Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Milan Kandung
0
Suka
1
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Di puncak kejayaannya pada usia genap 42 tahun, Milan Kandung tiba-tiba saja mendapat sepucuk surat yang dikirim dari Panti Jompo Kenangan Kasih dengan nama pengirim Darsinem. Ia berpikir sepersekian menit di ruang kerjanya, mencoba mengingat apakah ia pernah memiliki kolega yang bernama Darsinem yang sekarang tinggal di salah satu panti jompo terbaik di kota sebelah. Yang Milan Kandung ingat, ia pernah ke panti jompo itu untuk suatu kegiatan bakti sosial dan memberikan hiburan gratis pada para lansia yang mendamba pelukan hangat anak-cucunya, tapi saat kunjungan itu, umurnya masih 30 tahun, dan ia ingat sekali tidak ada lansia yang bernama Darsinem.

Sebelum membuka surat itu, ia memilih menelepon narahubung panti jompo tersebut untuk menanyakan apakah dua belas tahun lalu ada lansia bernama Darsinem dan kalau ada, apakah ia punya fotonya. Orang itu mengatakan bahwa dua belas tahun lalu tak ada lansia bernama Darsinem, sehingga tak ada pula foto dan identitasnya yang tercatat, tapi tiga tahun yang lalu, ada lansia perempuan berusia 75 tahun yang baru saja masuk ke panti jompo tersebut, dan namanya persis Darsinem. Tidak ada nama marga, nama tengah, dan nama akhiran. Hanya Darsinem dan penulisannya persis dengan nama pengirim di suratnya.

Berarti dia orang baru, kata Milan Kandung dalam hatinya. Tapi, bagaimana ia bisa tahu alamat rumahku? Ia bertanya lagi, tapi tidak ada memori tentang perempuan lansia itu yang diingatnya. Maka, dengan agak tergesa ia membuka amplop surat itu. Ada empat lembar dan semuanya ditulis tangan dengan rapi.

Kalimat pertama surat itu langsung membuatnya nyaris mati duduk.

Wahai Tuan Milan Kandung, aku Darsinem, yang tidak lain tidak bukan adalah ibu kandungmu, yang dengan kesadaran penuh telah meninggalkanmu sedari kau masih kecil, sebab saat itu aku belum siap menjadi seorang ibu yang harus memikul beban ini sendirian.

Jantungnya terasa berdetak lebih kencang dari biasanya. Ia rasakan tangan dan kakinya lemas, telapak tangannya dingin, dan napasnya memburu seolah oksigen di sekitarnya kian menipis.

Dengan tergopoh ia mencari-cari kotak dimana ia menyimpan kacamatanya, dan mengenakannya dengan terburu-buru. Ia membaca lagi kalimat pertama surat itu, sekali, dua kali, lima kali. Tidak ada yang salah dengan kalimatnya. Kalimat itu ditujukan Darsinem kepadanya. Melihat wanita itu menyebut dengan gamblang bahwa ia dengan sengaja menelantarkan Milan Kundang dan baru muncul sekarang, menyiratkan kesan bahwa Darsinem tidak ingin kalimat pertamanya terdengar seperti pembelaan. Secara tidak langsung, ia mengaku salah. Tapi tetap saja, ini bukan sesuatu yang bisa diprediksi siapapun.

Selama ini, yang Milan Kandung tahu, orang tuanya sudah tua sejak ia masih kecil dan semakin renta ketika ia bertambah umur. Sampai akhirnya, di usianya yang ke-15 tahun, orang tuanya, yang ternyata baru ia ketahui bahwa mereka adalah kakek dan neneknya, meninggal dunia.

Karena tak punya biaya untuk melanjutkan sekolah, maka tepat setelah lulus SMP, Milan Kandung tidak melanjutkan sekolahnya ke jenjang SMA. Ia membanting tulang dan bermandikan keringat setiap hari untuk menyambung hidup. Ia bekerja apa saja. Menjadi kuli panggul di pasar, membuatnya harus bekerja dari jam 12 malam sampai 7 pagi, kemudian pulang ke rumah untuk tidur sebentar sebelum akhirnya saat siang hari jam 11, ia datang ke salah satu warung bakso menaiki sepeda kakeknya yang reot untuk bekerja sebagai pencuci piring sampai jam 5 sore. Setelah menjadi pencuci piring, ia menjadi pemulung yang mengumpulkan barang-barang bekas yang nanti akan ia sortir sendiri dan dikumpulkan kepada pengepul di desanya. Ia biasanya sampai rumah jam 9 malam hanya untuk tidur 3 jam dan mengulangi kegiatan yang sama setiap hari.

