Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Di mulut neraka, aku bernegosiasi dengan seekor malaikat maut bernama Gabu (aku menyebutnya "seekor" karena dia memang benar-benar punya ekor). Gabu sialan itu ngeyel kalau aku pantas masuk bilik 17 yang dipenuhi jurang dan lautan mendidih. Aku pantas terjun dari atas jurang, lalu direbus di lautan sambil menyaksikan orang-orang bercinta di surga lewat layar canggih yang seluas lapangan bola.
Sudah kujelaskan berulang kali, ini semua gara-gara Minzi. Minzi, Minzi, Minzi. Wanita sialan yang membuat duniaku buruk seumur hidup. Bayangkan, ke mana pun arah hidupmu, kau selalu dibayangi Minzi. Gabu itu tahu apa? Malaikat tak menjalani kehidupan sebagai manusia. Dia memang diciptakan sebagai malaikat, dengan ekor panjang, dengan tubuh hitam, dengan mata sebesar srikaya. Dan dia terus saja ngeyel kalau itu salahku sendiri.
Salahku di mana?
Minzi selalu membayangiku, bahkan sejak bayi. Ia bisa berjalan sebulan lebih cepat daripada aku yang terlambat merangkak–itu menurut nenekku yang mungkin sekarang sedang sibuk merajut syal, ia sudah pikun dan lupa punya berapa cucu. Ketika di bangku SD, ibuku tak henti-henti membandingkanku dengan Minzi yang selalu peringkat satu. Padahal, aku juga rajin belajar dan meraih peringkat dua.
"Dua? Dua kaubilang bagus, hah? Kenapa kau tak bisa peringkat satu seperti Minzi?"
"Jumlah nilai kami sama, aku cuma kalah nomor absen," jawabku. Dan ibuku terus membakar telingaku sepanjang hari dengan omelannya.
Entah kenapa ibuku terobsesi dengan peringkat satu. Mungkin di masa lalu, nasibnya tak jauh beda denganku. Karena itu dia menenggelamkanku dalam dunia yang ingin dia ciptakan sejak lama. Dunia indah versi Ibu adalah dunia dengan anak-anak pintar yang membanggakan. Dan aku tak bisa diharapkan untuk mewujudkan itu meskipun sudah jungkir balik hingga berdarah-darah.
Ketika SMP, Minzi masuk kelas unggulan, sementara aku tidak. Ibuku harus menahan kecewa karena dunia indahnya gagal terwujud lagi. Sudah kujelaskan berulang kali, kelas unggulan itu untuk anak-anak yang nilai semester akhirnya bagus. Aku hanya kurang beruntung saja karena sedang sakit waktu ujian semester.
"Aku heran, kenapa Tuhan memberiku anak sakit-sakitan sepertimu, bukan anak sehat seperti Minzi." Ibuku tak henti-henti merebus dadaku lagi.
"Mungkin Tuhan muak dengan Ibu." Jawabanku itu membuat Ibu terkesima. Ia lalu memberiku bonus tamparan di pipi kanan.
Minzi. Minzi. Minzi. Dia lagi. Dia lagi. Siapa lagi yang membuat duniaku buruk kalau bukan Minzi? Sialan.
Kesialanku tak berhenti di sana. Minzi masih terus membayangiku hingga SMA, kuliah, dan bekerja. Dia selalu dapat posisi lebih bagus dariku. Terakhir, dia juga menikah dengan pria yang lebih mapan dari suamiku. Dan ibuku juga tak henti-henti membodoh-bodohkanku setiap saat.
Minzi hebat, lah. Minzi berhasil, lah. Minzi beruntung, lah. Selalu Minzi. Duniaku dipenuhi Minzi.
Karena muak dengan Minzi, aku mengajak suamiku, Dim, pindah ke Malaysia. Aku ingin memulai hidup baru dan membuat dunia yang indah menurut versiku, bukan lagi versi ibuku.
Pada tahun pertama di Malaysia, aku melahirkan anak laki-laki. Ia kuberi nama Joseph. Ia tampan dan pandai mengoceh. Ketika melihatnya, aku merasa duniaku yang buruk telah berubah menjadi indah. Sejak itu, aku melupakan Minzi. Kuharap dia juga sudah mati dan tak akan muncul lagi di dekatku meskipun dalam bentuk roh halus.
Suamiku mendapat pekerjaan yang bagus. Hidup kami berkecukupan dan bahagia. Dan itu berlangsung selama sekitar enam tahun, sampai di tahun ketujuh, kiamat kecil terjadi di duniaku yang indah: Minzi pindah tepat di samping apartemen kami.
