Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Di puncak kejayaannya pada usia genap 42 tahun, Milan Kandung tiba-tiba saja mendapat sepucuk surat yang dikirim dari Panti Jompo Kenangan Kasih dengan nama pengirim Darsinem. Ia berpikir sepersekian menit di ruang kerjanya, mencoba mengingat apakah ia pernah memiliki kolega yang bernama Darsinem yang sekarang tinggal di salah satu panti jompo terbaik di kota sebelah. Yang Milan Kandung ingat, ia pernah ke panti jompo itu untuk suatu kegiatan bakti sosial dan memberikan hiburan gratis pada para lansia yang mendamba pelukan hangat anak-cucunya, tapi saat kunjungan itu, umurnya masih 30 tahun, dan ia ingat sekali tidak ada lansia yang bernama Darsinem.
Sebelum membuka surat itu, ia memilih menelepon narahubung panti jompo tersebut untuk menanyakan apakah dua belas tahun lalu ada lansia bernama Darsinem dan kalau ada, apakah ia punya fotonya. Orang itu mengatakan bahwa dua belas tahun lalu tak ada lansia bernama Darsinem, sehingga tak ada pula foto dan identitasnya yang tercatat, tapi tiga tahun yang lalu, ada lansia perempuan berusia 75 tahun yang baru saja masuk ke panti jompo tersebut, dan namanya persis Darsinem. Tidak ada nama marga, nama tengah, dan nama akhiran. Hanya Darsinem dan penulisannya persis dengan nama pengirim di suratnya.
Berarti dia orang baru, kata Milan Kandung dalam hatinya. Tapi, bagaimana ia bisa tahu alamat rumahku? Ia bertanya lagi, tapi tidak ada memori tentang perempuan lansia itu yang diingatnya. Maka, dengan agak tergesa ia membuka amplop surat itu. Ada empat lembar dan semuanya ditulis tangan dengan rapi.
Kalimat pertama surat itu langsung membuatnya nyaris mati duduk.
Wahai Tuan Milan Kandung, aku Darsinem, yang tidak lain tidak bukan adalah ibu kandungmu, yang dengan kesadaran penuh telah meninggalkanmu sedari kau masih kecil, sebab saat itu aku belum siap menjadi seorang ibu yang harus memi...