Setelah ia cukup umur, ia baru diterima kerja sebagai penjaga stand minuman yang bekerja dari jam 8 pagi sampai 10 malam tanpa hari libur dan tanpa pergantian shift. bayarannya lumayan, sehingga ia bertahan di pekerjaan itu sampai setidaknya bisa membiayai kejar paket C agar ia mendapatkan ijazah SMA. Setelah dapat ijazah SMA, ia mencoba melamar pekerjaan yang sedikit lebih baik sambil masih mempertahankan pekerjaannya sebagai penjaga stand minuman. Setelah diterima sebagai salah satu kitchen crew di salah satu kafe, ia meninggalkan pekerjaannya yang lama karena ingin fokus pada yang baru.

Selama dua tahun ia bekerja di kafe itu, sampai akhirnya diangkat menjadi kepala dapur oleh supervisornya. Milan Kandung tidak menghitung berapa lama ia bekerja sebagai kepala dapur, tapi suatu hari, pemilik kafe tempatnya bekerja dengan baik hati menawarkannya beasiswa untuk kuliah. Awalnya Milan Kandung ragu, mengira dirinya sedang mimpi, tapi pada akhirnya, ia terima juga tawaran itu sambil tetap bekerja dengan sistem shift dengan teman-teman kitchen crew yang lain. Kalau ia sedang ada kelas pagi, maka ia akan masuk shift sore, begitu pula sebaliknya. Ia lulus dengan predikat cumlaude dengan nilai IPK 4,0 yang ditempuh selama 3,5 tahun. Sampai kapan pun, ketika ia ingat bahwa ia bisa punya gelar sarjana, Milan Kandung masih tetap tidak percaya. Kisah hidupnya kadang seperti sinetron, tapi begitulah adanya.

Dari gelarnya sebagai Sarjana Ekonomi, Milan Kandung mulai mencoba melamar sebagai akuntan di beberapa perusahaan. Perlu beberapa waktu sampai akhirnya ia mendapatkan panggilan interview di salah satu perusahaan. Sempat ada ketakutan pada dirinya untuk melepas pekerjaannya sebagai kepala dapur karena tiba-tiba saja ia merasa ragu dengan kemampuannya. Apakah ia mampu bekerja di perusahaan itu, apakah kinerjanya bisa sebaik itu, apakah akan ada yang mempercayai hasil kerjanya, apakah lingkungan kerjanya menerima ia yang latar belakangnya terlalu tidak jelas dan tidak mentereng, tapi kemudian pemilik kafe tempatnya bekerja tiba-tiba saja memanggilnya ke ruangan kerjanya setelah Milan Kandung menyelesaikan shift kerjanya.

Mereka berbincang selama dua jam, dan dalam perbincangan itu, Milan Kandung seolah sedang mendengarkan arahan dan nasehat dari seorang ibu yang selama ini hilang dari ingatannya. Melalui sosok Bu Amita, ia seperti dapat suntikan yang membuat kepercayaan dirinya meningkat. Keesokan harinya, ia pamit resign pada Bu Amita dan teman-teman sejawatnya, dan resmilah ia menyandang status sebagai akuntan di perusahaan pertama yang menerimanya sebagai karyawan.

Selalulah akan ada drama dan cekcok dengan teman satu kantor atau satu divisi, tapi Milan Kandung selalu mengingatkan diri sendiri bahwa ia harus bertahan sesulit apapun lingkungan kerjanya, atau setidaknyaman apapun teman-temannya, sebab ia hanya punya pekerjaan itu untuk membuatnya tetap menghasilkan uang dan melanjutkan hidup. Dari yang awalnya ia punya banyak teman, lama-lama Milan Kandung memilih menyendiri setelah beberapa kali dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi oleh beberapa temannya, baik yang junior maupun senior. Ia mulai sering terlihat makan sendiri, melamun sendiri, dan itu membuatnya lebih fokus pada pekerjaannya. Ia juga mulai melatih diri untuk bersikap tegas.

Kinerjanya yang bagus membuatnya perlahan mendapatkan promosi jabatan. Semakin tinggi jabatannya, semakin kencang angin yang menerpanya dan semakin menyendiri ia. Tapi karena sudah biasa, ia tidak memandang kesendiriannya sebagai kesedihan yang harus diratapi. Sebaliknya, ia memandang hal itu sebagai bentuk proteksi dirinya terhadap orang-orang yang hendak memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi, bukan kepentingan bersama. Lama-lama, Milan Kandung disegani baik oleh junior maupun seniornya. Kejujurannya tidak bisa disogok dengan uang berapapun, dan kedisiplinannya tidak bisa digoyahkan hanya karena lingkungan kerjanya masih banyak orang yang terlambat saat rapat akan dimulai dengan memberi segudang alasan.