Minzi masih seperti yang dulu, cantik, matanya bulat, dan tubuhnya seperti stik bilyard. Dia bercerita bahwa suaminya, Ferdi, dipindahtugaskan ke Malaysia, tepatnya akan jadi atasan Dim. Triple shit! Entah apa salah dan dosaku di masa lalu, hingga harus hidup berdampingan dengan Minzi seumur hidup. Ini lebih buruk daripada aku sembelit empat hari. Melihat Minzi mengetuk pintu untuk memberi salam dan membagikan undangan syukuran pindah rumah, membuat perutku mulas sepanjang malam. Aku bahkan nyaris tidur di toilet. Ini semua gara-gara Minzi!
“Memangnya kenapa kamu benci banget sama Minzi?” tanya suamiku ketika aku menceritakan kesialan-kesialan yang kualami ketika hidup berdampingan dengan Minzi. Seakan tak paham dengan perasaanku, dia malah menambahkan, “Kayaknya dia ramah dan baik. Nggak seburuk yang kamu ceritakan.”
“Kamu naksir sama dia?” cetusku.
“Bicara apa kamu?” Dim beranjak dari ranjang. “Aku mau keluar sama Ferdi. Tadi dia ngajak cari angin.”
Ya, bahkan sekarang suamiku jadi lengket dengan suaminya Minzi. Mereka sering keluar bersama. Berangkat ke kantor pun bersama. Waktu Dim untuk aku dan Joseph makin berkurang karena dia lebih sering bersama keluarga Minzi. Dan makin lama, yang kutakutkan pun terjadi: Dim mulai membanding-bandingkan aku dengan Minzi.
“Minzi itu tiap hari selalu terlihat cantik. Pagi-pagi dia sudah rapi dan segar,” kata Dim suatu pagi setelah memindai penampilanku yang masih berpiyama dan belum mandi.
“Kamu bisa bikin ayam madu kayak di rumah Minzi waktu syukuran itu, nggak? Aku bosan masakan kamu, itu-itu mulu.” Nah, dia juga mulai membandingkan masakanku dengan Minzi.
Minzi. Minzi. Minzi. Dia lagi. Dia lagi. Kenapa duniaku harus selalu tentang Minzi?
Makin hari, duniaku makin terasa suram. Minzi mengambil alih semua perhatian Dim. Lama-lama, Joseph pun makin betah bermain di apartemen Minzi. Dia bilang, “Tante Minzi sering bikin kue enak, nggak kayak Mama, kuenya beli terus, nggak pernah bikin sendiri.” Ya, ya, ya. Minzi menang lagi.
Suatu malam, karena suntuk gara-gara Minzi, aku pergi jalan-jalan sendirian. Aku mampir di sebuah restoran dan memesan makanan paling mahal di sana. Saat menghabiskan makanan penutupku, tiba-tiba seorang laki-laki menghampiri mejaku dan langsung duduk begitu saja. Aku terkejut sampai tersedak, hampir tak percaya siapa yang saat itu duduk di depanku: Ferdi, suaminya Minzi.
“Maaf, membuatmu terkejut,” ucapnya sambil menyodorkan sapu tangan.
Aku menerima sapu tangan itu untuk mengusap bajuku yang basah terkena jus jeruk. “Kenapa sendirian? Minzi mana?”
Ferdi menggeleng. “Tolong jangan membahas dia.”
“Apa ada masalah?”
Setelah jeda tujuh hitungan, Ferdi berkata, “Aku ingin kembali ke Indonesia.” Ferdi menghela napas dan tampak tak bersemangat. Dia sangat berbeda dari Ferdi yang biasa kulihat setiap pagi.
“Aku juga.” Aku turut menghela napas. “Rasanya ke mana pun aku pergi, aku tidak bisa menemukan dunia yang indah versiku sendiri.”
Aku dan Ferdi terdiam. Kami seolah sedang mengadu nasib lewat tatapan.
“Setelah ini, mau minum kopi bareng?” cetus Ferdi.
Aku mengangguk. Dan itulah awal semuanya bermula.
Aku dan Ferdi makin dekat. Kami sering menghabiskan waktu bersama di luar. Kedekatan itu membuatku melupakan kekesalan kepada Dim dan ucapan-ucapannya yang makin hari makin mencincang telinga. Aku curiga, dia dan Minzi juga ada affair. Namun, aku tidak peduli lagi. Kupikir, kedekatanku dengan Ferdi bisa jadi senjata balas dendam kepada Minzi.
