, anti badai, anti makan gorengan, anti ciuman."
"Anti makan gorengan? Serius?" Aku menelan ludah. Mahal. Tapi kalau murah dan salah, nyawaku taruhannya. Kalau mahal dan salah, setidaknya aku bisa beralasan "Ini mahal lho Yang, masa gak suka?".
"Bungkus, Mbak! Sebelum saya berubah pikiran dan beli semen tiga roda buat bikin bata sendiri!"
Aku keluar dari mall dengan langkah gontai tapi lega. Di tanganku ada kantong belanja kecil berisi benda keramat seharga 250 ribu. Di tangan kiriku masih penuh coretan warna-warni yang susah hilang meski sudah digosok pakai tisu basah. Aku terlihat seperti habis ikut ritual sesat.
Sampai di rumah. Aku membuka pintu kamar dengan hati-hati. Feby masih terbaring, tapi sekarang posisinya duduk senderan bantal. Matanya berbinar melihat kedatanganku.
"Mana, Mas? Dapet?" tanyanya antusias.
Aku menyerahkan kantong itu dengan gaya pahlawan menyerahkan kepala naga. "Dapet, Yang. Ini perjuangan hidup dan mati. Aku debat sama SPG, aku nyaris gila di sana. Liat tangan aku." Aku memamerkan tanganku yang penuh coretan. "Ini bukti cinta, Yang. Kanvas penderitaan."
Feby tertawa kecil. "Ih, Mas Hanif lebay. Sini aku liat."
Dia membuka bungkusnya. Mengeluarkan lipstik Luxe itu. Dia membuka tutupnya. Memutar bagian bawahnya. Batang lipstik merah kecoklatan itu muncul.
Jantungku berdegup kencang. Momen penentuan. Apakah ini Merah Bata yang benar? Atau Merah Bencana?
Feby mengamatinya. Lalu dia mengoleskannya sedikit di punggung tangannya. Hening.
"Gimana, Yang?" tanyaku cemas. "Bata kan? Itu bata kan? Bata ekspos industrial kan?"
Feby tersenyum. "Bagus, Mas."
"ALHAMDULILLAH!" Aku sujud syukur di lantai. "Aku slamet! Aku gak tidur di luar!"
"Warnanya cantik," lanjut Feby. "Merah batanya pas. Gak terlalu gonjreng. Teksturnya juga enak, creamy gitu."
Aku merasa bangga. Insting lelakiku ternyata tidak tumpul. 250 ribu itu sepadan.
"TAPI..." kata Feby tiba-tiba.
Kata "TAPI" itu membuatku merinding. Kenapa harus ada "TAPI"?
"Tapi apa, Yang?"
Feby menatap lipstik itu, lalu menatapku dengan wajah polos tanpa dosa. "Tapi aku baru inget, Mas..."
Dia meraih tas make-up di meja samping tempat tidur. Dia mengaduk-aduk isinya. Lalu dia mengeluarkan sebuah benda. Sebuah lipstik. Mereknya sama. Luxe. Nomornya sama. 12. Namanya sama. Brick My Heart.
"Ternyata aku udah punya warna ini, Mas. Masih sisa setengah. Hehehe."
DUAR. Petir menyambar di siang bolong. Langit-langit kamar runtuh menimpaku secara metaforis. Mataku melotot menatap dua batang lipstik kembar itu.
"Ja... jadi..." suaraku bergetar. "Aku... ke mall... macet-macetan... debat sama SPG... nyoret-nyoret tangan sampe kayak orang gila... beli lipstik seharga 250 ribu... PADAHAL KAMU UDAH PUNYA?!"
"Ya kan aku lupa, Mas. Namanya juga lagi sakit, otaknya agak loading," jawab Feby santai sambil nyengir. "Yaudah gak apa-apa, buat stok cadangan. Makasih ya Suamiku sayang~"
Feby mencium pipiku sekilas. Lalu dia kembali asyik main HP.
Aku berdiri mematung. Jiwaku melayang keluar dari tubuh, terbang menembus atap, menuju angkasa luar, lalu meledak menjadi serpihan debu kosmik.
Aku menatap tanganku yang penuh coretan lipstik. Sakitnya bukan di tangan. Sakitnya bukan di dompet. Sakitnya di sini... di dalam dada yang sesak oleh rasa ngenes. Aku berjalan keluar kamar dengan tatapan kosong, menuju kamar mandi untuk menggosok tanganku dengan sabun colek.
Pelajaran hari ini: Jika istrimu minta dibelikan lipstik spesifik, hal pertama yang harus kamu lakukan bukan pergi ke toko. Tapi PERIKSA TAS MAKE-UP NYA DULU. Geledah sampai ke akar-akarnya.
Karena musuh terbesar pria bukan hanya buta warna, tapi juga ingatan istri yang selektif.