Melihat ketekunan Milan Kandung yang sekokoh karang lautan, bosnya berniat memberinya hadiah. Saat itu, hadiahnya adalah liburan ke Bali selama 3 hari dua malam atau beasiswa full S2 dari kantornya. Tanpa ragu, lelaki itu langsung memilih opsi yang kedua. Ia diberi beasiswa full S2 di kota itu jurusan bisnis dengan tetap bekerja di perusahaan yang telah memberinya beasiswa tersebut. Dan seperti kisah inspiratif lainnya, secara klise ia bisa lulus tepat waktu dengan predikat cumlaude.

Secara tiba-tiba, pada suatu kesempatan, ada artikel di media massa yang mengulik tentang latar belakangnya–entah apa yang menarik dari latar belakang lelaki itu sampai beberapa wartawan menelepon ke kantornya untuk meminta Milan Kandung mau diwawancarai. Lelaki itu memang menerima tawaran untuk diwawancara, tapi hanya kepada satu stasiun TV saja, itu pun setelah ia mengulik stasiun TV mana yang menurutnya akan membungkus wawancaranya dengan apa adanya tanpa ada tambahan gimmick berlebihan. Namanya kemudian melejit dalam sekian bulan setelah video wawancaranya ditonton lebih dari lima juta kali di kanal youtube stasiun TV yang dipilihnya. Dari sanalah tawaran untuk mengisi seminar-seminar motivasi berdatangan dengan bayaran yang fantastis. Walaupun Milan Kandung pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang datang kepadanya sebab ia yakin kesempatan macam itu tak datang dua kali, tapi untuk kesempatan yang satu ini, ia menolak mentah-mentah.

Ia tidak mau dikenal sebagai motivator. Sebab ia menyadari bahwa keadaan setiap orang tidak bisa disamakan dengan dirinya yang mendapatkan banyak keberuntungan. Dari sekian banyak orang yang sepertinya, hanya ia dan segelintir orang saja yang mencapai titik ini, titik yang cukup tinggi hingga dikata orang telah “mengangkat derajatnya sendiri” sebagai manusia yang kelihatan lebih punya nilai. Ia tidak mau nasehatnya menjadi suara-suara manis fantastis yang menenggelamkan generasi mudanya dalam mimpi-mimpi dan harapan semu. Sebab ia sadar, tak semua orang bisa sampai di titik seperti yang ia jalani sekarang.

Setelah menolak tawaran mengisi seminar-seminar motivasi, tawaran mengisi kelas-kelas seminar tentang ekonomi mulai berdatangan dan tanpa ragu ia terima karena berbagi ilmu lebih bermanfaat ketimbang berbagi motivasi semu. Saking banyaknya undangan berdatangan, Milan Kandung tidak bisa menghitungnya. Ia bahkan kesulitan untuk menyusun portofolionya karena banyaknya pengalaman yang tidak bisa ia ingat tapi ia jelas pernah memiliki pengalaman itu.

Selain bekerja di perusahaan, Milan Kandung juga mulai menjajal bidang baru, yaitu penulisan esai dan opini. Ia mulai mengirimkan tulisan-tulisannya yang lugas dan tajam ke koran-koran. Awalnya hanya koran lokal, kemudian dimuat sampai koran nasional. Setiap kali ada kesempatan, ia tidak menggunakannya untuk melamun seperti dulu-dulu, tapi menulis premis esai atau opini yang akan ia kirimkan untuk koran-koran. Dari sana, ia mulai mendapatkan uang tambahan. Honor dari menulis ia pakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sementara gaji dari perusahaan ia tabungkan. Di saat yang bersamaan, ia juga belajar investasi saham. Walaupun kesepian di dalam kosan sederhananya, Milan Kandung tetap berusaha mengenyahkan perasaan itu dengan menenggelamkan dirinya pada buku bacaan yang ia pinjam dengan rajin dari perpustakaan daerah sebab ia sudah menjadi anggota tetap di sana.