Makin hari, kami makin berani. Ferdi kadang datang ke rumah saat Dim belum pulang kerja. Sebagai atasan, dia sering sengaja memberi Dim pekerjaan tambahan supaya Dim tak cepat pulang. Dengan itu, kami bisa menghabiskan waktu dengan memacu adrenalin di atas ranjang. Sejenak, aku merasa duniaku kembali indah. Hanya Ferdi satu-satunya orang yang tidak membandingkanku dengan Minzi. Dia bahkan sering bercerita betapa memuakkan hidup bersama Minzi yang selalu teratur dan tak biasa berimprovisasi.
Ferdi pernah bercerita, hanya karena bawang yang habis, Minzi tidak jadi memasak semur untuk makan malam, hingga akhirnya begadang sampai pagi karena menyesali kenapa dia sampai lupa tidak membeli bawang. Minzi tak bisa bersantai dan membiarkan rumah sedikit berantakan. Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan sikap Minzi, tapi Ferdi mendambakan hal lain, hal yang lebih menantang seperti perdebatan-perdebatan kecil atau improvisasi dalam berciuman. Ya, kali ini aku lebih unggul dibanding Minzi.
Hubunganku dengan Dim memburuk. Kami selalu bertengkar, bahkan untuk hal-hal sepele seperti kuah sup yang tumpah di meja makan, atau sepatu yang letaknya bergeser dari tempat semula. Dan dalam setiap pertengkaran itu, Minzi selalu hadir lewat kata-katanya.
Kau tidak seperti Minzi, lah. Minzi rapi, lah. Minzi ini, lah, itu, lah. Hah! Itu membuatku muak. Maka, aku memantapkan diri untuk menciptakan dunia yang indah lagi bersama Ferdi. Dim, sudah tak bisa kuharapkan. Aku mencoretnya dari daftar yang kubutuhkan untuk membangun dunia yang indah dalam versiku.
Akan tetapi, duniaku itu kiamat lagi. Benar-benar kiamat!
Dim menceraikanku. Dia membawa Joseph bersamanya. Awalnya, aku tidak masalah dengan semua itu. Aku masih punya Ferdi yang menganggapku lebih baik daripada Minzi. Namun, ternyata aku salah. Yang kuharapkan tak sesuai kenyataan.
“Kaupikir kau lebih baik dari Minzi? Lihat. Kau ini cuma wanita menyedihkan yang haus perhatian. Kau memang pantas dikasihani,” ucap Ferdi ketika aku memintanya menceraikan Minzi.
Aku tertawa. “Apa aku kalah lagi sekarang?”
“Maaf, sepertinya aku sudah terlalu baik kepadamu. Mulai sekarang, anggap saja tak pernah terjadi apa pun di antara kita.” Ferdi meninggalkanku. Benar-benar meninggalkanku.
Aku tidak terima dengan semua itu. Dunia ini tidak ramah kepadaku. Dunia cuma ramah kepada Minzi. Minzi. Minzi. Minzi. Dia lagi. Kupikir aku sudah selangkah lebih maju dari Minzi. Namun, ternyata aku makin tertinggal jauh di belakang. Dia tetap tersenyum dan bahagia bersama Ferdi. Sementara aku sendirian. Benar-benar sendirian.
Aku naik ke atap gedung apartemen, lalu melayang ke bawah hingga membentur aspal. Kupikir, aku bisa menciptakan dunia yang indah versiku sendiri setelah mati. Namun, ternyata aku malah berakhir di mulut neraka bersama si Gabu sialan yang tak henti-henti mendorongku ke bilik 17.
Saat aku masih berusaha bernegosiasi dengan Gabu, ada kereta terbuka lewat di jembatan sungai yang memisahkan surga dan neraka. Di kereta itu, aku bisa melihat ada Minzi, Ferdi, Dim, dan Joseph. Mereka mati dua puluh menit setelah aku menjatuhkan diri dari lantai 39. Ada gempa dan apartemen itu hancur. Mereka terjebak dan mampus di sana. Seandainya saja aku bisa menahan diri lima belas menit lagi, mungkin aku akan bersama mereka naik kereta itu.
“Gabu, aku mau masuk ke bilik 17. Tapi, apa aku boleh bertanya dulu?”
Gabu menatapku. “Dari tadi kau juga terus bertanya.”
“Kenapa dunia yang indah itu hanya milik Minzi?”
Gabu tertawa. “Kau punya dunia yang indah, tapi kau tak bisa melihatnya.”
Dan akhirnya, sampai aku direbus seratus tujuh puluh tiga kali di lautan mendidih, aku masih belum mengerti maksud Gabu.
Bojonegoro, 31 Januari 2023
Aiu Ratna