Tulisan-tulisannya yang perlahan telah mencapai ratusan membuatnya mendapat tawaran mengajar di salah satu kampus sebagai dosen tamu. Awalnya ia ragu, takut dirinya tidak cukup layak untuk posisi itu, tapi ia berusaha mengenyahkannya. Namanya mulai disorot oleh koran-koran lokal hingga nasional. Kisahnya mencapai tangga kesuksesan banyak diceritakan guru-guru di sekolah dengan tujuan memotivasi murid-muridnya agar tidak malas belajar dan tidak takut bermimpi. kalian harus mencontoh Milan Kandung, kalian harus belajar dari Milan Kandung, Milan Kandung, Milan Kandung, dan Milan Kandung. Sejujurnya, ia sendiri muak kisahnya dijadikan sebagai motivasi anak-anak muda, sebab ia tidak ingin menjadi contoh bagi siapapun. Ia tidak punya kapabilitas untuk itu, tapi ia juga tidak ingin buang waktu untuk mempedulikan pemberitaan di media massa tentang dirinya.

Suatu ketika, ada salah satu orang penting di negeri ini yang hendak bertemu dengan Milan Kandung. Pertemuannya di salah satu restoran pinggir jalan membuat ia kembali jadi sorotan. Publik mulai menebar asumsi–akankah orang “semurni” Milan Kandung mau masuk partai politik dan banting setir jadi politikus? Sedangkan publik tahu bahwa ia kerap kali mengkritik kebijakan pemerintah khususnya di bidang ekonomi. Tapi di satu sisi, sebagian orang menyatakan bahwa mereka setuju kalau Milan Kandung masuk politik, sebab mereka yakin ia bisa jadi orang waras yang membuat kebijakan yang bijaksana. Walaupun begitu, mentah-mentah tawaran mentereng itu ditolaknya. Penolakan itu juga ramai dibahas oleh media massa dan publik. Ada yang menyayangkan, ada juga yang bersyukur karena Milan Kandung mempertahankan idealismenya.

Suatu ketika, undangan makan malam untuk Milan Kandung sampai ke mejanya. Bosnya bilang, ia harus hadir karena tuan rumahnya adalah salah satu investor terbesar di kantor tempatnya bekerja. Milan Kandung bilang: selama aku tidak dijebak untuk menerima suap atau ditawari masuk partai politik, maka aku akan datang.

Sebelum memenuhi panggilan makan malam itu, ia terlebih dahulu melakukan riset tentang tuan rumah yang mengundangnya. Namanya Brata Adiwijaya–salah satu konglomerat di negerinya yang dikenal orang sebagai sosok yang ramah dan tidak pernah menunjukkan kekayaannya. Ia bahkan pernah makan di warteg, warung kaki lima, dan nongkrong bersama dua anak lelakinya di angkringan lesehan tanpa diketahui banyak orang bahwa ia adalah salah satu orang terkaya di negeri itu.

Walaupun saat itu ia masih bingung mengapa dirinya menjadi salah satu orang yang diundang ke acara makan malam itu, tapi ia tetap datang sebab perasaannya mengatakan bahwa ia tidak akan menyesali keputusannya.

Acara makan malam itu berjalan seperti biasa dan tidak banyak tamu yang diundang. Milan Kandung berpikir bahwa Pak Brata mungkin saja mengundang ratusan orang yang ia kenal, tapi nyatanya, yang datang ke acara itu tidak sampai lima puluh orang. Ini membuat Milan Kandung merasa minder berada di tengah puluhan orang yang jelas lebih sukses dibanding dirinya. Ia lebih baik ada di antara ratusan orang kaya daripada hanya puluhan orang begini. Dan ia tak bisa menyembunyikan kegugupannya saat Pak Brata dan bosnya memanggilnya untuk bergabung. Mereka menepi sejenak ke sudut ruangan. Makan malam bersama kemudian mengobrol tentang banyak hal entah nyaris berapa jam. Yang jelas, Milan Kandung merasa senang bertemu dengan Pak Brata sebab sosoknya seperti ayah, bukan seperti atasan.

Di tengah-tengah obrolan itu, salah satu perempuan anggun ikut bergabung. Pak Brata memperkenalkannya sebagai anak bungsunya, Diandara Ayu Satwika. Sama sekali tidak ada nama Adiwijaya di akhir namanya, tapi jelas sekali bahwa perempuan itu mewarisi gen Pak Brata yang walaupun sudah tua masih terlihat ketampanannya, membuat Diandara kelihatan seperti versi perempuan dari Pak Brata. Saking mempesonanya Diandara, yang bisa dilihat bagaimana ia mendengarkan lawan bicaranya sampai tuntas baru menanggapinya dengan argumen yang tidak kalah menarik dan dalam, Milan Kandung tidak bisa melepaskan pandangannya dari perempuan itu. Sesekali ia curi pandang dan untungnya, perempuan itu hanya sempat menangkap basah dirinya sekali.

“Surat dari siapa?” suara istrinya, Diandara, kontan saja mengagetkan lelaki itu. Ia berdeham pelan dan berusaha setenang mungkin untuk melipatnya dan memasukkannya ke dalam laci.

“Tidak ada. Dari salah satu teman jauhku di Kalimantan.”

“Sudah masuk jam makan malam. Nggak biasanya kamu terlambat datang. Pekerjaanmu masih banyak?”

“Oh, nggak. Sebentar lagi aku ke sana. Anak-anak sudah pulang semua?”

“Sudah. Kamu tahu? Alina diantar cowok. Kutanya dia siapa, Alina hanya bilang kalau itu temannya. Aku tahu dia gimana. Dia dekat sama aku. Hampir semua hal selalu diceritakan padaku. Aku takut dia bohong karena nggak enak cerita sama aku. Aku takut melewatkan banyak hal tentang anak-anak. Sekarang dia sudah remaja dan ada waktu dimana dia ingin menyimpan semuanya sendiri.”

Milan Kandung tersenyum kecil kemudian melipat dengan tenang suratnya lalu dimasukkannya benda itu ke laci mejanya, “Dia sudah remaja, wajar dia punya rahasia. Nggak semua hal tentang anak-anak harus kita tahu. Mereka butuh menyimpan rahasia dan kita butuh memberikan mereka ruang privasi.”

Istrinya membuang napas pelan kemudian mengangguk. Ia memberikan isyarat sekali kali pada Milan Kandung supaya ia segera menyusul ke ruang makan, baru setelah itu ia pergi. Lelaki itu langsung menghubungi salah satu asisten pribadinya, Arif, untuk mencari tahu apakah benar Ibu Darsinem tinggal di Panti Jompo Kenangan Kasih. Ia ingin semua informasi tentang wanita itu sampai kepadanya dalam waktu dekat.

Seminggu kemudian, setelah dirasa siap, Milan Kandung pergi sendirian ke panti jompo itu dan meminta salah satu pengurus di sana mengantarnya pada seorang wanita bernama Darsinem. Perawat perempuan itu langsung mengantarnya ke taman panti jompo yang menghadap langsung ke danau buatan. Di sana ada beberapa lansia yang didampingi perawat sedang makan, melukis, menulis, atau sekadar makan buah dan bercerita bersama.

“Itu Ibu Darsinem, yang sedang duduk pakai daster ungu.”

Milan Kandung mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Jantungnya tak pelak langsung berdegup kencang bukan main ketika ia hanya berjarak belasan langkah dari ibunya–dari sosok yang selama ini ia anggap sudah meninggal. Sosok yang ia yakini bahwa ia tak memilikinya sama sekali, sekarang muncul di hadapannya dalam tubuh tua renta dan rambut yang sebagian besar sudah memutih.

Sekarang ia merasakan perasaan agak menyesal dan mempertanyakan keputusan sendiri–mengapa ia harus menghampiri Ibunya. Apa yang harus mereka berdua bicarakan kalau berhadapan? Apa yang harus ia lakukan untuk menghadapi perempuan yang melahirkannya?

Seolah merasakan kehadiran anak satu-satunya yang sudah ia nanti dengan sabar kedatangannya, Darsinem sekonyong-konyong berdiri dibantu perawat perempuannya kemudian berbalik. Milan Kandung tidak dapat menahan diri untuk tidak melebarkan mata dan membiarkan tubuhnya menegang.

“Anakku.” kata Darsinem. Perawat perempuan itu menoleh dan sekarang ada dua orang yang menatap Milan Kandung. Tangan kanan wanita tua itu terangkat, menunjuknya. “Itu anakku. Namanya Milan Kandung.”

Perawat perempuan itu tersenyum kemudian menuntun Darsinem ke kursi rodanya kemudian mendorongnya perlahan hingga hanya berjarak empat langkah di hadapan Milan Kandung. “Saya akan ambilkan cemilan dan buatkan teh dulu. Silakan Anda berdua mengobrol. Ibu Darsinem sudah lama menunggu kedatangan Anda. Tuan Milan Kandung, kalau saja Anda tahu, semenjak tinggal di sini, Bu Darsinem nggak pernah melewatkan hari untuk menyimak berita dan baca koran karena barangkali ada nama Anda di sana. Beliau bahkan menempeli dinding kamarnya dengan foto-foto Anda dari koran atau majalah yang ia baca. Saya senang Anda akhirnya datang. Saya tinggal sebentar, ya.” Setelah mengunci roda belakang kursi roda itu, perawat perempuan dengan name tag Dewi itu melenggang pergi menuju dapur.

Setelah keheningan selama sepersekian detik, Darsinem memberanikan diri untuk bersuara lebih dulu, “Ibu minta maaf. Berapa kali pun aku mengatakannya, semua maafku tidak bisa menggantikan perasaanmu sewaktu aku tak ada di sampingmu. Aku bahkan tidak berani berharap bahwa kau akan datang.”

Milan Kandung masih diam sebab ia bingung harus berkata apa. Ada terlalu banyak pertanyaan, atau mungkin tidak sama sekali, untuk Darsinem saat ini.

“Kalau kau punya pertanyaan, jangan sungkan untuk bertanya. Atau kalau kau ingin memakiku, aku akan menerimanya. Kalau kau tidak bisa maafkan aku, tidak apa. Aku tidak akan menyebutku sebagai anak durhaka. Sebaliknya, akulah yang durhaka di sini.”

“Saya kira, apa yang ingin Ibu sampaikan sudah tertulis semua di surat itu. Tadinya saya punya banyak pertanyaan, tapi setelah berhadapan langsung dengan Ibu, saya mendadak nggak punya pertanyaan sama sekali. Saya pikir saya sudah siap untuk bertemu Ibu, nyatanya saya belum. Maaf, saya harus pulang. Terima kasih atas suratnya.”

Baru enam langkah, Milan Kandung menghentikannya karena tiba-tiba saja Darsinem berkata, “Aku mengirimimu surat bukan untuk mengusikmu. Ini bukan pembelaan. Tapi aku minta maaf kalau kau terganggu karenanya. Kurasa waktuku tidak lama lagi. Aku bisa merasakannya. Itulah alasan sebenarnya aku mengirimimu surat.”

Lelaki itu hendak melontarkan pertanyaan tentang apa yang terjadi pada Ibunya, sakit apa yang ia derita, sejak kapan, maukah ia melakukan pengobatan bersamanya, tapi yang terjadi justru Milan Kandung melanjutkan langkahnya.

Perempuan itu tersenyum kala melihat suaminya meletakkan secangkir teh hangat di mejanya berikut dengan kopi susu untuknya sendiri. Milan Kandung duduk di kursi sebelah istrinya yang sedang asyik merajut bunga-bunga sulur yang nantinya akan dijadikan gorden di kamar anaknya.

“Sebenarnya ada yang ingin yang bicarakan.” kata Milan Kandung setelah menyesap kopi susunya.

Diandara menoleh kemudian tersenyum kecil, “Kedengarannya serius.” Ia kemudian meletakkan rajutannya, menyesap sedikit teh hangatnya, kemudian menoleh ke arah suaminya, memberikan perhatian penuh untuk menyimak ceritanya. “Ceritalah.”

“Kamu pasti tahu kalau sejak kecil aku diasuh oleh kakek-nenekku yang kukira adalah orang tua kandungku. Aku sudah menceritakan bagaimana latar belakangku kepada kamu dan keluargamu. Tapi cerita itu adalah yang aku tahu selama ini saja. Ada bagian yang terungkap baru-baru ini.” Milan Kandung menjeda sejenak. Ia membuang napas pelan, kemudian melanjutkan, “Ibu kandungku masih hidup. Dua minggu yang lalu ia mengirimiku surat. Kurasa ia selalu mengikuti berita tentangku di televisi atau koran, sehingga ia bisa tahu perkembanganku, dan entah bagaimana caranya ia menemukan alamat rumah ini, aku belum bertanya. Seminggu yang lalu, aku menemuinya sendirian ke panti jompo. Kukira aku sudah siap, tapi sampai sana, aku malah ketakutan dan berakhir meninggalkannya tanpa sempat mengobrol banyak hal. Aku bingung harus berbuat apa. Katanya, waktunya tak lama lagi. Itulah kenapa ia mengirimiku surat. Apa yang harus kulakukan sekarang?”

Diandara tampak terkejut dengan cerita Milan Kandung, tapi ia berusaha tenang dan menyalurkan ketenangan itu lewat usapan pelan di punggung suaminya yang dibalut dengan sweater cokelat rajutannya. “Lantas, menurutmu sendiri, apa yang harus kau lakukan? Aku mengenalmu dengan baik, Milan. Kau pasti sudah memikirkannya matang-matang, jadi aku yakin sekarang kau punya jawabannya. Kau sebenarnya tahu apa yang harus kau lakukan, tapi kau ragu.”

Milan Kandung mengangguk. “Aku tidak tega menelantarkannya.”

“Jadi, kau akan datang lagi menemuinya? Kalau kau takut sendirian, ajaklah aku.”

Milan Kandung mengangguk. “Kadang aku bertanya–keputusan mana yang paling baik. Menelantarkannya atau merangkulnya bersamaku. Aku belum sepenuhnya ikhlas kalau harus merangkulnya sebab ia terasa asing untukku. Ini seperti… ibu yang selama ini aku yakini sudah menjadi abu, sekarang bangkit lagi dari kematiannya. Ini tidak akan mudah.”

“Itulah mengapa aku ingin kau mengajakku serta.” balas Diandara. “Bagiku, tidak ada keputusan yang baik dan buruk untuk kasusmu. Semua keputusan ada konsekuensinya, dan kalau kau sudah tahu konsekuensinya, maka sudah, itu sudah cukup bagiku. Aku tidak akan menyanjungmu karena merangkul ibumu, sama seperti aku yang tidak akan menghakimimu kalau kau memilih tidak mau menemuinya lagi.”

….

Pada suatu pagi yang mendung di hari Sabtu, Daindara bersama dengan Milan Kandung berangkat menuju Panti Jompo Kenangan Kasih, membawa serta dua anak mereka, Alina dan Rolan–yang sebenarnya Milan Kandung pun kaget kedua anaknya mau ikut serta karena ia pikir sikap mereka akan sebaliknya. Diandara juga memasak beberapa makanan berat dan ringan, beberapa pasang baju dan selimut untuk Darsinem.

Begitu sampai di sana, Darsinem sedang menatap ke luar jendela di sudut kamarnya. Lagu Bengawan Solo terputar dari radio usang miliknya yang diletakkan di atas nakas.

Salah satu perawat menghampiri Darsinem dan memberitahukan bahwa keluarganya berkunjung. Wanita tua itu sempat mengernyitkan dahi bingung ketika kata “keluarga” keluar dari mulut si perawat. Siapakah gerangan? Dibantu dengan si perawat, ia berbalik badan di atas kursi rodanya, berhadapan langsung dengan Milan Kandung, istri, dan kedua anaknya.

“Ibu, kenalkan, saya Diandara istrinya Mas Milan Kandung. Yang laki-laki ini anak saya yang sulung, umurnya 17 dan namanya Rolan. Rolan, ini nenek Darsinem, oma kamu dari pihak Papa. Bu, yang perempuan itu anak saya, umurnya 14, namanya Alina. Alina, ini oma kamu. Salim dulu, Nak.” Kedua remaja itu maju beberapa langkah kemudian mencium punggung tangan Darsinem yang tampak gemetaran–bukan karena ruangannya terlalu dingin, tapi karena ia begitu terenyuh dengan apa yang dilakukan anaknya sekarang. Ia tidak pernah memimpikan hal-hal baik selama seminggu terakhir, jadi ia menganggap tak ada pertanda baik apapun yang akan ia terima di dunia nyata. Mengharap anaknya menerima kehadirannya adalah kemustahilan, tapi apa yang dilihatnya sekarang sungguh seperti mimpi.

“Katakan kalau semua ini hanya mimpi.” kata Darsinem dengan mata berkaca-kaca.

“Tidak, Bu, semuanya nyata. Kami juga bawakan makanan, baju, dan selimut untuk Ibu. Bagaimana kalau kita makan bersama? Suster, ada ruangan khusus untuk bisa makan-makan bersama keluarga tidak ya?”

“Ada, Bu. Mau yang di luar atau di dalam?”

“Di dalam saja.”

“Mari, saya antarkan.”

Diandara mengangguk dan memutuskan untuk mendorong kursi roda Darsinem didampingi dengan Alina, sementara Rolan dan Milan Kandung membawa makanan mereka karena barang-barang seperti baju dan selimut sudah ditinggal di atas kasur wanita itu.

Mereka sampai di sebuah aula yang dikhususkan untuk acara hiburan di hari-hari tertentu bagi para lansia penghuni panti jompo ini. Pada saat tidak ada acara, aula ini berfungsi sebagai ruang makan bagi keluarga yang berkunjung karena ruang makan yang digunakan oleh para lansia sudah tersedia sendiri. Karena hari ini tidak ada panggung hiburan, maka aula telah disulap menjadi seperti rumah makan sederhana, lengkap dengan kursi makan yang mengitari sebuah meja bundar di tengahnya. Ada dua keluarga yang lebih dulu tiba di sana, dan mereka menempati salah satu meja dekat jendela.

Milan Kandung tidak bisa menyembunyikan kegugupannya. Telapak tangannya dingin dan basah. Bahkan sekarang perutnya seperti dikocok sehingga membuatnya agak mual. Ia menggelengkan kepala, berusaha menepis perasaan-perasaan tidak enak yang hadir menyertai pikirannya kini. Ia sudah memutuskan bahwa akan menerima Darsinem sebagai ibunya, dan mengakuinya sebagai ibu kandung sebab dalam surat yang dikirim oleh wanita itu, disertakan pula foto-foto ketika Darsinem mengandung dan menggendong Milan Kandung saat ia baru saja dilahirkan, didampingi dengan neneknya di samping dukun beranak yang melakukan persalinan, juga beberapa foto ketika Darsinem menyusuinya didampingi kakek dan nenek. Karena di dalam foto itu ada kakek dan neneknya, Milan Kandung bisa percaya.

Sebenarnya, ia ingin melakukan tes DNA secara langsung di rumah sakit, tapi ia tahu kalau hal itu boleh jadi menyakiti Darsinem walaupun ia tidak akan menolak keputusan anaknya. Diandara bilang, untuk alasan etika dan moral, ia harus mengesampingkan dulu pemikirannya yang rasional karena yang satu ini hanya bisa dirasakan oleh perasaan.

Ia merasa beruntung karena membiarkan sang istri ikut serta sebab sepanjang acara makan bersama ini, Diandara pandai sekali memimpin obrolan dan mencairkan suasana, sama seperti Rolan dan Alina yang kelihatan lebih mudah larut dalam obrolan sampai tertawa-tawa, sehingga Milan Kandung bisa menutupi kegugupan dan perasaan aneh yang tak bernama ini. Ia senang, walaupun masih bertanya-tanya.

Saat ibumu pergi meninggalkanmu dan kembali saat kau masih remaja, akan terasa normal bagimu untuk banyak bertanya dan bahkan marah pada keputusan ibumu, tapi ketika ibumu kembali saat kau pun tak muda lagi, semua pertanyaan itu meluruh entah ke mana. Perasaan ingin bertanyalah yang tersisa, bukan pertanyaannya. Sekonyong-konyong kau disuruh terima saja dengan kepergian ibumu. Kau bisa mengatakan keputusan ibumu tidak adil ketika kau masih remaja, tapi ketika kau sudah tua, kau tahu bahwa tidak ada keadilan di dunia ini, maka kau mulai bersikap biasa saja ketika banyak hal di sekitarmu berjalan dengan adil. Kau hanya duduk diam dan tidak protes, walaupun ada banyak kebingungan di kepalamu.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Cinta Tak Bertepi
Niken Sari
Cerpen
Milan Kandung
Ida Ayu Saraswati
Novel
Other Pages
Wiwin Setyobekti
Novel
Bronze
CINTA DAN BENCI
Ria Lisdiani
Novel
Je taime Papa
Adlet Almazov
Novel
Bronze
Crush On
Hanni Maharani
Novel
Aku Bukan Idiot
Melinda Sintawati
Novel
Pelanduk di dalam Cerang
Syaa
Novel
Wanda Cinta Putri Biarawati untuk Ayahnya
princess bermata biru
Novel
People Pleaser
Navyanda
Novel
I'm Fragile
Manda Tiara Sani
Novel
Bronze
Sahabatku Ina
SOS (Share Our Story)
Novel
Gold
KKPK The Giant Cat
Mizan Publishing
Novel
Times New Romance
Rizkia Ow
Novel
Just Say Goodnight And Go
Silvi Monica
Rekomendasi
Cerpen
Milan Kandung
Ida Ayu Saraswati
Cerpen
Love Letter
Ida Ayu Saraswati
Cerpen
Risalah Cinta
Ida Ayu Saraswati
Cerpen
Tamu yang Tak Pernah Datang
Ida Ayu Saraswati
Cerpen
Riak Berjarak
Ida Ayu Saraswati
Cerpen
Undressed
Ida Ayu Saraswati
Cerpen
The Sketch
Ida Ayu Saraswati
Cerpen
Waktu Terbalik di Denpasar Utara
Ida Ayu Saraswati
Cerpen
Testosteron
Ida Ayu Saraswati
Cerpen
Smoke
Ida Ayu Saraswati
Cerpen
Love at Second Sight
Ida Ayu Saraswati
Cerpen
Guess The Next
Ida Ayu Saraswati
Cerpen
Atas Nama Pohon Ketapang
Ida Ayu Saraswati
Cerpen
Mati Dua Kali
Ida Ayu Saraswati
Cerpen
Di Balik Kacamata Hitam
Ida Ayu Saraswati